
#AuthorPOV
❤️❤️❤️
Langit begitu cerah hari ini, bahkan tidak terlihat sedikitpun awan hitam disudut langit manapun. Sepoian angin yang tenang hanya membuat rerumputan sesekali bergoyang. Nuansa dan irama alam hari ini benar-benar menyenangkan. Semua orang tampak menikmati melakukan aktivitasnya masing-masing. Tak terkecuali dua pengantin baru yang tengah berbahagia, ah.. apa mereka masih bisa disebut sebagai pengantin baru? Sedangkan mereka sudah menikah berbulan-bulan lamanya, hehhe.
Ya, siapa lagi kalau bukan Riri dan Juan. Sekarang 8 bulan telah berlalu sejak resepsi pernikahan mereka yang tertunda. Keduanya saat ini tengah menikmati perannya masing-masing, terutama Juan, dia sangat menikmati perannya sebagai suami yang penyayang sekaligus siaga. Terlebih lagi, kini istrinya tengah mengandung buah cinta mereka. Dia menjadi sangat posesif setelah mengetahui bahwa istrinya hamil, dia bahkan lebih sering berada dirumah akhir-akhir ini, apakah itu membuat istrinya senang? Tentu tidak 😂, Riri merasa bosan karena ruang geraknya yang benar-benar dibatasi, ia tidak merasa di perlakukan seperti orang hamil, melainkan seperti orang yang sedang sakit.
Seperti hari ini misalnya, kalau Juan sedang dirumah yang bisa dilakukan Riri hanyalah makan, duduk dan tidur. Ia sama sekali tidak boleh melakukan aktivitas apapun.
Siang ini Riri terlihat bosan karena sudah 3 jam lebih ia hanya duduk di ruang tengah sambil menonton tv. Bahkan rasanya bokongnya sudah sangat kebas karena kebanyakan duduk. Ia berniat bangkit dari duduknya dan ingin pergi ke taman belakang untuk menghilangkan kebosanannya. Tapi untuk kesekian kalinya laki-laki yang terlihat sangat sibuk dengan serbet yang masih setia menempel pada bahunya itu lagi-lagi menghentikan niatnya.
"Kamu mau kemana?"
Ntah berapa kali kata-kata ini keluar dari mulut Juan, Riri yang mendengarnya saja sudah sangat bosan.
"Mau ke taman belakang mas, Riri bosen disini. Cuma rebahan, duduk, nonton tv, terus makan." Sahut Riri, ia mencoba bangun dari duduknya sambil memegangi perutnya yang kini sudah sangat berat.
"Mau ngapain ke taman belakang, diluar panas sayang. Mending kamu disini aja, ini.. aku udah bikinin kamu cemilan siang yang sehat untuk ibu hamil." Ujar Juan dengan senyuman merekahnya lalu menuntun Riri untuk duduk kembali.
"Lagi?" Ucap Riri seraya menatap malas pada nampan berisi camilan yang dibawakan oleh suaminya.
"Iya, biar kamu dan juga dedek sehat." Kata Juan seraya meletakkan nampan berisi camilan itu ke atas meja lalu mengelus lembut perut istrinya yang sudah sangat besar.
"Tapi mas, Riri masih kenyang. Baru 1 jam yang lalu Riri makan cemilan yang dibikinin sama mas Juan, masa sekarang makan cemilan lagi." Sungut Riri sambil menatap ogah-ogahan pada camilan yang sudah tersaji hangat di depannya itu.
"Tapi aku sudah membuatnya dengan susah payah." Ucap Juan lesu sambil menatap nanar pada camilan yang sudah dibuatnya dengan sepenuh hati untuk istri tercintanya.
Lagi-lagi wajah itu, Riri benar-benar tidak bisa menolaknya kalau sudah melihat ekspresi memelas diwajah suaminya.
"Yaudah deh, Riri makan!" Ucap Riri seraya mengambil camilan yang ada di depannya.
"Bener sayang? Yaudah kalo gitu..." Ucap Juan menggantung, lalu ia segera berlari kedapur, dan tak berapa lama kemudian ia kembali dengan membawa panci berukuran sedang di tangannya.
"Makan ini juga ya?" Sambungnya seraya tersenyum sumringah.
