
❤️❤️❤️
"Ibu, Ayah.. ini..." Ujarku terharu.
"Kamu suka sayang? Kami semua mempersiapkannya untukmu. Selamat atas terpilihnya kamu sebagai calon gadis sampul ya, dan juga Ibu harap kamu dan Juan selalu berjalan beriringan, bergandengan tangan. Dalam keadaan susah atau senang. Ibu harap kalian akan selalu bersama, sampai maut memisahkan." Ucap Bu Nala.
"Hm, Riri suka banget. Terimakasih Bu, terimakasih banyak karna sudah menjadi ibu kedua yang terbaik untuk Riri." Ujarku yang langsung memeluk penuh kasih ibu mertua kesayangku.
"Dan Riri janji, Riri bakalan terus sama-sama dengan Pak Juan." Sambungku, sambil menggenggam erat tangan Pak Juan.
"Dan kamu Juan, jangan biarin Riri sedih. Kalau ibu lihat dia nangis gara-gara kamu, siap-siap aja.. kamu akan kehilangan kejantanan mu." Sambung Bu Nala.
"Ya ampun Bu, Ibu tau? Ibu adalah Ibu terkejam di dunia ini." Ujar Pak Juan yang mengundang gelak tawa dari kami semua.
"Ayah tau, Juan masih jauh dari kata sempurna sebagai seorang suami. Tapi ayah sangat bersyukur kamu masih mau dan bersabar dengannya hingga saat ini. Ayah harap, kalian selalu bahagia selamanya nak." Kata Ayah Adi tersenyum.
"Terimakasih Yah.." Kini mataku semakin berkaca-kaca.
"Nak Juan, tanpa di beritahu pun kamu pasti tau. Riri, dia adalah gadis yang ceroboh, keras kepala, cengeng dan juga penakut." Kata Ayahku.
"Iya, Juan hafal betul soal itu yah.."Sahut Pak Juan tersenyum.
"Pak Juan.." Ujarku setengah berbisik.
Ayahku tersenyum, lalu kembali melanjutkan ucapannya.
"Tapi meskipun begitu, dia adalah anak yang periang, penyayang dan juga pekerja keras, dia selalu berusaha sampai akhir untuk mendapatkan apa yang dia mau. Ayah harap, kamu bisa membimbingnya, karna sekarang itu semua bukanlah tanggung jawab ayah lagi, melainkan kamu yang sekarang sudah menjadi suaminya. Ayah harap kalian akan selalu mendukung satu sama lain dan saling menghormati dengan penuh kasih."
"Ayah.." Lepas sudah pengendalian diriku, air mata yang ku tahan sedari tadi, kini luruh sepenuhnya. Aku memeluk erat seorang ayah dan juga pahlawan bagiku, sebelum adanya Pak Juan dan sesudah adanya Pak Juan pun, Ayah adalah laki-laki terhebat dan yang paling ku kasihi sampai akhir hayatku.
"Nurut sama suami mu ya nak, karna sekarang kalian menjalankan dua kepala yang artinya kalian tidak boleh egois, masalah sekecil apapun kalian harus membicarakannya untuk mendapatkan titik terangnya dari permasalahan kalian. Belajarlah untuk memahami suamimu, hormati dia. Karna kamu sekarang bukan lagi putri kecil ayah, tapi kamu adalah seorang istri yang harus berbakti kepada suamimu."
"Hm.." Hanya itu yang bisa ku ucapkan, aku merasa bersalah karna sampai sekarang aku belum mampu untuk membahagiakan kedua orangtuaku. Karna di usia semuda ini aku harus jauh dari orangtuaku untuk menjalankan kewajiban ku sebagai seorang istri.
"Sayang.." Ucap Ibuku lembut.
"Ibu.." Ujarku yang langsung menghambur peluk padanya.
"Gadis kecil ibu sekarang sudah besar." Ujar Ibuku sambil menepuk-nepuk pelan punggungku.
"Jadi istri yang baik ya sayang, jangan bandel."
"Mana ada Riri bandel?" Ujarku cemberut sambil mendongakkan kepalaku.
"Hahha iya.. iya. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Ngga berasa, anak ibu sekarang sudah jadi istri dan ngga lama lagi nanti akan jadi seorang Ibu." Ujar Ibuku yang semakin erat memelukku.
"Ibu, yang itu masih lama." Sahutku.
"Seberapa lama?" Tanya Pak Juan tiba-tiba.
"Paling sebentar, setidaknya sampai Riri lulus sekolah. Tapi Riri juga pengen kuliah, jadi kayaknya setelah lulus kuliah deh."
