
❤️❤️❤️
"Kok muka Lo di tekuk gitu?" Ujar Kania yang menghampiriku.
"Lo liat aja tuh?" Aku menunjuk ke arah seseorang yang selalu menatapku dengan tajam sedari tadi.
"Hahaha, kalo gue jadi Lo. Gue bakalan seneng banget tau ngga sih, di intilin kemana pun."
"Tau Lo, bukannya bersyukur." Timpal Dennis kekasihnya Kania.
"Gue sih ngga masalah ya mau di intilin, tapi coba kalian liat? Itu orang nyebelin banget tau ngga sih, bikin mood gue ancur." Ujarku jengah melihat wajahnya.
"Hei hei hei, pada ngomongin apaan?" Ujar Dennis, sepupunya Pak Juan.
"Ngga papa kok Den. Jadi kapan kita mulainya?" Tanyaku, yang ingin cepat-cepat menyelesaikan pengambilan foto hari ini.
"Wait wait wait, santai dulu dong. Makan dulu yuk, laper banget perut gue." Ujarnya menyarankan.
"Aku ngga ikut yah, lagi ngga laper." Tiba-tiba saja aku kehilangan semangat ku.
"Kok gitu sih? Ayodong, ikut. Temenin gue." Rengek Kania.
"Kalian aja deh, gue bener-bener ngga laper Kan." Tolak ku.
"Ayodong, temenin gue. Ngga papa kalo Lo ngga makan. Yang penting Lo temenin gue. Pleaseeee!" Bujuk Kania.
"Yaudah yaudah, gue ikut. Tapi gue cuma pesen minum aja."
"Yaudah terserah, yang penting Lo ikut." Ujar Kania lalu merangkul tanganku.
Akhirnya aku menyerah, dan ikut bersama mereka meskipun aku tidak memesan makanan. Aku terus membuang muka ketika Pak Juan sesekali menatapku, karna posisi duduknya tepat di seberang ku.
"Den?" Panggilku.
"Kenapa?" Ujar kedua laki-laki yang bernama sama itu yang berbarengan menatapku.
"Ah, maksudku kamu Den." Ujarku menunjuk Dennis, adik sepupu Pak Juan.
"Lagian, kalian itu kenapa namanya sama-sama Dennis sih. Kan jadi bingung manggilnya. Kan gue jadi berasa punya pacar 2, kalo jalan bareng kalian." Ujar Kania.
"Apa?" Kata Dennis pacarnya Kania.
"Hehehe ngga, bacanda becanda. Cuma kamu lumba-lumba kesayangan aku." Ujar Kania dengan nada manjanya.
"Kan, jangan bikin gue muntah di sini."
"Apa sih Ri, ngga usah iri. Kan ada laki Lo disini." Ujar Kania.
Aku memelototkan mataku ke arah Kania.
Kania yang mengerti maksudku dengan serta merta mengatupkan bibirnya kuat-kuat.
__ADS_1
"Udah udah. Jadi makannya udah selesai belom nih? Biar bisa kita mulai fotonya, ntar kemaleman banget lagi pulangnya." Kata Dennis, adik sepupunya Pak Juan.
"Yaudah, kita mulai sekarang aja." Ucapku, lalu bangun dari tempat duduk ku.
Dalam perjalanan menuju tempat yang kami tuju, aku dan Dennis membahas perihal tema foto yang akan di ambil hari ini.
"Kebebasan yang menampilkan keindahan" Itulah tema yang akan ku serahkan pada panitia sekolah nanti.
Foto pertama di ambil ketika aku berada di tengah-tengah hamparan kebun teh hijau yang sangat luas. Foto kedua di ambil ketika aku sedang bercengkrama dengan 2 ekor kucing liar di tengah lapangan hijau yang luas . Foto ketiga memperlihatkan kebahagiaan saat meniup bunga dendalion di tengah hamparan ilalang yang menjulang tinggi. Foto ke empat di ambil ketika aku merentangkan tangan menikmati udara yang sejuk di dekat air terjun yang menyegarkan. Dan foto terakhir di ambil saat petang, ketika aku duduk di kursi kemah sambil menikmati secangkir kopi hangat di temani dengan matahari yang tenggelam memperlihatkan warna cantiknya sebelum siang benar-benar berubah menjadi malam.
Hari ini terasa sangat melelahkan namun juga sangat menyenangkan. Setelah selesai mengambil beberapa foto, kami lanjutkan dengan makan malam sebelum pulang ke kota.
Kami memesan makanan dari rumah makan terdekat untuk makan malam, menggelar tikar sebagai alas duduk, di tambah dengan beberapa obor sebagai penerangan ditemani dengan cahaya bintang dan bulan yang sangat cantik malam ini dan tak lupa kami menyalakan api unggun yang semakin menambah keistimewaan makan malam kami hari ini.
"Kayaknya cuman gue yang kedinginan malam ini." Celetuk Dennis.
"Hahahah, makanya cari cewek dong. Emang ngga ada gitu cewek yang Lo taksir?" Ujar Kania.