"Apa?" 😲
Begitulah keseharian mereka selama Riri hamil, Juan selalu menyempatkan membuatkan makanan untuk Riri, apalagi ketika ia mengambil hari libur, ia selalu membuatkan makanan atau sekedar camilan pengganjal perut untuk istrinya itu tiap satu jam sekali. Ntah kenapa semenjak Riri hamil ia sangat suka dan gemar membuatkan sesuatu untuk istrinya, dan jika Riri menolaknya, ia akan terlihat sedih dan uring-uringan, maka dari itu Riri tidak pernah menolak makanan ataupun camilan yang dibuatkan oleh suaminya. Bahkan ketika kehamilannya yang sudah menginjak usia 9 bulan, Juan tidak pernah lelah melakukan itu semua. Ia sangat telaten dalam menjaga dan mengurus istri sekaligus buah hatinya. Selalu membantu Riri ke kamar mandi atau toilet dengan menggendongnya, setiap kali Riri ingin keluar rumah, ia bahkan mewajibkannya untuk menggunakan kursi roda, hingga selalu memastikan setiap lantai yang akan di injak oleh Riri itu harus kering, ia bahkan tidak bisa mempercayai asisten rumah tangganya untuk urusan mengepel lantai, kalau itu berhubungan dengan istri tercintanya, ia mengurus semuanya dengan tangannya sendiri untuk memastikan istri dan buah hatinya tetap aman dan juga sehat.
_____________
Setelah kemarin seharian di awasi oleh Juan, hari ini Riri merasa cukup bebas karena Juan pergi bekerja hari ini. Jadi dia bisa melakukan apapun yang di inginkannya tanpa harus di awasi oleh suaminya, bahkan ia sudah bekerjasama dengan para asisten rumah tangga, agar tidak memberitahukan apapun tentang kegiatannya hari ini pada suami posesifnya.
Hari menunjukkan jam 11 pagi menjelang siang. Riri merasa sudah mulai bosan hanya duduk menonton tv, para asisten rumah tangga juga tengah sibuk melakukan tugasnya masing-masing, sedangkan kedua mertuanya sedang tidak ada dirumah, sehingga tidak ada siapapun yang bisa di ajaknya bicara.
"Benar-benar membosankan!" Ucapnya sambil bersandar pada kepala sofa lalu menatap kosong pada langit-langit atap rumah mertuanya.
Ditengah-tengah kebosanannya tiba-tiba ia mendengar HP-nya bergetar yang langsung mengalihkan perhatiannya.
"Dennis?"
Segera setelah melihat siapa yang menelpon pada layar HP-nya, ia langsung menggeser tanda hijau untuk mengangkatnya.
📞 "Halo Den!" Ucap Riri gembira, Dennis seakan tahu isi hati Riri, ia selalu menelpon di saat yang tepat.
📞 "Halo Ri, Lo ada di rumah nggak?"
📞 "Pake ditanya?!"
📞 "Heheh, siapa tau Lo lagi keluar gitu."
📞 "Tadinya pengen keluar, tapi diluar lagi panas banget."
📞 "Nah mantep, pas banget kalo gitu. Btw, gue punya psychonauts loh. Hohoo.. mau main nggak?"
📞 "Hah, yang bener kamu Den. Mau mau mau, mau banget malahan."
📞 "Hahha, Ok. Gue lagi dijalan nih, dikit lagi nyampe."
📞 "Buruan, nggak pake lama.
Tut Tut
Yang tadinya terlihat sangat tidak bersemangat, sekarang ekspresinya seketika berubah setelah mendengar ucapan Dennis. Bahkan Riri terlihat tidak sabar menunggu kedatangan Dennis, ia begitu bersemangat menunggunya di depan pintu.
10 menit kemudian, terlihat mobil Dennis yang melaju pelan memasuki pekarangan rumah mertuanya. Riri terlihat sangat senang, apalagi ketika melihat Dennis yang turun dari mobilnya, Riri tak henti-hentinya menyunggingkan senyum kebahagiaannya. Eits, tapi bukan karena Dennis alasan ia merasa sangat senang, tapi karena melihat barang yang di tenteng oleh tangan kanan Dennis.
