Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Jadi Tumbal


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Pagi sayang!" Sambut Bu Nala ketika aku menuruni anak tangga menuju meja makan.


"Pagi Yah, Bu.." Sapa ku sambil tersenyum manis, lalu menarik kursi kosong yang ada di samping Bu Nala.


"Juan mana sayang? Kok belum turun?"


"Palingan bentar lagi turun kok Bu."


Sepertinya gara-gara kejadian kemarin sore ketika aku menggodanya, dia marah padaku. Buktinya, dari kemarin sore sampai sekarang dia tidak menegurku sama sekali. Selalu membuang muka jika tatapan kami saling bertemu, tidur saja membelakangi ku. Bahkan, ketika aku meminta maaf dan berusaha bicara padanya, dia tidak menggubris ku sama sekali. Aku selalu mengulum senyum melihat tingkahnya yang merajuk seperti anak kecil yang tidak di beri permen, menggemaskan sekali.


Hingga 15 menit kemudian ku lihat Pak Juan turun dan berjalan ke arah meja makan. Di tariknya kursi kosong yang ada di seberang ku. Jika kalian bisa melihatnya, sungguh.. wajahnya sangat masam sekali 😂.


"Kenapa lagi sih kamu Ju? Perasaan kemarin baik-baik aja, sekarang malah di tekuk gitu mukanya?" Ujar Bu Nala mengawali obrolan di tengah-tengah keheningan di meja makan saat ini.


"Iya, perasaan kemarin happy-happy aja. Ketawa ketiwi, kenapa sekarang jadi gitu mukanya? Kalian bertengkar lagi?" Timpal Ayah Adi.


"Uhuk uhuk"


"Aduh, pelan-pelan dong sayang makannya. Ini, minum dulu." Ucap Bu Nala sembari menyodorkan segelas air putih padaku.


Tanpa membuang waktu aku langsung menenggaknya sampai habis.


"Ngga ada apa-apa kok Yah." Ujar Pak Juan yang akhirnya membuka suaranya, lalu sekilas menatapku dengan tatapannya yang mengintimidasi.


Sekarang aku sedikit menyesali perbuatanku kemarin.


"Heh, cobaaaannn!" Batinku, pasrah.


Setelah aku dan Pak Juan menghabiskan sarapan kami, kami langsung berjalan beriringan keluar rumah menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumah, yang sebelumnya sudah di persiapkan oleh Pak Amat.


Di dalam perjalanan, suasana kembali menjadi hening. Ditambah jalanan yang masih sangat sepi, malah membuat suasana yang sudah hening jadi semakin mencekam.


"Hm, Pak?" Ujarku mencoba mengawali pembicaraan.


"Kau tau kan apa kesalahan mu, jadi jangan ajak aku bicara." Ujarnya yang membuatku langsung mengatupkan kedua bibirku rapat-rapat.


"Perasaan aku hanya menggodanya sekali, tapi marahnya sudah seperti ini. Sedangkan dia sering menggoda dan menjahili ku, kalau ku diamkan sudah marah-marah kayak cacing kepanasan." Batinku, sambil menatap tajam ke arahnya. Sedangkan orang yang ku tatap itu, tidak menoleh sama sekali.


"Ke kanak-kanakan." Ujarku sambil sibuk memainkan telpon genggam ku.


Ku lirik sekilas, dia memelototkan matanya padaku setelah mendengar perkataan ku barusan.


"Lagi ada masalah malah curhat di sosmed." Sambungku, tanpa mengalihkan pandangan dari layar telpon genggam ku.


Ku lihat dia berhenti menatapku lalu kembali fokus menyetir.


"EGOIS!" Ujarku lagi dengan penuh penekanan.


"Kau menyindirku?"


"Syukurlah, kalau tau diri!" Batinku.


"Siapa yang nyindir, orang Riri lagi baca novel." Elak ku cepat. Padahal ucapannya barusan benar adanya, aku memang sengaja mengatakan itu untuk menyindirnya.


-


"Woy" Ujar Kania mengagetkan ku.


"Ya ampun Kaaaannn..." Ucapku sambil mengurut pelan dadaku.


"Hehhe, gimana kondangan kemaren?" Tanya Kania tanpa basa-basi.


"Kereeeeeennn banget Kan, mewah banget. Gue aja sampe melongo liatnya." Sahutku kembali antusias mengingat acara pernikahan yang mewah dari keluarganya Pak Juan.

__ADS_1


"Pasti orang berkelas semua yang dateng ya?"


"Hooh, jujur kemaren gue agak minder berada di tengah-tengah mereka."


"Kok gitu? Apa ada yang nyinggung Lo disana?"


"Ngga kok Kan. Yaa.. gue cuma ngerasa berada ditempat yang berbeda aja pas gue gabung sama keluarganya. Mereka semua dari keluarga yang terpandang dan juga terhormat. Sedangkan gue?" Ujarku tersenyum ketir, mengingat perbedaan yang sangat jauh antara keluarga ku dan juga keluarganya Pak Juan.


"Yaelah, ngga usah Lo pikirin. Kan ada suami dan juga kedua mertua Lo yang sayang banget sama Lo. Kalo mereka udah bawa Lo buat ketemu keluarganya, berarti mereka bener-bener nganggep Lo keluarga mereka juga, terlepas dari status sosial Lo."


"Iya, gue juga bersyukur banget Kan, bisa punya mertua yang sangat baik dan sangat peduli dengan gue dan juga keluarga, meskipun kami dari keluarga yang biasa. Tapi mereka bisa menerima dan berbaur dengan kami tanpa adanya batasan."


"Aahhhhh, sini gue peluk dulu."


