Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Juan POV VIII


__ADS_3

❤️❤️❤️


Ku lihat dari sepulang acara dia hanya diam saja sepanjang jalan. Bisa di tebak, pasti dia sedang memikirkan perkataan Tante Indah di acara tadi. Sebenarnya aku juga sangat kesal mendengarnya, aku tau kalau Tante Indah itu kalau bicara sering kali tidak di saring, selalu mengeluarkan ucapan menusuknya tanpa memikirkan perasaan orang lain. Bagaimana bisa dia menyebutnya di hadapan orangnya secara langsung, jika saja aku tidak memikirkan ibuku, aku pasti sudah memberinya pelajaran sehingga membuatnya jera.


"Kenapa diam saja?" Ujarku mencoba memulai percakapan.


"Ngga papa kok Pak." Sahutnya tanpa menoleh padaku.


"Tidak apa-apa? Tapi tidak menoleh ke arahku sama sekali. Dan lagi, raut wajahnya seolah mengatakan yang sebaliknya." Batinku, sambil terus memperhatikan sikapnya yang berubah setelah pulang dari acara.


"Jangan pikirkan soal perkataan Tante Indah." Ujarku lagi.


"Ngga, siapa yang mikirin itu." Elaknya cepat.


"Terlihat jelas di wajahmu." Ujarku tanpa menoleh padanya.


"Cih, apaan sih?" Ujarnya mendelik tak suka ke arahku.


Wanita memang sulit di pahami. Kalau hatinya sedang tidak baik, kenapa tidak langsung mengatakannya malah bersikap seolah baik-baik saja padahal kenyataannya tidak.


Beberapa menit kemudian ku lihat dia sesekali mencuri pandang ke arahku. Ku tebak, pasti ada yang ingin di tanyakannya.


"Hm, Pak?" Panggilnya yang terdengar ragu-ragu.


"Hm." Sahutku singkat.


"Itu.."


"Kenapa?"


"Anu.."


"Itu, anu, itu, anu.. cepat katakan ada apa?"


"Kenapa Bapak membela Riri tadi?"


"Heh, sudah ku duga." Batinku, sambil menyunggingkan senyuman tipis.


"Sudah jelas bukan? Karna kau istriku. Dan aku tidak mau di permalukan." Sahutku, tanpa menoleh ke arahnya.


"Hanya itu saja?" Tanyanya lagi.


"Lalu kau mau jawaban apa?" Tanyaku menoleh ke arahnya sebentar.


"Kenapa tanya Riri, kan Bapak yang tau jawabannya." Ucapnya, lalu kembali membuang muka.


"Karna aku mencintaimu!"


Dengan cepat dia memutar kepalanya kembali menoleh ke arahku dengan ekspresi terkejutnya.


"Jangan harap aku akan mengatakan itu." Ujarku menyeringai.


"Apaan sih? Ngga lucu." Sungutnya, dengan ekspresi merajuknya.


"Kenapa kau menggemaskan sekali?" Batinku, sambil mengulum senyum.


Setelah kurang lebih 1 jam, akhirnya kini kami sampai di depan rumah. Segera setelah mobil berhenti, dia langsung melepas seatbelt dan keluar dari mobil.


"Apa dia marah?" Batinku.


"Tunggu!" Pekik ku.


"Kenapa sih Pak?" Ujarnya yang terdengar kesal.

__ADS_1


"Aduh, mau ngomong apa ya?" Batinku, bingung mau mencari alasan apa.


"Tas?" Gumamku pelan, setelah melihat tasnya yang ketinggalan.


"Tas mu ketinggalan."


Tanpa membuang waktu lagi, dia langsung berbalik dan berjalan dengan raut wajah yang di penuhi dengan kekesalan ku lihat. Di raihnya tas kecil itu melalui kaca jendela mobil yang memang terbuka.


"Apa ku cium saja sekarang?" Batinku.


"Ah tidak, tidak. Nanti dia akan menganggap ku laki-laki apa jika menciumnya secara tiba-tiba, di tambah dengan tempat yang terbuka seperti ini? Bagaimana jika ada orang lain yang lihat?" Ujarku yang kemudian mengurungkan niatku kembali.


Setelah berhasil mengambil tasnya, dia kembali berbalik berjalan meninggalkan ku masuk terlebih dahulu.


"Kenapa dia terlihat sangat kesal? Apa aku berlebihan?" Batinku, sambil menatap punggungnya yang berjalan semakin jauh dari pandangan ku.


-


Segera setelah aku memarkirkan mobil di garasi, aku langsung berjalan memasuki rumah, lalu dengan tidak sabaran aku sedikit berlari kecil menaiki tangga menuju kamarku.


Krek


Betapa terkejutnya aku melihat pemandangan yang menyambut ku. Ku lihat sekilas dia sedang memukuli sebuah bantal dengan sekuat tenaga.


"Apa yang kau lakukan?" Ujarku terkejut.


"Kenapa Bapak tiba-tiba masuk? Bukannya ketuk pintu dulu, ngga sopan banget sih." Ujarnya yang terdengar sangat kesal.


