
❤️❤️❤️
"Pagi semua.." Ujar Dennis dengan senyuman cerahnya.
"Pagi sayang, tumben kamu dateng pagi-pagi banget?" Kata Bu Nala sambil menyantap nasi goreng yang ada di depannya.
"Mau ambil barang Dennis yang ketinggalan Tante."
"Oh, yaudah ambil barangnya nanti. Sekarang sarapan dulu." Ujar Bu Nala menyendok kan sepiring nasi untuk Dennis.
"Ah, Tante tau aja kalo Dennis belum sarapan, hehhe.." Ucapnya sambil menarik kursi kosong di sebelah ku.
"Makanya kamu tuh kenapa harus pindah segala sih, kan kalo kamu disini enak. Tante juga bisa masakin buat kamu, jadi kamu ngga perlu repot-repot buat masak atau beli makanan di luar."
"Iya kamu tuh Den." Timpal Ayah Adi.
"Hehhe, Dennis kan juga mau belajar hidup mandiri Om, Tante."
"Halah kamu tuh, bilang aja mau bebas berkeliaran." Tambah Ayah Adi.
"Ya ampun Om, ngga gitu juga dong."
"Kapan datangnya Lo?" Ujar Pak Juan yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
"Hei kak, baru aja gue dateng."
"Eh Ri, tumben Lo diem aja." Ujar Dennis menyenggol ku.
"Eh, ngga. Tenggorokan Riri agak gatal makanya diem aja. Ehm..ehm.." Sahutku sambil memegang tenggorokan yang sebenarnya baik-baik saja.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Kata Pak Juan, yang kemudian berdiri dan berjalan ke arah dapur.
Beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa segelas air hangat yang di campur dengan madu dan juga lemon.
"Minumlah!" Ujarnya menyodorkan segelas air madu yang di campur dengan lemon ke hadapanku.
Ku lihat sekilas kedua mertuaku dan juga Dennis menatap bingung ke arahku dan juga Pak Juan.
"Eh, ngga usah Pak. Palingan bentar lagi juga baikan. Riri juga ngga tahan sama buah yang masam." Tolak ku, kemudian ku mundurkan pelan gelas itu dari hadapan ku.
"Ku bilang minumlah, ini bagus untuk tenggorakan mu. Lagipula kan sudah ku campurkan dengan madu, jadi rasanya tidak akan terlalu asam." Ujarnya yang kembali menyodorkan minuman itu ke hadapan ku.
"Iya sayang, di minum aja. Nanti tenggorokan kamu jadi tambah gatel loh kalo ngga di minum." Timpal Bu Nala.
"Yaudah deh" Sahutku, lalu aku mengambilnya dari tangan Pak Juan dan segera menenggaknya habis.
"Kau itu memang tipe orang yang ingin selalu di perhatikan ya?" Ujar Pak Juan lagi dengan tiba-tiba menyeka ujung bibirku dengan tangannya sehingga membuatku terkejut.
"Eh, eng..ngga kok Pak." Elak ku cepat, sambil menepis tangannya pelan karna lagi-lagi kedua mertuaku dan juga Dennis menatap ke arah kami yang membuatku menjadi semakin kikuk.
"Sudah jam setengah delapan Pak, mending kita berangkat sekarang. Ntar telat." Ujarku lagi berusaha mengalihkan perhatian.
"Yasudah, kau tunggu di mobil. Aku mau mengambil barangku sebentar." Ucapnya lalu berlalu menaiki anak tangga menuju lantai atas.
"Sayang? Apa kamu sudah berhasil?" Tanya Bu Nala yang terlihat sangat penasaran dari sorot matanya.
"Eh, itu...." Tiba-tiba aku bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Ya berhasil dong Bu. Kemaren aja..."
"Ibu?" Ujarku sedikit berteriak, hingga membuat mereka yang ada di depanku terkejut.
"Ya ampun sayang, kamu ngagetin aja deh." Kata Bu Nala sambil mengurut dadanya pelan.
"I..iya maaf, hehhe..!" Ujarku tak enak.
"Kenapa sayang? Kamu mau ngomong apa?" Sambung Bu Nala.
"Eh, hm.. itu.. Riri boleh minta ayam gorengnya ngga buat bekal Riri di sekolah." Ujarku asal.
"Ya ampun, dikira ada apa. Ya boleh dong, lagian tumben banget kamu mau bawa bekal?"
"Hehhe iya, soalnya Riri suka banget sama ayam goreng buatan Ibu." Ujarku tersenyum lebar.
"Yaudah bawa aja sayang, semuanya juga boleh biar kamu bisa makan bareng temen kamu nanti di sekolah. Bentar, ibu ambilin kotak bekalnya dulu yah." Ucap Bu Nala yang kemudian berdiri dan berjalan menuju dapur.
"Hufttt, selamat." Batinku lega.
Segera setelah selesai menyiapkan bekal dan Pak Juan turun kembali ke bawah, kami berdua pamit untuk pergi ke sekolah.
-
"Kau ada gladi resik kan hari ini di aula sekolah untuk acara besok?" Tanya Pak Juan tanpa mengalihkan pandangannya dari depan karna sedang sibuk menyetir.
"Iya Pak, kenapa?" Sahutku yang di akhiri dengan pertanyaan sambil menoleh ke arahnya.
"Pulang jam berapa?" Tambahnya lagi.
"Ehm.. mulainya jam 4 sore, paling selesai jam 5 atau paling telat jam setengah 6. Oiya, Bapak ngga usah nungguin Riri, biar nanti Riri pulangnya bareng Kania aja."
