
❤️❤️❤️
"Apa dia mendengar detak jantungku ya? Ah semoga saja tidak". Batinku.
Aku jadi diam membeku dibuatnya, jika bergerak sedikit saja tubuhku pasti mengenainya. Tapi tak di pungkiri sekarang aku merasa sangat bahagia dan senang sekali hehhe. Allah merestui ku, bahkan sebelum aku mencoba mendekatinya, kami malah di dekatkan oleh yang Maha Kuasa.
"Terimakasih ya Allah?!". Teriak batinku gembira.
Dengan adanya pak Juan di samping ku otak ku tiba-tiba jadi blank dan tak menyadari waktu sudah berlalu dengan cepat.
"Ri.. Riri!". Panggil ibuku, mengagetkan ku.
"Ah, i.. iya Bu". Sahutku yang baru tersadar.
"Ayo kita pulang". Ajak ibuku.
"Ah iya Bu". Ujar ku lalu berdiri dari tempat dudukku.
"Salim dulu sama Tante Nala dan om Adi". Suruh ayahku.
"Iya yah". Jawabku cepat.
"Tante, Riri pulang dulu ya". Pamitku lalu mencium punggung tangannya.
"Iya, nanti jangan lupa main-main kesini lagi yah". Ujar tante Nala tersenyum.
"Iya tante". Sahutku yang juga tersenyum ramah.
Lalu berjalan mendekat pada om Adi.
"Riri pulang dulu ya om. Om cepat sembuh ya". Pamitku sambil mencium punggung tangannya.
"Kalo Riri sering-sering jenguk om, om pasti cepat sembuh". Ujar om Adi yang membuat ku tersenyum.
"Hehhe iya om. Nanti Riri kesini lagi".
"Yaudah Di, kami pamit pulang dulu". Ujar ayahku.
"Eh tunggu tunggu". Ucap tante Nala.
Kulihat sekilas tante Nala melirik ke arah pak Juan, seperti memberikan sebuah kode.
"Biar pulangnya di antar sama Juan aja". Ucap tante Nala, dan mendorong anaknya mendekat padaku dan juga orangtuaku.
Awalnya pak Juan menatap heran pada ibunya, tapi ujung-ujungnya dia juga menawarkan diri untuk mengantar kami pulang.
"Iya, biar saya antar om tante". Tawarnya.
"Eh, ngga usah ngga usah. Ngrepotin aja. Kami bisa naik taksi bu Nala". Ujar ibuku yang tak enak.
"Udah ngga papa. Lagian Juan juga sekalian mau pulang". Sambung tante Nala lagi.
"Iya, lebih baik ikut Juan sekalian Nu. Lagian jalannya searah kan?". Ucap om Adi yang juga ikut membujuk.
__ADS_1
"Aduh, ngga papa nih?". Sahut ayahku tak enak.
"Iya, om biar saya antar sekalian".
"Yasudah kalau begitu, aduh jadi ngrepotin nak Juan deh jadinya". Kata ayahku.
"Santai saja Nu, kayak sama siapa aja". Ujar om Adi.
"Yaudah, kita berangkat sekarang om, Tante?!". Ucap pak Juan.
"Yasudah, Di, Bu Nala kami pamit dulu ya". Pamit ayahku.
"Iya, hati-hati". Sahut om Adi dan istrinya bersamaan.
"Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam".
~
Aku berjalan beriringan dengan ibu dan ayahku sedangkan pak Juan memimpin berjalan di depan.
"Saya ambil mobilnya dulu ya om, tante". Kata pak Juan ketika kami sudah di depan lobi rumah sakit.
"Oh iya nak". Sahut ayahku.
"Ah, aku senang sekaliii". Batinku. Aku tak henti-hentinya tersenyum sejak keluar dari ruangan om Adi tadi.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?". Tanya ibuku yang memergoki ku senyum-senyum sendiri.
"Aduh Ri, senyumnya ngga bisa di tahan dulu apa. Kebiasaan deh". Celetukku dalam hati. Sambil menutup rapat-rapat bibirku.
Ciiitt
Sebuah mobil berhenti tepat di depan kami.
"Silahkan masuk om, tante". Ujarnya mempersilahkan sambil membukakan pintu penumpang yang ada di belakang dan di depan.
