Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Happy Birthday 2


__ADS_3

❤️❤️❤️


Dan benar saja, aku benar-benar di beri hukuman oleh Bu Tania karna datang telat hari ini. Tidak tanggung-tanggung, Bu Tania menyuruhku membersihkan seluruh toilet selama 5 hari.


"Ini semua gara-gara mas Juan!" Kesalku, sambil menggosok-gosok closet dengan kekuatan penuh.


"Dia kalo telat mah ngga ada yang ngehukum, sedangkan aku? Di saat orang-orang enak makan dikantin, aku malah berkutat di toilet bertemankan sikat dan juga penyedot WC. Aishhhh... Nahas betul nasib ku! 😭."


Ketika aku sibuk menyikat lantai toilet, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang muncul di belakangku.


"Sini, biar ku bantu?"


"Ma..mas Juan? E..eh maksudnya, Pak Juan? Bapak ngapain disini?" Tanyaku terkejut.


"Ya mau membantu istriku lah!" Sahutnya enteng, sembari melipat lengan bajunya.


"Shttt.. mas. Kalo ada yang denger gimana?"


"Ngga ada siapapun kok!" Sahutnya, lalu ikut berjongkok.


"Lagian, anggap aja kita sekalian pacaran diam-diam disekolah!" Tambahnya seraya mengedipkan mata.


"Cih, pacaran kok di toilet? Mas ada-ada aja deh, hahha.." Ujarku sembari tertawa kecil.


"Kan lebih intim!" Sahutnya yang kembali mengedipkan mata.


"Mas ih!" Ujarku dengan nada yang malu-malu sembari memukul dadanya pelan.


"Aw.."


Saat tengah asik bercanda, tanpa kami sadari ada seseorang yang masuk kedalam toilet. Aku yang pertama menyadarinya pun, dengan spontan langsung mencari alasan.


"Ah dimana ya?" Ujarku sambil berputar-putar. Saat membelakangi Bu Tania, segera ku lepas salah satu antingku dengan cepat. Dan ku lempar asal, tanpa sepengetahuan Bu Tania.


"Ah, ini dia antingnya. Te.. terimakasih pak, sudah membantu Riri mencarinya!" Ujarku gelagapan dan langsung berdiri.


"Ah, i..iya!" Jawab mas Juan terbata yang juga langsung ikut berdiri.


"Pak Juan? Bapak ngapain disini?" Tanya Bu Tania terkejut.


"Ta..tadi saya mau ke toilet. Tapi setelah melihat dia sepertinya sedang mencari sesuatu, jadi saya berinisiatif untuk membantunya. Yasudah, karna sudah ketemu. Saya pergi dulu!" Ujar mas Juan dengan kikuknya, lalu berjalan keluar dari toilet wanita yang sedang ku bersihkan saat ini.


"Ka..kalau begitu, saya permisi Bu, mau bersihkan toilet yang disana dulu!" Ujarku menunjuk toilet untuk guru laki-laki.


"Kamu tidak lihat tadi Pak Juan masuk kesana? Apa kamu mau mengintipnya? Yasudah, kamu makan siang dulu sana, nanti dilanjut lagi." Ucap Bu Tania ketus, lalu berlalu masuk kedalam toilet.


"I..iya Bu!"


"Riri udah ngelakuin yang lebih dari mengintip kali!" Batinku.


Gerk.. gerk..


Tiba-tiba cacing yang ada di dalam perutku berteriak-teriak, ya memang sudah saatnya untuk memberi mereka makan sih, hehhe..


Dengan sedikit tergesa, setelah mencuci tangan. Aku berlari ke kelas untuk mengambil uang jajanku. Ku pikir akan masih sempat ke kantin untuk membeli makanan. Saat tiba di meja belajarku, aku terkejut melihat ada bungkusan berwarna hitam di atasnya.


"Ini apa?" Gumamku, seraya membuka bungkusannya.


"Eh, lalapan? Kok bisa ada lalapan disini? Siapa yang naroh?"


Drt.. drt..


📩 "Selamat makan siang sayang, maaf aku sudah membuatmu repot. Kamu jangan khawatir, toilet pria semuanya sudah ku bersihkan, aku mencintaimu! 😘"


Begitulah pesan singkat yang dikirimkan oleh mas Juan padaku.


"Manis sekali!" Ujarku tersenyum.


"Apanya yang manis?" Tanya Kania yang tiba-tiba datang.


"Ya Allah Kan, Lo tuh hobi banget sih ngagetin gue?" Ujarku sedikit kesal dengan kelakuannya.


"Hehhe, maaf maaf. Jadi apanya nih yang manis?"


"Nih yang manis?" Sambungku seraya mengangkat bogemanku ke arahnya.

__ADS_1


"Woah woah woah, semenjak menikah, kok jadi ganas gini?" Ejek Kania yang kemudian tertawa.


"Lo juga bakalan ngerasain ntar, bagaimana kerasnya kehidupan setelah menikah." Sahutku lengkap dengan kata-kata sok bijak ku.


"Apanya nih yang keras?" Goda Kania sambil menyenggol ku.


"Udah ah, gue mau makan dulu. Laper!" Balasku, yang kemudian duduk hendak menikmati makan siangku.


"Widihhh, lalapan? Kapan belinya Lo?"


"Suami gue yang ngasih, hehhe.."


"Enak bener punya suami di lingkungan yang sama ya, bisa ngejagain sekaligus ngasih perhatian. Apalagi yang lebih dewasa dari kita, kayak lebih bisa mengayomi aja gitu."


"Lo mau? Pak Riko jomblo tuh!"


"Ogah gue!"


"Kenapa? Pak Riko kan baik, dewasa juga." Sambungku.


