Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Lakukanlah Mas!


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Kayaknya tadi aku liat mas Juan deh." Batinku.


Oiya, aku dan Pak Juan sudah sepakat untuk mengganti panggilan kami masing-masing sejak seminggu yang lalu. Meskipun masih terasa sedikit canggung, tapi secara perlahan kami sudah mulai terbiasa.


Sekarang aku berada di ruang ganti, karna acara hari ini sudah selesai aku segera mengganti pakaianku dan menanggalkan semua aksesoris yang sebelumnya ku gunakan.


"Ri, nih minum dulu." Ucap Kania yang baru saja datang sambil membawakan minuman yang sebelumnya sudah ku pesan. Sebenarnya Kania hari ini sekolah, tapi dia menyempatkan waktu untuk mampir setelah pulang dari sekolah.


"Thanks ya, soryy ngerepotin." Ujarku tak enak.


"Iya, nyantai aja kali. Kan gue sekalian mampir, gedungnya bagus banget gila." Seru Kania menyenggol ku.


"Gimana tadi? Gugup ngga?" Sambungnya.


"Alhamdulillah lancar, kalo gugup sih pasti ada. Tapi overall semuanya aman." Ujarku sambil sibuk melepaskan beberapa aksesoris.


"Yah, sayang banget gue ngga bisa lihat."


"Tenang aja, nanti bakalan ada tayangan ulang kok di tv.


"Hah? Serius Lo?"


"Iya. Eh Kan?"


"Kenape?"


"Tadi kok gue kayak ngeliat laki gue ya di antara penonton?"


"Ya kan, Lo bilang kemaren emang mau dateng kesini bareng laki Lo. Gimana si?"


"Iya, tapi tadi malam ada perdebatan kecil, jadi dia bilang ngga bakalan datang kesini hari ini."


"Kalian itu, kapan akurnya si?"


Aku hanya mengangkat kedua bahuku untuk merespon pertanyaan Kania. Segera setelah aku selesai berganti pakaian, aku dan Kania segera keluar dari ruang ganti. Saat berjalan di sepanjang koridor, aku merasa ada seseorang yang mengikuti kami dari belakang.


"Kan?"


"Ehm."


"Lo ngerasa ngga?"


"Ngerasa apa?"


"Kayaknya ada yang ngikutin kita?" Ujarku sedikit takut


"Hah? Masa?" Ucap Kania, dengan cepat dia membalikkan badannya untuk melihat situasi dibelakang kami.


"Ngga ada siapa-siapa kok, yang ada cuma para staff."


"Masa sih? Kok gue ngerasa ada yang ngikutin ya?" Gumamku, sambil celingukan mencari sosok yang ku rasakan sedang mengikuti kami. Tapi yang dikatakan Kania itu benar, tidak ada siapapun dibelakang kami selain para staff yang sibuk berlalu lalang membereskan beberapa alat setelah acara audisi.


"Perasaan Lo aja mungkin, udah yok.. Perut gue laper banget nihhh.." Seru Kania, sembari merangkul lenganku.


"Iya kali ya.." Batinku.

__ADS_1


_____________


"Oiya, gue baru nyadar. Kenapa Lo udah pulang jam segini?" Tanyaku heran, mengingat sekarang baru jam 2 siang.


"Itu... sebenarnya gue izin sakit tadi, hehhe.." Sahutnya cengengesan.


"Ya Allah, bener-bener Lo." Ujarku gemas.


"Ya kan gue pengen liat acaranya, tapi keburu bubar." Ucapnya kecewa.


"Makanya kalo mau dateng kasih kabar dulu."


"Ya kan gue lupa. Oiya, untuk audisi berikutnya kapan?"


"Lusa!" Sahutku singkat sambil sibuk menyeruput jus jeruk kesukaan ku.


"Jam berapa?"


"Setelah isya."


"Malem dong berarti? Asiiikkk, gue mau dateng ahhhh.." Ujarnya antusias.


"Ajakin yang lainnya juga dong, biar gue semangat."


"Siap bos!"


"Oiya, berarti tadi pagi Lo di anter sama siapa?"


"Pak Amat!" Ujarku sambil mengunyah makanan ku.


"Kalau jalan lihat-lihat dong mas!" Protes salah satu pelanggan ku lihat karna makanan yang dipesannya tumpah, mungkin karna tersenggol.


"Maaf mas saya tidak sengaja, biar saya ganti!" Ucap seorang laki-laki, ku tebak dialah yang menumpahkan nya. Tapi dari punggungnya, laki-laki itu seolah tak asing di mataku.


Saat lelaki itu berbalik, seketika mata kami saling bertemu. Betapa terkejutnya aku, ternyata laki-laki itu adalah suamiku sendiri.