Aku dan ibuku duduk di kursi belakang, sedangkan ayahku duduk disamping pak Juan.
"Kok vibesnya udah kayak suami nganter istri dan mertuanya ya? xixixi". Celetukku dalam hati.
"Astaga Ri, bangun woi jangan halu mulu kerjaannya". Ujarku menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Kenapa nak?". Tanya ayahku menengok kebelakang.
"Eh, ngga yah.. hehhe". Sahutku terkekeh.
"Ri, kontrol Ri kontrol". Ujarku dalam hati mengingatkan diriku kembali.
"Sekali lagi maaf ya nak Juan, kami merepotkan". Kata ibuku memulai pembicaraan.
"Ngga papa tante. Santai aja". Sahutnya tersenyum ku lihat dari kaca depan mobilnya.
__ADS_1
"Aduh pak, kalo senyum jangan manis-manis amat dong. Ntar dikerubungi semut loh". Ujarku dalam hati, aku gemas sendiri melihatnya.
~
Setelah kerang lebih 40 menit, akhirnya kami sampai di depan gang. Tempat pertama kali pak Juan mengantarku, hehhe.
"Terimakasih ya nak". Ucap ayahku, lalu turun dari mobil.
"Iya terimakasih banyak loh nak Juan. Mau mampir dulu?". Tawar ibuku.
"Iya sama-sama om, tante. Kayaknya lain kali aja tante, udah sore". Tolaknya sopan.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya tante, om". Pamitnya.
"Iya nak Juan, hati-hati". Sahut ibu dan ayahku.
Ia kembali tersenyum ramah sebelum menghilang sepenuhnya dari hadapan kami.
~
"Nak Juan, orangnya baik ya yah". Ujar ibuku ikut duduk disamping ayahku ketika kami sudah sampai di ruang tamu.
"Iya Bu, persis seperti ayahnya". Ucap ayahku yang juga setuju dengan perkataan ibuku.
"Eh tapi yah, nak Juan tau darimana alamat rumah kita? Perasaan tadi kita belum kasih tau alamatnya?".
Glek
"Iya, aku baru sadar. Pak Juan mengantar kami sampai rumah tanpa bertanya alamat terlebih dahulu. Apa aku bilang aja ya sama ibu dan ayah, pak Juan tau alamat kami karna dia pernah mengantarku pulang. Ahh tidak tidak". Batinku. Apa yang akan dipikirkan ibu dan ayah kalau mereka tau. Aku mengurungkan niatku untuk memberi tahu mereka.
"Mungkin dia sudah di beritahu oleh Adi Bu". Ujar ayahku, tanpa memusingkan perihal bagaimana pak Juan tau alamat kami.
"Hm, iya kali ya". Sahut ibuku membenarkan.
"Huh, selamat". Batinku.
"Bu, yah.. Riri masuk kamar dulu ya". Ujarku.
"Iya sana, mandi dulu jangan langsung tidur". Ibuku mengingatkan.
"Iyaaahh". Sahutku, sebelum melangkahkan kaki masuk kedalam kamar.
~
"Ahhh, enaknya". Ujarku yang membanting tubuhku ke atas kasur.
Ku tatap langit-langit kamarku, aku kembali terbayang wajah pak Juan. Aku membayangkan ketika dia tersenyum padaku.
"Manis sekali, tampan, tinggi, putih, atletis, ramah, baik" Ujarku yang tak henti-hentinya memujinya.
"Baru kali ini aku melihatnya seperti itu, tersenyum ramah, tertawa". Aku mengingat kembali ketika dia tertawa bersama orangtuanya dan orangtua ku tadi ketika kami berkumpul dirumah sakit. Dia benar-benar terlihat berbeda dari biasanya yang ku lihat di sekolah. Aku jadi malu mengakuinya, tapi sepertinya aku benar-benar sudah masuk dalam perangkap pesonanya, aku benar-benar jatuh cinta padanya. Tanpa sadar aku mengembangkan senyumku kembali.
"Pak Juan". Ujarku memanggil namanya sumringah sebelum akhirnya aku terlarut dalam mimpi indah ku.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Enjoy 😚