Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Juan POV XI (Jadilah Matahari Terbenamku Selamanya!)


__ADS_3

❤️❤️❤️


Setelah mengetahui keberadaan Riri, aku bergegas mendatanginya. Tidak peduli dengan pengendara lainnya, aku terus melajukan mobilku dengan mengebut.


"Si*l*n! Berani banget Lo bawa istri gue." Ujarku sembari meremas kemudi setirku kuat-kuat. Kini aku benar-benar sudah dipenuhi dengan amarah.


Setibanya di tempat, aku langsung turun dari mobil.


Tanpa memperhatikan lainnya, aku langsung berlari dan memeluk istriku.


Semua orang yang ada di tempat ini tampak terkejut melihat ku tiba-tiba datang. Saat aku melihat Dennis yang kini duduk di samping Riri. Darahku kembali berdesir hebat. Aku langsung menarik kerah bajunya kuat-kuat.


"Berani banget Lo bawa istri gue tanpa izin?" Ujarku tanpa memperdulikan orang-orang disekitar ku saat ini.


"Juan, apa-apaan kamu. Lepaskan!" Kata Ayahku.


"Wait.. wait.. wait.. ada apa sih kak?" Tanya Dennis dengan lugunya.


"Ada apa Lo bilang? Setelah sembunyi-sembunyi, sekarang Lo sudah berani terang-terangan menyatakan kalau Lo suka Riri kan, makanya Lo bawa dia kesini tanpa izin gue!"


"Hah?" Pekik semua orang terkejut tak terkecuali orang yang sudah ku anggap adik ini, yang mengeluarkan ekspresi terkejutnya yang seolah tanpa dosa.


"Lo gila kak?" Tanya Dennis yang masih tidak mau mengakuinya.


"Lo yang gila!"


Bug


Aku menghantamnya sekali dengan pukulan yang keras sehingga mampu membuatnya seketika terjatuh.


"Juan? Apa-apaan kamu?" Kata ayahku, sembari membantunya berdiri.


"Dia yang apa-apaan Yah. Dia suka sama Riri, jadi dia bawa Riri kabur supaya jauh dari Juan." Ujarku dengan emosi yang memuncak.


"Pak, Pak Juan salah paham." Ucap Riri yang mencoba menenangkan ku.


"Apa kau membelanya?"


"Ngga, bukan gitu."

__ADS_1


"Emosi kamu itu benar-benar ngga berubah ya? Kalau Dennis suka sama Riri, dan mau bawa dia kabur. Kenapa dia bawa Riri kesini? Kehadapan kami semua?" Ujar Ibuku menunjuk pada kedua mertuaku dan juga orangtuaku sendiri.


"Ah, iya. Kenapa aku baru menyadarinya? Kenapa, kenapa ada kedua orangtuaku dan juga mertuaku disini?" Pikirku bingung sambil menatap mereka satu persatu.


"Apa akal sehatmu sudah kembali?" Tanya ayahku.


"Ya.. Tapi tetap aja itu tidak merubah kenyataan kalau Dennis menyukai Riri." Ujarku yang masih meyakini itu, karna aku percaya dengan bukti foto yang ku lihat waktu itu.


"Maksud Lo apa sih kak? Gue bener-bener ngga ngerti?"


"Halah, Lo Ngga usah sok ngga ngerti deh Den. Jelas-jelas gue liat buktinya waktu itu."


"Bukti? Bukti apaan sih kak?" Ujarnya yang masih berpura-pura bodoh.


"Ngga usah berlagak bodoh deh Lo."


"Bukannya berlagak bodoh, tapi gue bener-bener ngga ngerti maksud Lo kak?"


"Ck, gue liat foto Riri yang Lo bingkai di laci meja belajar Lo. Dan gue juga liat Lo kasih emot hati di ujung foto itu."


"Hahahahahahaha..." Ujarnya tergelak.


