Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Juan POV XIII


__ADS_3

❤️❤️❤️


📞 "Halo Rey!"


📞 "Woi, kenapa Ju?"


📞 "Gue denger besok Lo balik ya?"


📞 "Wah, cepet juga beritanya ya?"


📞 "Pas banget, gue boleh minta tolong ngga?"


📞 "Lo tuh ya bener-bener, udah nikah ngga ngundang-ngundang, sekarang malah mau minta tolong. Ngga mau gue."


📞 "Ayodong, pleaseeee! Bantuin gue!"


Setelah perdebatan yang cukup panjang akhirnya Reina bersedia untuk menolongku. Oiya, bukan hanya dengan Reina tapi aku juga meminta tolong pada kedua orangtuaku, mertuaku, Dennis hingga teman istriku untuk memperlancar acara kejutan ku nanti. Iya, beberapa hari lagi istriku berulang tahun ke-19, aku ingin memberikan kejutan yang tak terduga dan tak terlupakan di hari spesialnya, hehehe.. 🤡


____________


Pagi ini aku dan Riri bangun pagi seperti biasanya, sebelum kami turun untuk sarapan, aku terlebih dahulu mengirimkan pesan teks untuk Reina, agar dia datang pagi ini.


Saat tengah asik menyantap makanan, tiba-tiba kami dikejutkan oleh bunyi bel dari luar.


"Akhirnya datang juga itu anak!" Batinku.


Ting nong.. Ting nong..


"Bi, tolong ya!" Pinta Ibuku pada bi Ningrum.


"Baik nyonya!" Sahut bi Ningrum yang langsung berjalan menuju pintu utama.


Sesaat aku memandangi kedua orangtuaku dengan senyuman penuh arti, yang di balas oleh kedipan mata oleh mereka.


"Time to acting 😎." Batinku, seraya menyunggingkan senyuman nakalku.


Setelah membuka pintu bi Ningrum kemudian kembali ke ruang makan.


"Siapa bi?" Tanya Ibuku.


"Nona Reina nyonya!" Sahut bi Ningrum.


Tak berapa lama muncullah sesosok wanita yang sudah ku tunggu-tunggu sejak tadi. Iya, Reina sahabatku, dengan senyuman sumringahnya dia menghampiri kedua orangtuaku terlebih dahulu.


Tak lupa aku mengedipkan sebelah mataku ke arah Reina untuk memberinya aba-aba. Agar dia melakukan apa yang yang sudah ku minta sebelumnya.


Reina yang mengertipun serta merta menghambur peluk ke arahku setelah menyapa kedua orangtuaku.


"Juan, apa kabar Lo?" Ujarnya yang memulai aktingnya.


"Yang meyakinkan kalo akting!" Bisikku di telinganya.


"Ini gue juga lagi usaha akting!" Balasnya yang juga berbisik pula di telingaku.


Ku lihat sekilas wanita yang berdiri disamping ku kini wajahnya terlihat masam.


"Kena kamu!" Batinku, sembari tersenyum setipis mungkin agar dia tak mencurigainya.


Setelah bertegur sapa sebentar, ku rasa sudah cukup untuk sekedar pemanasan, hehhe..


Lalu aku pamit untuk berangkat ke sekolah, karna hari juga sudah semakin siang.


Selama di perjalanan menuju sekolah, ku lihat dia hanya duduk diam termenung.


"Sayang!" Aku memanggilnya cukup keras, hingga membuatnya sedikit terperanjat.


"I..iya mas?"


"Kamu kenapa? Aku panggil-panggil dari tadi diem aja. Lagi mikirin apa?" Sambungku.


"Eh, ngga. Riri cuma kepikiran soal audisi berikutnya." Sahutnya, yang kurasa itu hanyalah sebuah kebohongan, sudah tercetak jelas di raut wajahnya, ingin sekali aku tertawa sekarang, tapi aku berusaha menahannya.


"Ooh, begitu."


"Mas?"


"Hm, kenapa?"


"Riri nanti pulangnya sama Kania ya? Udah lama ngga main kerumahnya!" Ujarnya lagi.


"Oh, kamu mau menghindariku ya? Xixixi.." Batinku.


"Oh begitu, yasudah! Yang penting hati-hati." Jawabku santai.


Sesaat dia terdiam ku lihat melalui ekor mataku sebelum menjawab ucapanku.


"Iya mas!" Ujarnya yang terdengar ketus.


"Maaf ya sayang, bersabarlah sebentar lagi!" Batinku, seraya curi-curi pandang ke arahnya. Sebenarnya aku juga tidak tega, sebab melihat kakinya yang sedang cidera sekarang, dia harus pulang menggunakan motor. Tapi karna untuk memberikannya kejutan, aku harus rela tega sebentar untuk hasil yang maksimal.


