Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Aku Ingin Membelanya?!


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Mmm..maksud gue. Gue kan kemarin juga ada di sana, ya gue tau lah. Dan gue liat secara langsung sampai habis, ngga kaya si Nita yang dengerinnya setengah-setengah." Ujarku mantap.


Yang semula anak-anak menatap heran ke arahku, kini mereka malah berbondong-bondong mengerubungi ku.


"Jadi, beneran? Pak Juan udah nikah? Sama anak sekolahan?" Tanya Sherly dengan segala ke kepoannya.


"I..iya" Ujarku mengangguk.


"Wah, ini berita super duper amazing. Beruntung banget itu cewek bisa di nikahin sama kepsek se ganteng Pak Juan. Gue juga mauuuuuu..." Kata Laras dengan mata yang berbinar-binar.


"Terus.. terus.. Lo juga pasti liat dong gimana istrinya?" Tanya Laras yang semakin penasaran.


"Eh, eng.. ituuuu....


"Udah, udah.. tadi aja ngata-ngatain, sekarang malah pada kepo." Ujar Kania yang menolongku dari rentetan-rentetan pertanyaan dari mereka.


"Ya tadi kan sebelum tau, kalo Pak Juan ternyata udah nikah." Ujar Laras lagi.


"Eh, tapi Pak Juan nikah kok ngga ada kabar beritanya ya?" Kata Rita.


"Iya juga ya." Timpal Sherly.


"Udah, udah.. bubar.. bubar.. bubar. Pada ngga mau ke kantin apa?" Usir Kania.


"Oh iya ya, sekarang jamnya istirahat ya? Pantesan perut gue laper." Ujar Laras.


"Sukanya nge ghibah sih, makanya lupa waktu." Sindir Kania.


"Kenapa sih Lo Kan? Sensian banget."


"Ngga papa, perut gue laper. Yuk Ri, ke kantin. Laper banget perut gue." Ajak Kania.


Tanpa menunggu lagi, aku dan Kania berjalan bersama menuju kantin sekolah. Saat kami melewati murid-murid perempuan, ada saja yang membicarakan yang tidak-tidak tentang Pak Juan hingga membuat kupingku panas.


Saat aku hendak berbalik mendatangi mereka, Kania menahanku.


"Udah udah, jangan cari masalah Lo." Ujar Kania mengingatkan.


"Panas kuping gue dengernya Kan, bisa-bisanya mereka ngomongin kepsek sekaligus guru mereka sendiri kayak gitu." Ujarku emosi.


-


"Lo ngga bisa gini dong Ri, koar-koar.. ngasih tau kesemuanya kalo berita itu ngga bener, apa Lo pikir salah satu di antara mereka ngga bakalan ada yang curiga kalo sikap Lo yang berlebihan kayak gini, Lo itu cuma murid biasa sama kayak yang lainnya, Lo inget dong posisi Lo sekarang. Dimata mereka, emang Lo siapanya Pak Juan? Istrinya? Kalo mereka tau siapa cewek yang ada di mobil Pak Juan kemarin, gimana tanggapan mereka? Kalo mereka tau ternyata cewek itu murid Pak Juan sendiri, gimana? Apa Lo pikir setelah anak-anak, guru lain serta orang tua murid tau, apa mereka ngga akan ada yang komplain? Seorang murid biasa dari keluarga biasa menikah dengan kepseknya sendiri ketika Lo sendiri masih mengenyam pendidikan? Apa yang akan mereka pikirkan tentang Lo? Pikirin masa depan Lo dong Ri. Lo tenang aja, ngga akan terjadi apa-apa sama Pak Juan, percaya sama gue. Disini kalo kalian ketahuan, yang di rugikan itu Lo Ri, masa depan Lo."


Seketika aku terdiam, merenungi kata-kata yang di ucapkan Kania barusan. Kania benar, aku tidak seharusnya bersikap berlebihan seperti ini menanggapi permasalahan kepsek ku sendiri. Memang aku siapanya? Aku sedih memikirkan Pak Juan yang selalu di jelek-jelenkkan sejak pagi tadi, aku ingin membelanya. Tetapi, aku juga mengkhawatirkan diriku sendiri. Ya Allah, apa yang harus ku lakukan untuk membantunya?


-

__ADS_1


Setelah selesai makan siang, aku kembali ke kelas bersama dengan Kania. Saat kami melewati kelas IPS 2 yang ada di sebelah kelasku, tiba-tiba saja seseorang menghentikan langkah kami.


"Heh Arianti!" Panggil seseorang dengan nada angkuhnya.


Aku yang merasa di panggil otomatis langsung membalikkan badan menghadap arah suara di belakang ku.