"Baik apanya? Genit gitu, mana perutnya maju lagi. Iiihhh.. ogah gue!"


"Hahahahaha..."


"Asik bener? Pada ngomongin apaan si?" Ujar Gandhi yang baru saja datang.


"Yang jelas bukan ngomongin Lo!" Balas Kania cepat.


"Buset, Lo sama gue kok bawaannya sewot mulu? Bae-bae Lo ntar jatuh cinta sama gue!" Seru Gandhi dengan PD-nya.


"Dih, PD banget Lo?"


"Iyalah, kata orang cinta itu berawal dari benci. Ya ngga Ri?" Ujar Gandhi yang mencari pembenaran dariku.


"Iya, bae-bae Lo Kan, ntar jatuh cinta sama Gandhi, baru tau rasa Lo. Hahaha.." Kelakarku.


"Dih, nejong. Huekkkk..."


"Serah deh serah. Oiya, ngomong-ngomong Ri. Lo beneran udah putus dari pacar Lo yang rupawan dan baik hati itu?" Tanya Gandhi tiba-tiba.


"Siapa lagi kalo bukan dari ini nih." Sahut Gandhi mendelik ke arah Kania.


"Oh, iya. Gue udah putus." Sebenarnya ini semua rencanaku, aku meminta Kania menyebarkannya pada teman-teman sekelasku, karna aku tidak mau berita bohong ini terlalu lama berlarut.


"Berarti Lo jomblo dong sekarang?" Tanya Gandhi lagi.


"Eh.. I.."


"Kepo banget sih Lo?" Potong Kania.


"Ya kan, gue cuma pengen tau."


"Udah, balik ke kursi Lo sana! Lonceng udah mau bunyi tuh!" Usir Kania.


"Yaelah Lo, jadi temen kejam amat!"


"Bodo :p "


"Thanks ya Kan?!"


"Yes baby!"


"Dih, ngga usah pake baby baby segala juga kali, geli tau!"


"Hahahaha.. Baby!"


"Kan, geli!"


"Hahahaha"


_____________


Teng.. Teng.. Teng..


Akhirnya, lonceng terakhir bunyi juga. Segera setelah lonceng berbunyi, aku langsung memasukkan buku-buku yang berserakan diatas meja kedalam tas ku.

__ADS_1


Saat aku berbalik, aku dikejutkan oleh bunyi letupan party popper dari teman-teman ku dan ada juga bunyi terompet yang mereka tiup cukup keras seketika sukses membuat telingaku kebas karna suaranya yang nyaring.


"Happy Birthday!"


Seru mereka berbarengan.


Di susul dengan nyanyian selamat ulang tahun, beserta kue yang di bawakan oleh Jaka.


Happy birthday to you..


Happy birthday to you..


Happy birthday.. Happy birthday..


Happy birthday to you..


Tiup lilinnya..


Tiup lilinnya..


Tiup lilinnya sekarang juga.. Sekarang juga.. Sekarang juga..


"Wufhhhhh..."


"Yeayyyyyyyy"


Prok prok prok..


"Happy birthday Riri!"


"Happy birthday Ri!"


"Selamat ulang tahun ya Ri!"


Ucap mereka yang bergantian memberiku selamat.


"Thanks ya guys!" Kini mataku mulai berkaca-kaca.


"Uuuu.. cup cup cup."


Dengan serempak mereka memberiku pelukan.


"Udah dong, masa nangis?" Seru Sherly, seraya menghapus air mataku yang mulai tergenang.


"Gue seneng banget!" Ujarku tersenyum sekaligus menangis haru.


"Aduduh...."


Mereka kembali memelukku.


"Ri?" Panggil seseorang, yang langsung mengalihkan perhatian ku.


Dengan berdiri membawa setangkai mawar putih dan juga kotak kecil di tangannya.


"Jaka?" Ujarku terkejut.


"Gue sadar, ngga seharusnya gue ungkapin ini sekarang karna Lo baru putus dari pacar Lo. Tapi Ri, gue ngga mau nyesel karna ngga ungkapin semuanya sama Lo hari ini, gue bahkan perlu keberanian yang ekstra untuk ungkapin semuanya hari ini. Jadi gue harap Lo mau dengerin gue sampai akhir ya?"


"Jaka?"


Aku tidak tau harus bersikap bagaimana, kalau aku langsung menghentikannya sekarang dia pasti akan terluka dan malu, tapi jika tidak ku hentikan dia akan semakin berharap.


"Aduhhh, gimana nih?" Batinku.


"Gue tau, gue ngga punya apapun untuk dibanggakan. Karna sampai sekarang gue juga masih bergantung sama kedua orangtua gue. Gue juga bukan dari keluarga yang kaya raya, tampang gue juga bisa dibilang pas-pasan. Tapi gue janji kedepannya gue akan lebih berusaha menjadi layak buat Lo. Untuk sekarang gue cuma mau bilang kalo gue suka sama Lo, gue tulus sama Lo, gue mau bahagiain Lo Ri. Saat gue sukses kelak, gue pasti datengin Lo. Gue ngga minta Lo buat jawab sekarang, gue cuma pengen Lo tau gimana perasaan gue. Gue cuma pengen Lo bisa ngerasain perasaan gue yang tulus buat Lo Ri."


"Lo orang yang baik Jak, kenapa Lo harus suka sama gue?" Batinku, aku benar-benar tidak tau harus meresponnya seperti apa. Rasanya aku tidak sanggup untuk menghempaskan perasaannya, karna dia benar-benar pria dan juga teman yang baik untukku.


Brakkkk..


Suara dobrakan pintu yang cukup keras seketika mengalihkan perhatian kami.


"Ada apa ini?"


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2