
❤️❤️❤️
Hari H
"Juan, Riri.. Ayo cepet, udah jam berapa ini?" Teriak Bu Nala dari luar yang masih bisa ku dengar dari dalam kamar.
"Iya Bu, bentar." Sahutku, yang juga berteriak.
Ceklek
"Kalian ngapain? Kenapa belum turun? Kita udah hampir telat loh." Ujar Bu Nala di ambang pintu.
"Tadi udah mau turun Bu, tapi mas Juannya sakit perut. Itu lagi toilet." Tunjuk ku, kearah toilet.
"Ya ampun, ada-ada aja deh. Yaudah, cepet ya. Kalo udah selesai langsung turun." Ucap Bu Nala lagi sebelum turun ke bawah.
"Iya Bu." Jawabku.
"Mas? udah belum? Kita udah ditungguin dari tadi. Ini udah jam 7 lewat loh?" Teriakku.
"Iya bentar. Dikit lagi!" Teriaknya dari dalam toilet.
Setelah kurang lebih 5 menit, akhirnya pintu toilet itu terbuka.
"Mas kenapa sih? Abis makan apa?" Tanyaku khawatir.
"Ngga tau nih, perut aku mules banget." Sahutnya seraya memegangi perut.
"Yaudah, nih minum dulu obatnya, biar enakan perutnya." Ujarku menyodorkan 1 buah obat diare untuknya.
"Sekarang gimana? Kita udah mau telat loh mas?"
"Yaudah, kita berangkat sekarang." Sahutnya dengan nada yang pelan seraya memegangi perut, berjalan ke arah pintu.
"Mas yakin?" Tanyaku cemas.
"Iya, udah mendingan sekarang."
"Yaudah, ayok!"
Akhirnya aku dan mas Juan turun kebawah, kulihat Bu Nala, Ayah Adi dan para asisten rumah tangga sudah menunggu dilantai bawah.
"Kamu sakit Ju?" Tanya Ayah Adi.
"Ngga papa kok yah, cuma mules. Tapi udah mendingan sekarang."
"Yaudah, ayok kita berangkat sekarang." Ajak Bu Nala.
Tanpa membuang waktu lagi, kami sekeluarga langsung berangkat ke tempat gedung resepsi. Dan untuk orangtuaku, mereka di antar oleh Pak Amat sampai ke gedung acara.
Karna hari ini hari Minggu, jalanan terlihat macet. Yang benar saja, sampai di hari H pun, tidak ada yang berjalan dengan mulus 😣.
-
Akhirnya kami tiba di gedung acara, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam. Kami semua turun dari mobil dengan terburu-buru, bahkan sedikit berlari agar bisa lebih cepat sampai ke ruang make-up.
Di ruang make-up ku lihat disana sudah ada kedua orangtuaku, Kania dan juga kedua orangtuanya. Mungkin mereka sedang menunggu kami.
"Akhirnya kalian datang juga." Ujar Ibuku saat pertama melihat rombongan ku yang baru saja datang.
"Dek, kita langsung make-up aja ya, waktu kita mepet banget soalnya." Ucap mbak Rani selaku MUA yang bertugas mendandaniku hari ini.
"Ah, iya mbak, maaf ya telat." Sahutku tak enak, seraya berjalan menuju meja rias yang sudah mereka persiapkan.
Sementara aku dirias, mas Juan juga ku lihat sedang bersiap-siap tak jauh dari tempatku duduk. Termasuk kedua orangtua dan juga mertuaku, mereka sekarang juga sedang di dandani di tempat yang berbeda denganku dan mas Juan, mungkin diruangan sebelah.
_____________
Aku benar-benar gugup sekarang, lebih gugup daripada menunggu hasil ujian. Sekarang kami sedang bersiap-siap untuk masuk ke tempat acara berlangsung.
Oiya, kami semua sekarang dalam posisi berbaris. Di depan ku dan mas Juan ada 2 bocah yaitu laki-laki dan perempuan, masing-masing dari mereka membawa sekeranjang bunga yang nantinya akan mereka lemparkan, aku dan mas Juan berdiri di urutan kedua, sedangkan orangtua kami ada di belakang, dan di barisan paling belakang ada Sherly dan juga Kania.
Saat sang MC mempersilahkan kami untuk masuk, jantungku benar-benar semakin berdegup dengan kencang, mengingat banyaknya undangan yang sudah menunggu di dalam, termasuk teman-teman ku, aku takut sekaligus gugup mengetahui reaksi mereka, melihatku yang bersanding dengan mas Juan yang notabenenya adalah Kepsek sekaligus guru ku sendiri di sekolah.
