Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Serangan Balik


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Kenapa diam saja?" Tanya Pak Juan ketika kami sudah berada di dalam mobil untuk pulang ke rumah.


"Ngga papa kok Pak." Sahutku tanpa menoleh padanya.


"Jangan pikirkan soal perkataan Tante Indah."


"Ngga, siapa yang mikirin itu." Elak ku cepat.


"Terlihat jelas di wajahmu." Ujarnya lagi yang tepat sasaran.


"Cih, apaan sih." Balasku mendelik tak suka ke arahnya.


Beberapa menit kemudian setelah keheningan, tiba-tiba muncul lagi rasa penasaran ku mengenai tadi. Aku sangat ingin menanyakan nya sedari tadi, tapi selalu ku tahan. Apa dia akan menjawabnya? Atau malah hanya akan mengejek ku saja?.


"Tanya ngga yah?" Batinku, ragu-ragu.


"Yaudah deh, coba tanya aja." Ujarku yakin dalam hati.


"Hm, Pak?" Panggilku ragu-ragu.


"Hm." Sahutnya.


"Itu.."


"Kenapa?"


"Anu.."


"Itu, anu, itu, anu.. cepat katakan ada apa?"


"Kenapa Bapak membela Riri tadi?" Tanyaku sambil memejamkan mata, jujur aku sangat takut menatap matanya sekaligus takut mendengarkan jawabannya.


"Sudah jelas bukan? Karna kau istriku. Dan aku tidak mau di permalukan."


"Hanya itu saja?" Ujarku kecewa sambil mencebikkan bibirku ke arahnya.


"Lalu kau mau jawaban apa?"


"Kenapa tanya Riri, kan Bapak yang tau jawabannya." Ujarku malas.


"Karna aku mencintaimu."


Deg


Seperdetik kemudian aku langsung menoleh dengan cepat ke arahnya setelah mendengar ucapannya.


"Jangan harap aku akan mengatakan itu." Ujarnya kemudian yang di iringi dengan senyuman miring di ujung bibirnya.


"Apaan sih? Ngga lucu." Sungutku yang kemudian bersidekap.


"Nyebelin banget jadi orang."Gerutuku dalam hati.


-


1 jam kemudian akhirnya kami sampai di rumah, tanpa menunggunya aku langsung turun dan meninggalkannya yang masih di dalam mobil.


"Tunggu!" Teriaknya.


"Ck, kenapa sih Pak?" Sahutku, malas.

__ADS_1


"Tas mu ketinggalan." Ujarnya santai.


Tanpa membuang waktu, aku berjalan kembali ke arah mobilnya dan segera mengambil tasku yang tertinggal melalui kaca mobil yang terbuka. Ku ambil tas ku dengan kasar sambil mendelik tak suka kearahnya. Lalu aku kembali berbalik dan berjalan dengan cepat memasuki pelataran rumah.


"Apa katanya? *Jangan harap aku akan mengatakan itu*" Ujarku mengulangi kata-katanya dengan nada yang mengejek.


"Siapa juga yang ngarep, ge-er banget." Gerutuku, sambil terus berjalan menaiki anak tangga.


Hingga tiba di dalam kamar.


"Terus, apa lagi tadi katanya. *Tasmu ketinggalan* Cih, lembek banget jadi cowok, masa bawain tas kecil seringan ini aja ngga bisa." Cerocosku lagi, kemudian ku lempar asal tas kecilku itu ke atas sova sampai terpental dan jatuh ke lantai.


Ku ambil bantal yang ada di atas sova, ku bayangkan bantal yang ku remas saat ini adalah wajahnya Pak Juan, tak lupa ku sunggingkan senyuman sinis ke arahnya, sebelum aku menghajarnya dengan bogeman ku yang sudah ku persiapkan sejak tadi.


"Nyebelin, nyebelin, nyebelin." Pekik ku sambil terus menonjok bantal yang ku bayangkan sebagai wajah Pak Juan tadi kuat-kuat.


"Rasain nih, bogeman mautnya Riri.. bug.. bug.. bug.."


Krek


"Apa yang sedang kau lakukan?"


Glek


"Kenapa Bapak tiba-tiba masuk? Bukannya ketuk pintu dulu, ngga sopan banget sih." Ujarku dengan lancarnya tanpa sadar.


"Apa katamu barusan?" Tanya Pak Juan meninggikan suaranya.


"Eh, eng..ngga.. ngga ada. Riri yang mandi duluan." Ujarku secepat kilat berlari ke arah kamar mandi dan segera menguncinya.


"Kenapa ini mulut ngga punya rem sih?" Ujarku memukul-mukul bibirku sendiri.


