
❤️❤️❤️
"Tante Nala sama om Adi nya ada mbak?". Tanya pria di depanku ini tersenyum ramah padaku.
"Aduh, kebetulan mereka lagi ngga ada mas". Jawabku sopan.
"Kalau begitu, apa kak Juan ada?". Tanya nya lagi.
"Kalau pak Juan ada mas, silahkan masuk!". Ujarku mempersilahkan.
"Terimakasih mbak". Sahutnya menunduk sopan.
"Jangan sungkan mas, silahkan duduk". Ujarku tersenyum manis mempersilahkannya duduk di sova ruang tamu.
_____________
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu ruang kerja pak Juan untuk memberitahunya bahwa ada seorang tamu yang ingin bertemu dengannya.
"Masuk". Sahutnya dari dalam.
"Ada apa?". Tanya nya ketika melihat ku yang muncul di ambang pintu.
"Ada tamu Pak". Sahutku to the point.
"Siapa?". Tanya nya lagi sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Hm, i..itu Riri ngga nanya Pak. Ehehhe..". Ujarku sambil menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal.
Ku lihat dia menghela napasnya sebelum menjawabku.
"Yasudah, aku akan turun sebentar lagi". Jawabnya yang kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Iya Pak". Sahutku cepat lalu langsung turun ke bawah setelah memberitahunya.
______________
"Mas, mau minum apa?". Tanyaku yang sudah berdiri di depannya.
"Apa aja mbak. Yang penting seger". Sahutnya dengan tersenyum ramah.
"Tunggu sebentar ya mas?!". Ujar ku sebelum berlalu meninggalkan nya ke dapur.
"Iya mbak".
_____________
"Dennis?". Ucap pak Juan yang terkejut melihat tamu itu.
"Kak Juan?!". Sahutnya yang langsung berdiri dan menghambur peluk pada suami ku itu.
"Eh, apa itu saudaranya pak Juan? Wajahnya sedikit mirip?!". Pikirku sambil membawakan segelas jus jeruk beserta camilannya.
__ADS_1
"Gimana kabarnya?". Ujarnya setelah melepaskan pelukannya.
"Ya begini lah Alhamdulillah". Sahut pak Juan.
"Lo sendiri gimana kabarnya? Udah lama ngga ketemu, udah gede aja sepupu kecil gue?". Sambungnya lagi sambil menepuk-nepuk pundak pria yang bernama Dennis itu.
"Oh sepupu?". Batinku. Sambil meletakkan nampan yang berisi minuman dan camilan ke atas meja.
"Baik kak Alhamdulillah, hehhe". Sahutnya dengan tersenyum cerah.
"Ini?". Ujarnya yang menatap padaku.
"Ah, Riri?!". Ucapku memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan untuk menyalaminya.
"Dennis". Balasnya yang menyambut uluran tangan ku.
"Kak, apa dia...?". Ucapnya terhenti sambil menatap pada pak Juan.
Pak Juan hanya mengangguk kan kepalanya pelan.
"Wah, kakak ipar? Kenapa ngga bilang dari tadi?". Ujarnya yang terlihat antusias.
"Eh, hehhe". Aku jadi malu di sebut kakak ipar.
"Wah, kakak punya istri cantik gini kenapa di sembunyikan?". Senggolnya pada pak Juan.
"Ngga ada untungnya juga di publish". Sahutnya enteng sebelum duduk di sova.
"Wah wah, ada yang takut istrinya di lirik orang lain nih?". Godanya lagi.
Entah kenapa mendengar ucapan nya itu membuatku senang. Tapi yang di goda anteng-anteng aja, melirik pada ku pun tidak.
"Jangan kan di lirik, kalau ada yang mau menculiknya pun aku ikhlas". Ujarnya tersenyum miring ke arahku.
"Apa katanya barusan?". Aku memelototkan mataku padanya, aku sampai tidak bisa berkata-kata setelah mendengar kata-katanya barusan.
"Hahahaha, kalau di culik beneran. Baru tau rasa lo kak?!". Ujar Dennis dengan gelak tawanya.
____________
Sekarang aku duduk di bawah pohon yang ada di taman belakang rumah, meninggalkan mereka berdua yang sedang asik mengobrol di ruang tengah, sekalian menghilangkan ke kesalanku atas apa yang di katakan pak Juan tadi. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu.
"Apa? Dia bilang jangan kan di lirik, kalau ada yang mau menculik ku pun dia ikhlas?! Cih, menyebalkan". Gerutu ku mengulangi kata-katanya barusan sambil menarik kasar rumput-rumput yang ada di depanku.
"Akan ku cabuti rambut di kepalamu itu satu-persatu sampai tak tersisa, dasar macan jantaaaannnnn". Ujarku yang semakin gencar dan cepat mencabuti rumput-rumput yang ada di sekitarku dengan di iringi senyuman miring ala-ala pembunuh dingin.
