Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Reina?!


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Minggir!" Dengan nada yang dingin mas Juan menyenggol pria itu hingga tergeser dari tempatnya.


Grep


Lalu dia mengangkat ku tiba-tiba, aku membelalak kaget di buatnya.


"Mas ngga usah, Riri bisa jalan sendiri!" Ucapku pelan di telinganya.


Bukannya menjawabku, tapi dia malah memberiku tatapan tajam yang membuatku seketika menutup mulutku. Lebih baik aku diam ku pikir, daripada membuatnya tambah marah.


Tak lama setelah mengangkatku dia langsung membawaku pergi.


"Kak, maaf ya? Saya duluan!" Ujarku tak enak.


Dalam perjalanan menuju mobil dia tidak berbicara sama sekali, begitupun dengan ku. Aku hanya memperhatikan wajahnya dalam diam, ku pikir jika aku bicara itu hanya akan semakin menyulut emosinya, terlihat dari ekspresinya yang datar sekaligus dingin yang hanya memperhatikan jalan di depan dengan hanya terus berjalan.


Setelah kami tiba di sisi mobil, ku lihat kedua orangtua dan juga mertuaku langsung turun, mungkin mereka sedang bingung dan bertanya-tanya kenapa aku di angkat oleh mas Juan.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Kamu kenapa nak?"


Tanya mereka khawatir.


"Ah, ini. Kaki Riri agak sakit gara-gara hak sepatu yang tinggi."


"Ya ampun, kok bisa?"


"Yaudah, kita kerumah sakit sekarang!" Usul Bu Nala.


"Iya iya, kita langsung ke rumah sakit saja!"


"Ngga usah Bu, Yah. Palingan nanti di kompres juga sembuh." Tolak ku, aku tidak ingin merepotkan mereka.


"Kita kerumah sakit sekarang!" Ujar mas Juan yang serta merta membuatku langsung terdiam. Aku tidak bisa menolaknya, bisa-bisa dia akan semakin marah, ditambah lagi sekarang ada kedua orangtua kami, aku tidak ingin membuat mereka khawatir tentang aku dan juga mas Juan. Tanpa membantah lagi, aku mengikuti semua yang disuruh olehnya dan juga para orangtua.


____________


Setelah kaki ku di obati, kami langsung pulang. Dan tak lupa terlebih dahulu mengantar kedua orangtuaku. Kami tidak bisa mampir, jadi hanya bisa berpamitan sampai di depan gang saja karna sekarang sudah jam 01.00 malam. Segera setelah berpamitan aku, mas Juan dan juga kedua mertuaku langsung pulang ke kediaman kami. Selama di perjalanan aku hanya di temani mengobrol oleh Bu Nala dan juga Ayah Adi, sedangkan pria yang di sampingku saat ini hanya diam dan tidak memberikan respon apapun.


"Marah banget ya?" Batinku, sembari menatap nanar ke arahnya, sedangkan dia hanya menatap ke depan, sibuk dengan kemudi setirnya.


Kurang lebih 30 menit, akhirnya kami tiba dirumah. Kedua mertuaku turun terlebih dahulu. Dan aku sengaja belum turun, karna ingin berjalan bersama dengannya masuk ke dalam rumah.


"Turun! Aku mau memarkirkan mobilku!" Ucapnya datar tanpa menoleh pada ku. Seketika hatiku terasa ketir melihat ekspresinya yang seperti ini.


"Iya mas!" Sahutku pelan, lalu kemudian aku melepaskan seatbelt ku dan turun dari mobil.

__ADS_1


Aku terus memperhatikannya yang sudah tak terlihat karna dia sudah masuk ke dalam garasi untuk memarkirkan mobilnya. Aku masih terdiam dengan melamun di posisiku, sambil menunggunya datang.


Kurang lebih 5 menit, akhirnya dia keluar dari garasi lalu berjalan mendahuluiku masuk ke dalam rumah. Dengan sedikit kesusahan, aku berusaha menyusul langkah kakinya yang sudah semakin jauh di depanku. Baru beberapa langkah, aku berhenti karna kaki ku rasanya nyeri sekali, tanpa ku duga dia berbalik lalu mengangkatku.


"Mas!" Ucapku pelan sambil menatap nanar pada sorot matanya, tapi dia masih diam saja.


Hingga tiba di dalam kamar, dia langsung menurunkan ku di bibir ranjang. Segera setelah menurunkan ku, dia langsung masuk kedalam kamar mandi. Aku terus diam di tempatku, sembari menatap pada pintu kamar mandi yang tertutup.


"Kenapa mas Juan diam aja? Dia yang seperti ini lebih menakutkan dari dia yang biasanya marah-marah."


Kurang lebih 20 menit, akhirnya dia keluar dari kamar mandi.


"Mas?" Panggilku.


Dia masih diam, sambil sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Mas marah?" Ujarku memberanikan diri untuk bertanya.