"Apa katamu barusan?"


"Eh, eng..ngga.. ngga ada. Riri yang mandi duluan." Ujarnya, lalu dengan secepat kilat berlari ke arah kamar mandi dan segera menguncinya.


"Ternyata kau mulai berulah lagi ya gadis kecil." Ujarku setelah kepergiannya.


-


"Kau itu sedang mandi atau bertelur?" Teriakku.


"Bertelur!" Teriaknya.


"Apa katanya? Kau lihat saja gadis nakal, setelah kau keluar, habis kau. Karna aku sudah tidak bisa menahannya lagi sekarang." Ujarku tersenyum penuh arti.


"Kau itu! Hobi sekali membuatku marah. Cepat keluar!" Teriak ku lagi sambil menggedor pintu berkali-kali.


"Ngga mauuuu.."


"Cepat keluar! Atau kau mau ku buka pintu ini sekarang, heh? Apa kau pikir aku tidak memiliki kunci cadangan?"


Dia tidak menjawabku sama sekali.


"Heh, bagaimana? Kau mau membuka pintu ini sendiri? Atau aku yang akan membukanya? Tapi jika aku yang membukanya, habis kau!" Ancamku.


Lagi-lagi aku tidak mendengar jawabannya.


"Kau sudah tidak bisa berkutik lagi sekarang gadis kecil." Ujarku tersenyum dengan penuh kemenangan.


"1.. "


"2.."


"3.."


Kreeeekkkk

__ADS_1


Segera setelah melihatnya, aku langsung menariknya dan menyudutkannya di tembok.


Jedug..


"Aw.." Pekiknya.


"Bapak apa-apaan sih? Bukannya Bapak tadi bilang, ngga bakal apa-apain Riri, kalo Riri sendiri yang buka pintunya." Sungutnya.


"Aku tidak pernah mengatakannya. Ku bilang, jika aku yang membukanya.. habis kau!"


"Ngga adil banget sih?" Ujarnya yang terlihat sangat kesal sekarang.


"Aku akan memperlihatkannya padamu, apa makna dari kata tidak adil yang sesungguhnya.." Seringaiku.


"Pa..Pak Juan mau apa?"


Dengan perlahan aku memajukan wajahku semakin dekat padanya. Ku lihat seketika dia berubah membeku tanpa memberikan penolakan atas tingkah ku.


"Kau akan jadi milikku malam ini!" Batinku, tersenyum.


Namun seperkian detik kemudian, yang awalnya tubuhnya diam membeku, sekarang tiba-tiba malah menarikku, sehingga kami sekarang benar-benar dekat, bahkan sangat dekat.


"Apa Bapak tau? Riri sangat menginginkannya sejak lama? Kenapa Bapak selalu menggoda Riri tanpa mempraktekkannya?" Bisiknya tiba-tiba yang seketika membuat jantungku berdebar sangat cepat.


Kini tangannya mulai beraksi membelai wajahku, aku dibuat merinding olehnya.


"Semakin Bapak menggoda, semakin besar keinginan Riri untuk melakukannya" Sambungnya, sambil terus membelai wajahku lembut.


Glek


"K..kau? A..apa maksudmu?"


"Bukankah ini yang Bapak mau? Heh?" Ujarnya lembut yang terdengar sangat menggoda ditelinga ku, deru napasnya kini kian terasa menyapu seluruh wajahku.


"Ke.. kenapa dia tiba-tiba jadi seperti ini?" Batinku, gugup.


Tubuhku sekarang menegang, kaki ku serasa tak berpijak dengan sempurna. Bahkan adik kecilku ikut menegang karna mendengar ucapannya yang benar-benar menggoda imanku.


Ku rasakan tangannya yang semakin aktif menggerayangi tubuhku, dengan lembut dan perlahan membelai bagian belakangku semakin ke bawah terus kebawah. Astaga, dia benar-benar membuatku mati kutu sekarang.


Saat aku sudah semakin hanyut dalam belaian nya, tiba-tiba..


Ti..nut


(Bayangin aja, ini backsoundnya ya 😄)


"Apa yang kau lakukan?" Pekik ku terkejut bukan main.


"A..apa kau sudah gila?" Pekikku lagi, lalu dengan secepat kilat aku berlari kedalam kamar mandi dan menguncinya.


Brak


"Riri, kau.. kau benar-benar.. arghhh... hshhh, sakit sekali." Ujarku meringis menahan sakit.


"Aduh, aduh.. hshhhh.." Aku berusaha sekuat tenaga menahannya sambil terus meremas kedua lututku kuat-kuat.


"Awas kau gadis nakal, aduh.. hshhh.."


Alhasil, karna ulahnya yang tidak bertanggung jawab itu. Malam ini aku harus berendam di bathtub dengan air dingin selama 2 jam hingga sakit yang ku rasakan benar-benar hilang.


"Aku pasti akan membalas mu gadis nakal."


❤️❤️❤️

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favoritnya juga ya 😉😘


Xiexie 😚


__ADS_2