"Kak, sebelah sana juga dong? Disana rumputnya tebel tuh". Ujar sebuah suara mengejutkan.
"E.. eh. Dennis?". Ujarku gelagapan, karna dia memergoki ku yang sedang memaki kakak sepupunya itu.
"Hahaha, kakak ipar lucu banget sih". Kelakarnya, lalu ikut duduk di sampingku.
"Jangan kasih tau pak Juan ya?". Ujarku memelas.
__ADS_1
"Kak Ju...?". Teriaknya.
"Eh, udah di bilang jangan kasih tau". Ujarku yang cemas, langsung menutup mulutnya dengan telapak tanganku.
"E..eh maaf". Ucapku yang baru sadar dengan ulah tidak sopan ku.
"Hahahaha.. kakak ipar ini benar-benar lucu ya". Ujarnya yang tertawa lepas memperlihatkan gigi putih bersihnya.
Dennis ini sangat berbeda wataknya dengan pak Juan yang dingin dan sinis padaku, dia adalah tipe laki-laki yang manis dengan kepribadian yang menyenangkan. Dengan sifatnya yang seperti itu kami jadi mudah bergaul dan akrab, rasanya aku kembali menemukan ketenangan jiwa setelah kedatangannya semenjak kepergian kedua mertuaku ke luar kota. Oiya, Dennis ini memiliki wajah yang tampan dengan mata yang sipit seperti oppa-oppa Korea, dia tinggal di negara L guna menyelesaikan studi S1nya. Orangtuanya telah meninggal sejak 3 tahun lalu karna kecelakaan, dia paling dekat dengan keluarga ayah mertua ku terutama pak Juan, mereka benar-benar terlihat seperti kakak dan adik kandung. Aku menyukai kepribadiannya sejak pertama melihatnya apalagi setelah perbincangan kami di taman belakang tadi, tetapi aku menyukainya hanya sebagai sahabat dan saudara bukan sebagai pasangan antara pria dan wanita . Betapa bahagianya aku jika memiliki suami dengan sifat yang sepertinya tapi apa mau di kata aku sudah sudah jatuh hati dan menjatuhkan pilihan ku pada pak Juan yang selalu dingin dan bersikap acuh padaku, cinta itu memang buta ya? :).
______________
Aku kembali menaiki tangga menuju kamarku dan pak Juan dengan ceria mengingat perbincangan ku barusan dengan Dennis, aku merasa seperti berbincang dengan sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Ini pertama kalinya aku bisa berbicara dengan bebas selain dengan Kania, sahabat ku.
Krek
Ku lihat pak Juan tengah asik mengotak-atik telpon genggamnya di atas ranjang.
Setelah meliriknya sebentar aku terus berjalan menuju kamar mandi tanpa memperdulikannya.
"Pintar sekali kau merayu laki-laki?!". Ujarnya dengan nada menyindir.
Aku menghentikan langkahku ketika mendengar perkataannya.
"Maksud pak Juan?". Tanyaku dengan menaikkan sebelah alisku.
"Heh, tidak usah pura-pura polos. Karna tidak bisa merayuku, sekarang kau mencoba merayu adikku kan?!". Ujarnya yang sekarang terang-terangan menyindirku.
"Apa? Bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu. Apa aku terlihat seperti wanita penggoda?". Ucapku bermonolog dalam hati.
"Eh tunggu?! Apa ku kerjai saja dia sekalian ya?". Pikirku yang tiba-tiba mendapatkan ide cemerlang.
"Tapi Riri akui sih pak. Dennis itu ganteng, putih, tinggi, udah kayak oppa-oppa Korea gitu.. Pas banget sama kriteria cowok idaman Riri. Orangnya juga asik, siapa sih cewek yang ngga suka dengan laki-laki seperti itu?!". Ujarku dengan mata yang berbinar-binar seolah-olah sedang membayangkan pria yang ku sebutkan tadi.
Ku dengar sesaat tak ada jawaban sama sekali dari mulutnya.
"Murahan sekali". Ejeknya.
"Minggir". Ujarnya lagi yang berjalan menyenggol ku cukup keras, yang hampir saja membuatku terjatuh jika tidak ada tembok di belakang yang menahan tubuh ku.
Brak
Suara bantingan pintu yang di tutupnya dengan kasar.
"Pak Juaaannnn? Kan tadi Riri duluan yang mau mandiiii?!".
❤️❤️❤️
Happy reading and enjoy 😚
Jangan lupa tinggalkan like komen vote dan jadikan novel receh ini sebagai favorit di rak buku kalian ya biar kalian dapat notifikasi setiap kali aku update 🤗
Xiexie 😚
__ADS_1