
❤️❤️❤️
Semenjak aku menyetujui perjodohan itu, ibu dan ayah selalu saja berusaha mendekatkan aku dengan bocah itu. Tapi tentu saja itu tidak akan mudah.
Flashback off
Namun, sampai pada suatu hari aku tidak bisa berkutik lagi dan menuruti permintaan mereka. Ya, hari ini adalah hari pertama ku berkencan dengannya. Dengan malas dan langkah yang gontai aku menuruni anak tangga. Kulihat dia sedang menunggu ku di bawah.
"Cih, murahan sekali. Apa dia tidak malu selalu mendatangi rumah laki-laki". Batinku.
"Tante, Riri pamit pergi dulu ya". Pamitnya meminta izin pada ibuku.
"Aduh, kamu tuh masih aja panggil tante. Ibu dong, kan kamu sekarang udah jadi tunangannya Juan". Kata ibuku.
"Eh, eng.. iya bu".
"Drama". Pekik ku dalam hati. Sok manis sekali di hadapan ibuku.
"Udah selesai? Sebentar lagi filmnya mau dimulai? Kelamaan?!". Protesku yang mulai jengah mendengarkan percakapan mereka.
Ku lihat sekali lagi mereka akting sebagai mertua dan menantu yang penuh kasih.
"Mau pamit nonton aja lebay banget". Batinku tak suka melihat tingkah mereka.
"Heh". Aku mulai malas menunggu percakapan mereka. Tanpa menunggu lagi segera ku langkahkan kakiku meninggalkan mereka.
"Eh, tunggu pak". Teriaknya. Tentu saja aku malas meladeninya.
~
"Lama banget". Protesku, aku paling tidak suka yang namanya disuruh menunggu.
"Iya maaf pak". Ujarnya sambil menutup pintu mobil.
Tanpa menunggu lagi, aku langsung melajukan mobilku di tengah-tengah kepadatan kota J ini.
Aku hanya fokus mengemudikan mobilku, tanpa mengajaknya bicara. Meskipun sesekali ku lirik dia seperti terlihat bosan.
"Heh, aku ingin lihat. Seberapa lama kau bisa bertahan?!". Seringai ku.
~
"Mentari terbenam beri semangat baru tuk jiwaku
Beri kicauan merdu tuk hidupku ini
Ku bertahan".
"Apa-apaan gadis ini?!". Batinku.
"Berisik". Protes ku.
Tapi bukannya berhenti gadis bodoh ini malah semakin berani, bahkan dia meninggikan suaranya tepat di telingaku.
__ADS_1
"Aku pasti bisa
Menikmati semua dan menghadapinya
Aku yakin pasti bisa".
Aku benar-benar malas mendengar kan nyanyian bodohnya itu.
Ciiitttt
"Aduh". Pekiknya, ketika kepalanya terbentur cukup keras pada kursi penumpang ketika aku mengerem mobilku mendadak.
"Rasakan". Seringai ku dalam hati.
"Turun". Perintah ku.
"Ngga mau". Ujarnya sambil memegang erat seatbelt yang melindungi tubuhnya.
"Kau?!". Aku mulai geram melihat tingkahnya.
"Berani sekali gadis bodoh ini. Kau lihat saja nanti, akan aku pastikan bahwa kau sendiri yang akan menghentikan perjodohan bodoh ini?!". Seringai licik ku.
~
Setelah 1 jam akhirnya kami sampai di mall yang ada di kota J ini.
Tapi setelah kami tiba di depan bioskop, ternyata film yang ingin di tontonnya sudah dimulai dan tiketnya sudah terjual habis. Aku merasakan senang di lubuk hatiku.
"Padahal aku pengen banget nonton filmnya". Gumamnya sambil tertunduk lesu. Dan tentu saja aku mendengar omongannya itu.
Ku lihat sekilas dia mengerucutkan bibirnya.
"Jelek sekali". Gumamku pelan.
