
❤️❤️❤️
Aku berjalan mengekor di belakang ibu dan ayahku.
"Wahhh, ayah hebat juga bisa temenan sama pak Adi". Pikirku takjub.
"Bagaimana keadaan mu sekarang Di?". Tanya ayahku sambil memegang pundak sahabatnya itu.
"Ya begini lah Nu, seperti yang kau lihat". Jawabnya tersenyum.
"Oh iya, ini...". Ucap ibuku sambil mengulurkan sekantong makanan dan buah pada istri pak Adi.
"Wah, merepotkan sekali". Ujar istri pak Adi tersenyum ramah menyambut uluran ibuku.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit". Sahut ibuku yang juga tak kalah ramahnya.
"Sudah lama sekali ya Nu kita tidak bertemu, terakhir sepertinya ketika kamu akan menikah". Ujar pak Adi sambil menggenggam tangan ayahku.
"Iya, saat itu kamu masih gendut. Hahaha". Jawab ayahku yang tertawa mengenang masa lalunya bersama pak Adi.
Lalu mereka semua tertawa bersama, aku yang berada dibelakang kedua orangtuaku juga ikut merasakan bahagia melihat mereka berkumpul dan tertawa seperti ini.
"Jarang sekali aku melihat ayah tertawa seperti ini". Batinku tersenyum.
"Eh itu.. anakmu Nu?". Tanya pak Adi yang melihat ku bersembunyi dibelakang kedua orangtuaku.
"Iya, ini anak ku Di".
"Ayo sini, kasih salam sama pak Adi dan istrinya". Ujar ayahku menyuruhku untuk mendekat.
Dengan malu-malu aku berjalan di tengah-tengah mereka.
"Aduh, jangan malu-malu dong. Sini nak?!". Ucap pak Adi ramah.
Aku hanya tersenyum.
"Wah, putri pak Danu dan bu Gita cantik sekali ya yah". Puji istri pak Adi padaku.
"Iya Nu. Kamu beri makan apa bisa sampai secantik ini?". Ujar pak Adi.
"Hahaha, kalian ini. Bisa saja". Ucap ayahku.
Aku yang di puji hanya bisa tersenyum kikuk.
"Arianti pak, Bu". Ujarku menyalami mereka sambil menunduk sopan.
"Panggil tante Nala saja". Kata istri pak Adi sambil tersenyum ramah padaku.
"Wah, namanya juga cantik yah". Tante Nala kembali memujiku.
"Iya Bu". Jawab pak Adi tersenyum.
Aku jadi tambah malu dibuatnya.
Entah keberanian darimana secara spontan aku langsung bertanya pada pak Adi.
"Bapak bagaimana kabarnya? Apa sudah lebih baik?". Tanyaku.
"Loh kok panggil bapak sih. Panggil aja om". Ujar pak Adi.
"Heheh maaf om, saya sudah terbiasa memanggil om dengan sebutan bapak". Ujarku tersenyum kikuk, menggaruk tengkuk ku yang sebenarnya tidak gatal.
__ADS_1
Mereka semua secara bersamaan menatap ku heran.
"Saya sekolah di sekolah xxx om". Ujarku yang mengerti maksud dari tatapan mereka yang penuh tanda tanya itu.
"Benarkah?". Tanya om Adi seolah tak percaya.
"Wah, Nu.. Sepertinya kita memang ditakdirkan bertemu kembali. Hahaha". Ujar om Adi.
Ayahku menatap padaku heran.
"Om Adi ini kepala sekolah Riri yang dulu yah". Ujarku menjelaskan.
"Ternyata kita sedekat itu Di, aku tidak tau sama sekali". Ucap ayahku.
"Iya, aku juga tidak menyangka Nu". Balas om Adi.
"Oh iya, berarti kamu juga tau dong dengan anak om?". Tanya om Adi padaku.
"Anak om Adi?". Pikirku, aku memutar otak ku untuk mencari jawaban.
"Anak om sekolah di SMA xxx juga?". Tanyaku bingung.
"Hahaha". Kulihat om Adi tertawa sebelum menjawab pertanyaan ku.
"Dia menggantikan om sebagai kepala sekolah disana, baru seminggu ini". Kata om Adi menjelaskan.
Aku masih mencerna perkataan om Adi. Astaga? Kenapa aku tidak menyadarinya. Juanda Putra Adiyatmo memiliki nama belakang yang sama dengan om Adiyatmo teman ayahku.
Aku terkejut bukan main. Jadi pak Juan adalah anak dari pak Adi yang juga sekaligus teman ayahku? Aku membelalak kaget.
Pak Adi dan istrinya tertawa melihat perubahan ekspresi ku.
"Kenapa? Wajah om dengan Juan tidak mirip ya?". Tanya om Adi tiba-tiba.
"Ya iyalah yah, kegantengan Juan kan nurun dari ibu". Sahut tante Nala.
Aku terkekeh mendengar perkataan tante Nala.
"Ternyata mereka seasik dan seramah ini ya, berbeda sekali dengan seseorang yang ku kenal". Batinku.
"Aduh aduh saking asiknya ngobrol jadi lupa mempersilahkan duduk". Ujar tante Nala.
