Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Maafin Riri Pak!


__ADS_3

❤️❤️❤️


Aku terus melamun memikirkan apa yang di katakan oleh Dennis tadi sore. Bahkan aku tidak sadar, ketika Pak Juan memanggil ku beberapa kali.


"Ternyata aku sedang bicara dengan tembok dari tadi." Ucapnya.


"Eh, I..iya. Kenapa Pak?"


"Sudahlah, aku tanya kau mau makan apa malam ini? Biar ku pesankan." Tawarnya.


"Ngga usah deh Pak, biar Riri masak aja."


"Menunggu mu memasak itu terlalu lama, aku sudah sangat lapar!"


"Oh begitu, ya sudah kalau begitu Riri mau ayam betutu." Ujarku menyunggingkan senyum.


"Ok, selesai." Ujarnya lalu meletakkan hpnya kembali.


"Kalau begitu aku mandi dulu." Sambungnya, beranjak turun dari tempat tidur.


Tapi bukannya langsung ke kamar mandi, dia kembali berbalik, dan perlahan mendekatiku.


"Apa kauuu.. tidak mau menemaniku mandi?" Ujarnya dengan nada yang menggoda, seketika pipiku menjadi merona mendengar ucapannya barusan.


"Apa sihhh?" Ucapku malu sambil memukul-mukul dadanya pelan.


"Aduh, aduduh.." Pekiknya sambil memegangi dadanya.


"Ah, maaf maaf Pak. Sakit ya? Padahal Riri mukulnya ngga keras kok." Ujarku merasa bersalah sembari mengusap-usap dadanya yang ku pukul tadi.


"Hahahahahhah.." Kelakarnya.


"Pak Juan ngerjain Riri?" Ujarku terkejut.


"Hahahaha.." Ujarnya yang kembali tertawa.


"Ihhh, nyebelin. Rasain nih..." Aku kembali memukul-mukul dadanya, dan kali ini cukup keras.


"Aduh, aduduh.. sakit sakit.."


"Gimana? Enak kan? Siapa suruh ngerjain Riri?" Ujarku bersidekap.


"Kenapa kepalan tangan sekecil itu, kekuatannya besar sekali." Ujarnya sambil mengelus-elus pelan dadanya.


"Makanya, jangan pernah remehin seorang Arianti Permata!" Kataku, dengan bangganya.


"Tapi...." Ucapnya menggantung.


"Tapi, kenapa?" Tanyaku bingung.


Dengan perlahan dia mendekatiku.


"Akan sangat menyenangkan jika kau gunakan kekuatan mu itu untuk .....Tiiiiitttttt.... (Sensor ya guys 😂).


Glek


"Pak Juaaaaaaannnnnn!"


___________


"Kenapa hari cepat sekali berganti?" Celetuknya.


"Apa kita bolos saja hari ini?" Ujarnya kemudian, ntah dari mana ide gila itu muncul dalam otaknya.


"Cih, pas upacara aja bilangnya *Saya tidak akan menoleransi bagi guru-guru yang melalaikan tugasnya, dan para murid yang dengan se enaknya membolos. Mulai hari ini saya akan memberikan sanksi yang tegas pada semua guru dan murid yang berani melakukannya*" Ujarku, meniru perkataan yang diucapkannya di upacara Senin lalu.


"I..itu kan.."


"Apa? Mau bilang apa? Apa Bapak mau bilang *Aku kan kepala sekolahnya, jadi aku adalah pengecualian*". Ujarku lagi yang memotong ucapannya.


"Ehm, aku tidak mau bilang begitu." Sahutnya tanpa menoleh ke arahku, karna sedang sibuk menyetir.

__ADS_1


"Cih, dasar." Ujarku tersenyum.


"Oiya, Pak. Apa Bapak hari ini kerumah sakit lagi?" Tanyaku.


"Iya, sepertinya sepulang sekolah aku akan menjenguknya lagi. Kau mau ikut?" Ujarnya menawarkan.


"Riri boleh ikut?"


"Hm, asal kau berjanji tidak akan menebar pesona di depannya."


Seketika aku mengernyitkan kedua alisku setelah mendengar ucapannya barusan.


"Menebar pesona?" Tanyaku bingung.


"Iya, biasanya kan kau selalu menebar pesona di hadapan para lelaki sehingga membuatku cemburu." Ucap Pak Juan.


"Mana ada Riri tebar pes..." Ujarku menggantung.


"Eh, tunggu.. tunggu.. apa kata Bapak barusan? Pak Juan cemburu? Jadi penyebab Pak Juan marah-marah biasanya karna cemburu?" Tanyaku dengan nada yang senang mendengar pengakuannya yang tiba-tiba.


"Ti..tidak. Aku tidak bilang cemburu, telingamu salah dengar." Elaknya.


"Ngga, bener kok. Riri ngga salah denger. Pak Juan tadi bilangnya cemburu, ngaku aja dehhh.. ngga usah malu." Ujarku menggodanya.


"Tidak, mana ada pria dewasa seperti ku cemburu. Hahaha.. sangat ke kanak-kanakan." Ujarnya yang masih tak mau mengakui.


"Cie cemburu..."Ujarku yang masih meledeknya.


"Ku bilang tidak."


"Cieeeee, hahahaha..."


______________


Aku kembali tersenyum mengingat perdebatan kami tadi di dalam mobil, mengingat Pak Juan yang masih saja tidak mau mengakui bahwa dirinya cemburu.


Tapi tiba-tiba perhatian ku teralihkan ketika hpku bergetar.


Drt drt


"Jadi, Lo bisa kan Ri temenin gue hari ini?"