"Ehm.. Ok. Gini ya kak. Dan biar semua orang ngga salah paham. Waktu itu, pas kita di puncak. Inget kan Lo? Kita ambil beberapa foto untuk di ajukan ke panitia, nah si Riri minta beberapa foto lagi yang bukan termasuk dari tema yang akan dia ajukan. Trus, terpilihlah satu foto itu yang paling di sukai Riri, trus langsung gue cetak tuh. Riri suka, dia mau foto itu di taro di dalam kamar, dia minta tolong ke gue buat cariin bingkai fotonya sekalian karna kebetulan gue juga mau beli frame buat koleksi foto gue yang lainnya, jadi yaudah deh sekalian. Dan tanda hati itu, Riri juga yang bikin sebelum dia kasih foto itu ke gue, kalo Lo mau tau arti tanda hati itu, tanya aja langsung ke Riri. Sebenarnya, gue mau langsung kasih itu foto ke Riri setelah gue beli bingkainya dan gue pasang. Tapi karna gue lupa, itu foto masih nangkring di laci gue. Soalnya waktu gue mau kasih, Lo sama Riri ngga ada dirumah. Gue mau masuk kamar kalian juga sungkan, yaudah.. gue taro lah foto itu dikamar gue. Dan 2 hari yang lalu gue baru inget, gue telpon lah itu si Riri buat ambil itu foto dikamar gue. Ya kan Ri?"


"Iya Pak, waktu itu Riri minta tolong sama Dennis. Dan tanda hati itu, yaa.. karna Riri suka aja ngasih tanda hati ke barang-barang yang Riri suka. Di buku juga banyak kok."


"Ja..Jadi aku salah paham?" Batinku.


"Tega banget Lo kak nonjok gue cuma gara-gara itu." Ujarnya sambil memegangi ujung bibirnya yang membiru karna tonjokan ku.


"Ehm.. Itu juga salah Lo. Siapa suruh Lo Ngga ngasih tau gue." Ujarku yang masih belum mengakui kesalahan ku.


"Kan Lo Ngga nanya kak 🤢."


"Makanya lain kali, amarah itu di tahan. Siapa tau ternyata salah paham kayak gini kan? Kasian orang yang sebenernya Ngga salah." Kata Ibuku.


"Iya, Juan salah!" Ujarku tertunduk mengakui kesalahan ku.


"Jangan cuma ngakunya salah, minta maaf. Itu liat? Bibir Dennis jadi membiru gara-gara ulah sembrono mu itu." Timpal ayahku.

__ADS_1


"Iya nak Juan. Dan kamu juga Riri.. Kalian benar-benar bersalah. Kalian membuat fisik sekaligus psikisnya nak Dennis terluka gara-gara kesalahan pahaman kalian."


Sekilas aku dan Riri saling melempar pandangan sebelum sama-sama tertunduk karna merasa bersalah.


_______________


Kini aku dan Riri hanya duduk berdua saja, sambil menikmati indahnya pemandangan langit di malam hari.


"Kasian ya Dennis Pak, gara-gara kita salah paham Dia jadi korbannya. Hehhe.."


"Salahnya sendiri, siapa suruh gelagatnya mencurigakan. Wajar-wajar saja kita curiga."


"Tapi..."


Belum sempat Riri menyelesaikan kalimatnya, aku langsung merangkulnya dalam dekapanku.


"Aku marah dengan semuanya, terutama ibu dan ayahku. Bisa-bisanya mereka mengerjai kita seperti ini. Tapi, aku juga senang, karna aku bisa menikmati kehangatan ini." Ujarku yang semakin mengeratkan pelukanku.


"Ih.. Pak Juan, gimana kalau mereka liat." Ujarnya yang masih malu-malu.


"Biar saja, silahkan lihat. Aku akan memperlihatkan kemesraan kita di depan mereka."


"Pak Juan!" Ujarnya tersenyum sambil memukul pelan dadaku.


"Kau ingat? Waktu itu, ketika kita duduk disini sambil melihat matahari terbenam?"


"Ehm, tentu aja Riri masih ingat."


"Kau bilang *Matahari terbenam menjadi bukti bahwa apa pun yang terjadi setiap hari dapat berakhir dengan indah*". Ujarku tersenyum mengingat perkataannya waktu itu.


"Pak Juan mengingatnya?" Tanya nya terkejut karna aku masih mengingatnya sampai sekarang.


"Tentu saja! Karna itu adalah pertama kalinya hatiku bergetar untukmu."


"Pak Juan? Ujarnya terharu.


Tanpa membuang kesempatan, aku langsung mencium bibirnya lembut. Suasana dingin sekaligus hangat malam ini semakin menambah syahdunya kasih yang kami padu saat ini. Aku tidak ingin kehilangannya, walau hanya sesaat.


"Jadilah matahari terbenam ku selamanya, Riri!"

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2