Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Juan POV XII (Sepertinya Aku Memang Gila!)


__ADS_3

❤️❤️❤️


1 Minggu kemudian.


"Sayang, kamu yang benar aja mau pakai ini besok? Ngga, ngga boleh. Pakai yang lebih sopan." Ujarku yang tak suka model pakaian yang akan di kenakannya besok untuk audisi pertama gadis sampul. Pakaiannya terlalu terbuka untuk ukuran anak sekolahan, apa yang akan dipikirkan orang lain jika melihatnya.


"Mas, ini kan yang milihinnya stylish dari penyelenggara acara. Mana bisa ditolak?" Ujarnya sambil menenteng pakaian yang akan di kenakannya besok.


"Ngga mau tau, pokoknya besok kamu harus pakai baju yang lebih sopan." Perintahku.


"Ini kan acara besar, mana bisa Riri pilih-pilih baju sesuka hati. Yang ada nanti sebelum naik ke atas panggung udah di diskualifikasi. Oiya, tadi Riri sempet ambil beberapa contoh pakaian untuk kandidat yang lainnya, liat deh.. Bahkan ada yang lebih parah, punya Riri ini masih terbilang biasa." Ujarnya menunjukkan beberapa contoh pakaian untuk para kontestan lainnya.


"Apa yang punya acara ini mes*m? Bisa-bisanya dia menyuruh anak yang masih duduk di bangku sekolah menggunakan ini?" Ujarku yang semakin geram setelah melihat beberapa model pakaian terbuka lainnya.


"Lagian ini cuma sekali kok, untuk hari berikutnya pihak sekolah yang akan mencarikan gaun untuk Riri. Dan coba lihat, gaun ini sebenarnya ngga terlalu terbuka kok, gaun ini cuma ngga berlengan dan memperlihatkan bagian punggung sedikit."


"Cuma sekali? Dan apa kamu bilang, ini cuma ngga berlengan dan sedikit memperlihatkan punggung mu? Apa kamu tau dari sekali itu ada berapa banyak pasang mata yang jelalatan melihat mu? Ditambah lagi memperlihatkan punggungmu, dan ini tidak sedikit terbuka tapi banyak. Coba kamu pikir, akan ada berapa banyak orang yang melotot karna melihat punggung cantikmu itu?" Aku semakin emosi, bagaimana istriku bisa menyetujuinya begitu saja menampilkan punggungnya di depan banyak orang, apalagi pasti akan banyak laki-laki disana. Arghhhh.. menyebalkan.


"Hehhe.. Sayaaanggg.. Riri mohon! Cuma sekaliiiii aja.. Riri ngga mau di diskualifikasi cuma gara-gara harus berganti model pakaian. Riri janji kedepannya akan meminta dari pihak sekolah untuk memilihkan pakaian yang lebih sopan, Riri janji deh. Dan lagi Riri makenya ngga lama kok, paling cuma beberapa menit di atas panggung, setelah itu langsung diganti. Lagian gaun ini cuma untuk perkenalan awal aja." Ujarnya yang berusaha merayuku.


"Jangan cengengesan, apa kamu pikir ini lucu?"


"Iya, hehhe.. Mas lucu kalo lagi cemburu begini." Ujarnya senyum-senyum.


"Siapa yang cemburu? Senyumanmu menyebalkan." Ujarku sebelum meninggalkannya sendirian dikamar.


"Menyebalkan sekali! Pokoknya aku tidak akan datang kesana besok!" Aku benar-benar kesal sekarang, ditambah lagi jika aku melihatnya besok, mungkin aku akan lepas kendali dan menyeretnya turun dari panggung.


______________


07.00 pagi.


Kulihat dia sudah rapi, dan sedikit berdandan. Sepertinya dia akan pergi ke acara itu. Aku masih berbaring di tempatku, dengan mata yang masih tertutup. Sebenarnya aku sudah bangun dari tadi dan memperhatikannya, tapi aku masih memejamkan mataku berpura-pura tidur.


"Mas?" Panggilnya pelan.


Aku masih tidak bergeming, bahkan aku berpura-pura mendengkur untuk meyakinkannya bahwa sekarang aku masih tidur.

__ADS_1


"Sayaaaanggg.." Ujarnya lagi berbisik di telinga ku.


"Ehmm..." Ujarku sembari mengibas-ngibaskan tangan di telingaku.


"Tidurnya masih pulas ya? Yaudah, Riri ngga akan ganggu. Riri cuma mau pamit, Riri harus berangkat sekarang." Ucapnya lembut.


"Riri pergi dulu ya?"


Cup


Dia mengecup keningku lembut sebelum meninggalkan ku yang masih terpejam.


Sesaat setelah dia membelakangiku, dengan perlahan aku membuka mataku sampai dia hilang sepenuhnya dari pandangan ku.


"Ck, udahlah. Aku ngga akan kesana." Ujarku mantap, lalu menarik kembali selimut hingga menutupi tubuhku sepenuhnya.


_____________


09.00 pagi, di sebuah gedung besar nan megah. Banyak orang berlalu lalang, bahkan sangat padat ku lihat. Iya, otak dan tubuhku selalu melakukan hal yang berlawanan. Otak ku bilang dan yakin, aku tidak boleh datang ketempat ini, tapi pada kenyataannya tubuhku sekarang membawaku ketempat ini.


