Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Riri Bisa Sendiri!


__ADS_3

❤️❤️❤️


Sekarang waktu sudah menunjukkan jam 19.30 malam, dan aku baru saja pulang dari rumah Kania. Dengan sedikit gontai aku melangkahkan kaki menaiki gundukan tangga pelataran rumah milik kedua mertuaku, hingga di ambang pintu aku mendengar suara gelak tawa di dalam sana.


"Rame banget!" Gumamku. Karna penasaran, aku mendorong pintu agar sedikit terbuka, hingga cukup bagiku untuk mengintip keadaan di dalam sana. Lalu mataku langsung tertuju pada wanita yang tadi pagi tiba-tiba datang. Aku sedikit terkejut melihatnya yang masih ada dirumah mertuaku.


"Apa dia baru datang atau emang ngga pulang-pulang?" Gumamku dengan perasaan yang kurang suka melihatnya disana, terlebih lagi dia duduk di samping suamiku.


"Jangan terpengaruh Ri, jangan terpengaruh!" Ujarku menggeleng.


"Bener apa kata Kania, kenapa aku harus takut? Aku ini kan istri sahnya. Memangnya kenapa kalau dia cinta pertamanya? Toh dia cuma masalalu, sedangkan aku masa depannya sekaligus calon ibu dari anak-anaknya. Iya, aku ngga boleh galau cuma gara-gara ini. Aku harus menunjukkan posisiku sebagai istri sahnya." Aku mengembalikan kepercayaan diriku, mengesampingkan rasa iri dan cemburuku, dengan hati yang mantap dan penuh keyakinan, ku dorong pintu utama hingga terbuka lebar, dan tak lupa pula ku sunggingkan senyuman lebar ku untuk menyapa mereka.


"Assalamualaikum!"Ucapku cukup keras memberi salam.


"Waalaikumsalam!" Sahut mereka berbarengan.


"Eh, kamu udah dateng sayang?" Lanjut Bu Nala.


"Iya Bu. Eh ada kak Reina? Baru dateng kak?" Tanyaku seraya tersenyum seramah mungkin.


"Ngga kok, aku udah dari tadi sore. Oiya, kamu sudah makan belum? Kebetulan aku tadi bawa lauk cukup banyak, kalau belum makan, kita bisa makan sama-sama." Ujarnya sembari tersenyum.


"Kebetulan? Cih, bilang aja sengaja." Gerutuku dalam hati.


"Wah, kebetulan Riri belum makan. Perut Riri juga udah keroncongan banget nih. Yaudah, kalo gitu Riri mandi dulu sebentar ya."


Saat aku hendak menaiki anak tangga, mas Juan menghampiriku.


"Sini, biar aku bantu." Tawarnya.


"Ngga usah mas, Riri bisa sendiri kok." Tolakku, aku melepaskan tangannya yang sudah mendarat di pinggulku, mungkin dia ingin membantu memapahku.


"Oh yaudah, hati-hati ya!" Balasnya.


"A..apa? Apa yang dikatakannya barusan? Aku tidak salah dengar kan?" Batinku, tiba-tiba aku terperangah mendengar ucapannya.


Tanpa menjawab perkataannya lagi, aku langsung menaiki anak tangga dengan perasaan yang kesal. Dalam setiap langkahku menaiki anak tangga hingga kedalam kamar, tak henti-hentinya aku menggerutu dalam hati.


Bug


Aku melempar tas sekolah ku asal ke atas sova.


"Oh, yaudah. Hati-hati ya!" Ujarku sambil menirukan ucapannya dengan nada mengejek.


"Nyebelin!"

__ADS_1


Dengan hati yang gusar, dengan sedikit kasar aku menarik handuk yang ada di dalam lemari lalu berjalan menuju kamar mandi. Karna ingin cepat-cepat turun, aku menyelesaikan aktivitas ku hanya dalam kurun waktu kurang lebih 5 menit, setelah berpakaian aku segera keluar dari kamar.


"Cih, kayaknya udah terbiasa!" Cibirku dalam hati, sembari melihat wanita itu yang sibuk kesana kemari menata meja makan sedemikian rupa dengan berbagai hidangan.


"Wah! Kelihatannya enak banget nih!" Ucapku ketika sudah berdiri di dekat meja makan.


"Jangan di liatin aja dong, ayo kita makan sama-sama. Om, Juan, ayo makan." Ujarnya kemudian memanggil Ayah dan juga mas Juan yang masih duduk di ruang tengah.


"Nih, Ju. Gue bawain ayam betutu kesukaan Lo." Ucap Reina seraya mengambilkan ayam betutu dan menaruhnya ke piring suamiku.


"Hei mbak, aku ini istrinya. Aku tau kamu sahabatnya, tapi apa kamu tidak bisa menjaga perasaan ku." Batinku, sambil melongo tak percaya melihat adegan di depan ku saat ini.


