
❤️❤️❤️
Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya kami sampai.
"Assalamualaikum" Sapaku, ketika sudah di ambang pintu.
"Waalaikumsalam" Sahut mereka bersamaan.
"Dennis?" Batinku, aku sedikit terkejut melihatnya malam ini.
"Kok baru dateng sih? Kalian dari mana aja?" Tanya Dennis.
"Kami dari rumah Ibu dan Ayah." Sahutku, yang kembali normal seperti biasanya, tanpa menunjukkan keterkejutan ku mengenai apa yang ku lihat tadi sore.
"Padahal gue mau ngajakin kalian main tadi, tapi kaliannya ngga ada. Dan sekarang gue mesti pulang." Ujar Dennis yang ku lihat sedikit kecewa pada raut wajahnya.
"Main mulu Lo, kerja!" Ujar Pak Juan.
"Ya kan gue kerjaannya sambil main kak, hahaha." Kelakarnya.
"Kamu kerja Den? Kok Tante ngga tau?" Tanya Bu Nala sedikit terkejut.
"Hehhe, iya Tan. Aku nyoba-nyoba fotografer. Karna banyak yang suka, jadi yaudah deh.. aku terusin aja."
"Wah, ponakan Tante hebat banget. Jadi, kalo Tante mau jadi model, bisa minta fotoin gratis dong yah?" Ujar Bu Nala bersemangat.
"Bu, inget umur." Celetuk Ayah Adi, sambil menyeruput segelas kopi hangatnya.
"Cih, Yah.. Meskipun Ibu sudah sedikit berumur, tapi ibu masih kelihatan cantik dan seksi tau." Kata Bu Nala dengan bangganya.
Ayah Adi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah konyol istrinya itu, dan itu sangat lucu di mata kami yang melihatnya, hingga kami tergelak bersama.
-
Setelah berbincang dan bercanda sebentar di ruang tamu. Aku pamit untuk naik ke atas. Rasanya badanku sudah tidak nyaman, karna belum mandi. Setelah masuk ke dalam kamar dan meletakkan tas ku, aku langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Ku nikmati sensasi air hangat dan aroma terapi yang memanjakan seluruh tubuhku di dalam bathtub, setelah aku merasa sudah cukup segar dan menenangkan pikiran ku. Aku segera menyudahi aktivitas ku, dan keluar dari kamar mandi untuk mengganti pakaian ku.
Ku lihat Pak Juan belum juga masuk ke dalam kamar bahkan ketika aku sudah mandi dan berganti pakaian. Karna penasaran, aku keluar dari kamar dan mengintip dari atas, aku ingin tau apa dia masih di bawah.
"Kok ngga ada?" Pikirku, ketika tak menemukan sosoknya di bawah sana, bahkan kedua mertuaku juga sudah tidak ada disana.
"Apa di ruang kerja?" Pikirku kemudian, lalu aku berjalan menuju ruang kerjanya yang ada di samping kamar kami.
Tok tok tok..
Tapi aku tidak mendapati adanya jawaban dari dalam, dengan pelan dan sangat hati-hati, aku memegang gagang pintu dan membukanya secara perlahan.
__ADS_1
"Ah itu dia!" Gumamku, yang melihat Pak Juan merebahkan kepalanya di atas meja.
"Apa dia tidur?" Batinku, sambil berjalan berjingkit menghampirinya.
"Pak?" Panggilku pelan.
Tapi lagi-lagi aku tidak mendapatkan jawaban darinya. Saat ku tengok, ternyata matanya terpejam. Sesaat aku tersenyum menatapnya. Agar tidak menimbulkan suara, dengan perlahan aku menunduk untuk menyamai posisi ketinggian ku dengannya.
Saat aku tengah asik menatapnya, tiba-tiba ada se ekor nyamuk hinggap di hidungnya yang mancung itu.
"Aduh, gimana nyingkirinnya?" Batinku, sambil menggaruk-garuk kepalaku bingung.
"Kalau ku tekan pasti dia terbangun kan?" Ujarku lagi bermonolog dalam hati.
Kemudian aku sedikit mengibas-ngibaskan tanganku perlahan di dekat hidungnya, agar nyamuk itu pergi. Tapi nyatanya itu tidak berhasil, nyamuk itu masih bertengger di hidungnya yang mancung.
"Mungkin besok pagi hidung Pak Juan akan bertambah mancung gara-gara kamu nyamuk, xixixi.." Gumamku sambil terkekeh kecil.
Tanpa ku sadari ternyata orang yang ada di depanku ini sudah membuka matanya.
