Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Juan POV IX (Ti Amo)


__ADS_3

❤️❤️❤️


Hari ini adalah hari penentuan siapa yang akan mewakili sekolah untuk mengikuti ajang gadis sampul 2021. Meskipun aku menentangnya untuk ikut audisi itu, tapi karna tekadnya yang kuat aku juga tidak bisa memaksakan kehendakku. Sebagai orang dewasa, aku harus berusaha untuk mengerti keputusannya bukan.


"Dia sekarang pasti sedang berada di ruang ganti bukan?" Ujarku yang bertanya pada diriku sendiri, karna sekarang aku sedang berada di kantorku.


Aku tidak bisa menahannya lagi sekarang, aku ingin melihatnya, meskipun itu dari kejauhan.


Dengan sedikit tergesa, aku berjalan menuju ruang ganti dalam gedung yang sama dengan aula, selain bisa masuk melalui pintu aula secara langsung, ada sebuah pintu dari samping yang bisa langsung masuk ke dalam ruang ganti, sehingga aku tidak perlu masuk dari pintu utama aula.


Kreeeekkkk


Dengan sedikit hati-hati aku membuka pintu itu, takut-takut jika ada seseorang yang akan memergoki ku. Dan untungnya, di luar pintu terlihat sepi, sehingga aku lebih mudah untuk masuk.


Meskipun hanya melihat dari belakang, aku bisa tau sosok gadis yang sedang duduk sendirian di depan ku ini.


"Baguslah, kau memilih pakaian yang tidak terlalu terbuka." Batinku, aku tersenyum ke arahnya yang sedang duduk sendirian di depanku saat ini.


"Sudah ku duga kau akan seperti ini." Ujarku mengagetkannya.


"Pak Juan? Bapak ngapain kesini?" Tanyanya, yang sedikit terkejut dari raut wajahnya.


"Apa aku tidak boleh kesini?"


"Ngga, bukan gitu. Maksud Riri kalau anak-anak lain liat gimana? Mereka pasti mikir yang ngga-ngga."


"Kau tenang saja, aku kesini hanya ingin memberikan ini." Ujarku memberikan satu pil lengkap dengan sebotol air mineral, yang sudah ku persiapkan sebelumnya sebagai jaga-jaga jika dia memerlukannya.


"Ini apa Pak?" Tanya nya bingung.


"Obat ini akan membuat mu lebih tenang."


"Terimakasih Pak." Sahutnya tersenyum, lalu dia mengambilnya dari ku dan langsung meminumnya.


"Kau tau kan aku menentang keputusan mu ini? Tapi karna kau bersikeras ingin melakukannya, lakukan sampai akhir, jangan membuatku kecewa karna aku sudah membiarkan mu melakukannya." Ujarku yang berusaha untuk memberikannya dukungan.


"Iya Pak, Riri janji. Riri ngga akan ngecewain Pak Juan." Ujarnya tersenyum lebar.


"Kau tidak pernah mengecewakan ku!" Batinku, kemudian aku juga ikut tersenyum ke arahnya.


Kreeeekkk


Tiba-tiba saja pintu terbuka, beberapa anak terpaku melihat pemandangan di depan mereka yang tampak sangat asing.


Murid-murid lainnya mulai berdatangan, dan mulai berbisik.


"Tidak, aku tidak bisa membiarkan kami ketahuan, bisa-bisa ini akan berpengaruh buruk untuk Riri." Batinku.


Saat aku hendak membuka mulutku untuk memberikan alasan, tiba-tiba saja seseorang yang tidak ku sangka-sangka muncul di depan kami.


"Riri, maaf sayang. Aku datangnya kelamaan ya?" Ujar sebuah suara tiba-tiba yang membuatku sangat terkejut.


"Dennis?" Batinku, mataku membulat sempurna menatap ke arahnya yang tiba-tiba datang tanpa sepengetahuan ku.


"Maaf ya aku datengnya telat." Ujar Dennis sembari mengulurkan sebuket bunga sambil tersenyum manis ke arah istriku.


"Apa-apaan ini?" Batinku, aku mulai geram dengan mengepalkan tanganku kuat-kuat. Jika saja sekarang tidak banyak orang disini, mungkin sekarang aku sudah melayangkan satu pukulan di wajahnya itu.


"Thanks ya kak, udah nemenin cewek gue." Ucapnya sambil menepuk pelan bahu ku.


"Hm!" Itulah jawaban yang bisa ku keluarkan saat ini, aku lebih memilih untuk mengalah kali ini. Jika aku egois sekarang, yang terluka pastilah Riri dan aku tidak mau hal itu terjadi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku memilih untuk keluar meninggalkan mereka, dengan amarah yang ku tahan.


Bug..


Aku memukul meja kuat-kuat setibanya aku di dalam ruang kerjaku.