"Oh iya, silahkan duduk silahkan duduk". Tambah om Adi.
"Ah kalian ini, seperti sama siapa saja". Sahut ayahku.
"Iya, santai saja". Sambung ibuku.
~
Ku pandangi ayahku yang tengah asik berbincang melepas rindu dengan teman lamanya, terlihat sangat akrab sekali, ayahku tertawa lepas sekali mengenang masa lalu mereka bersama. Begitu juga dengan ibuku, mereka asik berbincang sesama seorang perempuan dan juga seorang ibu.
Ku perhatikan om Adi dan istrinya secara saksama. Kenapa aku tidak menyadarinya. Semakin ku lihat, wajah mereka semakin mirip.
"Pantas saja pak Juan memiliki wajah yang rupawan, ternyata menurun dari kedua orangtuanya". Batinku.
Tok tok tok
Suara ketukan itu menghentikan lamunanku, begitu juga dengan orangtua ku dan om Adi serta istrinya, seketika perbincangan mereka terhenti.
Krek
__ADS_1
"Assalamualaikum". Ujar sebuah suara. Suara yang tak asing di telingaku.
"Akhirnya kamu datang juga, sini nak". Ujar om Adi.
"Pak Juan?!". Aku tersenyum gembira melihat kedatangannya. Sebenarnya inilah yang ku harapkan dari tadi. Aku ingin melihat wajahnya. Terimakasih ya Allah, engkau mengabulkan doaku. Aku benar-benar merasa bahagia di lubuk hatiku.
"Kenalkan ini sahabat ayah, namanya Om Danu dan itu istrinya Bu Gita". Om Adi memperkenalkan.
"Oh iya. Juan om". Ujarnya ramah sembari mengulurkan tangannya, lalu berjalan mendekat pada ibuku yang tengah duduk di sebuah sova yang ada di ruangan rawat ini.
"Juan, Tante". Ia kembali mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah pada ibuku.
"Ternyata dia bisa tersenyum seperti ini, ganteng bangeeeeetttt". Ujarku jejeritan dalam hati.
"Dan apa kau mengenal gadis cantik itu?". Ucap om Adi, menunjuk ke arahku.
"Aduh, bagaimana ini? Dia menatap ke arahku". Jantungku mulai berdegub kencang. "Jantuuunggg, ku mohon tenanglah". Ujarku dalam hati, aku benar-benar gugup sekali.
"Kau?!". Ucap pak Juan tiba-tiba, ia mengerutkan keningnya.
Glek
Aku menelan ludahku dengan kepayahan.
"Iya, ini anaknya om Danu dan tante Gita. Cantik kan?". Ujar tante Nala merangkul pundakku pelan.
Dia semakin mendekat ke arahku. Detak jantungku semakin tidak karuan.
"Senang bertemu denganmu!". Ujarnya tersenyum padaku, ia mengulurkan tangannya padaku.
"Astaga, bagaimana ini? Dia tersenyum padaku?". Aku masih terpaku ditempatku, tidak percaya dengan apa yang ku lihat, pak Juan tersenyum padaku. Aku benar-benar merasa seperti memenangkan lotre.
"Iii.. iya pak". Ujarku terbata, tanganku bergetar ketika hendak menyambut uluran tangannya.
"Kenapa tangan mu bergetar sayang? Apa Juan menakutkan?". Ucap tante Nala tiba-tiba.
"Eh.. eng .. ttt.. tidak". Ujarku malu.
"Ibu". Ujar pak Juan menatap tajam pada ibunya.
Tante Nala langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Bu, sudah lah jangan menggoda mereka terus. Itu lihat, Riri jadi malu?!". Tambah om Adi yang di iringi tawa kecil kedua orangtuaku. Aku jadi tambah malu dibuatnya.
"Wah, nak Juan hebat ya. Masih muda sudah jadi kepala sekolah". Puji ayahku.
"Ah, tidak om". Sahut pak Juan merendah.
"Jadi, bagaimana Ri? Apa Juan galak di sekolah?". Tanya tante Nala lagi menatap ku intens.
"Ti.. tidak tante". Jawabku cepat.
"Bu, apa kau tidak mau berhenti?". Ujar pak Juan.
"Ibu kan hanya ingin tau saja". Elak tante Nala.
"Ibu dan anak ini lucu sekali, xixi". Batinku.
Ku lihat pak Juan mendekat ingin duduk di samping ibunya yang kosong, tapi tante Nala malah menggeser duduknya hingga sekarang di sampingku lah yang kosong. Mau tidak mau dia duduk tepat disamping ku dan jaraknya hanya sekitar 2 centi saja. Sangat dekat sekali, aduh jantungku mulai berdangdut ria kembali. Bagaimana ini?!
❤️❤️❤️
__ADS_1
Hi hi 🤗 bagaimana? Kalian suka ngga? Kalau suka jgn lupa like komen vote serta jadikan favorit di rak buku kalian ya biar tiap kali author update kalian akan dapat notifnya 😊 terimakasih ya sudah suka dan setia menunggu update an dari author 😊 sayang kalian banyak-banyak 😘😚
Enjoy for reading 🤗