"Sebegitu senengnya Lo ngeliat gue Ri!" Ucap Dennis tersenyum seraya merentangkan tangannya ingin memeluk Riri.
Hap
Dengan secepat kilat Riri meraih benda yang ada di tangan kanan Dennis, lalu langsung berbalik meninggalkannya.
"Ayo cepetan!" Teriak Riri yang sudah berjalan masuk terlebih dahulu.
"Off course, bukan karena gue 😌."
__ADS_1
-
Di sisi lain, terlihat seseorang yang sedang terburu-buru ingin segera menyelesaikan tugasnya, agar bisa pulang cepat untuk menemui istrinya. Ia terlihat tidak fokus meninjau beberapa file yang sudah menumpuk di depannya saat ini.
Beberapa kali ia melihat layar HP-nya yang belum juga menyala, sudah 10 menit sejak terakhir ia mengirimkan pesan pada istrinya, namun belum juga mendapat balasan. Karena sudah tidak sabar menunggu, ia memutuskan untuk menelpon istrinya itu. Tapi lagi-lagi tidak membuahkan hasil, bahkan untuk yang kelima kalinya ia mencoba menelpon, masih tetap tidak mendapatkan jawaban sama sekali.
"Kamu ngapain sih sayang? Kenapa kamu nggak angkat atau balas pesan aku?" Ujarnya yang sudah mulai cemas.
Lalu kemudian ia mencoba untuk menghubungi telpon rumah, tapi tetap saja tidak mendapatkan jawaban. Ia benar-benar sangat khawatir sekarang.
"Sayang, angkat dong!"
-
Sedangkan orang yang di khawatirkan saat ini tengah sibuk, lebih tepatnya sibuk bermain PS dengan iparnya. (Ya ampun Ri, laki nggak tenang mikirin kabar istrinya, dia malah asik-asikan main PS. Bentar lagi ngamook 😌)
Saking asiknya, mereka bahkan tidak mendengar telpon rumah yang berdering sejak tadi.
"Hahaha, payah kamu Den!" Kelakar Riri yang berhasil mengalahkan Dennis.
"Gue mah emang sengaja ngalah." Ujar Dennis yang enggan mengakui kekalahannya.
"Hahahah, gimana? Lanjut nggak nih?" Tanya Riri.
"Lanjut lah, siapa takut?"
"Ok!"
Mereka kembali melanjutkan permainan, bahkan kali ini terlihat persaingan yang sangat ketat. Saat tengah sibuk dengan permainan, tanpa mereka sadari saat ini tengah berdiri seorang laki-laki di belakang mereka dengan tatapannya yang tajam, seperti siap ingin menerkam mangsanya saat ini juga.
Ia berjalan perlahan ke arah stop kontak yang tergeletak di samping 2 orang yang tengah asik itu, 2 orang itu bahkan belum menyadari kedatangan seseorang di belakang mereka sampai sekarang. Sehingga ia bisa berjalan dengan leluasa, dengan sekali tarikan kabel itu berhasil lepas dari tempatnya. Tentu saja layar yang ada di depan 2 orang itupun seketika mati.
"Aaaaa.." Teriak Riri dan Dennis ketika layar di depannya tiba-tiba mati. Padahal sebentar lagi mereka akan mengetahui siapa yang akan menang, tapi gara-gara layarnya mati, mereka sudah tidak bisa melanjutkannya lagi.
"Siap.." Ujar Dennis kesal seraya berbalik, namun seketika ekspresi wajahnya yang semula kesal berubah setelah melihat siapa orang yang merusak kesenangannya saat ini.
"Eeehhh... kak Juan? Udah pulang kak?" Tanya Dennis dengan senyuman kakunya.
"Mati deh gue!" Batin Dennis.
"Ma..mas Juan?" Riri membelalak kaget melihat suaminya yang tiba-tiba pulang. Seketika ia langsung kepayahan saat menelan salivanya.
"Udah gue bilang kan, jangan ngajakin bini gue yang enggak-enggak." Ucap Juan sambil berjalan ke arah Dennis.
Dengan sigap Dennis bangun dari posisinya, dan berjalan mundur untuk menghindari amukan kakak sepupunya itu.