"Thanks ya Rei!" Kata mas Juan tersenyum.


"Hm!" Balasnya seraya tersenyum pula.


"Apa-apaan sih? Apa mereka ngga liat aku disini?" Batinku.


"Kok pada diem aja? Dimakan dong!" Lanjutnya.


"Eh.. I..iya, terimakasih ya Rei udah di bawain makanan se enak ini. Wah, ayam betutunya keliatan enak banget nih." Seru Bu Nala.


"Sayang, kamu cobain deh!" Sambung Bu Nala seraya meletakkan beberapa potong di piring ku.


"Terimakasih Bu!" Ujarku tersenyum.


"Ngga terlalu, karna Riri ngga terlalu tahan sama makanan pedas kak." Sahutku.


"Oh ya? Wah, sayang banget. Padahal Juan suka banget loh sama ayam betutu. Ya kan Ju?" Sambungnya.


"Eh, I..iya."


"Heh.." Seketika aku menghela napas cukup keras tanpa sadar.


"Kenapa sayang?" Tanya Bu Nala.


"Eh, ngga.. ngga papa kok Bu. Riri cuma agak kepedesan aja." Ujarku berbohong, lalu mengambil minuman yang ada di depan ku dan menenggaknya sampai habis tak tersisa. Padahal bukan karna pedas, tapi hatiku yang panas.


Makan malam berlangsung cukup lama dari biasanya, mereka sibuk melempar canda sembari mengingat masalalu, ku kira hanya aku disini yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan masalalu mereka, seketika aku merasa sangat asing disini. Bahkan mataku mulai berkaca-kaca, tapi aku berusaha menahannya semampuku.


_____________


Setelah makan malam berakhir, Reina pamit pulang. Kami semua mengantarnya sampai di depan pintu masuk, setelah mengantarnya sampai di depan pintu, aku masuk ke kamar terlebih dahulu tanpa menunggu mas Juan yang masih berdiri disana bersama kedua mertuaku.


Brakkkk

__ADS_1


Aku menutup pintu kamar cukup keras karna kekesalanku.


Selang beberapa menit, mas Juan masuk ke dalam kamar. Aku segera memunggunginya dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku.


"Habis makan kok rebahan? Hati-hati lemaknya numpuk loh di perut."


"Biarin!" Sahutku ketus.


Tak berapa lama kemudian aku merasakan tangan seseorang pada kakiku.


"Mas mau ngapain?" Tanyaku dengan sedikit terkejut.


"Kata dokter dalam 2 hari sekali perbannya harus di ganti." Sahutnya seraya melepaskan lilitan perban dari kaki ku.


"Biar Riri aja, Riri bisa sendiri kok." Tolak ku.


"Kalo bisa, kenapa sampai sekarang masih belum di ganti?" Tanya nya sambil menatap lekat pada netra pekatku.


"I..itu, karna Riri lupa aja." Ujarku sedikit terbata tanpa menatapnya.


"Yasudah, karna kamu lupa dan aku juga sedang tidak ada kerjaan. Jadi aku saja yang melakukannya." Kata mas Juan kembali melepas lilitan perban yang masih tersisa.


"Ngga usah mas, Riri aja!" Ujarku mencoba mengambil alih apa yang dikerjakannya saat ini.


"Sudahlah, kamu duduk manis aja!"


"Riri aja!"


"Biar aku aja ya?" Ucapnya lembut.


"Ngga usah mas, biar Riri aja!" Ujarku sembari menarik kasar perban yang di pegangnya.


"Kamu kenapa sih sayang? Dari tadi kamu selalu menolak bantuan ku." Ujarnya dengan nada yang masih pelan.


"Ngga papa kok, Riri cuma mau ngelakuin ini sendiri. Lagian Riri masih punya tangan, jadi Riri ngga butuh tangan orang lain untuk membantu Riri dalam hal sepele ini." Ujarku tertunduk sembari menyembunyikan air mataku yang sudah mulai tergenang.


"Orang lain? Kamu masih menganggap ku orang lain?" Tanya nya yang mulai terdengar emosi.


Aku tidak menggubris pertanyaan nya, aku hanya terus melakukan pekerjaan ku sambil menunduk.


"Terserah kamu saja lah." Sambungnya sebelum keluar dari kamar meninggalkan ku.


"Hiks.. hiks.." Kini air mataku mulai luruh dengan perlahan.


Ada rasa yang sesak di hatiku, aku tidak bisa menahannya lagi, hingga air mataku benar-benar tumpah seluruhnya. Aku hanya bisa tertunduk sembari terisak, menuruti kemauan air mataku, sampai kapan ia akan terus mengalir, aku tidak tau. Aku hanya bisa menurutinya sampai hatiku benar-benar lega.

__ADS_1


❤️❤️❤️


Jgn lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favoritnya juga ya dear 😘


__ADS_2