
❤️❤️❤️
Dengan bodohnya aku malah memejamkan mataku tanpa di perintah.
"Kenapa kau memejamkan matamu? Apa kau mengharapkan sesuatu?" Ucapnya tiba-tiba.
Dengan cepat aku mendelik kan mataku ketika mendengar ucapannya.
"Si..siapa bilang Riri mengharapkan sesuatu? Orang mata Riri lagi kelilipan, makanya merem." Elak ku cepat, sambil mengucek-ngucek mataku yang sebenarnya tidak kelilipan apapun.
"Jangan di kucek!" Ujar Pak Juan menjauhkan tanganku dari mataku.
"Yang mana yang kelilipan? Disebelah sini?" Tambahnya lagi menunjuk bagian kanan mataku.
"I..iya" Sahutku mengiyakan, padahal sebenernya mataku tidak kelilipan sama sekali.
"Fuuuuhhhhh..." Tanpa menunggu lagi dia langsung meniup lembut bagian kanan mataku.
"P.. Pak Juan lagi kenapa sih?" Batinku, bingung melihat tingkah anehnya.
"Bagaimana? Apa masih kelilipan?" Tanyanya yang tiba-tiba membuyarkan lamunan sesaat ku.
"Eh, i..iya terimakasih Pak." Ujarku yang langsung beringsut menjauhinya.
"Mau kemana?" Tanya Pak Juan, ketika aku berjalan menjauhinya.
"Eh, Ri.. Riri mau mandi Pak." Sahutku cepat. Lalu kembali berbalik hendak meninggalkan nya.
"Mau mandi kemana? Kamar mandinya kan di sebelah sini?"
Deg
Perkataannya sontak membuatku berhenti seketika.
"Eh i..iya Riri lupa" Ujarku yang langsung memutar arah, dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
"Tunggu!" Ucapnya lagi yang otomatis membuatku berhenti.
"Jangan lupakan jubah mandimu." Bisik Pak Juan sambil memberikan jubah mandi padaku.
Glek
"I..iya, terimakasih Pak" Ujarku, lalu dengan secepat kilat aku masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya.
"Aaaaaaaa" Teriakku tanpa suara di dalam kamar mandi. Pipiku kembali merona, mengingat perkataan nya barusan.
"Aduh, panas.. panas." Ujarku sambil mengipas-ngipaskan tanganku pada wajahku yang terasa panas.
"Dia kenapa sih? Tiba-tiba jadi begitu. Membuatkuuuu... ingin menerkamnya saja." Ucapku dengan pipi yang merona.
"Ri.. Riri sadar. Kenapa kamu jadi seperti ini? Sadarlaaahhhh!" Ujarku kemudian sambil menepuk-nepuk kedua pipiku bergantian.
____________
"Benar-benar aneh!" Batinku, sambil terus melirik Pak Juan yang tengah asik dengan telpon genggamnya dari balik kaca.
__ADS_1
Tok tok tok
Suara ketukan pintu, membuatku terperanjat. Dan sialnya, sepertinya Pak Juan memergoki ulahku tadi. Dengan cepat aku memalingkan wajahku.
"Biar aku saja!" Ucapnya, lalu segera berjalan ke arah pintu.
Krek
"Ada apa Den?" Tanya Pak Juan, yang ternyata orang yang mengetuk tadi adalah Dennis.
"Ririnya ada kak?" Ku dengar Dennis sedang mencari ku.
"Iya, kenapa Den?" Tanyaku, ketika sudah berada di ambang pintu.
"Jadi makan diluar?" Tanya Dennis tanpa basa-basi.
"Oh iya, astagaaaa. Riri lupa" Ujarku menepuk jidat. Bisa-bisanya aku melupakan janjiku dengan Dennis.
"Kakak mau ikut?" Tanya Dennis pada Pak Juan.
Aku langsung mendelikkan mataku ke arah Dennis. Seakan sedang memberitahunya.
"Kenapa kamu malah mengajaknya?" Batinku, sambil mengerutkan kedua alisku.
"Tidak, kalian pergilah. Aku masih ada kerjaan yang harus ku selesaikan." Ujarnya santai lalu berbalik menuju ranjangnya kembali.
Sesaat aku dan Dennis saling berpandangan sebentar sebelum menatap bingung ke arah Pak Juan.
"Kenapa dia biasa saja? 😟" Batinku.
"Tunggu apa lagi? Nanti kemalaman." Ucap Pak Juan lagi.
"Ok, gue tunggu di bawah" Sahut Dennis.
____________
"Lo kenapa Ri? Kok murung gitu?" Tanya Dennis ketika kami sudah di jalan menuju cafe tempat janjianku bersama Kania. Iya aku dan Kania memang merencanakan ini, untuk melihat reaksi Pak Juan jika dia melihatku pergi makan malam bersama Dennis. Tapi nyatanya responnya biasa saja 😟. Tiba-tiba aku menjadi tidak bersemangat.
"Gara-gara kak Juan ya?" Tebaknya.