Tanpa sadar, aku semakin mengeratkan pegangan ku pada lengan mas Juan.
"Kenapa? Kamu gugup sayang?"
"Hm!" Angguk ku. Rasanya sekarang telapak tanganku sudah mulai basah karna keringat dingin.
Mas Juan tersenyum sebelum kembali mengucapkan sesuatu.
"Kamu semakin cantik kalau sedang gugup." Bisiknya.
"Mas ih!" Ucapku pelan seraya memukul pelan tangannya.
"Langsung saja kita sambut, kedua mempelai yang tengah berbahagia. Juanda Putra Adiyatmo dan Arianti Permata!"
Dengan langkah yang pasti aku dan mas Juan berjalan seraya bergandengan tangan masuk kedalam ruangan resepsi dan tak lupa kami menyunggingkan senyuman bahagia untuk menyapa para tamu undangan yang sudah berdiri di sisi kanan dan kiri kami.
Prok prok prok
Swiittt swiiiiwiiitt..
Mereka menyambut kami dengan sangat meriah, serta suara jepretan foto yang tak henti-hentinya terdengar membuatku menjadi semakin bersemangat.
Aku beserta rombongan berjalan beriringan sampai ke atas pelaminan. Saat pertama aku duduk di atas pelaminan, menatap kedepan, melihat banyaknya para tamu undangan yang tengah menatap ke arah ku dan mas Juan membuatku merasa benar-benar menjadi seorang ratu dalam sehari. Aku tak henti-hentinya tersenyum ke arah mereka, aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia ku. Duduk disini bersama orang yang ku cintai merupakan salah satu impian terbesarku, dan sekarang aku bisa mewujudkannya hari ini. Sekarang aku benar-benar menjadi seorang ratu dalam sehari.
"Apa ini mimpi?" Batinku, dengan senyuman haru terukir jelas di bibirku.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, para tamu undangan naik ke atas panggung pelaminan secara bergantian untuk memberikan ucapan selamat atau hanya sekedar untuk bersalaman.
"Pak Juan, selamat ya!" Ucap Bu Tania yang pertama kali naik dan memberikan ucapan selamat pada kami, dari perkataannya ku dengar adanya sedikit kekecewaan disana.
"Iya, terimakasih Bu Tania." Sahut mas Juan yang menerima uluran tangannya. Lalu beralih menyalami tanganku untuk memberikan selamat.
"Selamat!" Ucapnya singkat dengan menyalami tanganku yang terlihat ogah-ogahan.
"Jutek banget sih?" Batinku.
Hanya 1 kata itu yang keluar dari mulutnya saat menyalami tanganku, ku rasa Bu Tania membenciku sekarang, terlihat dari ekspresi wajahnya yang malas ketika menyalami tanganku. Setelah 1 kata singkat itu, dia langsung turun, bahkan dia tidak menatapku.
Setelah Bu Tania turun, kini datanglah Nita, iya dia teman berkelahi ku dulu, yang menyebarkan gosip tidak benar tentang ku, bahkan sampai sekarang aku masih kesal jika melihatnya. Dia datang bersama temannya.
"Selamat ya Ri!" Ucapnya seraya mengulurkan tangan.
"Iya, terimakasih!" Sahutku seraya menerima uluran tangannya.
Bukannya dendam, hanya saja ketika melihatnya selalu mengingatkan ku tentang perlakuannya yang menyebalkan waktu itu, meskipun dulu kami sudah saling berjabat tangan, tapi sampai sekarang hubungan kami masih dingin, layaknya orang yang tidak saling kenal.
Setelah memberikan selamat, lalu Nita bersama temannya pun turun.
Ketika aku menoleh ke sebelah kanan, ku lihat kak Reina yang mengenakan kebaya berlengan panjang berwarna merah maroon berjalan ke arahku, dia sepertinya datang dengan seseorang, dan wajah laki-laki itu terlihat seperti orang asing.
"Riri, Juan.. selamat yaaa! Duh penganten lama, akhirnya gelar pesta juga." Ujar kak Reina memberikan selamat.
"Kemana aja Lo baru nongol, bukannya bantuin sahabat Lo yang mau gelar acara." Ucap mas Juan.
"Hehhe, sorry. Sibuk gue, gue juga udah mau married kali." Balas kak Reina, sambil menggandeng pria tampan yang berdiri disampingnya.
"Kak Reina? Jadi cowok ini?" Ujarku menunjuk laki-laki yang kini berdiri tepat di sampingnya.