Bisa-bisanya dia melakukan itu padaku, padahal dia tau Riri itu adalah istriku. Aku bisa memahami kalau dia ingin menolong kami, tapi apa harus seperti itu. Apa selamanya aku tidak akan bisa memberitahukan semuanya kalau Riri adalah istriku.


Sesaat kemudian aku teringat kejadian kemarin pagi, sebelum aku dan Riri berangkat ke sekolah. Saat aku hendak mengambil keperluan ku di ruang kerja untuk di bawa ke sekolah.


Flashback on


"Ah, aku baru ingat. Tintanya sudah habis semua." Gumamku pelan, aku baru ingat kemarin malam semua tinta pulpen ku habis semua dan aku belum sempat untuk membelinya.


Lalu aku teringat kalau Dennis juga memiliki pulpen dengan merk yang sama denganku. Karna biasanya kami tidak membeli pulpen sembarangan yang di jual di toko-toko di pinggir jalan. Ada 1 merk pulpen yang sangat ku sukai, dan aku selalu menggunakannya, karna sudah habis, aku ingin meminjam milik Dennis.


Karna kamar Dennis yang di tinggalinya saat di rumah ku juga ada di lantai atas, aku berinisiatif untuk mengambilnya sendiri.


Krek

__ADS_1


Segera setelah pintu ku buka aku langsung berjalan menuju meja belajarnya yang ada di samping tempat tidur.


"Dimana ya?" Gumamku, sambil membuka satu-persatu wadah pulpel dan pensilnya yang ada di atas meja belajar.


Saat tidak menemukannya di atas meja, aku menarik tempat yang ada di bawah meja belajarnya.


"Ini dia!" Gumamku, saat menemukan pulpen yang ku cari.


"Pinjem dulu ya Den, nanti gue ganti." Ujarku berbicara sendiri.


Tapi ada sebuah foto berbingkai yang terbalik ku lihat.


"Kenapa dia menaruh fotonya di bawah sini?" Ujarku, lalu ku keluarkan foto itu. Saat membaliknya, betapa terkejutnya aku.


"Kenapa foto istriku ada di sini?" Batinku, aku sangat terkejut melihatnya, terlebih lagi dia membingkai foto itu dan memberi tanda hati di pojok kanan bawah.


"Kak Juan?" Ujar seseorang yang tiba-tiba masuk, dengan reflek aku kembali memasukkan foto itu ketempat semula dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.


"Eh, Den?" Ujarku yang sedikit terkejut karna dia muncul tiba-tiba.


"Oiya, gue pinjem pulpen Lo dulu ya. Nanti gue ganti."


"Oh, kirain kenapa. Iya pinjem aja, santuy!"


"Kalo gitu gue duluan ya, udah hampir jam 8 nih." Ujarku sambil melihat jam tangan ku.


"Ok, kak."


Flashback off


Aku berusaha untuk berpikir positif dan berusaha melupakannya. Tapi, saat melihatnya tadi yang tiba-tiba datang, semua pikiran positif yang sebelumnya ku tanam kini berubah menjadi kecemasan.


-


Drt drt..


Pesan masuk dari : "Istriku"


"Pak, Riri nanti pulangnya bareng Dennis ya? Boleh kan?"


Aku jadi semakin geram setelah membaca pesannya.


Send


Lalu ku lempar asal telpon genggam ku ke atas meja, aku menjadi gusar kembali dengan mengacak-acak rambut ku sendiri.


"Arghhhh, sialll!"


Karna dia membuatku kesal, aku pulang kerumah lebih dahulu. Toh, dia juga akan pulang bersama Dennis, untuk apa aku menunggunya. Itu hanya akan membuat hatiku lebih sakit jika melihat mereka berdua, bahkan aku tidak perduli lagi dengan hasil kontes hari ini, apakah dia berhasil atau tidak, setan cemburu telah berhasil meracuni pikiran ku.


Aku berusaha sekeras mungkin untuk mengabaikan dan tak memperdulikannya. Tapi hatiku tidak sejalan dengan akal sehatku. Ada rasa bergemuruh di lubuk hatiku yang sudah ku tahan sejak tadi siang, hingga malam menggantikan siang, batang hidungnya belum terlihat sampai sekarang, aku jadi semakin cemas dan khawatir.


Pikiran-pikiran yang tidak masuk akal terus berputar di otakku.


"Kenapa belum pulang juga? Apa mereka sedang pacaran sekarang?" Gerutuku sambil terus bolak balik dengan hati yang sangat tidak tenang.


"Apa mereka sekarang sedang bermesraan di tempat yang sepi?" Ujarku dengan segala pikiran anehku.


"Ah, tidak-tidak. Riri tidak mungkin mengkhianati ku seperti itu." Ujarku kemudian menggeleng berusaha untuk membuang pikiran jelekku jauh-jauh.


Hingga waktu menunjukkan jam 9 malam, akhirnya ada seseorang yang membuka pintu kamar dari luar.