"Menghibur? Menghibur Lo bilang? Apa Lo nggak ada kerjaan hah?" Ujar Juan yang mempercepat langkah kakinya, ah tidak. Dia berlari sekarang, untuk menangkap adik sepupunya itu. Tentu saja Dennis yang melihatnya pun ikut berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari amukan kakak sepupunya.
"Mas, udah dong. Jangan kejar Dennis lagi." Teriak Riri.
Ntah suaminya itu mendengar ucapannya atau tidak, karena mereka sekarang bermain kejar-kejaran sampai ke kamar atas.
"Mas, jangan kejar Dennis lagi!" Riri kembali berteriak.
Ia mulai pusing melihat mereka yang bolak-balik di atas sana.
Hingga beberapa saat kemudian ia merasakan sakit yang teramat pada perutnya.
"Ahhhh.." Teriak Riri, merasakan kram pada perutnya sekaligus nyeri di bagian punggungnya. Seketika ia terduduk di lantai.
Mereka yang tadinya asik kejar-kejaran pun sangat terkejut melihat Riri terduduk sambil menahan sakit.
"Sayang?"
"Riri?"
Teriak keduanya.
Tanpa membuang waktu, keduanya segera berlari menghampiri Riri yang sudah mulai terkulai lemah di lantai.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Juan panik.
Riri tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya, karena rasa sakit yang teramat di rasakannya saat ini.
"Kayaknya Riri mau melahirkan kak!" Ucap Dennis.
"Hah?"
"Yang benar sayang, kamu mau melahirkan?"
"Mm..mas, Riri udah nggak kuat." Ucap Riri sambil mencengkram kuat kemeja suaminya.
"Ayo cepet kak!" Ujar Dennis yang juga panik.
"Cepet? Cepet apa?" Tanya Juan panik, sekaligus bingung.
"Ya bawa kerumah sakit lah, cepet siapin mobilnya kak." Sambung Dennis.
__ADS_1
"Oh, i.iya iya. Kalo gitu gue siapin mobilnya dulu, Lo bawa Riri."
Juan berdiri lalu berjalan hendak menyiapkan mobil, tapi seketika ia menghentikan langkahnya, ia menyadari ada sesuatu yang mengganjal, kemudian ia berbalik dan kembali menghampiri Riri dan Dennis.
"Kok gue yang nyiapin mobil dan Lo yang gendong bini gue sih? Kan gue lakinya?"
"Oh i..iya. Bener juga ya?" Ucap Dennis.
(Saking paniknya mungkin mereka ya, sampe ketuker 🤣)
Setelah menyadari posisi masing-masing, akhirnya Dennis lah yang menyiapkan mobil dan Juan yang menggendong istrinya sampai ke dalam mobil.
Segera setelah membawa Riri kedalam mobil, Dennis yang bertugas menyetir pun langsung melajukan mobilnya secepat mungkin, untung saja jalanan hari ini terlihat lengang, jadi mereka bisa sampai ke rumah sakit dengan cepat.
Saat tiba dirumah sakit, Juan langsung menurunkan istrinya di brankar yang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit. Dengan sigap dokter yang di ikuti oleh beberapa perawat mendorong brankar Riri sampai ke dalam ruang operasi bersalin.
-
Juan terlihat mondar-mandir menunggu persalinan istrinya dengan harap-harap cemas. Lalu tak berapa lama kemudian, kedua orangtua dan juga mertuanya datang dengan tergesa-gesa.
_____________
Setelah kurang lebih menunggu 4 jam, akhirnya pintu operasi itu terbuka.
Dengan senyuman mengembang dokter wanita paruh baya itu mendekati Juan.
"Selamat Pak, jagoan Bapak terlahir dengan sangat sehat!" Ucap sang dokter, seketika Juan merasa lega, tak henti-hentinya ia mengucap syukur atas keselamatan istri dan juga putra pertamanya.
______________
2 bulan kemudian
"Ciluk baaaa.."
"Sayangnya Oma, liat sini dong ganteng.."
"Baaaa.."
