Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Membuat Menyerah Atau Malah Di Buat Menyerah?!


__ADS_3

❤️❤️❤️


Dug dug dug dug


Serasa darahku ikut berdesir seirama dengan debaran jantung ku yang begitu cepat. Ragaku masih ditempat namun jiwaku rasanya melayang ntah kemana.


"Kau? Berani-beraninya kau menarikku? Apa ini semua rencana mu untuk merasakan ciumanku hah?".


"Baru kali ini aku bertemu gadis yang tidak tau malu, datang ke kamar laki-laki dan berusaha menggodanya? Aku tidak mengerti kenapa orangtuaku menjodohkan ku dengan gadis sepertimu?".


Dia terus saja mengoceh tanpa henti, aku mendengarnya tapi ntah kenapa lidahku jadi kelu, aku sama sekali tidak bisa membalas ocehannya.


Dengan kesadaran yang masih tersisa aku berusaha bangun dari posisiku yang telentang karna terjatuh, namun tatapanku masih saja kosong, dan tanpa sadar aku terus memegangi pipiku yang tidak sengaja diciumnya.


"Apa kau mendengar ku?!". Aku melihatnya menjentik-jentikkan jarinya dihadapan ku dan aku menyadarinya tapi lidahku masih terasa kelu.


"APA KAU TULI?!". Teriaknya yang berhasil membuatku terperanjat kaget dan sadar sepenuhnya.


"I..iya pak. Ada apa?". Ujarku dengan polosnya.


"Apa dari tadi aku berbicara dengan tembok?!". Pekiknya kesal.


"M..maaf pak, tadi bapak bicara apa?". Tanyaku dengan wajah tanpa dosa.


"Sudahlah, aku malas berdebat. Kau keluarlah?!". Perintahnya dengan posisi kedua tangannya di pinggang.


"I..iya pak".


Meskipun sudah kembali sadar di hadapannya tadi, kini aku yang berjalan menuruni anak tangga mengingat kembali kejadian mendadak tadi membuatku kembali menjadi linglung.


"Ciuman pertamaku". Ujarku yang terus menyentuh pipi kananku yang tak sengaja di ciumnya.


Rasanya pipiku kembali panas dan merona bahagia mengingatnya. Aku jingkrak-jingkrak kegirangan di dalam dapur.


"Mba, mba Riri". Panggil bi Ningrum.


"Eh iya bi, ada apa?". Ujarku dengan senyuman sumringah.


"Kelihatannya Mba Riri sedang bahagia. Ada apa mba?". Ujarnya penasaran.


"Hehhe, keliatan ya bi?". Ujarku dengan polosnya.


"Kentara sekali mba". Ucap bi Ningrum jujur.


"Hehhe, iya nih bi Riri lagi bahagiaaaaa banget". Sahutku antusias.

__ADS_1


"Rupanya kau disini?!". Ujar sebuah suara yang mengagetkan ku dengan bi Ningrum.


"Buatkan kopi". Perintahnya.


"Baik Tuan". Jawab bi Ningrum.


"Bukan bibi, maksud saya Riri. Bibi kerjakan yang lain saja". Tambahnya.


"Eh..". Aku dan bi Ningrum menatapnya bingung.


"Biii". Ujarnya lagi kala melihat bi Ningrum masih berdiri di sebelahku.


"Ba.. baik Tuan". Jawab bi Ningrum meninggalkan kami tanpa menunggu lama lagi.


~


"Bapak serius mau kopi buatan Riri?". Tanya ku memastikan, karna biasanya dia paling anti dengan setiap masakan atau minuman yang ku suguhkan.


"Bukankah sudah waktunya kau harus belajar menjadi istri yang baik?!". Ujarnya yang semakin mendekat padaku sampai akhirnya mentok di tembok dapur karna pak Juan terus memajukan langkahnya.


"Ba.. baik pak. Riri akan berusaha". Jawabku gugup. Aku merasakan deru napasnya yang hangat menghujami wajahku, aroma mint dari napasnya sungguh menyegarkan penciumanku.


"Apa ini? Kenapa wajahnya dekat sekali? Debaran yang tadi saja masih belum hilang, sekarang datang lagi debaran susulan". Batinku merasakan kembali debaran yang tidak beraturan pada jantung mungilku.


"Cepatlah, aku paling tidak suka menunggu. Heh". Bisiknya halus di telingaku di akhiri dengan hembusan napas yang pelan berhasil membuat ku merinding.


"A..apa pak Juan sedang menggodaku?". Ujarku pelan.


~


Tok tok tok


"Masuk".


"Ini pak kopinya". Ujarku mengulurkan segelas kopi manis untuknya dan tak lupa ku suguhkan dengan senyuman termanis ku padanya.


"Terlalu manis". Ujarnya mengernyitkan kedua alisnya.


"Eh, benarkah? Yasudah, biar Riri buatkan lagi". Aku kembali kedapur dan menyeduhkan ulang kopi untuknya.


"Ini pak". Ujarku tersenyum ramah.


"Hambar". Komentarnya lagi.


"Benarkah?". Aku kembali berjalan kedapur membuatkan kopi yang ke 3 untuknya.

__ADS_1


"Terlalu pahit". Protesnya lagi.


"Tapi perasaan, Riri kasih gula kok". Ujarku membela diri.


"Kalo dibilang pahit ya pahit". Ujarnya tak mau kalah.


"Yasudah Riri buatkan lagi". Aku mengalah, aku kembali berlari kedapur untuk kesekian kalinya, rasanya napasku hampir habis gara-gara bolak balik dari kamar pak Juan ke dapur.


"Ini pak, Riri yakin. Pasti enak". Ujarku dengan percaya dirinya.


"Ah, panas sekali. Apa kau sengaja ingin membuat lidahku terbakar?". Pekik nya, menatap tajam ke arahku.


"Ti.. tidak pak".


"Sudahlah, kau itu memang tidak becus menjadi seorang istri. Membuat kopi yang begitu mudahnya saja kau tidak bisa. Keluarlah, aku sudah tidak ingin kopi".


"Maafkan Riri pak. Riri akan coba sekali lagi. Riri yakin, Riri pasti bisa kok bikin kopi sesuai selera bapak". Ujarku yakin.


Tanpa menunggu jawabannya aku kembali berlari kedapur untuk membuatkan nya kopi.


"Lihat saja bapak pasti akan ketagihan dengan kopi yang Riri buatkan ini". Ujarku pantang menyerah.


~


Saat aku tengah berada di ambang pintu kamar pak Juan, ku dengar dia sedang mengobrol dengan temannya dari seberang telpon.


"Hahaha, coba aja lo bisa liat ekspresi wajah bodohnya pas gue kerjain. Hahaha". Kelakarnya.


Aku mengernyitkan dahi ku ketika menguping pembicaraannya, mencoba mencerna setiap kata yang di ucapkannya.


"Heh, gabakalan gue suka sama itu bocah".


"Lo liat aja nanti, gue bakal kerjain itu anak habis-habisan, gue pastikan dia sendiri yang akan membatalkan perjodoh bodoh ini". Ujarnya tersenyum licik.


~


"Ohhh, jadi pak Juan sengaja". Batinku mengingat perlakuannya tadi.


"Kita lihat saja pak, apakah bapak bisa membuat Riri menyerah? Atau malah sebaliknya?!". Seringai ku yang tak kalah liciknya 😏.


❤️❤️❤️


Have a nice day 😘


Jgn pada ikutan tersenyum licik yak, cukup mereka berdua aja 😏😄🙏

__ADS_1


Enjoy for reading this novel receh 😘


__ADS_2