Kania, dia bukan hanya sekedar sahabat bagiku, tapi dia benar-benar orang yang sangat berarti dalam hidupku. Dia selalu ada dalam suka maupun duka, selalu mensupport apapun yang ku lakukan. Tidak pernah meninggalkan ku dalam situasi yang sangat pelik sekalipun. Jika terjadi apa-apa padanya itu juga pasti akan sangat menyakitiku, selama bertahun-tahun bersama, kami benar-benar tumbuh seperti saudara kembar yang saling terikat satu sama lain.


Teng teng teng


Jam istirahat pertama telah tiba.


Ku lihat banyak anak yang berlalu lalang dengan terburu-buru melewati kelasku.


"Ke kantin yuk!" Ajakku pada Kania.


"Bentar.. bentar, ada pengumuman penting yang harus gue sampein."


"Pengumuman? Pengumuman apaan? Kok Lo ngga ada ngasih tau gue?" Tanyaku heran.


"Hehhe, ini penting soalnya. Makanya gue mau umumin di depan kelas, biar sekalian anak-anak juga pada denger. Bentar yahh.." Ujar Kania, lalu berjalan ke depan kelas untuk mengumumkan sesuatu yang penting seperti yang di katakannya barusan.


"Gais.. gais.. mohon perhatiannya sebentar. Jangan ada yang keluar kelas dulu ya. Gue ada pengumuman yang sangat amat penting yang perlu kalian tau." Ujar Kania meninggikan nada bicaranya.


"Pengumuman? Pengumuman apaan?" Pekik Gandhi berkomentar.


"Iya, jadi gini guys. Berdasarkan hasil rapat komite sekolah kemaren. Kita di himbau untuk memilih satu orang yang akan mewakili sekolah kita untuk menjadi gadis sampul 2021."


"Tapi, tapi... ada tapinya guys." Sambung Kania.


"Tapi apaan?" Ujar Jaka menimpali.


"Tapi kali ini, kelas 3 juga akan ikut berpartisipasi."


"Hah?" Pekik kami serempak.


"Kok bisa? Bukannya sekolah kita biasanya cuma mengikut sertakan kelas 1 dan 2?" Ujar Rika.


"Gue juga ngga tau, pokoknya gue cuma disuruh buat umumin kalau anak kelas 3 juga wajib ikut serta, dan nantinya akan di seleksi lagi dengan kelas lainnya, mana yang terbaik maka dia yang akan menjadi perwakilan sekolah kita untuk menjadi calon gadis sampul 2021."


"Aduh, ada-ada aja sih. Udah di bikin pusing karna bentar lagi ujian. Eh nambah lagi 1 beban." Celetuk Laras.


"Iya, ada-ada aja." Timpal Sherly.


"So, siapa yang bersedia untuk mewakili kelas kita?" Tanya Kania.


Kami semua hanya sibuk menatap satu sama lain, tidak ada yang mau mengangkat tangan.


"Ayodong, masa ngga ada yang mau. Hadiahnya gede loh.. 50jt." Ujar Kania.


"Hah, serius Lo Kan?" Tanya Sherly antusias.


"Iya masa gue boong, belum lagi keuntungan-keuntungan lainnya."


"Gue aja gimana?" Ujar Laras menawarkan diri.


"Ras, sorry nih sorry.. kalo Lo yang ikut, baru tahap seleksi pertama kelas kita sudah pasti gugur." Ujar Gandhi lalu di iringi dengan gelak tawa dari anak-anak lainnya.

__ADS_1


"Ya namanya kan juga usaha."


"Yaudah gini aja, biar adil. Kita vote aja gimana?" Ujar Kania mengusulkan.


"Nah iya bener, gue setuju." Sahut Jaka.


"Iya, gue juga setuju" Kata anak-anak lainnya yang juga ikut setuju.


"Ok, sepakat ya. Jadi, dalam hitungan ketiga kalian boleh langsung tunjuk orang yang mau kalian rekomendasikan."


"Ok."


"Ok, sista"


"1"


"2"


"3"


Semua orang menunjuk.


"Gue?" Pekik ku, kaget.


"Iya, Lo Ri."


"Eh, bentar-bentar. Yang bener aja dong, masa gue?"


"Iya, emang Lo yang paling cocok di kelas kita. Ya ngga guys?" Ujar Sherly.


"Hooh" Ujar mereka serempak.


"Kenapa jadi gue yang kena? Lo aja deh Kan?"


"Gue mau sih Ri, soalnya gue juga multi talent" Ujar Kania dengan bangganya.


"Sadar Kan sadar..." Celetuk salah satu teman di kelasku, yang di sambut gelak tawa oleh beberapa temanku lainnya.


"Apa sih sirik aja Lo pada".


"Tapi Lo tau kan Ri, meskipun gue multi talent, tapi gue lemah dalam bahasa Inggris, hehhe.. yang ada ntar gue malah di ketawain. Ogah gue."


"Udah terima nasib aja Ri." Celetuk lainnya.


"Tapi gue juga ngga pinter-pinter amat dalam pelajaran kali."


"Tapi, syarat tahun ini emang cocok banget di Lo Ri. Udahlah terima aja."


"Iya Ri, terima aja lah. Demi kelas kita."


"Tapi, masa gue sih? 😣"


"Riri.."


"Riri.."


"Riri.."


Sorak mereka serempak.


"Kok, jadi gue yang di jadiin tumbal sih? 😣"


❤️❤️❤️


Have fun 😘

__ADS_1


Jgn lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favoritnya juga ya 😉😚🙏


Gomawo yeorobun 😚


__ADS_2