"Iya Ri, calon suami aku!" Jawabnya sambil menyunggingkan senyum.
"Wahhh! Ganteng banget kak!" Ujarku yang tanpa sadar melontarkannya.
"Suami kamu disini loh, bisa-bisanya kamu bilang calon suami orang lain ganteng di hadapan suami kamu sendiri." Ujar mas Juan.
"Mas Juan kan gantengnya udah biasa, kalo yang ini luar biasa. Baru kali ini Riri liat bule secara langsung." Ujarku yang masih terus menatap laki-laki di samping kak Reina, aku benar-benar takjub melihatnya.
"Hahahaha.. mau tukeran Ri?"
"Emang kak Reina mau sama mas Juan? Orang bawel gini." Balasku, ntah sejak kapan aku berani bicara secara gamblang dihadapan mas Juan, yang jelas aku sudah terbiasa dan sangat menikmatinya sekarang, hehhe.
"Apa kamu bilang?" Ujarnya meninggikan suara.
"Mas ih, ada banyak orang. Malu tau!"
"Kamu sendiri ngga malu, bisa-bisanya mau nuker suami sendiri." Ujarnya yang terlihat sangat kesal.
"Hehhe, maaf mas. Bercanda sayang, ya Allah. Gitu aja marah!"
Aku dan kak Reina hanya menggeleng dan tertawa kecil melihat tingkah sosok laki-laki dewasa bak anak kecil disampingku ini.
Setelah sedikit melempar candaan akhirnya kak Reina dan calon suaminya turun, karna memang antrian para tamu yang ingin mengucapkan selamat sudah semakin panjang.
"Kalian berdua, selamat yaaa!" Ujar Dennis, saat dia merentangkan tangannya ingin memeluk ku dan mas Juan sekaligus, sebelum itu terjadi, mas Juan terlebih dahulu menghentikan niatnya.
"Kenapa si kak?" Tanya Dennis bingung.
"Itu tangan mau ngapain? Mau meluk istri gue?"
"Ya mau meluk kalian berdua lah, gue kan mau kasih kalian selamat."
"Ngga ada selamat-selamatan. Udah, udah.. Lo turun. Ngapain Lo naik, udah kayak tamu undangan aja. Lo tuh tugasnya jaga tamu disana, ngapain ikutan naik. Udah.. Udah sana turun." Usir mas Juan.
"Mas ih, tega banget sih!"
"Kakak ipar, tuh liat tuh. Suaminya kejam banget. Masa adeknya sendiri di usir."
"Mas, minta maaf sekarang?"
"Loh, kok minta maaf sih?"
"Ya iyalah, mas tadi udah kasar. Kan bisa bicara baik-baik. Ngga usah pake ngusir-ngusir segala."
"Yaudah, maaf."
"Yang ikhlas dong!" Tambahku.
"Iya, yang ikhlas dong kak!" Timpal Dennis.
"Lo.."
"Tuh, tuh, tuh.. liat Ri. Kak Juan melotot lagi!"
"Mas!"
"Apa? Aku ngga ada melotot."
Aku hanya menatap mas Juan dengan tajam, mas Juan yang mengertipun, dia mengulangi permintaan maafnya sekali lagi pada Dennis.
"Maaf ya Den!" Ucap mas Juan yang terdengar lebih tulus daripada sebelumnya.
"Hehhe, iya kak. Gue maafin!"
"Udah kan? Gue udah minta maaf. Sekarang Lo turun, tuh liat masih ada banyak keluarga nyokap yang baru datang." Tunjuk mas Juan ke arah pintu masuk.
"Yaudah, kalo gitu gue kesana dulu." Ujar Dennis, namun baru 2 langkah, dia kembali berbalik.
__ADS_1
"Oiya, sekali lagi selamat ya! Jangan lupa, bikinin gue ponakan yang banyak!" Tambahnya seraya tersenyum penuh arti.
"Ngga usah Lo ingetin juga bakalan gue lakuin!" Balas mas Juan.
"Mas!"
"Kenapa? Emang bener, setelah acara selesai, kita langsung tancap gas ya?" Bisiknya.
"Mas ih!" Sahutku seraya tersenyum geli.
"Ririiiiiii, selamat yaaaaaa!" Teriak sebuah suara mengagetkanku.
"Ya ampun Gan, Lo tuh ngga di sekolah, ngga disini, senengnya bikin heboh mulu." Ujar Jaka.
"Ya kan, gue seneng liat temen gue yang married."
"Ya tapi ngga usah teriak-teriak juga kali. Ada banyak orang disini." Tandas Jaka.