"Kenapa sikapnya biasa aja ya Den? Apa dia benar-benar ngga punya perasaan sama sekali buat aku?" Tanyaku sedikit kecewa mengingat responnya tadi yang biasa saja.
"Em, mungkin karna makan malam bersama itu terlihat biasa aja. Lo yang semangat dong, kita masih punya banyak waktu. Gue janji, gue pasti bantuin Lo." Ujar Dennis memberikan semangatnya.
"Iya" Sahutku lesu sambil menyandarkan kepalaku.
-
Kini aku bersama Dennis telah sampai di depan cafe tempat kami janjian bersama Kania dan pacarnya. Selama makan mereka terlihat sibuk haha hihi, sedangkan aku hanya mengaduk-aduk minuman saja di pojokan, benar-benar menyedihkan 😩.
"Rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan itu memang sangat menyedihkan." Gumamku pelan sambil menatap pada gelas berisi jus dengan tatapan kosong.
Karna melihatku yang tidak bersemangat, akhirnya Dennis memutuskan untuk mengajakku pulang saja. Sedangkan Kania, dia masih terus melanjutkan kencannya tanpa kami.
Sesampainya dirumah, waktu sudah menunjukkan jam 10 malam.
__ADS_1
"Apa semua orang sudah tidur?" Batinku, ketika melihat tak ada seorang pun yang duduk di ruang tengah.
"Yaudah, Lo istirahat. Gue ke kamar dulu" Ujar Dennis menepuk pundak ku pelan.
Dengan gontai aku melangkahkan kakiku menuju kamar atas, dengan beberapa kali menghela napas malas. Seolah seperti seseorang yang kehilangan semangat hidupnya.
Krek
Saat ku buka pintu, ternyata lampu kamar sudah dimatikan, hanya terlihat pantulan cahaya dari lampu yang ada di atas nakas dekat tempat tidur Pak Juan.
Dengan perlahan aku berjalan mendekatinya, duduk meringkuk di lantai sembari menatap wajahnya yang terlihat sangat teduh ketika tidur.
"Pak, apa Bapak benar-benar tidak memiliki perasaan apapun terhadap Riri?" Ucapku pelan sambil terus memperhatikan wajahnya.
"Kenapa Bapak tidak bisa menyukai Riri? Apa begitu tidak layaknya Riri untuk menjadi istri Bapak?"
"Apa Bapak tau? Riri jatuh cinta saat pertama kali melihat Bapak" Ujarku sembari tersenyum dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Kalau Bapak ingin tau alasannya. Jujur Riri juga ngga tau Pak. Yang jelas saat pertama kali melihat Bapak, Riri merasa aman dan nyaman. Saat pertama kali melihat Bapak tersenyum, hati Riri bagaikan di tumbuhi ribuan bahkan jutaan bunga cantik yang berwarna-warni. Lucu ya Pak? Hehhe.. tapi itu memang kenyataannya. Pak? Apa Bapak tidak bisa menyisakan sedikit saja ruang di hati Bapak untuk Riri tempati? Ujarku lagi, dengan air mata yang sudah mulai mengalir perlahan dari tempatnya.
Cukup lama aku memandangi wajah Pak Juan, hingga terasa kantuk yang sudah tak tertahankan. Tanpa beranjak dari tempatku, aku tidur dengan posisi duduk dan ranjang sebagai alas kepalaku.
___________
"Tanpa kau meminta ruang pun, nyatanya kau sudah mengisi penuh setiap sudut ruangan yang ada di hatiku."
"Riri, aku mencintaimu!"
*Cup*
Sebuah kecupan lembut ku rasakan menyentuh permukaan bibir mungilku.
Triiriiingg triiriinggg
Aku mengerjap-ngerjapkan kedua mataku ketika mendengar suara alarm yang begitu keras di sampingku, aku menyentuh setiap bagian yang ada di sekitarku, ku rasakan ada sesuatu yang aneh. Dan saat itu juga aku langsung bangun dan mengedarkan pandanganku.
"Kenapa aku bisa tidur disini?" Gumamku sembari mengingat kejadian tadi malam sebelum aku tertidur.
"Perasaan tadi malam, aku tidur disitu?!" Ujarku bingung sambil menunjuk bibir ranjang tempat aku tertidur tadi malam.
"Tapi tunggu, yang tadi itu cuma mimpi? Tapi kenapa terasa sangat nyata sekali?" Gumamku, sambil menyentuh permukaan bibir ku.
"Apa kau akan terus duduk disitu? Cepat mandi! Atau ku tinggal kau nanti" Ujarnya yang tiba-tiba mengagetkan ku.
"I..iya Pak" Sahutku, lalu aku segera berlari menuju kamar mandi.
"Cepat!" Teriaknya dari luar kamar mandi.
"Iyaaa." Sahutku yang juga berteriak.
"Bawel banget sih, dalam mimpi aja manis banget. Kenyataan nya? Pedes banget!😒"
❤️❤️❤️
Happy reading and enjoy guys 😘
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, biar aku tambah semangat upnya 🤗
Xiexie 😚