"Kau itu sedang mandi atau bertelur?" Teriaknya sontak membuatku terkejut.


"Bertelur!" Teriak ku.


"Kau itu! Hobi sekali membuatku marah. Cepat keluar!" Teriaknya sambil menggedor-gedor pintu dari luar.


"Ngga mauuuu.."


"Cepat keluar! Atau kau mau ku buka pintu ini sekarang, heh? Apa kau pikir aku tidak memiliki kunci cadangan?"


"Astaga, kunci cadangan?" Ujarku yang baru menyadarinya.


"Heh, bagaimana? Kau mau membuka pintu ini sendiri? Atau aku yang akan membukanya? Tapi jika aku yang membukanya, habis kau!"


"Aduhhh, gimana nih?" Gumamku, sambil mondar-mandir karna panik.


"1.."


"2.."


"Apaan sih, ngitungnya cepet banget?" Gumamku.


"OK, Ri.. tenangggg.. Mending buka pintunya sekarang daripada nanti mati kalau dia yang buka."


"3.."


"Huuufttt" Aku menarik napas dalam-dalam sebelum ku pegang gagang pintu, dan membukanya secara perlahan.


Kreeeekkkk

__ADS_1


Jedug


"Aw" Pekik ku, kala Pak Juan menarikku keluar dan menyudutkan ku ke tembok.


"Bapak apa-apaan sih? Bukannya Bapak tadi bilang, ngga bakal apa-apain Riri, kalo Riri sendiri yang buka pintunya." Sungutku menatap tajam pada bola matanya.


"Aku tidak pernah mengatakannya. Ku bilang, jika aku yang membukanya.. habis kau!"


"Ngga adil banget sih?" Sungutku lagi.


"Aku akan memperlihatkannya padamu, apa makna dari kata tidak adil yang sesungguhnya.."


"Pa..Pak Juan mau apa?"


Glek


Dia semakin memajukan wajahnya padaku, bahkan deru napasnya sudah bisa ku rasakan menyapu area wajahku saat ini.


"Ngga, aku ngga boleh kalah kali ini." Batinku.


"Akan Riri ikuti permainan Bapak." Seringaiku.


"Apa Bapak tau? Riri sangat menginginkannya sejak lama? Kenapa Bapak selalu menggoda Riri tanpa mempraktekkannya?" Bisikku pelan di telinganya dengan nada yang menggoda.


"Semakin Bapak menggoda, semakin besar keinginan Riri untuk melakukannya" Sambungku sambil membelai lembut wajahnya.


"K..kau? A..apa maksudmu?"


"Bukankah ini yang Bapak mau? Heh?" Ujarku lagi yang semakin gencar menggodanya, ku derukan napasku pelan menyapu seluruh wajahnya.


Ku lihat tubuhnya yang menegang, tanpa memberikan penolakan apapun padaku.


"Ke..kenapa Pak Juan diam aja? Aduh gimana nih? Apa harus ku teruskan?" Batinku, aku jadi semakin gugup.


"Ok, kayaknya emang cuma bisa di terusin." Ujarku mantap.


Glek


Aku kepayahan menelan saliva ku, sebelum melancarkan aksiku. Sungguh, aku benar-benar gugup, dan sebenarnya khawatir akan konsekuensinya. Tapi tanpa pikir lagi, aku langsung meluncurkan serangan ku.


"Apa aku sudah gila? Ah sudahlah. Ayo lakukan sekali ini saja!"


Tiba-tiba tubuhku jadi ikut menegang, gara-gara ulahku sendiri. Tanganku semakin gencar menggerayangi tubuhnya semakin ke bawah, terus ke bawah melalui belakangnya hingga ku hentikan tepat di pinggulnya.


Ti..nut


(Bayangin aja backsound nya begitu ya 🤣)


Dengan tepat sasaran, seolah tau betul tempatnya. Tanganku sukses mendarat pada tempatnya.


"Apa yang kau lakukan?" Pekik Pak Juan dengan mata yang membelalak kaget karna ulahku, dengan sigap dia menyingkirkan tanganku dari pantatnya.


"Apa kau sudah gila?" Pekik nya lagi, yang langsung berlari meninggalkan ku masuk kedalam kamar mandi dan langsung menguncinya.


"Hahahaha, rasain! Emang enak? Bleee :p hahahaha..." Aku tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresinya. Benar-benar sangat lucu sekali. Baru kali ini ku lihat pipinya bersemu merah karna malu.


"Makanya lain kali kalo mau menggoda itu yang bener. Riri mau di lawan 😏."


❤️❤️❤️


Jgn lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favoritnya juga ya 😉 terimakasih 😘

__ADS_1


__ADS_2