"Tau, jadi cowok mulut lemes banget!" Timpal Kania.
"Apa Lo bilang?"
"Stop.. Stop.. Stop.. Kalian apa-apaan sih? Mau bikin gaduh di resepsi gue?"
"Hehehe, maaf!" Ucap Kania dan Gandhi bersamaan.
"Pak Juan, selamat ya pak!" Ujar Gandhi seraya menyalami tangan mas Juan.
"Selamat Pak!" Tambah Jaka.
"Selamat Pak!" Ujar Sherly dan Kania.
"Iya, terimakasih ya sudah datang. Sudah pada makan belum?"
"Belum!" Sahut mereka berempat serempak.
"Yaudah, nanti jangan lupa makan. Disini ada banyak makanan, kalian bisa makan sepuasnya. Jangan malu-malu!" Ujar mas Juan seraya menyunggingkan senyum.
"Hehe, terimakasih Pak!"
"Sekali lagi selamat ya Ri!" Ucap Jaka.
"Iya, selamat Riri. Semoga samawa ya!" Ucap Sherly.
"Thanks ya guys. Oiya, kalian juga cepet nyusul ya!"
"Hehhe, doain ya Ri!" Balas Sherly.
"Kalian?" Ujar Gandhi yang terlihat bingung.
"Siapa yang Lo maksud Ri?" Tambahnya.
"Hadeh ni anak, kapan pinternya si?" Celetuk Kania.
"Eh sorry yaa, gue pinter." Ujar Gandhi.
"Eh tunggu tunggu, gue sebenarnya mau nanya dari tadi. Kok Lo sama Sherly bajunya samaan sih Jak? Harusnya kalo mau pake baju samaan ajak-ajak kita juga dong, ya ngga Kan?" Tambah Gandhi seraya menyenggol Kania.
"Tuh kan, Lo tuh emang o on." Seru Kania.
"Gue sebagai teman Lo heran, kok Lo bisa lulus ya?" Ucap Jaka.
"Apa maksud Lo? Ya jelas karna gue pinter lah!" Balas Gandhi dengan bangganya.
Aku, Kania, Sherly dan juga Jaka hanya bisa menggeleng melihatnya yang mengaku pintar tetapi tidak menyadari fakta yang jelas-jelas tempampang nyata di depan matanya.
"Kenapa sih?" Tanya Gandhi heran.
"O on!" Ujar Kania, mendengar ucapan Kania membuat Gandhi kembali kesal, tentu saja itu cukup untuk mengundang gelak tawa bagi kami semua yang melihatnya.
Di saat tengah asik tertawa gara-gara kelakuan Gandhi dan Kania, tiba-tiba saja perutku terasa sangat mual. Bahkan sekarang aku harus menggunakan tanganku untuk menutup mulutku. Rasanya aku ingin muntah sekarang.
Mas Juan yang melihat adanya keanehan denganku langsung terlihat panik dan cemas.
"Sayang ada apa?" Tanya mas Juan panik.
Mungkin karna mendengar ucapan mas Juan yang cukup keras, kedua orangtua dan juga mertuaku datang menghampiri kami.
"Kamu kenapa nak?"
"Sayang, kamu kenapa?"
"Ri, Lo kenapa?"
Tanya mereka secara bergantian, mereka mengerubungi ku sekarang. Bahkan salah satu dari mereka tidak sengaja menyenggol tangan kananku yang ku gunakan untuk menutup mulutku, dan aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi sekarang, hingga..
Hueeekkk..
Astaga, yang benar saja. Sampai akhirpun, semuanya tidak ada yang berjalan dengan semestinya 😭.
❤️❤️❤️
...__________The End__________...
Akhirnya utur bisa menyelesaikan novel ini sampai akhir, huaaaa 😭
Terimakasih banyak para readers setia KILY yang memberikan dukungannya sampai akhir. Terimakasih, terimakasih, terimakasih 😘😚
Maaf jika ada salah-salah kata atau ada kata-kata yang mungkin menyinggung para readers, meskipun utur tidak bermaksud seperti itu 😭 Karna utur membuat cerita ini hanya untuk bersenang-senang dan menghibur kalian. Terimakasih atas saran dan kritik membangunnya, InshaAllah nanti akan utur apresiasikan untuk novel berikutnya. See you soon and happy readiiiiiiiiiiingggggggggg 😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚😚
__ADS_1
Cerita ini berakhir, bukan berarti silaturahmi kita juga berakhir ya hehhe, karna nantinya kita akan bertemu lagi di judul² novel berikutnya 😂😂😂😘