
❤️❤️❤️
06.00 pagi di puncak, kota B.
Dingin yang menusuk pagi ini sama sekali tidak menggoyahkan semangatku untuk berangkat ke sekolah. Aku dan Pak Juan bersiap-siap untuk kembali ke kota J, meskipun kami tahu, kami pasti akan terlambat hari ini tiba di sekolah, tapi setidaknya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan?. Namun pada akhirnya semua itu berakhir hanya menjadi sebuah rencana.
"Ayo Pak, nanti kita makin terlambat!" Teriakku yang sudah berdiri diluar kamar.
"Iya, iya.." Sahutnya sambil menutup pintu.
Saat kami tiba di ruangan tengah, ku lihat para orangtua dan Dennis tengah duduk bersama sambil menikmati secangkir kopi hangat di tangan mereka masing-masing.
"Kalian mau kemana?" Tanya Bu Nala yang terlihat terkejut.
"Iya, kalian mau kemana?" Tanya yang lainnya serempak.
"Sekolah!" Sahutku dan Pak Juan bersamaan.
"Ngga, ngga, ngga... ngga bisa. Kami sudah mempersiapkan semuanya, kalau kalian pergi, sia-sia aja dong kami rencanain ini semua." Ujar Bu Nala menghadang kami.
"Iya, gue udah capek-capek. Di tuduh yang ngga-ngga di tonjok juga, trus kalian mau pergi gitu aja. No, no, no..." Timpal Dennis.
"Ngga bisa Bu, hari ini Riri ada ulangan."
"Ibu udah cek ya jadwal kalian hari ini. Ulangan hari ini pelajaran PKN kan? Dan PKN yang ngajar kan si Juan. Jadi ngga papa dong kalian bolos hari ini, toh gurunya juga disini. Udah ngga papa bolos sehari, udah gitu Ibu yakin banget, yang lainnya pasti seneng karna ngga jadi ulangan hari ini." Ujar Bu Nala.
"Iya, bolos sehari juga ngga papa. Tenang aja, kamu ngga bakalan di hukum Ri, kan gurunya ada disini." Kata Ayah Adi melirik ke arah Pak Juan.
"Iya juga ya, bolos sehari ngga masalah kan? Lagian, males juga sih kalau hampir tiap pertemuan ada ulangan." Ujarku yang tiba-tiba senang, bisa menunda ulangan hari ini.
"Apa kamu bilang? Jadi kamu tidak suka dengan ulangan yang ku adakan?"
Deg
"Kenapa ini mulut ngga ada remnya sih?!" Batinku.
"Eh, eng.. ngga. Bukan gitu, maksud Riri.."
"Jangan kamu pikir, kamu bisa lolos dari hukuman, hanya karna kamu istriku. Bersiap-siaplah setibanya besok di sekolah." Ujarnya memotong ucapanku, lalu berbalik masuk kedalam villa.
"Eh, eh.. tunggu Pak. Riri ngga bermaksud begitu, Riri cuman sedikit berpendapat, mengeluarkan isi hati dari sudut pandang seorang murid." Ujarku sambil mengekorinya, meninggalkan para orang tua dan juga Dennis yang menatap heran padaku dan juga Pak Juan.
"Baiklah, kalau begitu bersiaplah mendapat hukuman besok sebagai murid." Kata Pak Juan menghentikan sebentar langkah kakinya.
__ADS_1
"Eh, mm..maksud Riri dari sudut pandang seorang istri."
"Mana ada orang yang berstatus sebagai istri masih sekolah SMA."
"Ada, Riri buktinya."
"Kamu memang istriku kalau sedang berada diluar sekolah, kalau didalam sekolah kamu itu adalah muridku."
"Tapi kan Riri berpendapat diluar lingkungan sekolah, berarti Riri bukan murid Pak Juan sekarang." Ujarku tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi sekarang kamu memanggilku Bapak, berarti sekarang kamu adalah muridku." Ujarnya tersenyum miring sebelum meninggalkan ku dan berjalan ke arah kamar.
"Eh, tapi kan ini diluar lingkungan sekolah. Lagian Riri juga tiap hari manggilnya gitu. Ini gimana sih? Maju kena mundur kena, ujung-ujungnya malah mentok juga." 😣
Bahkan setibanya dikamar, masalah ini belum selesai. Aku tidak terima dia menganggap ku murid diluar lingkungan sekolah hanya karna aku memanggilnya dengan sebutan Bapak.