Kini bayi berusia 2 bulan itu terlihat gembira di kelilingi oleh orang-orang tersayangnya. Ia benar-benar menjadi pusat kebahagiaan di keluarga Juan dan juga Riri. Fatih Nawfal Adiyatmo, yang memiliki arti pemimpin yang murah hati. Iya, Juan dan Riri berharap anaknya kelak bisa menjadi seorang pemimpin yang murah hati, tidak peduli setinggi apapun posisinya nanti, mereka berharap kelak putra mereka senantiasa rendah hati kepada siapapun terlepas dari status sosial mereka.
Keluarga kecil mereka kini benar-benar terasa lengkap setelah kehadiran malaikat kecil yang selalu membuat mereka tertawa bahkan dalam keadaan lelah sekalipun.
______________
Riri bahkan rela menunda kuliahnya sampai putra kecilnya itu cukup besar. Meskipun Fatih adalah anak pertama mereka, Juan dan Riri terlihat telaten mengurus bayi yang sudah mulai besar itu. Mereka benar-benar bekerjasama dengan sangat baik demi pertumbuhan buah cinta mereka.
______________
Dennis?
Baru 1 bulan setelah putus dari pacar yang pernah dilihat Riri di taman waktu itu. Kini ia justru terlihat sangat bahagia dengan cinta barunya bahkan bisa dibilang lebih bahagia dari sebelumnya.
Di sebuah cafe xxx
Terlihat 2 pasangan yang tengah asik menikmati double date mereka. Apa double date itu menyenangkan? Tentu tidak. 😂
1 di antara 2 pasangan itu terlihat bermesraan dan saling menggoda, hingga tidak menyadari pasangan di seberang mereka sudah ingin muntah melihat kemesraan mereka.
"Kak, Ri. Kalian bisa nggak nyari tempat lain, mata gue sama pacar gue sakit liat kalian berdua."
"Sirik aja Lo, kalian aja kali yang cari tempat lain. Ganggu kita lagi pacaran aja." Setelah menjawab sinis pada orang di seberangnya, ia kembali bermesraan dan bermanja-manja dengan wanita terkasih di sampingnya.
"Kak, Ri. Inget anak di rumah!" Tambah laki-laki itu.
"Iya Ri, mungkin anak Lo udah ngeraung-raung sekarang dirumah." Timpal kekasih laki-laki itu.
"Berisik banget sih kalian. Lagian ngapain sih Lo Kan sama Dennis ikut kita ngedate disini? Apa nggak ada tempat lain?"
"Heh? Yaudah sayang, kita cari tempat lain aja. Kalo disini perut aku mual!" Ucap laki-laki itu sambil berdiri lalu menarik tangan kekasihnya.
"Iya, ayok sayang. Bikin sakit mata!" Sahut kekasihnya.
Sedangkan 2 orang yang sedang mereka sindir, tidak bergeming sedikitpun, mereka terus saja bermesraan tanpa menghiraukan orang lain. Seperti dunia ini hanyalah milik mereka berdua.
Iya, saat ini Riri, Juan, Dennis dan Kania tengah menikmati kencan mereka. Takdir sungguh unik bukan? 😊
_____________
Cinta datang tidak mengenal tempat, waktu dan juga keadaan. Cinta selalu bergerak kemanapun dia mau. Benci jadi cinta, kenapa itu tidak mungkin?
Cinta berarti mau menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan dan selalu berusaha menjadi yang terbaik. Memiliki cinta sejati membutuhkan suatu proses yang panjang dan tidak dapat diraih hanya dengan waktu yang singkat atau sekejap saja. Maka dari itu kejarlah cinta kita, jika itu yang membuat kita bahagia. Jangan takut, karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, semangat 😊🤗.
Bonus 😘
Kali ini benar-benar ending ya guys, maaf karena utur tidak bisa mengabulkan permintaan kalian untuk lanjut season 2, karena utur mau fokus untuk rilis novel kedua, aku harap kalian bisa ngerti ya. Dan utur harap extra part ini bisa sedikit mengobati kekecewaan kalian ya, sekali lagi utur minta maaf dan mohon pengertiannya para readers setia KILY 😘🙏
__ADS_1
Sampai jumpa segera di novel utur berikutnya, salam sayang dari aku untuk kalian semua 😘😘😘😘😘😘😘😘❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️