"Mas Juan!" Ujarku terkejut.


"Kenapa Ri?" Tanya Kania bingung.


"Itu laki gue Kan." Ujarku menunjuk kearah suami ku berada.


Tapi bukannya mendatangi ku, dia malah berbalik. Dan berjalan, seakan hendak pergi. Sebelum dia pergi lebih jauh, dengan cepat aku menyusul langkah kakinya.


Grep


"Mas!"


"Kenapa pergi?" Tanyaku.


"E,,eh.. kamu disini?" Ujarnya yang terdengar gugup.


"Mas dari mana?" Tanyaku, sambil memperhatikan pakaian yang di kenakannya, sepertinya pakaian ini pernah ku lihat sebelumnya, tapi dimana?.


"A..aku habis dari sekolah. Karna lapar, jadi mampir kesini."


Aku mengerutkan kedua alisku, kenapa ku rasa dia sedang berbohong sekarang. Di tengah-tengah kebingungan ku, seketika aku mengingat sosok laki-laki yang menggunakan topi dan kacamata hitam di tengah-tengah penonton tadi, yang kurasa sangat mirip dengan suamiku.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan?" Batinku,


"Mas tadi kesana ya?" Tanyaku, aku yakin mataku tidak salah. Iya, dia pasti kesana diam-diam.


"Kesana? Kesana kemana?"


"Ketempat audisi?" Sambungku.


"Untuk apa aku kesana? Kan sudah ku bilang, aku dari sekolah." Ujarnya membuang muka. Dan karna tingkahnya yang seolah menghindari tatapanku membuatku yakin, kalau dia benar-benar kesana tadi.


"Eyyy.. jangan bohong mas. Riri yakin, mata Riri ngga salah. Mas tadi kesana kan?" Ujarku yang masih berusaha membuatnya mengaku.


"Ngaku aja deh mas, Riri tadi liat kok ditengah-tengah penonton ada yang pakai baju, topi dan kacamata yang sama persis dengan yang mas pakai sekarang. Lagian mana pernah mas ke sekolah pake baju casual gini."


"Ehm, aku sudah mengganti fashion ku." Masih saja dia tidak mau mengaku.


"Eyyy, ngaku aja deh mas. Ngga usah malu, mas kesana kan tadi? Ya kan, ya kan?" Godaku.


"Sudah ku bilang aku tidak kesana." Ujarnya yang masih mengelak, padahal bukti sudah jelas-jelas di depan mata, tapi masih mengelak. Dasar suami ku ini!.


Aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya yang menggemaskan itu. Apa orang dewasa selalu begitu? Tidak mau mengakui perbuatannya, padahal sudah tertangkap basah, masih saja tidak mau mengaku.


Akhirnya aku tidak jadi di antar pulang oleh Kania, melainkan ikut dengan suamiku. Selama di perjalanan pulang, dia hanya diam saja. Mukanya terlihat masam, ketika aku terus menggodanya. Bahkan sesampainya dirumah pun, dia masih diam. Dia pasti benar-benar malu sekarang karna penyamarannya yang gagal. Saat melihat wajahnya aku tidak bisa berhenti tertawa. Sangat menyenangkan rasanya bisa menggodanya seperti ini 😄.


"Bagaimana rasanya melambaikan tangan dengan tersenyum ramah dan juga memamerkan punggung? Pasti sangat menyenangkan." Ujarnya yang terdengar menyindir, sesaat aku mengulum senyum mendengar perkataannya.


"Jelas dong. Mas ngga tau kan semenyenangkan apa rasanya? Rasanya.. "


"Cerewet, aku mau tidur." Ujarnya ketus, lalu berbalik membelakangi ku.


"Mas marah?" Ujarku berbisik.


"Untuk apa aku marah? Itu kan bukan urusanku."


Aku hanya tersenyum geli melihatnya seperti ini.


"Mereka kan hanya melihat bagian punggung Riri sedikit dari jauh, sedangkan mas Juan pernah melihat seluruhnya dari dekat." Ujarku berbisik.


"Apa mas Juan ngga berniat untuk menyentuh semuanya sekarang?" Sambungku dengan nada yang menggoda.


Seketika dia langsung berbalik dan menindihku.


"Jangan menggodaku, kalau kamu ingin selamat."


"Riri ngga cuma menggoda kok." Ujarku pelan, lalu..


Cup


Aku mengecup bibirnya lembut.


"Lakukanlah mas!" Bisikku.


❤️❤️❤️


😂😚


Jgn lupa tinggalkan like, komen, vote dan favoritnya juga ya dear 😚 selamat membaca 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2