Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Suara Ini?!


__ADS_3

❤️❤️❤️


Kini aku sudah berada didalam kamarku, kulempar asal tasku ke atas ranjang. Sebelum aku ikut menghempaskan tubuhku di sampingnya.


"Gimana caranya?". Ujarku yang terus memikirkan bagaimana caranya membuat pak Juan mencintai ku. Ku balikkan tubuhku agar posisiku tiarap.


Ku ambil ponselku yang ada di dalam tas. Segera ku tulis kata kunci di google "Bagaimana caranya membuat seseorang jatuh cinta?".


"Banyak juga". Ucapku ketika melihat hasil pencarian di google.


Kubaca satu persatu hasil dari pencarian ku, dan ada satu cara yang membuatku tertarik.


"Tunjukkan bahwa Anda wanita yang unik". Ujarku tersenyum. Aku langsung bangun dari posisiku.


"Semangat Ri. PASTI BISA". Ujarku menyemangati diriku sendiri dengan mengepalkan tanganku ke atas. Semangat ku tiba-tiba kembali berkobar.


Tok tok tok


Krek


"Ngga makan siang dulu?". Ujar ibuku yang kini berdiri diambang pintu.


"Iya bentar lagi bu. Riri mau ganti baju dulu". Sahutku lalu dengan cepat beranjak dari ranjang ku menuju lemari.


"Yaudah, ibu mau kewarung dulu". Ucap ibuku lalu pergi sebelum mendengar jawabanku.


~


"Assalamualaikum". Ujar sebuah suara yang tak lain adalah ayahku yang baru saja datang dari bekerja.


"Waalaikumsalam". Sahutku.


"Ayah mau dibikinin kopi". Tawarku.


"Ngga usah, tadi siang ayah udah minum kopi". Jawabnya.


"Mau ikut makan ngga? Riri mau makan nih, biar Riri siapin sekalian".


"Ayah udah makan kok. Yaudah ayah mau mandi dulu". Ujar ayahku beranjak dari tempat duduknya.


~


Setelah aku selesai makan, kulihat ayahku keluar dari kamarnya menggunakan pakaian yang cukup rapi ku perhatikan.


"Ayah mau kemana?". Tanyaku sambil duduk di sova menonton tv.


"Ayah mau jenguk om Adi". Sahutnya sambil membetulkan kancing bajunya.


"Jenguk om Adi?". Ujarku spontan bangun dari posisiku.


"Iya". Jawab ayahku tanpa mengalihkan pandangannya dan masih membetulkan kancing bajunya.


"Sama ibu?". Tanyaku lagi.


"Ngga, ibu kan nanti mau kepengajian sama temennya". Ujar ayahku.


"Kenapa? Kamu mau ikut?". Tanya ayahku tiba-tiba.


"Eng... emang Riri boleh ikut yah?". Tanyaku ragu.


"Kenapa ngga?!". Ujar ayahku.


Seketika hatiku kembali senang.


"Mudah-mudahan ada pak Juan disana. Hehe". Batinku.


"Yaudah Riri ganti baju dulu ya yah". Ujarku langsung berlalu secepat kilat ke kamarku.


~


"Pakai baju apa yah?". Ucapku bingung ketika memperhatikan beberapa baju yang menggantung didalam lemari.


"Ah, ini aja deh". Ku ambil satu set pakaian, celana jeans andalan ku dan kaos lengan panjang berwana cream. Ku ikat rambutku hingga memperlihatkan leher jenjang ku dan tak lupa tas kecil yang selalu menggantung di bahuku. Aku menambahkan sedikit liptint dibibirku agar tak terlihat pucat. Aku melakukannya secepat kilat, mungkin hanya sekitar 5 menit. Setelah selesai aku segera menemui ayahku yang mungkin sudah menunggu ku diluar.


Dan benar saja, ku lihat ayahku sedang menunggu ku di sova.


"Sudah?". Tanya ayahku.


"Sudah yah". Sahutku sambil menyunggingkan senyum.


"Ayok kita berangkat sekarang". Ujar ayahku.

__ADS_1


"Pada mau kemana?". Tanya ibuku yang baru saja datang dari warung.


"Mau kerumah sakit bu". Sahut ayahku.


"Loh, Riri juga ikut?!". Ujar ibuku yang melihat ku mengekor dibelakang ayah.


"Hehhe, iya bu".


"Oh yaudah kalo gitu. Hati-hati".


"Iya bu, assalamualaikum". Ujar ku dan ayahku bersamaan.


"Waalaikumsalam".


~


Setelah 30 menit akhirnya aku bersama ayahku sudah sampai di parkiran motor di rumah sakit om Adi di rawat. Setelah memarkirkan motor, aku bersama ayahku segera masuk ke dalam rumah sakit. Aku dan ayah langsung berjalan menuju ruangan om Adi dirawat.


"Assalamualaikum". Ujarku dan ayahku berbarengan ketika membuka pintu.


"Waalaikumsalam". Jawab om Adi dan istrinya.


"Ayo masuk-masuk". Ucap mereka bersamaan.


"Aduh, pas banget loh. Om sama Tante baru aja ngomongin kamu. Kapan kamu kesini lagi? Alhamdulillah orangnya muncul". Ujar tante Nala tersenyum ke arah ku.


"Hehhe iya tante".


"Oh iya tante, ini..". Aku mengulurkan sekeranjang buah pada tante Nala.


"Aduh, tante nyuruh kamu sering-sering kesini bukan karna minta dibawain sesuatu loh. Tante jadi ngga enak ngrepotin terus".


"Eh, ngga kok tante". Sahutku.


"Yasudah Tante terima. Terimakasih ya sayang". Ujar tante Nala menerima uluranku.