____________


Sore ini Reina sudah tiba di kediaman ku. Aku bersama kedua orangtuaku dan juga Reina berbincang mengenai banyak hal, tak lupa tentang hubungan ku dan juga Riri.


"Lo nanti kalo akting yang maksimal dong!" Ujarku memerintahkan.


"Lo tuh bener-bener ya, mau kasih kejutan anti mainstream banget. Jujur, ngga tega gue."


"Iya Ju, apa ngga ada ide lain?" Timpal Ayahku.


"Hooh, kasian tau menantu kesayangan Ibu. Pas liat ekspresi dia tadi pagi aja Ibu rasanya mau nyerah."


"Ngga papa, sekali ini ajalah. Juan itu mau kasih kejutan yang ngga terduga sekaligus tak terlupakan."


"Ngga terduga sih ngga terduga, tapi ngga gini juga. Benci banget pasti dia liat muka gue Ju." Ujar Reina.


Drt.. drt..


"Eh, bentar-bentar.." Ucapku sambil mengambil handphone di kantong celanaku.


Ku lihat ada sebuah pesan yang masuk dari Kania, sahabatnya Riri.

__ADS_1


📩 "Pak, Kania sudah mengantar Riri sampai di depan pagar!"


"Standby, standby.. Riri sudah di depan!" Ujarku yang mulai heboh. Segera aku berlari ke depan untuk mengintip melalui jendela, saat ku lihat dia sudah mulai menaiki anak tangga pelataran rumah, aku kembali berlari ke ruang tengah, untuk memulai sandiwara kami.


Ntah apa yang kami bahas, kami hanya terus tertawa sampai Riri masuk ke dalam rumah. Cukup lama ku rasa dia berdiri diluar, sesekali aku mengintip ke arah pintu yang sedikit terbuka.


"Lucu sekali!" Batinku, saat melihatnya yang tampak sangat jelas sedang mengintip dibalik pintu.


"Assalamualaikum!" Ucapnya cukup keras.


"Waalaikumsalam!" Sahut kami berbarengan.


"Eh, kamu udah dateng sayang?" Lanjut Ibuku.


"Iya Bu. Eh ada kak Reina? Baru dateng kak?" Tanya nya seraya tersenyum ramah.


"Ngga kok, aku udah dari tadi sore. Oiya, kamu sudah makan belum? Kebetulan aku tadi bawa lauk cukup banyak, kalau belum makan, kita bisa makan sama-sama." Balas Reina.


"Wah, kebetulan Riri belum makan. Perut Riri juga udah keroncongan banget nih. Yaudah, kalo gitu Riri mandi dulu sebentar ya." Jawab Riri sebelum berlalu naik ke kamar.


Ketika melihatnya hendak menaiki anak tangga, aku bergegas berdiri ingin membantunya.


Namun responnya sekali lagi ingin membuatku tertawa.


"Ngga usah mas, Riri bisa sendiri kok." Ujarnya dingin seraya melepaskan tanganku yang sudah menempel dipinggulnya.


"Oh yaudah, hati-hati ya!" Sahutku santai.


Tanpa menjawabku lagi, dia kembali menaiki tangga dengan hentakkan kaki yang cukup keras ku dengar.


"Pftt.." Aku hampir tidak bisa menahan tawaku melihatnya seperti itu.


Setelah melihatnya masuk ke dalam kamar, aku kembali duduk di ruang tengah bersama Ibu, Ayah dan juga Reina.


"Ajaib banget bini Lo Ju, tadi pagi mukanya cemberut pas liat gue, sekarang dia senyum sumringah begitu. Hampir aja gue ketawa tadi." Ujar Reina.


"Gue bilang juga apa, dia itu unik."


"Hahahaha..." Kami kembali tergelak bersama.


Selang beberapa menit, akhirnya Riri turun lengkap dengan baju tidurnya.


Reina kembali melanjutkan aksinya. Sesuai permintaan ku, dia kembali berakting untuk membuat Riri semakin cemburu.


Dan benar saja, raut wajahnya kembali masam ketika Reina menyebut soal makanan kesukaan ku dan meletakkan beberapa potong di atas piringku.


Aku bersama kedua orangtuaku serta Reina sibuk berbincang membahas soal masalalu dan sesekali kami tertawa, berbeda dengan seseorang yang sekarang duduk di sebelahku, dia hanya diam dan hanya sesekali menyunggingkan senyum keterpaksaannya.


Hingga akhirnya Reina pamit untuk pulang, Riri naik ke atas terlebih dahulu tanpa menunggu ku.


"Bu, Yah.. Juan ke atas dulu ya. Keliatannya ada yang ngambek." Ujarku dengan nada berbisik sambil tak henti-hentinya cengengesan.


"Iya, cepet sana." Usir Ibu dan juga Ayahku.