"Mas jangan diam aja dong?" Ujarku lagi yang sudah mulai tidak tahan di diamkan.


Tanpa menjawab pertanyaan ku, dia keluar dari kamar lalu beberapa saat kemudian kembali dengan membawa sebaskom air hangat dan juga handuk kecil.


Dengan berjongkok di depanku, dia mengambil kaki kanan ku yang terkilir dan meletakkannya di atas pahanya, lalu di basahinya handuk kecil yang di bawanya tadi dengan air hangat, dan membalutnya sambil memijat-mijat pelan di luar perban kaki ku. Dia melakukannya kurang lebih 10 menit.


Setelah selesai, dia kembali meletakkan kaki ku di lantai dengan sangat hati-hati. Lalu berjalan menuju lemari pakaian, rupanya dia mengambilkan baju tidur untuk ku.


"Ganti pakaian mu, lalu tidurlah!" Ucapnya sebelum kembali keluar dengan membawa baskom dan handuk bekas kompresan kaki ku.


Saat kembali ke kamar, mas Juan terlihat sedikit terkejut karna melihatku yang masih duduk di bibir ranjang. Kemudian berjalan ke arahku, naik ke atas tempat tidur lalu berbaring di sampingku.


"Mas?" Ujarku yang masih berusaha mengajaknya bicara.


"Mas, jangan diem aja kayak gini dong!" Kini aku mulai berkaca-kaca.


"Kalo mas marah atau apa, ngomong dong. Jangan diemin Riri kayak gini! Hiks.." Runtuh sudah pertahanan ku, air mata yang awalnya hanya menggenang di pelupuk mata kini mulai luruh dengan perlahan.


"Kalo mas marah soal yang tadi, Riri minta maaf. Dia hanya berniat membantu Riri, karna kaki Riri yang terkilir. Hiks.. hiks.."


"Kenapa kamu menangis?" Tanya mas Juan yang langsung bangun dari baringannya dan menghapus air mataku.


"Mas Juan nyuekin Riri! Hiks.. hiks.."


"Maaf sayang! Aku ngga tau kalau ini akan menyakitimu seperti ini, aku hanya ingin mengontrol emosiku seperti yang kamu minta kemarin." Ujarnya yang langsung memelukku.


"Tapi Riri ngga suka, mas ceukin Riri kayak gini. Hiks.. hiks.."


"Iya, aku minta maaf ya. Udah jangan nangis lagi dong. Ingusnya mleber kemana-mana tuh!"


"Mas!"

__ADS_1


"Hehhe.." Ujarnya terkekeh.


"Jadi mas ngga marah kan?" Tanya ku, sembari menatap netra pekatnya.


"Aku janji ngga akan marah lagi, asal kamu mau kasih aku jatah harian."


"Jatah harian?" Tanyaku bingung.


"Iya, ja..tah ha..ri..an.." Tangannya yang nakal kembali beraksi, dengan perlahan masuk ke dalam baju tidurku.


"Mas, ih.. Kaki Riri kan lagi sakit!" Ujarku sambil memukul tangannya pelan.


"Jadi, malam ini aku puasa lagi?"


"Iya!" Sahutku santai, lalu berbaring.


"Tega banget kamu 😥."


____________


"Juan, kok lesu gitu mukanya? Sedangkan Riri yang kakinya terkilir, keliatannya seger-seger aja." Ucap Bu Nala pertama kali saat melihatku dan juga mas Juan yang baru turun.


"Gimana ngga lesu Bu? 2 hari ngga makan." Sahutnya datar.


"Hah? 2 hari ngga makan?" Bu Nala tampak terkejut mendengar ucapan putranya.


"Kamu sakit Ju?" Tanya Ayah Adi terlihat khawatir.


"Mas!" Ujarku pelan, sambil menepuk pahanya pelan. Karna aku tau betul maksud dari ucapannya barusan.


"Ngga kok Yah, Bu. Mas Juan baik-baik aja. Cuman kayaknya kecapekan karna kerjaannya yang numpuk."


"Oh gitu. Jangan terlalu di forsir dong Ju." Ucap Bu Nala.


Ting nong.. Ting nong..


Suara bel rumah seketika membuat kami terkejut.


"Bi, tolong ya!" Pinta Bu Nala pada bi Ningrum.


"Baik nyonya!" Sahut bi Ningrum yang langsung berjalan menuju pintu utama.


Setelah membuka pintu bi Ningrum kemudian kembali ke ruang makan.


"Siapa bi?" Tanya Bu Nala.


"Nona Reina nyonya!"


Deg

__ADS_1


Nama itu, aku pernah mendengarnya. Meskipun aku tidak pernah bertemu dengannya langsung tapi aku sudah tau siapa orang itu. Reina, Seseorang yang pernah begitu berarti di hati suamiku.


❤️❤️❤️


__ADS_2