Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Perjodohan?!


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Hahahaha". Kelakar Kania.


"Puas lo?!". Ujarku dengan wajah yang masam.


"Hahaha, sorry sorry. Habisnya lo lucu banget tadi".


"Tadi perut gue sakit gara-gara nahan ketawa dikelas, sekarang perut gue malah tambah sakit ngetawain lo.. haha". Ujar Kania sembari memegangi perutnya.


"Seneng lo liat temen menderita?!". Aku mengerucutkan bibirku lalu kuseruput es jeruk yang sudah tersedia di meja di hadapanku.


"Aduh, lo itu bener-bener lawak tau ngga Ri?!". Ucap Kania yang sekarang sudah bisa mengontrol tawanya.


Aku menghela napasku pelan.


"Ok ok skip deh. Ayo dong cerita. Katanya tadi mau cerita pas udah dikantin?!. Ujar Kania dalam mode serius.


"Hm, cerita ngga yaa?!". Jawabku dengan ekpresi wajah yang sengak lalu kembali menyeruput es jerukku.


"Ah elah, ayodong. Gue udah kepo mode on nih". Bujuk Kania sambil menggoyang-goyangkan tangan ku.


"Haha, ok ok gue cerita".


Kania menatap mataku intens, dia seolah tidak sabar mendengar cerita dariku.


"Jadi gini. Kemaren minggu orangtua gue kan ngajakin jenguk temen lamanya ayah yang udah lama ngga ketemu di RS. xxx, ya otomatis gue ikut dong". Ujarku memulai pembicaraan.


Kania mengangguk-anggukkan pelan kepalanya.


"Trus?".


"Kepo mode on banget ni anak". Batinku. Aku terkekeh pelan.


"Elah, malah ketawa ni bocah". Kania memundurkan kepalanya.


"Hehhe, ok lanjut". Ujarku kembali serius.


Kania kembali mendekatkan kepalanya padaku dan menatap mataku intens.


"Terus, lo tau siapa temen ayah gue?". Ujarku dramatis.


"Ya mana gue tau, lo aja belum kasih tau. Gimana si?". Sahut Kania datar.


"Hehehe". Aku kembali terkekeh.


"Aduh cepet, siapa dah?". Kania semakin penasaran.


"Pak Adiyatmo, kepsek kita yang dulu". Bisikku di telinganya penuh dengan penekanan.


"HAH?!". Kania terbelalak kaget.


"Serius lo?". Ujarnya memastikan.


Aku menganggukkan kepalaku cepat.


"Woahhh". Ujarnya sedikit menganga, persis seperti pertama kali aku mengetahui nya ketika dirumah sakit.


"Dan yang lebih mengejutkannya lagi". Ujarku, dengan ekspresi sedramatis mungkin.


"Apa? apa?".


"Ternyata pak Juan adalah anaknya pak Adiyatmo". Ujarku sambil menggebrak meja.


Dengan spontan anak-anak yang sedang berada dikantin menatap kearah kami. Aku jadi malu.

__ADS_1


"Maaf maaf". Ucapku tersenyum kikuk.


"Hah". Kania menghela napasnya.


"Kok, lo ngga kaget?". Tanyaku ketika mendapati ekpresi Kania biasa saja, padahal aku sangat terkejut ketika pertama kali mengetahuinya.


"Lo kemana aja? Seisi sekolah udah pada tau kelleus kalo pak Juan itu anaknya pak Adiyatmo?!". Sahutnya santai sambil menyeruput es teh kesukaannya.


"Hah? Serius?". Ujarku tak percaya.


Kania mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kenapa gue ngga nyadar ya?!". Ujarku sambil berpikir.


Kania kembali menghela napasnya pelan.


"Jadi, berarti sekarang lo udah lebih deket dong sama pak Juan?!". Kania menaik turunkan alisnya.


"Deket apanya? Lo liat kan tadi waktu dikelas". Aku kembali tidak bersemangat.


"Semangat kawan". Ujarnya memberi semangat sambil menepuk-nepuk bahuku cukup keras.


~


Teng teng teng


Aku menenteng tasku dengan malas, berjalan sedikit gontai sambil menautkan lenganku di tangan Kania.


Sampai tiba di depan ruangan pak Juan kami tidak sengaja berpapasan dengan kepsek baruku itu, aku menyunggingkan senyum ku kala mata kami saling beradu. Tapi sia-sia saja senyumanku itu, dengan cepat dia memalingkan wajahnya dan berjalan dengan cepat memunggungi ku. Kania lagi-lagi menepuk bahuku. Malang nian nasibku?! 😥


~


"Assalamualaikum". Ujarku ketika sudah sampai di ambang pintu.


"Kok lesu?". Tanya ibuku memperhatikan aku yang terlihat tidak bersemangat.


"Banyak tugas ya?". Tanya ibuku lagi.


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Sebelum kemudian izin masuk kedalam kamar.


Sesampainya dikamar aku menghempaskan tubuhku segera ke atas ranjang ku. Dan aku kembali menghela napasku. Karna kebanyakan melamun ujung-ujungnya aku malah tertidur pulas.


~


Jam 20:00


Tok tok tok


Krek


"Makan malam dulu Ri?!". Ujar ibuku lalu kembali kedapur setelah memanggilku.


