
❤️❤️❤️
Teng teng teng
Pak Juan turun dari mobil terlebih dahulu, 5 menit kemudian giliran ku lah yang keluar dari mobil. Setelah keluar, dengan mengendap serta extra hati-hati aku mengamati sekitar, sekiranya aman aku langsung bergegas berjalan keluar dari tempat parkiran para guru menuju kelasku. Saat tiba di lapangan, terlihat para murid lainnya sibuk berseliweran menuju kelasnya masing-masing, begitu pun denganku. Baru saja aku tiba di depan kelas, sudah di sambut dengan teriakan bising yang sudah sangat sering ku dengar.
"Ririiiiiiiii....." Teriaknya.
"Buset Kan, ada toak di mulut Lo?" Ujar Gandi, teman sekelasku yang di iringi dengan gelak tawa oleh beberapa temanku lainnya.
"Lo punya pesen terakhir ngga?" Ujar Kania yang langsung berdiri hendak mengejar Gandi, sedangkan orang yang mau di kejar dengan cepat berlari keluar kelas.
Mereka itu memang sering sekali bertengkar, tapi anehnya juga sangat cepat berbaikan. Ada-ada saja, mungkin jika Kania saat ini tidak memiliki pacar, aku sudah menjodohkannya dengan Gandi 😄.
"Udah-udah, capek gue ngeliat kalian berantem mulu." Ujarku yang menahan Kania agar tidak mengejarnya.
"Abisnya mulutnya ngga punya filter banget, kesel gue." Sungut Kania lalu kembali ketempat duduknya.
"Cocok kali sama Lo Kan, hahaha..." Ujarku yang di iringi dengan gelak tawa.
"Ih, sorry ya. Meskipun populasi laki-laki di dunia ini punah. Gue ngga bakalan mau sama itu anak lemes. Catet tuh!" Ujar Kania yang tidak terima.
"Hahaha, iya deh iya."
"Btw, Lo tadi manggil gue. Kenapa?" Tanyaku.
"Oiya sampe lupa gue gara-gara tu anak lemes 😒."
"Gimana reaksinya?" Tanya Kania yang kembali antusias.
"Reaksi apanya?" Sahutku, bingung.
"Ituuuu, soal yang tadi malam." Ujarnya yang sedikit mengecilkan volume suaranya.
"Heh, Biasa aja Kan!" Sahutku menghela napas.
"Kok biasa aja sih?" Tanya nya lagi sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Ya, mau gimana lagi. Mungkin karna dia beneran ngga ada perasaan sama gue." Sahutku pasrah.
"Ngga mungkin!" Ucap Kania menggeleng.
"Mungkin aja dong."
"Ngga percaya gue Ri, gue yakin dia suka sama Lo, tapi dia gengsi." Ujar Kania menolak percaya dengan apa yang ku katakan.
"Terus kenapa dia bisa biasa aja liat gue pergi sama Dennis malam-malam kalo dia suka sama gue?"
"Nah itu gue juga ngga tau Ri, tapi gue yakin dia suka sama Lo." Kata Kania dengan keyakinannya.
"Ah, udahlah. Jangan bahas dia lagi, males gue!"
Meskipun aku berkata malas pada Kania, tapi nyatanya aku selalu memikirkannya, dia membuatku bingung dengan sikapnya yang berubah-ubah. Terkadang baik dan perhatian lalu kemudian berubah menjadi dingin dan acuh. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya, apa maunya? Kalau dia menyukai ku, kenapa dia tidak pernah mengatakannya? Dan jika dia tidak menyukaiku, kenapa dia bersikap baik dan manis padaku? Sehingga membuatku salah paham mengartikan setiap perlakuan nya padaku. Isi hati orang dewasa benar-benar sulit untuk di pahami. Atau akunya saja yang bodoh, jadi tidak bisa memahaminya.
____________
Selama perjalanan pulang di dalam mobil, aku terus memperhatikannya. Bertanya-tanya tentang bagaimana perasaannya padaku. Berharap jika aku terus memandanginya, aku akan mendapatkan jawabannya.
"Aku tau, aku tampan!" Celetuknya.
"Cih, PD banget!" Ujarku, lalu dengan cepat aku mengalihkan pandangan ku.
