
❤️❤️❤️
"Eh eh eh, tuh tuh liat tuh.. laki lo". Ujar Kania dengan nada hebohnya.
"Udah ah males gue. Ke kelas yuk?". Sahutku yang malas membahas pak Juan lagi.
"Kenapa? Lo ngga cinta lagi sama pak Juan? Yaudah buat gue aja, gue rela kok di marahin tiap hari asal bisa liaaattt....". Cerocosnya.
"Liat apa? Hah?". Ujarku yang kemudian berdiri dari tempat duduk ku.
"Hehehe, ngga ngga. Mana berani gue nikung sahabat gue sendiri".
~
Teng teng teng
"Lo pulang naik apa?". Tanya Kania sambil membereskan buku-bukunya.
"Naik ojek". Jawabku santai.
"Hah".
"Ngga ikut mobil pak Juan?". Bisiknya.
"Mobil?". Ujarku yang tiba-tiba mendapatkan ide cemerlang.
"Kenapa?". Tanya Kania menatapku heran.
"Ikut gue". Ujarku menarik tangan Kania.
_____________
"Kita ngapain disini?". Tanya Kania heran.
"Balas dendam". Ujarku menyeringai.
"Eh, tapi kenapa bawa-bawa gue?".
"Lo kan sahabat gue, jadi lo harus bantuin gue".
"Udah, lo jagain disana, kasih tau gue kalo pak Juan muncul?". Perintahku pada Kania.
"Iya iya". Sahutnya yang mau tak mau harus mau.
Beberapa menit kemudian.
"Udah belom?". Tanya Kania dengan nada yang berbisik.
"Udah udah, yuk ah.. cusss". Ujarku menarik lengan Kania, membawanya bersembunyi dibalik tembok yang tak jauh dari mobil pak Juan.
"Ri, lo kalo mau mati jangan ngajakin temen dong?!". Ucapnya dengan mimik wajah yang takut.
"Hush hush.. udah diem dulu, tu pak Juan udah nongol". Ujarku yang melihat pak Juan berjalan ke arah mobilnya.
Aku benar-benar tidak sabar melihat ekspresi wajahnya, siapa suruh matiin jam waker orang.
Ku lihat pak juan berjalan mendekat pada mobilnya, tapi saat ingin masuk kedalam mobil, dia menyadari ada yang aneh dengan ban mobilnya.
"Sial, kenapa tiba-tiba bocor?". Pekiknya. Di periksanya semua ban secara bergantian. "Semuanya?". Tambahnya lagi. "Arghhhh". Ku lihat dia mengacak-acak rambutnya kasar.
Rasanya aku ingin sekali tertawa sekencang-kencangnya sekarang, tapi mengingat sekarang aku sedang bersembunyi, aku mengurungkan niatku kembali.
__ADS_1
____________
"Hahahaha, lo liat ngga Kan ekspresinya tadi? Sumpah lucu banget!". Kelakar ku, sampai-sampai rasanya perutku kram karna terus tertawa mengingat ekspresinya tadi.
"Parah banget lo, gimana kalo pak Juan tau itu ulah lo? Gue ngga ikut-ikutan ya". Ujarnya dari seberang telpon.
"Hahahaha, tenang aja. Itu macan ngga bakalan tau".
"Ohhhh, jadi ini semuanya gara-gara kau bocah tengik?".
Deg
"Gue ngga ikut-ikutan ya Ri, good luck. Bye".
Tut tut
"Habislah sudah". Ujarku, dengan takut-takut aku membalikkan badanku menghadap suara yang tak asing itu.
"E.. eh.. pak Juan sudah pulang? Ma.. mau Riri buatkan kopi pak?". Tawarku, dengan nada yang terbata-bata dan tak lupa ku suguhkan senyuman termanis ku.
Ku rasakan aura mematikan di sekitarku saat dia berjalan semakin dekat padaku.
"Aduh gimana nih?". Batinku, aku memundurkan langkahku dengan takut-takut sambil tersenyum cemas kearahnya.
Brug
Pak Juan mendorongku hingga kami terjatuh bersama ke atas ranjang besarnya.
Ku lihat dia melepaskan dasi dan kemejanya di atasku.
"Ba.. bapak mau apa? Ri.. Riri belum siap pak". Aku cemas sekaligus takut melihatnya dengan wajah seperti ingin menerkam seperti itu.
"Pak, jangan pak". Pekik ku, sambil memejamkan mataku.
"Heh, kepercayaan dirimu tinggi sekali?!". Bisiknya di telingaku.
Ku rasakan dia membalikkan badanku, sehingga sekarang aku berada dalam posisi tiarap.