" A..apa-apaan sih? Lagian penyakit terberat ku selama ini cuma batuk dan pilek, minum obat sehari dua hari juga sembuh. Kenapa jadi bawa-bawa nyawa segala. Dan lagi tenggorakan ku sekarang baik-baik aja, tadi kan.. aku cuma merasa canggung karna ada Dennis, makanya aku mencari alasan seperti itu." Batinku sambil menatap bingung ke arahnya.
Setelah menempuh perjalanan 30 menit, akhirnya kami tiba di sekolah.
Saat melewati gedung aula sekolah, ku lihat beberapa anak tengah sibuk menata ruangan itu, dan menghiasi panggung untuk acara besok. Sesaat aku terdiam di depan pintu sambil memperhatikan mereka yang sibuk di dalam sana.
"Ngapain?" Ujar sebuah suara mengejutkan ku.
"Ck, Lo Kan? Gue kirain siapa?!" Ujarku yang menoleh sebentar ke arahnya lalu kembali memperhatikan ke dalam aula.
"Gugup ngga?"
"Banget!" Sahutku, sambil memegangi dadaku yang sudah mulai sedikit berdebar, padahal acaranya baru akan di mulai besok, tapi jantungku sudah mulai berdebar sekarang.
"Hahha, santai aja dong. Kami semua dukung Lo." Ujar Kania merangkul ku.
Setelah beberapa menit melihat situasi di dalam aula, aku dan Kania segera berjalan ke arah kelas kami karna lonceng sudah berbunyi.
-
"Kenapa rasanya hari ini waktu berlalu sangat cepat ya Kan?" Ujarku sambil memegangi dadaku yang sudah mulai gugup kembali.
"Masa sih? Perasaan lama banget deh."
"Huhhhhh, gue gugup nih. Padahal baru gladi resik." Ujarku yang berulang kali menghela napas.
__ADS_1
"Hari ini Lo gladi resik kan Ri di aula?" Tanya Jaka menghampiri ku.
"Iya Jak."
"Semangat ya Ri" Teriak Gandhi.
"Iya, semangat Ri. Kita semua dukung Lo." Pekik Sherly.
"Iya, semangat Ri." Teriak mereka semua.
"Thanks ya guys" Ujarku terharu.
Setelah memasukkan semua buku ku ke dalam tas, aku, Kania yang juga di temani oleh Jaka, Gandhi dan juga Sherly, kami berjalan bersama menuju gedung aula. Saat pertama masuk, ku lihat sudah ada banyak kandidat yang berbaris di atas panggung. Tanpa menunggu lagi aku segera naik dan bergabung bersama mereka. Kontestan kali ini ada 18 siswi perwakilan dari masing-masing kelas termasuk aku.
Pembawa acara menjelaskan apa saja yang harus kami lakukan besok, dan bagaimana caranya kami naik dan turun dari panggung secara bergantian. Setelah kurang lebih 15 menit memberikan penjelasan, kami di suruh untuk mempraktekkannya.
Semua satu persatu dipanggil untuk melakukan pose di atas panggung seperti model. Hingga tiba giliran ku di panggil.
Glek
Aku kembali gugup.
"Yaudahlah, bismillah." Gumamku.
Lalu dengan percaya diri aku naik ke atas panggung dan melakukan pose bak seorang model, setelah selesai saat aku hendak turun menuruni tangga, aku tidak melihat adanya kabel sehingga membuatku tersandung, dan aku kehilangan keseimbangan..
"Aaaaaa..."Pekik ku.
Grep
Aku memicingkan mataku kuat-kuat. Aku merasakan tubuhku terhempas tapi rasanya tidak sakit sama sekali.
Tanpa berlama-lama aku membuka mataku, dan betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang menolongku.
"Pak Juan?" Ujarku terkejut.
"Kau tidak apa-apa? Apa kau terluka? Apa ada yang sakit?" Ujarnya panik, sambil memeriksa tubuhku.
"Ri.. Riri ngga papa kok Pak."
"Siapa yang menaruh kabel ini sembarangan?" Teriak Pak Juan dengan segala kemarahannya, sambil menghempaskan kabel itu kuat-kuat sehingga membuat orang yang ada di ruangan ini semua manjadi tertunduk dan takut.
"Pak, sudah. Riri ngga papa kok" Ujar ku pelan sambil berusaha menenangkannya.
"Apanya yang tidak apa-apa, karna keteledoran salah satu dari mereka itu, hampir saja membuat orang yang ku..." Ujarnya yang tiba-tiba menghentikan ucapannya.
Seketika semua orang termasuk aku langsung menatap ke arah Pak Juan.
"Ma.. maksud saya. Karna keteledoran salah satu dari kalian hampir saja membuat para kontestan celaka. Apa kalian tidak memikirkannya?" Ujarnya lagi melanjutkan.
"Maaf, maaf Pak. Ini salah saya." Ujar salah satu staff menunduk meminta maaf.
"Ehm, yasudah. Saya harap kau dan kalian semua yang mempersiapkan ruangan ini tidak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi. Karna saya sangat tidak suka dengan adanya kesalahan." Ujarnya lagi menegaskan sebelum keluar dari aula.
"Hufht akhirnya bisa bernapas dengan lega." Ujarku menghela napas.
"Ini pertama kalinya dia menunjukkan amarahnya yang meledak seperti ini dihadapan orang banyak." Batinku sambil menatap ke arah pintu yang di lewatinya tadi.
__ADS_1
"Eh, tunggu.. Pak Juan tadi mau bilang apa ya?" 🤔
❤️❤️❤️