"Kalau aku tidak tampan, mana mungkin kau jatuh cinta pada pandangan pertama padaku!" Ucapnya tiba-tiba sontak membuatku ku terkejut.
"Apa yang di katakannya barusan? Da..darimana dia mengetahuinya?" Batinku, gugup.
"A..apa Bapak bilang? Riri jatuh cinta pada pandangan pertama pada Bapak? Hahahaha"
"Bapak lucu sekali, mana mungkin Riri jatuh cinta pada pandangan pertama pada Bapak. Lagian Bapak tau darimana berita lucu seperti itu? Hahaha.." Ujarku lagi.
Ciiiittttt
Jedug
__ADS_1
"Aduh!" Pekik ku, sembari memegangi belakang kepalaku yang sakit karna benturan cukup keras.
"Apa Bapak tidak bisa mengerem pelan-pelan?" Sungutku.
Bukannya menjawab pertanyaan ku, dia malah memajukan wajahnya mendekat padaku.
"A..apa yang mau Bapak lakukan?" Ujarku mulai panik sambil menyilangkan kedua tanganku di depan dada.
"Kau tidak mau mengakuinya?" Ujarnya menatap intens pada netra pekatku.
"Me..mengakui apa?"
"Mengakui bahwa kau..."Ucapnya menggantung sambil menyibakkan rambut yang sedikit menutupi mataku ke belakang telinga.
"Aduh!" Pekik ku.
"Kenapa?" Tanya Pak Juan bingung.
"Sepertinya ada sesuatu di tengkuk Riri Pak." Sahutku.
"Aduh, aduduh..." Pekik ku lagi, yang merasakan sakit sambil mengibas-ngibaskan tanganku pada tengkuk ku.
"Dimana? Biar ku lihat." Ujar Pak Juan yang segera melepas seatbeltnya lalu membantuku memeriksa tengkuk ku.
"Disini Pak!" Ujarku menunjuk pada bagian yang sakit.
"Mana? Tidak ada?" Ucapnya yang tidak melihat apapun disana.
"Pasti ada, aduh aduh.. sakit" Ujarku yang masih merasakan sakit, seperti ada binatang yang sedang menggigit tengkuk ku.
"Dimana? Disebelah sini?" Tanya Pak Juan.
"Hahaha, aduh Pak geli!" Ujarku tertawa kegelian karna dia menyentuh bagian leher ku.
"Apa kau tidak bisa diam? Bagaimana aku bisa membantumu kalau kau tidak bisa diam?"
"Hahaha, aduh Pak geli. Hahaha" Ujarku yang tidak bisa menahan tawa karna geli sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.
Tok tok tok
"Polisi?" Ujarku terkejut.
Sesaat kami berpandangan dengan tatapan yang sama-sama bingung.
Tok tok tok
"Bisa keluar sebentar?" Ujar Pak polisi yang masih bisa kami dengar dari dalam mobil.
"Kenapa polisi mengetuk kaca mobil kita Pak?" Tanyaku bingung.
"Aku tidak tau, kau tunggu dulu disini sebentar." Ujar Pak Juan sebelum keluar dari mobil.
Karna penasaran aku berpindah duduk agar lebih dekat untuk menguping pembicaraan mereka.
"Selamat siang Bapak?!" Ujar Pak polisi sambil memberikan hormat.
"Siang Pak. Ada apa ya?" Tanya Pak Juan.
"Tadi ada salah satu warga yang memberi keluhan, katanya tiba-tiba ada mobil yang berhenti di tepi jalan cukup lama. Setelah mereka perhatikan, mobil Bapak bergoyang, bahkan saya pun tadi melihatnya."
"Maksud Bapak?" Tanya Pak Juan lagi.
"Apa kalian sedang melakukan hal yang tidak senonoh di dalam sana?"
"Hah? Hal tidak senonoh apanya?" Ujarku mengerutkan kedua alisku.
"Saya tidak melakukan apapun Pak" Sahut Pak Juan.
"Tapi saya tadi melihatnya Pak, mobil bapak bergoyang dan itu tidak sebentar. Bahkan tadi saya lihat gadis di sebelah Bapak masih sangat muda dan mengenakan seragam sekolah."
"Iya mobil kami mungkin bergoyang, tapi...
"Sekarang Bapak mengakuinya kan?" Ucap Pak polisi tiba-tiba memotong ucapan Pak Juan.
