Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Dimana Ini?


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Kamu jahat Den, kamu jahat. Aku benci sama kamu, aku benciiiii..."


"Pak Juan, bangun Pak! Hiks.. hiks.. bangun Paaakkk...."


"Bangun Ri.. Woi, Ri.. Bangun!"


"Pak Juan, jangan tinggalin Riri. Hiks.. hiks.."


"Ri, bangun sayang.."


"Hiks.. hiks.. Kok kayak ada suara ibu ya?"


"Bangun Ri.." Aku merasakan ada seseorang yang mengguncang tubuhku sekarang, semakin lama guncangan itu terasa semakin nyata.


Saat aku membuka mataku. Orang pertama yang ku lihat adalah Dennis, tanpa berpikir lagi, aku langsung memukulinya dengan kedua tanganku.


"Kamu jahat, kamu jahat.. Kembalikan Pak Juan, kembalikan Pak Juan."


"Aw.. aw.. aw.. Sakit Ri.."


"Sayang sudah, jangan pukuli Dennis terus."


"Dennis jahat Bu, dia bunuh Pak Juan di depan mata aku. Hiks.. hiks.."


"Hahahahahahaha..." Kelakar Dennis.


"Lo ngigo?"


"Ngingo?" Gumamku. Lalu dengan cepat aku mengedarkan pandanganku.


"Ibu? Ayah? Bu Nala? Ayah Adi?"


"Ke..Kenapa kalian ada disini?" Ujarku bingung.


"Dimana ini?" Ujarku semakin bingung.


"Tadi Riri inget banget, sepulang sekolah Riri langsung temuin Dennis karna ada janji terus Riri ketiduran.. teruuuuss.. kenapa sekarang ada disini?" Pikirku, tempat ini sangat berbeda dari tempatku di sekap.


"Ya, karna gue yang bawa Lo kesini, disuruh Tante Nala sama Om Adi."


"Ma.. Maksudnya?" Tanyaku yang masih bingung dengan keadaan ini.


"Ya, maksudnya. Lo ngigo." Ujar Dennis.


"Ja.. Jadi yang tadi cuma mimpi?" Ujarku terkejut.


"Ya iyalah, orang Lo aja baru bangun. Lo itu tadi tidurnya 5 jam tau."


Aku masih bingung dengan semuanya, masih belum bisa mencerna keadaan saat ini sepenuhnya.

__ADS_1


"Hah? Seriusan? Jadi yang tadi semuanya benar-benar cuma mimpi?" Ujarku yang masih tidak percaya, sambil menggaruk-garuk kepalaku, untuk mencari kebenaran yang sebenarnya.


"Btw, Lo tadi mimpi apaan Ri?"


______________


"Hahahahahahah.." Kelakar ayah, ibuku dan juga kedua mertuaku.


"Jadi kamu pikir, Dennis nyulik kamu trus pas Juan dateng, kalian berdua mau di bunuh? Sama si Dennis? Hahaahahah.. Aduh Ri, kamu tuh ada-ada aja deh." Kata Bu Nala mentertawakan kekonyolan mimpiku barusan.


"Hehehe.." Aku hanya bisa tersenyum kikuk dengan menggaruk-garuk tengkuk ku yang sebenarnya tidak gatal.


"Makanya kamu tuh kurang-kurangin nonton film yang aneh-aneh." Ucap ayahku.


Sekali lagi aku hanya bisa tersenyum malu dihadapan semuanya.


"Maaf ya Den.." Ujarku memohon.


"Tega banget Lo Ri, bisa-bisanya Lo mimpi sadis begitu cuma gara-gara apa yang Lo liat di taman beberapa hari yang lalu. Liar banget otak Lo."


"Iya, sorry sorry.. Riri bener-bener ngga tau." Ujarku yang semakin merasa bersalah karna sudah salah paham padanya.


"Apa Lo bilang tadi? Gue nampar cewek? Trus bikin dia nangis? Trus ninggalin dia sendirian begitu aja? Parah banget Lo Ri, sakit hati gue." Ujarnya sembari mengelus dadanya.


"Maaf.." Ujarku tertunduk, aku tidak tau harus bagaimana lagi agar Dennis memaafkan ku.


"Lagian semuanya emang keliatan nyata banget, kamu nampar cewek itu.."


"Trus dia juga nangis." Sambungku.


"Kan seperti yang gue bilang tadi, dia lagi patah hati karna putus dari pacarnya. Ya ampun, Lo itu... gemes gue."


"Ditambah lagi, kamu ninggalin dia sendirian gitu aja."


"Itu karna dia pengen bakso, jadi gue cariin. Dan dia ngga mau ikut, makanya gue pergi sendirian, tapi abis itu gue balik lagi. Ya Allah, semakin di pikir, semakin sakiiittt hati gue Ri."