"Ada." Jawab Dennis singkat.
"Siapa? Ujarku, Kania dan Dennis (pacarnya Kania) secara bersamaan.
"Ada deh." Kata Dennis yang otomatis membuat kami kesal dengan jawabannya.
"Tapi serius Den, ada cewek yang kamu taksir?" Tanya ku yang masih penasaran.
"Iya, serius gue Ri."
"Nanti Lo heboh lagi kalo gue kasih tau sekarang, nanti deh. Nanti gue ceritain."
"Bener ya, awas ngga."
"Iya janji."
"Sudah puas kan? Kita pulang sekarang!" Ujar Pak Juan tiba-tiba yang ntah muncul dari mana mengagetkan kami.
"Oh iya, pulang yuk. Ntar malah tambah kemaleman." Ujar Dennis mengiyakan.
Kami berlima berjalan berbaris dengan Dennis (Sepupu Pak Juan) di depan, Dennis (Pacar Kania) di baris kedua, Kania di baris ketiga, aku dibaris ke empat dan Pak Juan yang paling belakang. Karna jalannya setapak, kami tidak bisa berjalan berdampingan.
Tiba-tiba rintik turun membuat jalanan menjadi sedikit becek dan licin.
"Guys jalannya pelan-pelan sambil berpegangan satu sama lain biar ngga jatoh." Teriak Dennis di depan.
Kurang lebih 10 menit berjalan melewati jalan setapak, akhirnya kami sampai di tempat mobil kami terparkir.
Saat aku dan Pak Juan sampai di mobil, aku meletakkan tas ku sebentar, lalu berbalik hendak ke sungai yang ada di seberang jalan.
"Mau kemana?" Tanya Pak Juan, saat aku berbalik.
"Mau kesitu sebentar Pak, Riri mau cuci muka." Ujarku menunjuk ke arah sungai seberang jalan.
__ADS_1
"Untuk apa repot-repot kesana. Pakai ini saja!" Ujar Pak Juan menyodorkan 1 botol besar air mineral.
"Ngga ah, sebentar aja kok." Tolak ku, lalu aku segera berbalik dan berjalan ke arah sungai.
Saat aku berlari kecil ketika hendak menyeberangi jalan, dengan teledornya aku tidak menengok ke kiri dan ke kanan ketika hendak menyeberang jalan.
"Ri.. Awaaaasss....." Terdengar suara teriakan Kania, saat aku hendak berbalik...
Greb
Seseorang terlebih dahulu menarik tubuhku, sehingga kami sama-sama terjatuh ke bibir jalan.
"Auhhh..." Pekik ku merasakan sakit di bagian sikut ku.
"Apa kalian terluka?" Tanya Pak Juan yang terlihat khawatir.
"Kalian ngga papa?" Tanya Kania dan pacarnya bersamaan.
"Gue ngga papa, tapi kayaknya sikutnya Riri yang terluka." Ujar Dennis (Adik sepupu Pak Juan).
"Riri ngga papa kok."
"Aw.." Pekik ku ketika Pak Juan menyentuh sikut ku yang terasa sakit.
"Apanya yang tidak apa-apa. Coba ku lihat?" Ujar Pak Juan, yang dengan hati-hati mengangkat lengan bajuku.
"Ya ampun Ri, sikut Lo berdarah." Ujar Kania.
"Yaudah langsung bawa kerumah sakit aja." Timpal Dennis (Pacar Kania).
Grep
"Ba.. Bapak ngapain?" Ujarku panik, karna tiba-tiba Pak Juan mengangkat ku.
"Apa kau tidak lihat? Aku sedang membantumu."
"Ta..tapi ngga usah kayak gini juga dong. Riri bisa jalan sendiri."
"Mana disini ada Dennis, Kania sama pacarnya lagi. Aku kan maluuuuu" 😣 Batinku.
"Kau itu terlalu cerewet." Ujarnya lagi, tanpa menghiraukan ucapanku dia langsung menggendongku sampai ke mobil.
Kurang lebih 20 menit perjalanan menggunakan mobil, akhirnya kami tiba di salah satu rumah sakit terdekat. Saat aku hendak turun dari mobil, lagi-lagi Pak Juan mengangkat ku.
"Pak, turunin Riri. Yang sakit itu sikut Riri bukan kaki, jadi Riri masih bisa jalan." Ujarku tak enak bercampur dengan rasa malu karna terus di tatap oleh orang-orang yang kami lewati.
"Apa harus ku cium dulu, baru kau bisa diam?" Ujarnya tiba-tiba yang sukses membuatku mengatupkan bibirku seketika.
"Sus, UGD di sebelah mana?" Tanya Pak Juan pada perawat yang ada di resepsionis.
"Apa harus di bawa ke UGD? Sikut ku kan cuma sedikit lecet." Batinku, aku semakin menenggelamkan kepalaku pada dadanya yang bidang. Aishhhh, aku benar-benar malu.
__ADS_1
❤️❤️❤️