Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Terserah!


__ADS_3

❤️❤️❤️


Udara pagi yang menusuk pagi ini, tidak mengurangi semangat ku untuk menghadiri acara kelulusan ku hari ini. Hari yang sudah sangat ku nanti-nantikan selama 3 tahun, akhirnya aku bisa merasakannya.


Spesial untuk hari kelulusan ku, sangat pagi-pagi sekali aku sudah berada di salon terdekat dari rumah mertuaku. Iya, untuk mempermak penampilanku agar terlihat lebih cantik tentunya, hehhe 😚.


Aku menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam berada di salon, untuk mempercantik diri. Bahkan mas Juan yang menunggu di dalam mobil pun sampai tertidur, karna terlalu lama menungguku.


Oiya, acara hari ini dikhususkan untuk para siswa dan siswi, untuk merayakan kelulusan kami, setelah kemarin menerima hasil ujian kami dan juga raport, hari ini waktunya untuk bersenang-senang.


"Lama banget, aku sampe ketiduran nunggunya." Ujar mas Juan yang baru saja terbangun.


"Eheheheh.." Aku hanya bisa terkekeh mendengar perkataannya.


"Siapa kamu?" Tanya mas Juan yang terlihat terkejut dari ekspresi wajahnya.


"Riri mas, istrinya mas Juan. Siapa lagi?" Tanyaku bingung.


"Kamu istriku? Ya Allah cantik banget!" Ucapnya takjub dengan matanya yang berbinar, tak berkedip menatapku.


"Apasih, lebay banget." Sahutku, dengan senyuman shy shy cat.


"Beneran, kamu cantik banget sayang. Kita putar balik aja ya? Langsung masuk kamar." Canda mas Juan yang mengundang gelak tawaku.


"Hahahah, mas ih.. Jangan becanda sekarang ah, kita udah mau telat nih." Ujarku seraya mengencangkan seatbelt pada tubuhku.


"Aku ngga lagi bercanda sayang, aku serius. Rasanya aku ngga rela, kalo kamu yang secantik ini, bisa dipandangi oleh laki-laki lain. Aku ngga mau berbagi."


"Hahaha, emang Riri roti bisa dibagi-bagi. Udah ah, ngomong ngaconya. Ayo, kita berangkat sekarang mas!" Rengekku.


"Tapi sayang, acara hari ini ngga wajib loh." Ujarnya lagi yang masih tidak menyerah.


"Maaaas! Berangkat sekarang ngga? Kalo ngga, Riri turun nih, naik taksi!" Ancamku.


"Iya, iya. Kita berangkat sekarang. Tapi sayang?"


"Kenapa lagi maaaaas?"


"Apa kamu ngga mau pikir-pikir ulang dulu?"


"Mas, berangkat sekarang!"


"Iya! 😔


______________


Ku lihat sudah banyak siswa dan siswi yang berhamburan di halaman gedung mewah tempat acara kelulusan kami hari ini.


Tampak dari kejauhan, terlihat Kania, Sherly, Jaka dan juga Gandhi yang sedang berdiri dibawah pepohonan yang rindang. Mungkin mereka sedang menungguku, karna sebelumnya kami sudah sepakat untuk bertemu didepan gedung sebelum masuk kedalam. Tapi aku tidak bisa turun dari mobil mas Juan begitu saja, karna ada banyak siswa disini. Dengan memanjangkan leherku, mencari-cari tempat parkir yang sepi, agar aku bisa turun tanpa dicurigai siswa lainnya.


"Mas, disebelah sana!" Tunjukku, pada tempat parkiran yang terlihat sepi.


Mas Juan yang mengerti pun, langsung melajukan mobilnya ke arah parkir yang ku tunjukkan. Saat ku rasa aman, dan tak ada seorang di sekitarku dan mas Juan, aku langsung membuka pintu mobil dan turun.

__ADS_1


"Ingat! Jaga pandangan, jangan tebar pesona. Jangan buat laki-laki berdebar!" Ujar mas Juan dengan segala aturan konyolnya.


"Iya, iya. Kalau gitu Riri pergi dulu, udah ditungguin." Balasku, tanpa mendengarkan ucapannya lagi.


-


"Guyssssss!" Teriakku untuk memanggil mereka.


"Wow, siapa nih?" Seru Gandhi dengan mata melotot tak berkedipnya.


"Udah deh, ngga usah lebay." Ujarku, sebelum Gandhi mengeluarkan kata-kata lebaynya.


"Tapi bener kan gue, Riri cantik banget. Ya ngga Jak?"


"Iya, kalo dulu sebelum gue punya pacar. Riri emang paling cantik dimata gue, tapi setelah gue punya pacar, menurut gue, pacar gue yang paling cantik." Tandas Jaka.


"Cieeeee..." Godaku dan juga Kania.


Orang yang kami cie-cie in hanya menyunggingkan senyuman malunya.


"Oh iya. Btw, pacar Lo siapa sih?"


"Lo ngga tau?" Tanya Kania.


"Ya ngga lah, kalo gue tau, gue ngga bakalan nanya."


"Katanya sahabat, tapi siapa pacar sahabat Lo sendiri aja Lo ngga tau. Ckckck.." Decak Kania, sebelum berjalan meninggalkan kami.


"Ckckck.." Sherly ikut berdecak sebelum ikut pergi.


"Apa sih salah gue? Gue mana tau, kalo kalian ngga ngasih tau. Ri, kasih tau gue dong, siapa sih?" Ujarnya yang kini bertanya padaku.


"Yang sabar ya Gan!" Balasku seraya menepuk pundaknya pelan sebelum ikut pergi menyusul Kania, Sherly dan juga Jaka, yang sudah berjalan cukup jauh di depanku.