"Ya maaf, aku kan ngga tau." Ujarku menunduk, menyesali semua pikiran konyolku.


"Tapi, i..ini juga salah kamu Den. Kenapa kamu ngga bilang mau bawa aku kesini buat ketemu sama Ayah dan Ibu. Kalau kamu bilang kan, Riri ngga akan salah paham kayak gini." Ujarku membela diri.


"Tapi kan, gue juga di suruh Om sama Tante."


"Sudah sudah.. Jangan ribut terus. Ibu akui, ini semua memang salahnya ibu dan ayah yang merencanakan semua ini untuk memberikan kamu kejutan, karna kamu berhasil masuk jadi salah satu calon gadis sampul, dan kami juga sebenarnya melakukan ini untuk merayakan pernikahan kalian yang sudah 2 bulan. Jadi kami ingin memberikan kejutan yang benar-benar ngga akan bisa kamu lupakan, tapi mungkin cara kami mengejutkan kamu keterlaluan. Jadi ibu minta maaf sekali lagi ya, ibu cuma terlalu antusias, hehhe.. maaf ya sayang." Terang Bu Nala.


"Ya ampun Bu, cara ini emang bener-bener buat Riri kaget banget, tapi.. Riri juga seneng sekaligus terharu. Makasih ya Bu, Yah. Terimakasih karna sudah sangat menyayangi Riri." Ujarku memeluk kedua mertuaku yang sudah ku anggap sebagai orang tua kandungku sendiri.


"Terimakasih juga ya Bu, Yah." Ujarku lagi yang kemudian bergantian memeluk kedua orangtuaku.


"Oiya, kenapa Pak Juan ngga ada disini?" Tanyaku.


"Ehm, ituuu.." Ucap Bu Nala menggantung.

__ADS_1


_____________


Sekarang, waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Udara malam yang dingin di pegunungan sudah sangat terasa menusuk. Tapi karna ada api unggun yang kami buat dan juga kebersamaan kami malam ini, dingin itu tidak terlalu terasa. Oiya, ternyata atas perintah kedua mertuaku, aku dibawa ke tempat yang dulunya pernah ku kunjungi bersama keluarga dan juga Pak Juan, yaitu villa milik keluarga Ayah Adi yang ada di puncak.


Suasana saat ini sangat menyenangkan, duduk bersama keluarga, menikmati dingin dengan kopi panas di temani dengan api unggun dan sesekali melontarkan candaan hingga tertawa bersama.


"Jadi Pak Juan kerumah Yah?" Tanyaku.


"Iya, dia nyariin kamu nak."


"Trus, trus Yah?" Ujarku antusias.


"Iya, terlihat dari wajahnya. Dia khawatir sekali, bahkan tidak mau masuk kerumah, padahal biasanya sesibuk apapun nak Juan pasti mampir walaupun cuma sebentar." Terang ayahku.


Aku tersenyum bahagia mendengar penuturan dari ayahku.


"Ah, Pak Juan. Riri jadi makin kangen." Batinku, sambil tersenyum.


"Ibu rasa, sekarang Juan pasti lagi kelimpungan banget nyari istrinya yang hilang, hahaha.." Ujar Bu Nala yang juga di iringi gelak tawa dari kami semua.


"Iya Tante, waktu Pak Juan nelpon Dennis mau minta nomor telponnya Kania, temennya Riri. Kak Juan kayak marah-marah gitu saking paniknya. Hahaha..." Timpal Dennis.


"Ayah rasa, sudah cukup ngerjainnya Bu. Kasihan anak kita, bisa-bisa dia jadi gila beneran." Ujar Ayah Adi.


"Iya juga ya Yah, kasian. Yaudah, telpon Juan sekarang Den.." Perintah Bu Nala pada Dennis untuk segera menelpon anaknya.


"Siap Tante.." Sahutnya. Namun saat hendak menghubungi Pak Juan, tiba-tiba saja kehadiran seseorang mengejutkan kami.


"Sayang?" Ujarnya yang langsung memelukku dari belakang.


"Pak Juan?"


"Juan?"


"Kak Juan?"


Ucap kami serentak.


"Berani banget Lo bawa istri gue tanpa izin?" Ujarnya yang langsung menarik kerah baju Dennis setelah memelukku.


"Juan, apa-apaan kamu. Lepaskan!" Kata Ayah Adi, yang berusaha melepaskan tangan Juan dari kerah baju Dennis.


"Wait.. wait.. wait.. ada apa sih kak?"


"Ada apa Lo bilang? Setelah sembunyi-sembunyi, sekarang Lo sudah berani terang-terangan menyatakan kalau Lo suka Riri kan, makanya Lo bawa dia kesini tanpa izin gue!"


"Hah?"


❤️❤️❤️


Jangan bully utur 😭😄😂✌️

__ADS_1


Sekian dan terimakasih, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh💃


__ADS_2