__ADS_1
"Hah? Mengakui apa Pak?"
"Sekarang Bapak ikut saya ke kantor polisi untuk di periksa."
"Hah? Pak, ini bukan seperti yang terlihat. Saya tidak gila, sampai melakukan hal yang tidak-tidak di pinggir jalan." Ku dengar Pak Juan sudah mulai emosi.
"Apa maksudnya ini? Apa kami dituduh melakukan yang tidak-tidak di pinggir jalan?" Ujarku yang mulai panik. Saat aku membuka pintu mobil dan hendak keluar, Pak Juan mencegahku.
"Kau tunggu di dalam saja!"
"Tapi Pak...
Brak
Pintu mobil kembali tertutup karna dorongan Pak Juan.
"Semua orang yang tertangkap basah melakukan tindak asusila di depan umum juga menyangkalnya, tapi apa? Semuanya bohong" Ujar Pak polisi yang juga mulai geram.
"Tapi saya tidak berbohong Pak, kami tidak melakukan apapun. Dan meskipun saya melakukan sesuatu, tidak apa-apa kan? Toh, dia istri saya."
"Sudah mengarangnya? Sekarang ikut saya ke kantor polisi. Atau kalian mau saya arak di jalanan raya ini?" Ujar Pak polisi mengancam.
Kulihat dari dalam mobil orang-orang sudah mulai berkerumunan.
"Ya Allah, apa-apaan ini? Kami bener-bener ngga ngelakuin apapun." Ujarku yang semakin panik.
"Ck, baiklah.. baiklah. Kami akan ikut ke kantor." Ujar Pak Juan mengalah.
_____________
"Pak, gimana nih?" Tanyaku yang mulai cemas.
"Gimana kalo besok pagi kami masuk berita? Dengan judul *Murid dan guru asik menggoyang mobil di pinggir jalan* Ah ngga, ngga." Batinku, dengan segala pikiran anehku.
"Kau tenang lah, aku sudah menelpon ibu untuk datang." Ucap Pak Juan menenangkan.
"Mana buktinya kalau kalian suami istri?" Tanya Pak polisi yang sedari tadi mengintrogasi kami.
"Iya sebentar Pak, orangtua kami sedang di jalan." Ujar Pak Juan yang kembali emosi karna terus di desak.
"Ibu? Ayah?" Ucapku senang ketika melihat kedua mertuaku datang.
"Aduh maaf, kelamaan ya? Tadi jalanan macet." Ucap Bu Nala.
"Mana buku nikahnya Bu?" Tanya Pak Juan.
"Ini." Sahut Bu Nala sambil memberikan buku nikah pada Pak Juan.
_____________
"Hahahaha.." Kelakar kedua mertuaku ketika kami sudah berada di dalam mobil menuju rumah.
"Ya ampun Yah, mereka ini lucu sekali. Bisa-bisanya tertangkap basah sedang melakukan hal yang iya-iya di dalam mobil. Hahaha..." Ujar Bu Nala tertawa keras.
"Hahahaha, bener Bu. Apa kalian sudah sangat tidak tahan sehingga melakukannya di pinggir jalan? Hahahaha.." Timpal Ayah Adi yang juga ikut tertawa.
"Ayah, Ibu.. Sudah ku bilang, kami tidak melakukan apapun!" Ujar Pak Juan yang mulai geram mendengar ejekan kedua orangtuanya.
Ahhhh ini benar-benar memalukan dalam sepanjang sejarah hidupku. 😫
❤️❤️❤️❤️
Sorry guys upnya telat, maklum menjelang lebaran aku mulai syibuk 😫
Dan sepertinya besok libur up dulu ya, karna besok benar-benar sibuk untuk persiapan lebaran 😂
Oiya, sebelum itu utur ingin mengucapkan Minal Aidin Walfaidzin 🤗 Mohon maaf lahir dan batin 🙏😇
Maaf jika utur ada salah-salah kata yang di sengaja maupun tidak, karna manusia tempatnya khilaf, tidak luput dari kesalahan dan dosa 🙏
Semoga kita diberikan umur yang panjang agar bisa bertemu dengan bulan suci Ramadhan tahun depan dan seterusnya 🙏🤗
Eh btw, ada yg open house ngga nih? Bisa kali undang utur sekali-kali 😂
__ADS_1
See U next part dear 😚