Ah iya, aku sudah berjanji kemarin bahwa hari ini, sepulang sekolah, aku akan menemaninya. Tapi aku kembali ragu-ragu, karna sampai sekarang aku belum memberitahu Pak Juan masalah ini. Aku takut, kalau dia mengetahuinya bukan dari mulutku secara langsung dia akan salah paham, tapi aku juga sudah berjanji pada Dennis bahwa aku tidak akan memberitahukan masalah ini pada siapapun. Terlebih lagi, tadi Pak Juan juga mengajakku untuk menjenguk temannya dirumah sakit.


"Ahhhh, apa yang harus ku lakukan?" Batinku, kini pikiran ku mulai berkecamuk.


"Woi, kenapa Lo? Pagi-pagi udah ngelamun." Ujar Kania yang tiba-tiba datang mengagetkan ku.


"Gue lagi bingung banget nih." Sahutku, sambil terus memutar otakku untuk menemukan jawabannya.


"Kenapa? Ada masalah lagi sama suami Lo itu?"


"Ngga, bukan itu."


"Trus?" Tanya Kania lagi.


Ketika aku ingin menceritakannya pada Kania, aku mengingat kembali janji yang sudah ku ucapkan pada Dennis, bahwa aku tidak akan memberitahu pada siapapun soal ini.


"Ngga, aku ngga boleh kasih tau masalah ini sama Kania." Batinku, aku kemudian mengurungkan niatku untuk memberitahunya.


"Ngga, ngga ada apa-apa, hehehehe.." Ujarku yang kemudian tertawa.


"Halah Lo, pagi-pagi udah ngeprank orang aja."


"Hehehe.."


"Iya, aku ngga boleh ngasih tau ini ke siapa-siapa sebelum aku memastikannya sendiri." Ujarku bermonolog dalam hati.


Saat jam pelajaran berakhir, aku segera mengambil hpku yang ada di bawah meja untuk mengirimkan pesan pada Pak Juan.


To : Love ❤️

__ADS_1


"Pak, Riri minta maaf ya. Riri ngga bisa ikut Pak Juan kerumah sakit. Karna ada tugas makalah, yang harus Riri kerjain bareng Kania hari ini. Oiya, Pak Juan tenang aja, Riri ngerjain tugasnya dirumah Kania kok, nanti pulangnya Riri ikut Kania dan nanti di anterin sama Kania juga sampai rumah, jadi Pak Juan ngga usah khawatir, Riri akan pulang sebelum Maghrib."


Send


Drt drt


Belum sampai hitungan menit, Pak Juan langsung membalas pesanku.


✉️ "Kenapa tidak dirumah kita saja? Aku akan lebih tenang kalau kau mengerjakannya dirumah."


✉️ "Ngga bisa Pak, masalahnya Riri ngga cuma berdua sama Kania, tapi ada teman Riri yang lainnya juga."


✉️ "Apa ada laki-laki juga disana?"


✉️ "Ada, tapi Bapak tenang aja. Dia udah punya pacar."


✉️ "Hm baiklah, tapi kau harus ingat. Harus sudah ada dirumah sebelum Maghrib."


✉️ "Hehhe, siap komandan!"


"Maafin Riri Pak, karna Riri udah bohong. Tapi Riri janji, Riri akan ceritakan semuanya kalau waktunya sudah tiba." Batinku.


____________


Setelah lonceng berbunyi, dengan tergesa-gesa aku memasukkan buku-buku ku ke dalam tas.


"Mau kemana? Buru-buru banget Lo?" Tanya Kania.


"Hehhe, gue mau cepet-cepet pulang. Mau masakin makanan kesukaannya Pak Juan." Ujarku berbisik.


Setelah kurasa tidak ada yang tertinggal, aku segera berlari meninggalkan kelas. Dan berjalan sedikit mengendap, ketika ada orang yang berkerumun melewati ruangan Pak Juan, aku ikut bersembunyi di antara mereka agar Pak Juan tidak melihatku.


Setelah ku rasa aman, aku segera berlari hingga di depan gerbang dan menghentikan sebuah taksi yang lewat di depanku.


"Ke jalan xxx Pak." Ujarku memberitahukan alamat yang ku tuju pada supir taksi.


Setelah kurang lebih 40 menit perjalanan, akhirnya aku tiba di tempat yang sudah diberitahukan oleh Dennis sebelumnya, saat aku tiba, tak tampak batang hidung Dennis disana.


"Den, kamu dimana? Aku sudah sampai di tempat yang kita janjikan."


Send


Beberapa detik kemudian.


Drt drt..


"Gue di seberang jalan Ri."


Setelah membaca pesannya, lalu aku mengedarkan pandangan ku ke seberang jalan. Saat menemukan nya, tanpa membuang waktu lagi, aku segera menyeberang dan menghampirinya.


"Masuk Ri!" Ujarnya, lalu aku masuk dan duduk di sampingnya.


"Thanks ya Ri, Lo udah mau bantuin gue."


"Iya, santai aja. Kita kan temen." Ujarku tersenyum.


"Iya, temen." Ujar Dennis.


"Oiya, ini tadi gue beliin minum. Kali aja Lo haus." Kata Dennis yang menyodorkan sebotol minuman dingin padaku.


"Pas banget, thanks ya Den." Ujarku yang menerima pemberiannya dengan senang hati lalu tanpa ragu menenggaknya.


"Apa tempatnya jauh?" Tanyaku.


"Lumayan. Yaudah Lo tidur aja dulu, nanti gue bangunin."


"Hm, kebetulan mata Riri ngantuk banget nih. Bangunin kalo udah nyampe ya?"


"Iya."


❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2