
❤️❤️❤️
"Aku akan lakukan apapun agar secepatnya bisa keluar dari sini!" Ujarku dengan tekad yang sudah bulat.
"Den, maafkan aku! Aku salah! Ku mohon, maafkan aku!" Teriakku mengiba.
Beberapa menit kemudian, dia membuka pintunya kembali.
"Apa kamu sudah merenungi kesalahanmu?"
"I..iya, Riri menyesal!" Ujarku, padahal aku sendiri pun tidak tau dimana letak kesalahan ku.
Sepersekian detik kemudian dia menyinggung kan senyumannya setelah mendengar ucapanku. Lalu kemudian keluar kembali meninggalkan ku.
"Kenapa dia keluar lagi? Aduh, laper banget." Batinku, sambil menekan perut ku yang memang sudah sangat lapar, karna dari semalam aku belum memakan apapun.
Tak lama setelah itu, dia kembali masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Aku menelan saliva ku, melihat makanan yang dibawanya.
"Makanlah!" Ujarnya sambil membelai lembut rambutku.
Ingin sekali rasanya aku menepis tangannya, tapi aku berusaha untuk menahannya, aku tidak boleh ceroboh kali ini, aku tidak boleh membuatnya marah. Aku harus memulihkan tenagaku, agar bisa keluar dari sini secepatnya.
Dia terus memperhatikan ku makan, dengan senyuman yang mengembang.
"Ke..kenapa kamu menatapku begitu?" Tanyaku memberanikan diri.
"Aku senang melihatmu makan seperti ini, saat makan seperti ini, kalian terlihat sangat cantik!" Ujarnya tersenyum, jujur sekarang aku merasa takut ketika melihatnya tersenyum, senyumannya terlihat mengerikan bagiku.
"Kalian? Apa ini berkaitan dengan seseorang yang kamu bilang sangat mirip dengan ku?" Ujarku yang semakin berani bertanya, aku ingin mengetahui kenapa dia bisa jadi seperti ini.
"Selesai makan, mandilah! Aku sudah siapkan semuanya." Ujarnya yang menghindari pertanyaan ku lalu keluar meninggalkan ku.
"Kenapa dia menghindari pertanyaan ku?" Aku berpikir keras untuk menemukan jawabannya, tapi aku tidak menemukannya. 1 hal yang bisa ku pikirkan adalah seseorang yang dia maksud sangat mirip denganku, apa mungkin dia kembaran ku? Ah, tidak mungkin.
Setelah selesai makan, aku membersihkan diriku. Dan mengganti pakaianku dengan yang sudah di siapkannya.
"Apa yang harus ku lakukan agar aku bisa keluar dari tempat ini secepatnya?" Pikirku sambil memandang ke arah luar jendela. Aku tidak mungkin bisa keluar melalui jendela, karna jendela ini memiliki tralis, belum lagi ketinggiannya. Tiba-tiba aku terpikirkan sebuah ide yang mungkin saja bisa menolongku keluar dari sini.
"Ahhhhh.." Teriak ku.
Dan benar saja, dia langsung datang menghampiriku.
"Berhasil!" Batinku.
"Ahhhhhhh..." Aku semakin mengerang dengan keras.
"Ada apa? Kamu kenapa?" Tanya Dennis panik.
"Perutku, perutku sakit Den.." Ujarku sembari meringkuk dan memegangi perutku di balik selimut, tanpa sepengetahuannya aku sudah mengenakan sepatu, agar aku bisa lebih mudah kabur darinya.
"Dimana?" Tanya Dennis sembari menyentuh perutku.
__ADS_1
Bugggg
Aku menendangnya kuat-kuat dengan kaki ku, hingga dia terpental dan tersungkur ke lantai. Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung lari dengan sekuat tenaga ku. Namun rencana ku tidak berjalan mulus begitu saja, dia mengikutiku. Bahkan jarak kami sekarang sudah dekat, karna dia berlari lebih cepat dariku. Tapi aku tidak putus asa, aku terus berusaha lari dengan segenap energiku yang masih tersisa.
Hingga aku masuk ke dalam hutan, aku tidak mengetahui dimana sekarang tempatku berada, yang ku pikirkan adalah aku harus berlari dan berlari sejauh yang ku bisa. Bahkan hari yang sudah mulai gelap, tidak akan bisa menghentikan langkahku. Dengan sisa kekuatan yang ada aku terus berusaha lari, bahkan dalam keadaan ku yang sudah sangat kelelahan. Tapi sialnya, keberuntungan masih belum berpihak padaku.
Grep
Dia berhasil meraih tanganku.
"Sekarang kamu sudah tidak bisa lari lagi dariku!" Ujarnya mencengkram tanganku kuat.
"Lepaskan!" Pekik ku, aku terus meronta meminta di lepaskan, tapi dia semakin erat mencengkram tanganku.
"Lepaskan! Pak Juan pasti sedang mencariku sekarang. Lepaskan!"
Plakkk
Dia menamparku dengan kerasnya, sehingga aku tersungkur ke tanah.
"Juan, Juan, Juan, Juan... Aku sangat muak mendengar namanya!" Teriaknya.