"Sial, kenapa aku disini?" Batinku, yang baru menyadari bahwa sekarang aku sudah duduk di antara banyaknya penonton lainnya. Aku sengaja memilih duduk yang agak jauh dari panggung, sehingga Riri tidak aka melihatku di atas sana. Bisa-bisa dia akan mengejek ku nanti kalau dia melihatku disini sekarang, padahal kemarin malam aku sudah ngotot tidak akan datang kesini hari ini. Ah terserahlah, sudah terlanjur basah. Yang jelas aku hanya perlu memastikan bahwa dia tidak akan melihat ku dari atas sana.


Oiya, untuk menunjuang penyamaran ku agar tidak dikenali oleh Riri. Aku sengaja memakai topi dan juga kacamata hitam.


"Apa yang sedang ku lakukan sekarang?" Gumamku, yang tidak percaya melihat diriku sekarang dengan bodohnya tanpa berpikir, sekarang duduk menggunakan topi dan kacamata hitam ditengah banyaknya orang. Ku rasa aku sekarang benar-benar tidak memiliki akal sehat lagi. Ah, masa bodo dengan akal sehat. Yang penting sekarang hatiku bisa lebih tenang karna aku bisa mengawasinya dari dekat.


"Kayaknya udah pada ngga sabar yaaaa?" Seru MC laki-laki.


"Iyaaaa.. cepetan dong dimulai..." Teriak salah satu penonton.


"Iya, udah ngga sabar nih." Seru penonton lainnya.


"Hahaha, udah pada rusuh nih. Kayaknya langsung kita mulai aja kali ya?" Ujar MC laki-laki pada MC wanita di sebelahnya.


"Iya, langsung aja deh kayaknya. Kalo kelamaan bisa roboh ntar ni gedung, hahaha.." Sahut sang MC wanita untuk mencairkan suasana.


"Yasudah, langsung saja kita sambut.. Ini dia 30 wanita cantik yang akan menjadi gadis sampul tahun 2021..." Seru para MC berbarengan.

__ADS_1


Prok prok prok ..


Seisi gedung sekarang menggema akibat tepuk tangan yang meriah dari para penonton.


"Swit.. swiiiiwiiitt.." Ujar para penonton yang bersemangat menyambut 30 para kontestan. Kecuali aku, aku sama sekali tidak bersemangat melihatnya. Bahkan ketika melihat giliran Riri berjalan di atas panggung dan melambaikan tangannya ke arah penonton. Tiba-tiba darahku berdesir hebat.


"Kenapa? Kenapa dia sangat cantik dibanding lainnya. Jangan tersenyum dan jangan melambaikan tangan. Ku bilang jangan tersenyum.." Ujarku yang semakin gusar di tempat duduk ku. Sial, bukannya tenang bisa mengawasinya, sekarang aku malah semakin tidak tenang. Bahkan ingin rasanya aku menariknya turun dari panggung sekarang juga.


"Eh.. eh.. bro. Itu yang gaun putih, Lo liat deh. Cantik banget gila. Tipe gue banget itu." Ujar laki-laki yang di depanku berbisik pada teman disebelahnya yang masih bisa terdengar olehku.


"Iya, gila cantik banget. Udah kek bidadari. Cepet.. cepet ambil fotonya." Seru temannya, lalu mereka mengambil telpon genggamnya dan membuka kamera untuk memotret Riri, istriku. Rasanya aku benar-benar akan meledak sekarang, bagaima mereka bisa menjadi sangat tidak tau malu, bisa-bisanya mereka memotret istri orang dihadapan suaminya langsung.


Tanpa menunggu lagi, aku langsung merebut paksa hp yang ada ditangan mereka yang mereka gunakan untuk mengambil foto istriku.


"Apa-apaan sih om?" Protes mereka yang langsung mengambil kembali hp mereka dari tanganku.


"Apa? Om?" Batinku, rasanya kepalaku mengeluarkan asap sekarang.


"Apa kalian tidak tau mengenai undang-undang adanya larangan mengambil foto orang tanpa izin?" Ujarku geram.


"Apaan sih om? Kalau emang dilarang, kenapa yang lainnya masih memotret. Kalo emang ngga boleh, pasti panitia penyelenggara sudah mengumumkannya dari awal." Sahut bocah tengik di depanku ini.


"A..apa?" Batinku, bibirku tiba-tiba kelu, tidak tau harus bagaimana membalas perkataannya. Karna yang di ucapkannya itu memang benar. Arhhhh, siallll..


"Kayaknya gila deh, ada-ada aja. Sejak kapan dilarang mengambil foto pada saat audisi. Perasaan dari dulu juga ngga pernah ada larangan."


"Iya, kayaknya om ini gila."


Ujar mereka berbisik.


Kini aku benar-benar terdiam mematung mendengarkan ucapan menohok dari 2 bocah tengik di depanku ini, dan yang membuatku semakin geram adalah semua perkataan mereka itu benar.


"Sepertinya aku memang gila!"


❤️❤️❤️


😘😘😚😁

__ADS_1



__ADS_2