"Apa kau mau menggoda ku?" Ujarnya yang tiba-tiba membuatku ku terperanjat.
"Eh, ngga. Riri cum..."
Grep
Deg
Mataku membulat sempurna, terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Pak Juan tiba-tiba. Dia melingkarkan tangannya di pinggulku, mata kami saling beradu. Debaran jantungku seakan ingin membunuhku sekarang. Karna tanganku menempel pada dadanya, aku merasakan otot dadanya yang kuat di balik baju kaosnya. Seketika rasanya sekarang darahku berdesir hebat seiring dengan debaran jantung yang semakin cepat.
Glek
Aku kewalahan menelan salivaku.
"A..apa yang Bapak lakukan?" Tanyaku semakin gugup tak karuan.
"Aku ingin melakukan hal yang sudah lama ingin ku lakukan." Ujarnya pelan, dan itu malah terdengar seksi di telingaku.
"A..apa?" Rasanya, sekarang seluruh organ tubuhku bergetar dengan hebat seiring dengan sentuhan lembut jemari Pak Juan pada tengkuk ku yang membuatku semakin merinding.
Pak Juan semakin memajukan wajahnya, hingga rasanya napas kami saling bertautan sekarang.
Entah karna polos atau aku juga menikmatinya, tanpa di perintah aku memejamkan kedua mataku. Aku sama sekali tidak menolak perlakuannya.
Deg deg deg deg
__ADS_1
Jantungku berpacu dengan cepat dan semakin cepat.
"A..apa kami akan melakukannya sekarang?" Batinku.
Ku rasakan deru napasnya yang semakin bergemuruh lembut di rongga mulutku yang sedikit terbuka.
"Pak Juan?!" Lirihku dengan mata yang masih terpejam.
*
*
*
"Ju, Ayah min..."
Dengan secepat kilat aku menarik tubuhku dari pangkuan Pak Juan, dan berjalan mundur cukup jauh darinya. Haishh, rasanya memalukan sekali. Aku memicingkan mataku kuat-kuat, rasanya aku tidak berani menatap siapapun yang ada di depanku sekarang karna aku benar-benar malu.
"Ehm, kenapa Yah?" Tanya Pak Juan ku dengar.
"Ah, ngga. Ngga ada apa-apa." Ujar Ayah Adi lalu berbalik, ku lihat sekilas.
"Oh iya, maaf Ayah ganggu ya. Silahkan lanjutkan, silahkan silahkan." Ujar Ayah Adi kembali berbalik.
"Eh, 1 lagi. Jangan lupa kunci pintunya." Ujar Ayah Adi lagi terkekeh sebelum benar-benar meninggalkan kami berdua.
Sesaat aku dan Pak Juan saling berpandangan sebelum membuang muka satu sama lain.
Sebelum rasa malu ini semakin bertambah, aku memilih keluar dari ruangannya secepat mungkin.
"Haishhh, malu-maluin bangettt." Gumamku pelan sambil berlari kembali ke dalam kamar.
-
Pagi ini saat aku terbangun, aku menjadi kikuk ketika bertemu Pak Juan.
Aku sebisa mungkin menghindari tatapannya pagi ini. Bahkan saat dia ingin mengajak ku bicara, aku langsung melewatinya dan turun ke bawah. Bukan karna marah atau tidak suka dengan apa yang di lakukannya tadi malam, tapi.. aku sangat malu ketika kami tertangkap basah oleh Ayah Adi. Bahkan aku ingin melupakan apa yang terjadi tadi malam, tapi nyatanya tidak bisa, karna itu bukan mimpi 😣😭.
Saat aku turun ke bawah dan bertemu Ayah Adi, aku sebisa mungkin menghindari tatapannya. Hanya sesekali berani melirik ke arah Adi, dan saat mata kami bertemu, Ayah Adi terlihat tersenyum ke arahku yang membuatku semakin malu. Rasanya aku ingin menenggelamkan diriku saja kedasar sungai Amazon 😭.
"Assalamualaikum" Ujar sebuah suara dari ambang pintu yang membuatku terkejut.
"Waalaikumsalam" Sahut Ayah Adi dan Bu Nala.
"Dennis?"
__ADS_1
Setelah kejadian yang ku lihat kemarin, entah kenapa aku jadi sedikit tidak nyaman ketika melihatnya. Meskipun aku sendiri sudah menyimpulkan, bahwa laki-laki yang ku lihat kemarin sore bukanlah Dennis yang ku kenal.
❤️❤️❤️