"Ada apa?" Sahutku malas, ketika tau siapa yang memanggilku.


"Lo yang bilang ke anak-anak kalo gue bohong?"


Aku mengernyitkan kedua alisku, mencerna pertanyaan yang di maksudnya barusan.


"Oohhh, soal itu. Gue ngga ada bilang kalo Lo bohong. Gue cuma bilang kalo Lo liat kejadiannya cuma setengah, ngga sampai selesai." Sahutku santai.


"Sok tau banget Lo, dari mana Lo tau kalo gue ngeliatnya ngga sampe selesai?"


"Ya gue tau lah, orang gue ada disitu. Dan gue liatnya sampai habis, ngga kayak Lo setengah-setengah. Sampai menggiring opini yang ngga bener."


"Apa Lo bilang?" Pekiknya.


Kini anak-anak mulai mengerubungi kami setelah mendengar suara yang lantang dari Nita.


"Udah Ri, ngga usah di ladenin. Kita ke kelas yuk?!". Ajak Kania.


"Mau kemana Lo? Gue belum selesai ngomong." Pekik Nita.


"Aduh, males banget gue ngeladenin miss PENGGIRING OPINI." Ujarku dengan menekankan kata "penggiring opini".


Tanpa menjawabnya lagi, aku langsung berbalik hendak meninggalkannya. Sebelum berbalik, tidak lupa aku menyunggingkan senyuman miringku.


Baru beberapa langkah aku berjalan..


"Awww.." Pekik ku, aku merasakan ada seseorang yang menjambak rambutku dengan kasar dari belakang.


"Apa-apaan sih Lo?" Pekik ku.


"Heh, gue pastiin rambut Lo bakalan rontok hari ini" Seringainya yang masih bisa terlihat olehku.


"Jangan Lo kira gue bakalan ngalah." Ujarku yang tak mau kalah.


Dengan cepat aku meraih rambutnya, menjambaknya kuat-kuat.


"Aduhhhh" Pekik Nita.


"Lepasin rambut temen gue" Teriak Kania sambil berusaha membantuku dengan ikut menjambak rambutnya Nita.


"Aduhhh."Teriak Nita lagi.


"Lo gila ya? Lepasin tangan Lo dari temen gue?" Ujar salah satu teman Nita menjambak rambut Kania.

__ADS_1


"Awww.. Berani banget Lo jambak rambut gue. Ok...rasain nihhhh...." Pekik Kania.


"Aduhhhh"


Suasana sekarang benar-benar riuh dan kacau. Di tengah-tengah persitegangan yang terjadi di antara kami, teriakan seseorang seketika berhasil menghentikan aksi jambak-menjambak yang kami lakukan.


"BERHENTIIIII!"


Deg


"Suara ini?"


Dengan sekali teriakannya, berhasil membuatku dan yang lainnya berhenti saling menjambak.


"Ikut ke ruangan saya, SEKARANG!"


-


"Apa-apaan kalian ini? Bukannya belajar karna sebentar lagi akan ujian, malah sibuk bertengkar seperti anak kecil. Apa kalian ingin melihat nilai E di raport kalian, hah?"


"Jangan Bu, jangan." Rengek kami serempak.


"Arianti yang mulai duluan Bu". Ujar Nita menyalahkan ku.


"Hah? Apa Lo bilang? Jelas-jelas Lo duluan yang Jambak rambut gue." Jawabku, tentu saja aku tidak mau mengalah, karna aku memang tidak salah.


"Itu gara-gara Lo ngatain gue miss penggiring opini."


"Emang bener kan? Lo itu emang miss penggiring opini. Bisa-bisanya Lo nyebarin berita yang ngga bener ke seluruh sekolah tanpa tau faktanya seperti apa."


"Apa Lo bilang? Apa Lo harus di tampar dulu baru Lo bisa diam?"


"Ayo? Maju sini Lo? Gue ngga takut." Ujarku yang tak kalah menantangnya.


Brakkkk


Suara gebrakan meja yang sangat keras, sontak membuat ku sangat terkejut.


"Kalau sekali lagi kalian bicara, saya benar-benar akan memasukkan nilai E ke dalam raport kalian." Ancam Bu Tania yang terlihat tidak main-main dari tatapannya.


Krek


Suara pintu yang di buka tiba-tiba sontak membuat kami terkejut. Dan dengan serempak kami mengalihkan pandangan ke arah pintu yang tiba-tiba di buka itu.


"Pak Juan?"


❤️❤️❤️


Tolong tinggalkan jejak berupa like, komen, vote dan favoritnya juga ya 😉

__ADS_1


Xiexie 😚


See U next part dear 😚❤️


__ADS_2