Lalu tanpa membuang waktu lagi, tanpa sepengetahuan istriku, aku mengikutinya dari belakang.


Brakkkk..


Aku sedikit terperanjat mendengar bantingan pintu.


Ketika aku baru sedikit membuka pintu, ku lihat dia langsung berbalik memunggungi ku.


"Ju, tahan tawa.. Tahan tawa!" Batinku, seraya menarik napas beberapa kali.


"Habis makan kok rebahan? Hati-hati lemaknya numpuk loh di perut." Celetuk ku saat berjalan mendekatinya.


"Biarin!" Sahutnya ketus.


Aku menggeleng seraya tersenyum. Lalu aku mengambil perban yang baru di atas nakas samping tempat tidur.


Aku berjalan perlahan menuju ujung ranjang, lalu duduk tepat disamping kakinya. Tanpa meminta izinnya, aku langsung menyingkap selimutnya sedikit keatas, agar aku bisa mengganti perbannya.


"Mas mau ngapain?" Tanyanya dengan sedikit terkejut dengan ulahku.


"Kata dokter dalam 2 hari sekali perbannya harus di ganti." Sahutku seraya melepaskan lilitan perban dari kakinya.


"Biar Riri aja, Riri bisa sendiri kok." Tolaknya.


"Kalo bisa, kenapa sampai sekarang masih belum di ganti?" Tanyaku lagi sambil menatap lekat pada netra pekatnya.


"I..itu, karna Riri lupa aja." Ujarnya sedikit terbata tanpa menatap ku.


"Yasudah, karna kamu lupa dan aku juga sedang tidak ada kerjaan. Jadi aku saja yang melakukannya." Aku kembali melepaskan lilitan perban yang masih tersisa di kakinya.


"Ngga usah mas, Riri aja!" Ujarnya yang mencoba mengambil alih apa yang sedang ku kerjakan sekarang.


"Sudahlah, kamu duduk manis aja!"


"Riri aja!"


"Biar aku aja ya?" Ucapku selembut mungkin, meskipun aku sedang mengerjainya tapi aku juga tidak ingin dia terlalu terluka karna ucapanku.


"Ngga usah mas, biar Riri aja!" Ujarnya lagi seraya menarik kasar perban yang ada di tanganku.


"Kamu kenapa sih sayang? Dari tadi kamu selalu menolak bantuan ku." Ucapku yang masih terdengar lembut.


"Ngga papa kok, Riri cuma mau ngelakuin ini sendiri. Lagian Riri masih punya tangan, jadi Riri ngga butuh tangan orang lain untuk membantu Riri dalam hal sepele ini." Sahutnya.


"Orang lain? Kamu masih menganggap ku orang lain?"


Dia tidak menggubris pertanyaan ku, dia hanya terus menunduk sambil sibuk mengganti perbannya.


"Terserah kamu saja lah." Ujarku lagi sebelum keluar dari kamar meninggalkannya.


Aku berjalan ke arah pintu dan keluar, tapi aku sebenarnya tidak meninggalkannya. Aku hanya berdiri di depan pintu sambil menguping.


Samar-samar ku dengar ada suara tangisan di dalam sana. Seketika hatiku ikut sakit rasanya mendengarnya menangis.


"Apa bercandaku sudah keterlaluan?" Gumamku.


Aku kembali memegang handle pintu, ingin sekali rasanya aku masuk sekarang dan memeluknya. Tapi seketika aku menghentikan niatku.

__ADS_1


"Ngga, ngga boleh. Aku harus kuat." 😣


______________


3 hari kemudian


Tepat di hari bahagianya, yang artinya semua sandiwara ku akan berakhir hari ini. Akhirnya hari ini tiba, aku benar-benar sudah tidak tega membohonginya terus menerus. 😥


Beberapa hari belakangan dia banyak diam dan mengacuhkan ku. Bahkan ketika aku mengajaknya bicara dia hanya menjawabku sekenanya saja.


Aku terus mencuri pandang ke arahnya, yang duduk di sampingku hingga kami tiba di sekolah. Dia tidak banyak bicara seperti biasanya, setelah mencium tanganku dia langsung turun dari mobil tanpa ekspresi. Astaga, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Ingin sekali rasanya aku menarik tangannya dan menciumnya sekarang 😭.


-


Saat Riri turun dari mobil, aku langsung mengambil telpon genggam ku untuk mengirimkan pesan pada Kania untuk mengingatkannya tentang rencana yang sebelumnya sudah ku katakan.


Bak gayung bersambut, kini dia benar-benar mendatangiku. Tapi yang membuatku terkejut, dia masuk kedalam ruanganku pada saat jam pelajaran.


"Riri?" Ujarku terkejut saat melihatnya yang tiba-tiba masuk.