"Kok gue ditinggalin mulu sih? Tungguin gue woi?" Teriak Gandhi.


-


Acara kelulusan hari ini berlangsung meriah. Mungkin karna ini acara informal, pure untuk merayakan kelulusan, kami semua sangat bersemangat dan menikmatinya, dari awal acara hingga akhir, kami sangat bersenang-senang. Hingga tak terasa, hari sudah semakin sore.


Bahkan laki-laki diseberang sana yang tak henti-hentinya menatapku dengan tatapan melototnya, terus saja mengirimkan pesan untukku. Dia terus mengajakku pulang, padahal aku masih ingin bersenang-senang, karna mungkin ini adalah hari terakhirku bisa bersenang-senang dengan teman-teman seperjuangan ku.


Karna dia yang terus menerus meneror ku dengan pesannya, mau tidak mau, akhirnya aku ikut pulang bersamanya. Bahkan dia mengancam ku, bahwa dia akan menarik tanganku di gedung tadi, di hadapan semua teman-temanku, hanya karna ingin membawaku pulang.


Dengan wajah yang cemberut, aku dengan malas masuk kedalam mobil.


"Kenapa? Mau protes?" Tanya mas Juan, yang semakin memancing ke kesalanku.


"Mas, apa Riri ngga bisa disini sebentar lagi. Ini kan hari terakhir Riri bersama mereka, ntah kapan bisa kumpul-kumpul bareng lagi." Ujarku cemberut.


"Kalo mereka lebih penting dari aku, silahkan aja kamu susul mereka sekarang!" Ucapnya, yang terdengar seperti ancaman ditelinga ku.


"Cih, becandanya ngga lucu." Balasku, seraya memasang seatbelt pada tubuhku.

__ADS_1


"Lagian kalo kamu disini kelamaan, nanti kamu kecapekan." Sambungnya.


"Kecapekan gimana? Orang tadi Riri cuma duduk sambil ngobrol-ngobrol sama mereka." Tandas ku.


"Duduk-duduk ngobrol apanya? Jelas-jelas tadi aku lihat kamu nyanyi sambil joget-joget. Apa kamu ngga lihat, ada berapa pasang mata laki-laki buaya darat yang ngeliatin kamu tadi?"


"Itu lagi, itu lagi." Gumamku.


"Dan lagi, kamu ingat kan, besok kita ada janji sama vendor wedding?"


"Iya mas, Riri inget kok. Mana mungkin lupa." Balasku.


"Nah, itu yang paling penting sekarang, dibanding jingkrak-jingkrakan ngga jelas." Omelnya, yang persis seperti orangtua mengomeli anaknya.


"Iya, iya!" Jawabku, yang memilih untuk mengalah, dari pada urusannya lebih panjang, jadi lebih baik ku iyakan saja semua perkataannya.


____________


Beberapa Hari kemudian


Benar ya kata orang, rasa cinta kita diuji tepat sebelum menggelar acara pernikahan. Meskipun aku dan mas Juan sudah menikah secara sah, tapi dalam 1 bulan kedepan kami akan menggelar pesta pernikahan kami yang tertunda.


Gaun, jas, cincin dan juga gedung untuk resepsi pernikahan sudah kami persiapkan 2 bulan yang lalu, saat itu kami masih memiliki kesamaan pendapat, tapi saat semakin mendekati hari H, kami semakin mendapatkan banyaknya perbedaan pendapat, mulai dari menu makanan dan minuman, dekorasi tempat, hingga fotografer. Hampir setiap hari aku dan mas Juan bertengkar, ntah berapa kali kami bertengkar lalu kemudian berbaikan. Bahkan orangtua kami saja, sudah malas untuk menegurku dan mas Juan yang sama-sama keras kepala.


Hari ini, tepat 1 minggu sebelum hari H. Kami kembali cekcok masalah souvenir untuk acara pesta pernikahan nanti.


"Sayang? Kok souvenirnya ini sih?" Tunjuknya pada salah satu contoh souvenir untuk pesta pernikahan kami nanti.


"Yang ini lebih bagus, daripada punya mas Juan yang kemaren. Punya mas Juan itu emang lebih mahal tapi ngga ada manfaatnya." Tandas ku.


"Loh kok ngga ada manfaatnya sih?"


"Jelas-jelas punya kamu ini yang ngga ada manfaatnya." Sambungnya, perkataannya itu justru kembali memancing emosiku.


"Stop stop stop, kalian ini apa-apaan sih, tinggal 1 Minggu lagi loh, kerjaannya beranteeeemmm mulu. Pantesan orangtua kalian, ngga ada yang mau dampingin lagi, bikin kuping panas tau ngga sih?" Kesal Dennis.


"BERISIK!" Ucapku dan mas Juan berbarengan.


Setelah membuat Dennis terdiam, aku dan mas Juan kembali mengencangkan ego kami masing-masing.


"Pokoknya, nanti kita harus pakai souvenir yang aku pilih. Titik."


"Loh mas, kok gitu sih? Punya mas itu ngga ada manfaatnya, yang ada cuma boros-borosin uang."


"Emang kenapa kalo boros? Ini kan uang aku, jadi terserah aku lah."


"Oh, jadi terserah mas Juan ya? Ok, terserah kalo gitu. Ajak aja nanti kambing buat nemenin mas duduk di pelaminan. Ngga usah ajak Riri." Ujarku yang sudah sangat jengkel, lalu memilih pergi meninggalkannya.


"Loh, sayang? Kok kambing sih?" Teriaknya, karna aku sudah jauh meninggalkannya.


"BODO AMAT!"


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2