"Iya tante sama-sama". Sahutku, sambil menyunggingkan senyum.


"Aduh, Riri kalau senyum manis sekali ya yah, cantik lagi. Sangat cocok dengan J...". Tante Nala menggantung ucapannya.


"Uhuk uhuk". Tiba-tiba saja om Adi terbatuk.


"Eh, maksud tante kamu cocok sekali loh kalau daftar jadi model. Kamu cantik sekali". Ujar tante Nala memujiku.


"Wah ide bagus tuh". Ujar tante Nala. Lalu kami tertawa bersama. Bahkan om Adi dan ayahku yang memperhatikan kami juga ikut tertawa.


Aku senang sekali, rasanya aku sudah lama dekat dengan keluarga mereka. Aku mulai tidak merasakan canggung ketika melempar candaan dengan mereka.


~


Aku asik bersenda gurau bersama tante Nala di sova ruangan ini sedangkan ayahku juga sedang sibuk berbicara dengan om Adi. Tiba-tiba saja tante Nala berdiri dan mengatakan sesuatu yang membuat aku, ayah dan om Adi menatap bersamaan kearahnya.


"Ya ampun yah, ibu lupa. Dompet ibu ketinggalan dirumah". Ujar tante Nala dengan nada hebohnya.


"Tapi, b....".


"Aduh ibu harus balik kerumah lagi deh kayaknya yah". Potong tante Nala.


Aku hanya menatap bingung pada tante Nala.


"Sayang, kamu sama ayah kamu kesini naik apa?". Tanya Tante Nala tiba-tiba menatap ke arahku.


"Motor tante". Jawabku.


"Kamu bisa bawa motor?". Tanya tante Nala lagi.


"Bisa kok tante". Jawabku dengan sedikit bingung.


"Kenapa tante Nala tiba-tiba nanya gini ya?!". Batinku.


"Tante bisa minta tolong ngga?". Ujar tante Nala lagi.


"Iya tante bilang aja". Sahutku tersenyum.


"Kamu bisa anterin tante kerumah?".


"Eh, eng...". Aku menatap ayahku sebentar.


Ku lihat ayahku menganggukkan kepalanya pelan.


"Bisa tante". Jawabku mantab.

__ADS_1


"Yaudah ayok kita berangkat sekarang, nanti malah kesorean". Ajak tante Nala sambil menarik tanganku pelan.


"Pak Danu, pinjem anaknya sebentar ya". Ujar tante Nala.


"Iya, silahkan silahkan". Jawab ayahku tersenyum ramah.


"Jangan ngebut ya Ri". Kata ayahku mengingatkan.


"Iya yah". Sahutku.


"Hati-hati". Ujar ayahku dan om Adi berbarengan.


~


Setelah sekitar 40 menit akhirnya kami tiba di depan rumah megah bernuansa modern serta ditumbuhi dengan beberapa pepohonan yang menambah sejuk suasana pekarangan rumah milik keluarga Adiyatmo ini.


"Wah, besar banget". Batinku terkagum-kagum.


"Ayo masuk sayang". Ujar tante Nala mengagetkan ku.


"I..iya tante". Sahutku, dengan segera aku mengikuti tante Nala dari belakang.


Ku perhatikan dengan saksama seisi rumah ini, sangat bersih dan semua barang-barangnya tersusun dengan rapi.


"Ayo duduk dulu". Tante Nala mempersilahkan.


"Eh iya tante". Dengan agak canggung aku duduk di sebelah tante Nala.


"Bi..". Tante Nala memanggil salah seorang pelayannya.


"Iya bu".


"Tolong buatin minum yah..


"Oiya sayang, kamu mau minum apa?". Tanya tante Nala padaku.


"Apa aja tante". Sahutku.


"Oh, yaudah. Jus lemonnya 2 ya bi". Perintah tante Nala pada pelayannya.


Aku kembali mengedarkan pandanganku.


"Aduh toilet sebelah mana ya?!". Pikirku, karna dari tadi aku sudah kebelet.


"Sayang, tante tinggal kekamar dulu sebentar ya". Ujar tante Nala.


"Em, tante..". Panggilku yang tiba-tiba membuat tante Nala menoleh padaku.


"Iya, kenapa sayang?".


"Toilet disebelah mana ya tante? hehe".


"It...


Tante Nala menggantung kata-katanya.


"Ada di atas sayang. Kamu naik aja ke atas yah". Ujar tante Nala tersenyum.


"Oh, iya. Terimakasih tante". Jawabku tanpa membuang waktu lagi aku segera naik keatas.


"Toiletnya yang mana ya?". Gumamku ketika melihat ada beberapa pintu di atas sini.


"Ini kali yah". Ujarku mantap, lalu ku buka pintu itu tanpa ragu sedikit pun.


"Ah itu dia". Ujarku yang melihat closet di dalam ruangan yang terbuka itu, tanpa menoleh kiri kanan aku langsung berlari kecil menuju pintu yang terbuka di depanku. Saat aku sudah di ambang pintu..


Brug


"Aduh". Pekikku ketika kepala ku membentur sesuatu.


"Apa ini?!". Pikirku. Kala aku dihadapkan dengan pemandangan asing yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Benda ini menutup seluruh pandanganku.


Ku coba sentuh benda asing yang ada di depanku ini.


"Kenyal tapi juga keras?!". Pikirku.


"Apa yang kau lakukan?!".


Deg


Suara ini..

__ADS_1


❤️❤️❤️


Jangan lupa like komen vote dan jadikan favorit di rak buku kalian ya agar novel receh ini semakin berkembang 😘 terimakasih untuk para readers yang setia menunggu update an dari author setiap harinya 😘


__ADS_2