Perlahan dia mendekatiku, dan duduk di pangkuan ku.


Glek


"A..ada apa ini? Kenapa dia seperti ini?" Batinku, aku benar-benar tidak menduga bahwa dia akan melakukan ini.


"Ka..kamu mau ngapain? Kalau ada yang tiba-tiba masuk gimana?" Sambungku, sambil sesekali melihat ke arah pintu.


"Apa Riri ngga boleh kesini?" Ujarnya cemberut.


"Astaga, menggemaskan sekali!" Teriak batinku, ingin sekali rasanya aku mencumbunya sekarang.


"Ngga, bukannya gitu. Tapi kita kan lagi di sekolah, kalau kita ketahuan, yang rugi juga kan kamu. Apalagi dengan posisi kita yang seperti ini?" Tambahku.


"Riri kesini cuma mau minta maaf kok sama mas Juan."


"Minta maaf? Memang kamu ada salah apa?"


"Yaa, Riri minta maaf karna akhir-akhir ini Riri nyuekin mas Juan." Ujarnya sembari mengalungkan tangannya di leherku.


"Astaga, benar-benar cobaan terberat!" Batinku, bahkan aku sampai tidak bisa mengendalikan adik kecilku yang sudah mulai terbangun.


"Iya, aku sudah maafin kamu kok tanpa kamu minta maafpun. Tapi kamu kok tiba-tiba jadi gini sih?"


"Ehm, itu.. Sebenarnya Riri juga kangen sama mas Juan." Lirihnya sembari menatap lekat pada kedua bola mataku.


Dengan perlahan dia memajukan wajahnya hingga napasnya terasa menyapu seluruh area wajahku. Ingin sekali rasanya aku menindihnya sekarang, tapi lagi-lagi akal sehatku mencegahku, ditambah lagi sekarang kami masih di area sekolah. Bagaimana jika ada orang lain yang melihat. Ah, tidak-tidak.. aku harus menahan nafsuku, aku tidak boleh goyah sampai nanti malam.


Tok..tok..tok


Suara ketukan pintu mengejutkan kami.


Dengan sigap Riri langsung turun dari pangkuanku dan bersembunyi dibawah meja.


"Ehm, ada apa?" Tanya ku.


"Maaf mengganggu Pak, saya cuma mau tanya, Pak Juan jadi masuk ke kelas kami kan hari ini?" Tanya seorang siswa.


"Iya, sebentar lagi saya kesana!"


"Baik, terimakasih Pak!" Sahutnya, lalu menutup pintu.


Tak lama kemudian Riri bangun.


"Kalau begitu Riri kembali ke kelas dulu ya mas!"


"Eh, kamu mau kem..."


Drt.. drt...


"A..angkat aja mas, Riri ke kelas dulu!"


"Hm, Yasudah!" Balasku.


Setelah melihatnya berjalan menjauh, aku langsung mengangkat telpon ku.


Saat kulihat ketika dia hendak menutup pintu, aku sengaja mengeraskan suara ku agar terdengar olehnya.


📞 "Halo Rey, kenapa?"


Dan benar saja dugaanku, dia berhenti di depan pintu untuk menguping.


Aku kembali menyunggingkan senyumku, lalu kembali melanjutkan aktingku.


📞 "Malam ini?"


📞 "Gue senggang kok."


📞 "Lo mau ngomong apa? Yaudah-yaudah Lo jangan nangis dong. Iya gue bakal temuin Lo malam ini di cafe xxx jam 10 kan?"


📞 "Iya, Lo jangan nangis dong. Iya gue janji bakalan datengin Lo malam ini!"


📞 "Iya, gue tutup dulu ya. Gue harus masuk ke kelas sekarang!"


Saat ku lihat dia berjalan menjauh. Aku kembali tertawa kecil melihat tingkah lucunya.


"Kenapa kamu menggemaskan sekali?" Ujarku sambil cengengesan.


Sebenarnya tadi aku tidak menelpon siapapun, saat seorang siswa masuk ke dalam ruanganku, aku dengan cepat mengatur alarm di handphoneku, agar terlihat seperti ada seseorang yang menghubungiku. 😄


(Mas Juan jahil banget parah 🤣)


Saat sibuk tertawa dan tersenyum, aku kembali merasakan sakit di area bawahku.


"Aduhhh, hshhhh.." Ringisku menahan sakit.


"Tenang dek, malam ini kamu akan menemui surgamu kembali!"


❤️❤️❤️


Terimakasih atas segala bentuk dukungannya dan juga komennya ya para readers ku tercinta.

__ADS_1


Tp utur kembali mengingatkan ya, jgn lupa kasih like, komen, vote serta jadikan novel retjeh ini favorit di rak buku kalian 😘😘😘😘


Saranghae 😚 siyu next part epribadeh 😚😘


__ADS_2