Kreeekkk


Dengan secepat kilat aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur, duduk bersandar sambil berpura-pura memainkan telpon genggam ku.


"Pak Juaaaannn, Riri terpilih Pak!" Pekik nya saat pertama kali masuk ke dalam kamar.


"Hm!" Balasku singkat.


"Kok, hm doang sih?" Ujarnya yang mendekati ku dan duduk di bibir ranjang.


"Cepatlah mandi, kau bau keringat!" Ujarku tanpa menoleh padanya.


"Masa sih?" Ujarnya sambil mengendus tubuhnya sendiri


"Yaudah, Riri mandi dulu ya." Ucapnya, lalu berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah kurang lebih 30 menit, akhirnya dia keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Pak, mengenai tadi siang.." Ujarnya yang kembali mendekati ku


"Aku malas membahas sesuatu yang sangat tidak penting." Sahutku datar.


"Tidak penting?"


"Iya, tidak penting!"


"Tidak penting kata Bapak? Apa perasaan Riri juga ngga berarti apa-apa bagi Pak Juan?" Ujarnya tiba-tiba.


"Riri capek Pak, Riri capek memperjuangkan cinta sepihak ini terus menerus. Kalau Riri emang ngga ada artinya sama sekali di hidup Bapak, lebih baik Bapak ceraikan saja Riri sekarang?" Ujarnya yang terdengar menantang ku.


"Apa kau bilang? Kau sangat ingin bersamanya kan? Sehingga kau membahas perceraian dengan ku sekarang?" Ujarku meninggikan suara, perkataannya benar-benar menyulut emosiku yang sudah ku tahan sejak tadi.


"Heh, Bapak benar. Mungkin karna saking cintanya Riri dengan Dennis, Riri ingin segera bercerai dari Bapak.!" Ujarnya lalu berbalik.


Grep


"Apa kau sudah gila?" Teriak ku dengan mencengkram lengannya kuat.


"Aw, sakit Pak." Rintihnya.


"Kau tidak boleh bersama pria lain!" Ujarku menatap tajam pada sorot matanya.


"Heh siapa Bapak yang bisa se enaknya melarang Riri? Mulai detik ini, Riri akan menghentikan cinta sepihak yang memuakkan ini untuk selamanya!"


"Kau tidak akan bisa berhenti mencintai ku!"


Karna emosi yang kian memuncak, aku sudah tidak bisa mengendalikan diriku lagi.


Cup


Aku ******* bibirnya dengan kasar, tak satu tempat pun dalam rongga mulutnya ku lewatkan, dengan ganasnya serta dibarengi dengan nafsu yang kian memuncak, aku melahapnya dengan paksa, tak perduli penolakan serta rontaannya saat memukuli dadaku.


Hingga aku merasakan basah pada hidungku, dia menangis? Seketika aku menghentikan aksi ku.


Aku memperhatikan wajahnya yang ternyata sudah di banjiri oleh air mata.


Hiks hiks


Saat aku hendak menghapus air matanya, dia langsung menepis tangan ku.


"Apa Pak Juan sudah puas sekarang?"Ujarnya dengan mata yang sembab.


"Ma..maafkan aku. Aku.. aku tidak bermaksud.."


Lalu dia berbalik tanpa mendengarkan penjelasan ku.


"Mau kemana kau?" Pekik ku.


"Ketemu Dennis!" Ucapnya, yang kembali membuat ku marah.


"Tidak, aku tidak akan bisa membiarkan mu dengannya. Tidak akan pernah!" Batinku.


"Apa kau tidak memikirkan perasaan ku?" Ujarku yang berusaha menghentikan langkahnya.


"Apa kau tidak pernah berpikir kalau aku akan merasakan sakit jika melihat kalian terus bersama?"


"Dan, apa kau bilang? Kau akan menceraikan ku karna kau begitu mencintainya? Tidak, aku tidak akan pernah membiarkan kalian bersama!"


"Apa kau tau, ingin rasanya aku menghajar wajahnya tadi di depan umum?"


"Aku tidak akan pernah merelakan gadis yang ku cintai pergi, meskipun itu untuk adik ku sendiri."


"Pak Juan?" Ujarnya berbalik.


"Maka dari itu, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan ku demi laki-laki lain" Lirihku dengan air mata yang sudah menggenang.


"Jangan tinggalkan aku! Jangan mendatanginya!?" Ujarku dengan menatap dalam pada sorot matanya sambil memegangi wajahnya.


"Aku mencintaimu! Apa kau masih tidak mengerti?"


"Pak?" Lirihnya sambil menatap tajam pada bola mataku, mungkin ingin mencari pembuktian pada kata-kata ku.


"Aku sungguh benar-benar mencintai mu!" Ujarku lalu mendekapnya erat dalam pelukanku.


"Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun pun mengambilmu dariku!"


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2