"E.. eh pak. Kenapa tangan Riri di ikat?". Ujarku yang melihat pak Juan mengikat kedua tanganku ke belakang menggunakan dasinya.
"Ini hukaman untukmu karna sudah berani mengempeskan semua ban mobilku".
Apesnya, bukan hanya tangan ku, tetapi dia juga mengikat kedua kaki ku menggunakan kemeja yang di lepasnya tadi.
"Jangan berani-berani kau mencoba melepaskan ikatan ini, sebelum aku yang melepaskannya. Jika kau berani, aku pastikan kau akan mendapatkan yang lebih dari ini!". Seringai liciknya.
"Tapi pak, gimana kalau Riri lap....
Brak
Pak Juan menutup pintu kamar mandi cukup keras.
"Belum juga selesai ngomong, main tinggal-tinggal aja". Gerutuku.
"Duhhh, laper banget lagi". Ujarku meringis menahan lapar.
Krek
Pak Juan sudah selesai melakukan aktivitasnya di dalam sana.
"Em.. pak?". Aku mencoba memanggilnya ketika dia sudah keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemari pakaiannya.
__ADS_1
Dia tidak menggubris panggilan ku sama sekali, melirik pun tidak, hanya sibuk mengenakan pakaiannya.
"Pak". Ujarku mencoba memanggilnya sekali lagi.
"Berisik sekali! Apa perlu ku lakban mulutmu itu?".
"A..anu pak. Ri.. Riri lapar". Ujarku menatapnya dengan wajah memelas.
Dia melirik ku sekilas dengan tatapan dinginnya sebelum keluar meninggalkan ku sendirian yang kelaparan di atas ranjang.
"Tega banget :(".
______________
Krek
"Pak Juan?". Mataku kembali berbinar setelah melihat kedatangannya yang membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya berserta segelas air.
"Ternyata dia tidak Setega itu". Batinku, aku tersenyum cerah menatapnya yang berjalan ke arahku.
"Aku hanya tidak ingin dituduh sebagai penyebab kematian mu karna kelaparan".
"Iya iya Riri tau, cepatlah pak. Riri lapar banget". Ujarku merengek.
Sesaat dia mengerutkan kedua keningnya sebelum duduk di sebelahku.
Dia menyodorkan sepiring makanan ke hadapanku. Aku kembali memandangnya dengan tatapan memelas.
"Ada apa lagi?". Tanya nya mulai jengah.
"Gimana Riri mau makan pak? Kan tangan Riri di ikat".
"Ck, merepotkan sekali". Meskipun dia terlihat kesal, namun akhirnya dia mau tidak mau menyuapiku karna tidak ingin melepaskan ikatan tanganku.
"Ikannya pak. Aaa...". Ujarku sambil membuka mulutku.
Dia kembali menghela napasnya ku lihat.
"Ada untungnya juga ternyata ya di ikat begini". Celetukku dalam hati sambil berusaha mengulum senyum di ujung bibirku.
_____________
Beberapa hari ini nasibku memang sangat menyedihkan, karna kedua mertuaku pergi keluar kota untuk mengunjungi sanak saudaranya. Alhasil tinggal lah aku dirumah hanya berdua dengan pak Juan. Sebenarnya aku ingin sekali pulang kerumah tapi aku juga tidak ingin membuat ibu dan ayah khawatir jika aku meminta tinggal dirumah mereka sementara kedua mertuaku pergi.
Hari sudah semakin sore, akhirnya pak Juan membebaskan ku dari ikatannya. Aku meringis sesaat menahan sakit akibat ikatan yang cukup kuat di lengan dan kaki ku. Pak Juan sekarang berada di ruang kerjanya. Syukurlah, setidaknya untuk sementara dia tidak akan mengganggu ku karna dia sibuk di ruang kerjanya, sedangkan aku duduk di ruang tengah menonton tv sambil menikmati camilan karna perutku sudah mulai lapar kembali.
____________
Ting nong ting nong
"Biar Riri aja Bi". Ujarku ketika melihat bi Ningrum yang keluar dari dapur.
"Loh, pak Amat kemana?". Ujarku celingukan mencari sosok pak Amat, penjaga rumah pak Juan. Karna biasanya beliau lah yang membukakan pagar jika ada tamu.
Tanpa menunggu lagi aku langsung berlari kecil menuju pagar, untuk melihat siapa kiranya tamu yang datang.
"Sebentar ya". Ujarku sambil berusaha membuka pagar.
"Cari siapa ya mas?".
❤️❤️❤️
__ADS_1