"Pak, kita harus selesain masalah ini." Ujarku tegas.
"Masalah apa? Sepertinya kita tidak memiliki masalah." Sahutnya enteng, lalu duduk bersandar di atas tempat tidur.
"Ada. Masalah Pak Juan yang menyebut Riri sebagai murid bahkan ketika berada diluar lingkungan sekolah sekarang."
"Mana ada aku menyebutmu sebagai murid ketika diluar lingkungan sekolah. Ku bilang kalau di dalam lingkungan sekolah, kamu adalah muridku. Sedangkan diluar lingkungan sekolah kamu adalah istriku."
"Kalau kamu memang istriku di luar lingkungan sekolah, kenapa kamu berpendapat dari segi seorang murid. Kamu kan istriku? Apa hubungannya kamu dengan miridku? Kenapa kamu keberatan jika aku memberikan ulangan pada muridku hampir di setiap pertemuan?"
"Ya, itu.. kan Riri juga merangkap sebagai murid Pak Juan di sekolah."
"Ya berarti kamu memang muridku, jadi kamu terima saja besok hukumannya."
"Lah, ini gimana sih? Perasaan tadi topiknya ngga begini. Ng...."
Tok tok tok...
"Iya!" Sahutku dengan sedikit berteriak, karna kesal dengan Pak Juan.
"Kalian masih belum menyelesaikan masalahnya?" Tanya Bu Nala.
"Sudah."
"Belum."
Sahutku dan Pak Juan dengan jawaban yang berbeda.
__ADS_1
"Ah, sudah.. sudah. Ibu ngga perduli ya sudah selesai atau belum. Yang jelas Ibu minta kalian berdua sekarang keluar. Yang lain udah pada nunggu di luar." Ujar Bu Nala sebelum pergi meninggalkan kami.
Dengan kesal aku turun dari ranjang, percuma mengajaknya bicara karna ujung-ujungnya pasti aku yang terpojok.
"Mau kemana?" Ucap Pak Juan meraih tanganku.
"Mau keluar, ngga dengar apa sama yang dibilang Ibu tadi." Ujarku ketus.
"Kamu marah?" Tanya nya dengan suara yang melemah.
"Udah tau nanya." Sahutku membuang muka.
"Aku hanya bercanda, kenapa kamu sensitif sekali."
"Ngga tau!" Jawabku tanpa menoleh padanya.
"Apa jangan-jangan kamu hamil? Makanya kamu sensitif sekali pagi-pagi begini."
"Pak Juaaaannn... Apa-apaan sih? Mana bisa hamil, kita aja belum..." Ujarku menggantung..
"Belum apa? Coba katakan!"
"A..anu, belum.."
"Belum apa hayooo? Katakan saja, atau kamu malu. Kalau begitu aku yang akan mengatakannya. Belum ber..."
"Belum makan, aduhhh... pantesan perut Riri dari tadi keroncongan. Baru inget, ternyata belum makan. Ha ha ha.." Ujarku dengan tawa yang di paksakan, lalu dengan secepat kilat berlari meninggalkannya di kamar.
Aku berlari sampai di depan villa, seketika aku langsung menghentikan langkah kakiku setelah melihat pemandangan yang menakjubkan di depanku sekarang.
"Waaahhh.." Ujarku takjub.
Hap
"Kena kau..." Seru Pak Juan.
"I..ini apa Yah, Bu? Cantik banget.." Ucapku dengan mata yang berbinar bahagia.
"Surprise..."
Yang mulanya halaman luas yang hanya di tumbuhi rerumputan hijau dan beberapa pohon, sekarang dipenuhi dengan puluhan balon dan juga ratusan bunga mawar putih, yang disusun dan di tata sedemikian rupa hingga benar-benar cantik. Ditambah dengan banyaknya hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja dan ada beberapa daging yang masih di panggang oleh kedua ibuku di atas arang. Aku benar-benar terharu, ini pertama kalinya aku merayakan sesuatu dengan keluarga. Semuanya benar-benar tidak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Aku.. aku benar-benar bahagia :').
❤️❤️❤️
__ADS_1