Ku lihat dari kaca yang ada di depanku, dia seakan mengepalkan tangannya dan melayangkan tonjokannya di belakang kepalaku.
"Kau pikir aku tidak bisa melihat tingkah mu". Ujarku berbalik menatapnya.
"Eh.. eng. mm..maaf". Ujarnya tertunduk.
"Gadis ini benar-benar, senang sekali membuat ku marah". Batinku.
"Jalan di depan". Perintahku sambil bersidekap.
"Iya". Jawabnya, ia kembali menundukkan kepalanya.
"Terus kita mau kemana?". Ujarnya tiba-tiba berbalik sambil terus berjalan mundur.
Namun tiba-tiba..
Bug
"Apa kau tidak bisa berjalan dengan benar?!". Ujarku menatap ke arahnya tajam. Gadis ini benar-benar bodoh. Bagaimana bisa ayah mencarikan jodoh yang bodohnya seperti ini, apa ayah tidak bisa melihat kebodohannya?.
__ADS_1
~
Hari ini aku bangun lebih pagi dan berangkat ke sekolah jam 7. Karena aku ingin persiapan ulangan para murid berjalan lancar.
Ku perhatikan dari jauh gadis yang mengusik hidupku itu berjalan gontai menuju kelasnya dengan wajah yang cemberut. Ntah kenapa aku sedikit senang melihat ekspresinya yang seperti itu. Tanpa sadar aku sedikit menyunggingkan senyumku.
"Ada apa dengan ku?". Ujarku lalu kembali mengubah ekspresi wajahku.
Teng teng teng
Waktu istirahat sudah tiba, perutku mulai keroncongan meminta jatah. Tanpa buang-buang waktu lagi aku segera berjalan menuju kantin.
Tapi lagi-lagi di depanku aku melihat gadis bodoh itu sedang berjalan sendirian. Sambil terus ku perhatikan langkah kakinya hingga dia berhenti tepat dibawah bangunan yang sedang dalam tahap pembangunan.
"Dek awaaaaasssss". Ku dengar sumber suara berteriak dari atas bangunan.
Tanpa di suruh kakiku langsung berlari cepat menghampirinya. Dan..
Brug...
Untung saja aku sempat menangkapnya. Kalau tidak mungkin saat ini dia akan mengalami gegar otak.
Ku lihat dia masih pingsan di atas ranjang UKS.
"Apa benar dia baik-baik saja? Kenapa sampai sekarang belum bangun?". Aku mulai khawatir, saat aku hendak memanggil kan dokter yang bertugas di sekolah, tiba-tiba saja anak itu terbangun.
Saat ku lihat dia berbicara dengan temannya begitu leluasa aku mulai lega.
"Setidaknya dia tidak amnesia". Batinku, lalu aku segera keluar dari ruangan UKS meninggalkannya dengan temannya.
~
Di dalam kantor aku menjadi tidak tenang memikirkan tentang kejadian yang menimpa gadis bodoh itu.
"Apa aku harus memberitahu orangtuanya?". Pikirku
"Ah tidak. Mereka pasti menjadi sangat khawatir". Ujarku kemudian.
Lalu tanpa berpikir panjang aku mengirimkan sebuah pesan padanya.
"Datanglah ke parkiran guru setelah sepulang sekolah".
*Terkirim*
Ku lihat status pesan yang baru saja ku kirimkan.
"A.. apa. Apa-apaan ini? Apa aku sudah gila? Arghhhh". Aku terkejut melihat tingkahku sendiri, kenapa bisa? kenapa aku menjadi khawatir padanya? sial.
❤️❤️❤️
Hi salam sayang dari author 😊 jgn lupa tinggalkan jejak kalian ya 🤗 author akan berusaha untuk update setiap hari untuk kalian 😚
Enjoy 😚
__ADS_1
Oiya follow ig author juga dong @dwyulianas hehe
Xiexie 😚