Seketika aku langsung gemetaran setelah mendengar teriakannya, dia benar-benar sangat menakutkan dengan ekspresi kemarahan diwajahnya saat ini. Dengan perlahan aku berusaha memundurkan tubuhku, agar kiranya aku masih memiliki kesempatan untuk kabur darinya, tapi lagi-lagi usaha ku gagal.
"Aku yang lebih dahulu mencintaimu, tapi kenapa kamu lebih memilih dia daripada aku." Ujarnya yang berjalan mendekat ke arahku.
"Kenapa kalian sangat mirip, kalian sangat mencintai laki-laki yang tidak pernah mencintai kalian? Sedangkan aku, aku selalu mencintai kalian dan selalu ada di saat kalian membutuhkan ku. Tapi kalian tidak pernah menganggap ku sama sekali. KENAPA?" Bentaknya, sambil mencengkram wajahku. Aku meringis kesakitan merasakan cengkramannya yang kuat pada tulang pipiku.
"A..apa yang mau kamu lakukan Den? Ku mohon jangan seperti ini, aku janji, aku tidak akan memberitahu siapa pun soal ini, asal kamu bersedia melepaskan ku." Aku masih berusaha untuk membujuknya dengan segala ketakutan ku.
"Kamu tau, kalian sangat membuat ku kecewa. Mungkin dengan cara ini, kalian akan tetap bersamaku, dalam hatiku, selamanya."
"Ku.. Ku mohon, jangan lakukan hal ini Den. Kalau kamu membunuhku sekarang, kamu akan berada di penjara seumur hidupmu."
"Penjara? Hahaha, aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di penjara. Karna apa? Karna polisi di dunia ini sangat bodoh, mereka tidak bisa menangkap ku, cukup mengkambing hitamkan seseorang, aku sudah bisa bebas dari segala tuduhan. Kau ingin tau, bagaimana aku memberinya pelajaran karna terus melawan ku, aku akan menceritakannya padamu." Ujarnya yang sekarang berjongkok.
"Pertama-tama aku mencekiknya, menusuk perutnya berulang kali."
"Ah, apa aku menggunakan pisau ini waktu itu?" Ujarnya dengan ekspresi psikopatnya menunjukkan pisau yang dipegangnya saat ini.
"Aku menusuk perutnya dengan pisau ini berulang kali, memutar ke kiri, ke kanan, lalu menusuknya lagi, hingga ku lakukan berulang kali. Kau tau bagaimana rasanya? Menyenangkan, sangat menyenangkan rasanya memberi teguran untuk seseorang yang senang sekali membangkang." Seolah tanpa rasa bersalah, dia mengungkapkan semuanya dengan tersenyum.
"Dan mungkin kali ini, aku akan merasakan kesenangan itu lagi."
"Kamu gila, bi*d*p, psikopat. Kamu pasti akan mendapatkan ganjarannya."
"Hahahaha.. kata-kata mu manis sekali sayang. Aku ingin tau, apa setelah pisau ini menyentuh perutmu, kamu masih bisa berbicara semanis ini padaku?"
"Aku masih memberimu kesempatan sayang, memohonlah padaku? Lalu aku akan menikahimu, dan membuatmu bahagia selamanya bersamaku!"
"Cuih.. Aku tidak sudi menikah dengan laki-laki gila seperti mu, lebih baik kamu bunuh aku sekarang daripada aku harus menjalani penderitaan seumur hidupku bersama laki-laki gila seperti mu."
__ADS_1
"Hahaha, bahkan permintaan kalian pun sama. Baiklah, aku akan dengan senang hati mengabulkan permintaan kalian." Ujarnya lagi yang kemudian berdiri.
Bugggg
"Pak Juan?" Ujarku terkejut melihatnya tiba-tiba datang.
"Jangan berani-berani Lo nyakitin istri gue."
Bug
"Jangan harap gue akan maafin Lo setelah apa yang Lo lakuin sama istri gue."
Bug
Bug
Bug
"Pak, sudah. Hentikan! Bisa-bisa Dennis mati kalau Bapak menghajarnya seperti ini." Ujarku mencoba menghentikannya.
"Dia pantas mendapatkannya!"
Bug
"Pak, Riri mohon. Lihat? Dia sudah pingsan."
"Heh..heh..heh.."
"Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Ujarnya cemas sambil membelai lembut wajahku.
"Ngga, Riri ngga papa Pak!" Sahutku sembari memegangi tangannya.
"Syukurlah! Aku takut sekali jika sesuatu terjadi padamu." Ujarnya yang langsung memelukku.
Karna terlarut dalam suasana haru, tanpa kami sadari. Seseorang yang terbaring pingsan tadi ternyata sudah bangun, lengkap dengan sebalok kayu di tangannya.
Bug
Dia memukulkan kuat kayu itu pada bagian belakang Pak Juan.
"Pak Juan!" Pekik ku.
Bug
"Dennis hentikan!" Teriak ku, lalu seolah tanpa takut aku memeluk erat tubuh Pak Juan yang sudah terkulai lemas, aku ingin melindunginya bagaimana pun caranya, sekalipun harus dengan nyawaku sendiri.
"Heh, baiklah kalau ini mau kalian. Aku akan membuat kalian bersama selamanya!"
Dor
__ADS_1
❤️❤️❤️