Setelah ku ikat rambutku yang terurai aku segera keluar kamar menuju dapur. Ayahku sudah standby di meja makan.


"Kok kelihatan murung gitu mukanya?". Ujar ayahku.


"Hehhe, ngga kok yah. Riri cuma sedikit ngantuk aja". Sahutku berbohong.


"Hm, yasudah. Ayo cepat makan. Biar bisa istirahat". Ujar ayahku lagi.


Aku mulai melahap perlahan makanan ku sampai tak tersisa sebutir nasipun dipiringku. Ibuku selalu mengajarkan ku untuk selalu menghabiskan makanan, dan jangan menyia-nyiakan nya. Bukannya pelit, hanya saja kata ibuku hargai seseorang yang sudah bersusah payah memasak untuk kita. Jika kita ingin dihargai bukankah lebih baik jika kita terlebih dahulu menghargai orang lain bukan? bahkan soal perkara kecil sekalipun 😊


Saat kami selesai makan, aku membantu ibuku mencuci piring. Ku lihat kedua orangtua duduk di sova ruang tamu menonton tv sambil berbincang-bincang.


Ketika aku sudah selesai mencuci piring aku berjalan mendekat pada orangtuaku dan ikut nimbrung duduk di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Loh? katanya ngantuk?". Kata ayahku.


"Hehhe, tiba-tiba melek lagi yah habis makan". Sahutku, lalu menyandarkan kepalaku di pundak ibuku.


"Yah, Riri mau tanya?". Ujarku mengawali pembicaraan lalu aku duduk tegap menghadap ayahku.


"Iya, ada apa?". Sahut ayahku menatap mataku intens.


"Kenapa ayah sama om Adi bisa lost contact?". Aku penasaran sejak kemarin, dan baru sekarang aku punya waktu untuk menanyakannya.


"Waktu itu om Adi pergi ke negara A untuk melanjutkan kuliahnya. Awalnya kami masih saling berhubungan ketika ayah akan menikah. Tapi setelah beberapa hari menikah ayah terserempet motor hp ayah rusak parah tidak bisa diperbaiki lagi. Makanya ayah tidak bisa menghubunginya lagi". Jelas ayahku.


"Dulu belum ada sosmed ya yah?". Tanya ku lagi.


"Ya mana ada sayang. Dulu punya hp nokia aja sudah syukur".


"Apa ayah sama sekali ngga ingat nomornya?!". Tambah ku lagi.


"Jangankan nomor temannya, nomor ibu waktu pacaran pun ayahmu lupa". Celetuk ibuku.


"Hehehe". Ayahku terkekeh sambil menggaruk-garuk pundaknya yang tidak gatal.


Ibuku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku ikut tersenyum ketika melihat ayah tidak bisa berkutik lagi.


Lalu aku kembali penasaran dan melanjutkan pertanyaan ku.


"Terus. Apa ayah tidak mencoba mencari tau nomornya lewat kerabat atau teman-teman terdekat om Adi?".


"Ayah satu-satunya teman terdekatnya di negara ini. Mereka semua ada di luar negeri".


"Ohhh". Ujarku.


"Trus, kapan ayah ketemu sama om Adi lagi?".


"3 Minggu yang lalu om Adi datang keperusahaan tempat ayah bekerja karna ingin mengunjungi temannya, bos ayah. Sejak itu ayah dan om Adi mulai berhubungan lagi dan mempererat persahabatan kami". Ujar ayahku tersenyum menceritakan tentang pertemuannya kembali dengan sahabat lamanya.


"Ayah hebat ya. Bisa punya teman seperti om Adi yang baik, bijaksana. Meskipun beliau berada di atas kita tapi beliau memperlakukan semua orang sama". Ujarku tersenyum.


"Iya, om Adi memang orang yang sangat baik". Kata ayahku yang juga tersenyum kearahku.


"Terus....


"Terus, sekarang sudah waktunya tidur. Kalau bangunnya kesiangan, gimana?". Ujar ibuku memotong perkataan ku.


"Hehhe". Aku terkekeh.


"Yasudah, pertanyaan nya dilanjutkan lain kali. Sekarang waktunya tidur". Ujar ayah ku mengusap-usap rambutku gemas.


"Siapp". Jawabku memberi hormat. Lalu berjalan kembali kekamar, karna sebenarnya mataku juga sudah mulai mengantuk.


~


"Eh kok tiba-tiba haus ya?! Minum dulu deh". Ujarku ketika sampai di ambang pintu kamarku lalu berjalan berbalik menuju dapur untuk minum.


Saat aku hendak kembali kekamar, sangat pelan ku dengar orangtuaku sepertinya sedang membicarakan aku dan tentang perjodohan.


"Perjodohan?!". Batinku.


Aku mulai penasaran, dengan langkah yang hati-hati dan perlahan aku mulai menguping pembicaraan mereka di balik dinding yang tak terlalu jauh dengan mereka.


"Jadi bagaimana menurut ibu? Jika kita menjodohkan Riri dengan Juan, anak sahabatku itu?!"


"Apa? Menjodohkan? Aku? Dengan pak Juan?". 😱


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2