"Apa?" Pekiknya
"OK.. OK. Soal anak kita bisa menundanya. Tapi kalo soal prosesnya bisa dipercepat kan?" Tanya Pak Juan dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
"Ngga bisa Pak, kata Pak Juan kan ketika Riri sudah siap lahir batin. Jadi se engganya setelah Riri lulus sekolah."
"Apa? Jadi aku harus menunggu 5 bulan lagi? Kau bercanda?" Pekiknya yang membuat orangtua, mertuaku dan juga Dennis tertawa.
"Iya, hehhe.." Sahutku tersenyum kikuk, sembari menggaruk tengkuk ku yang sebenarnya tidak gatal.
"Hahaha.. Sabar ya kak. Tahan, cuma 5 bulan lagi kok." Ujar Dennis mengejek.
"Cuma Lo bilang, hah? Cuma?"
"Hahahahahhah..."
____________
Sejak kejadian tadi pagi, Pak Juan masih marah padaku hingga sekarang, sudah jam 8 malam, dia terus mendiamkan ku. Sebenarnya aku tidak salah kan? Sekarang kan statusku masih seorang murid, jadi aku masih belum siap untuk itu bagaimana kalau aku tiba-tiba hamil dan harus keluar dari sekolah. Ah, tidak.. tidak. Aku tidak mau.
"Pak?" Panggilku pelan sembari menggeser dudukku agar mendekat padanya. Dia masih tidak bergeming dan masih sibuk dengan telpon genggamnya.
"Pak, udah dong. Jangan marah lagi." Ujarku berusaha membujuknya.
Tapi lagi-lagi dia mengabaikan ku, bahkan menoleh padaku pun tidak.
"Betah banget sih ngambeknya?" Ujarku yang masih tidak menyerah.
"Paaaakkk.." Ujarku yang kini dengan nada manjaku.
"Ayodong, jangan ngambek lagi. Pak Juan udah diemin Riri dari tadi pagi loh. Tega banget sih!" Ujarku merengek.
"Aku sibuk!" Sahutnya, singkat padat dan jelas.
"Apa ku coba aja dengan trik ini ya, siapa tau bisa luluh." Tambahku lagi yang tiba-tiba mendapatkan ide.
"Sayaaaaaanggggg.." Ujarku menggelayut manja di lengannya.
"Ehm, jangan kau kira aku akan luluh dengan panggilanmu itu." Kata Pak Juan ketus.
"Apa? Gagal?" Batinku.
"Bagaimana dengan ini?" Ujarku lagi.
Cup
Bibirku kini mendarat dengan sempurna di pipi kanannya.
"Apa kamu pikir dengan sekali kecupan di pipi, aku akan luluh? Ja...
Dengan bantuan tangan ku, aku memalingkan wajahnya agar menghadapku. Lalu..
Cup
Kali ini aku mendaratkan satu kecupan lembut pada bibirnya.
"Apa kam..."
Cup
__ADS_1
Aku kembali mengecup lembut bibirnya, saat aku hendak menarik bibirku kembali. Pak Juan langsung menarikku dan mendekap ku hingga rasanya sekarang kami sama sekali tidak memiliki jarak, dan tentunya sebuah kecupan ini tidak hanya berakhir menjadi sebuah kecupan, melainkan sebuah ciuman yang panas. Dan itu terjadi cukup lama, hingga aku hampir kehilangan napas.
"Hm..hm..hm.." Ujarku meronta minta dilepaskan.
Lalu dia tersenyum hingga akhirnya melepaskan ku.
"Hah.. hah.. hah" Napasku rasanya benar-benar hampir habis.
"Bagaimana?" Ujar Pak Juan menyeringai.
"Apa Pak Juan mau bunuh Riri?" Ujarku sambil mengatur napasku yang masih tersengal.
"Itu hukuman untukmu."
"Tega banget sih?" Sungutku.
"Kamu mau tau, bagaimana caranya agar aku tidak mendiamkan mu lagi?" Ujarnya.
"Gimana caranya?" Tanyaku antusias.
"Panggil aku seperti tadi."
"Seperti tadi? Maksudnya?"
"Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan sayang."
"A..apa? I..itu kan tadi karna Riri kepepet."
"Tidak mau?" Ujarnya lagi.
"Bukannya ngga mau, tapi itu.."
"Berarti intinya kamu tidak mau." Ujarnya lagi lalu berdiri.
"Eh.. eh.. bukan gitu." Elak ku, yang dengan cepat meraih tangannya.
"Lalu?"
"Ri.. Riri cuma ngga terbiasa. Jadi...."
"Yasudah.." Ujarnya lagi yang kembali berbalik hendak meninggalkan ku.
"Eh, iya.. iya.. tapi jangan di ketawain ya?" Ujarku, tiba-tiba kini aku merasakan malu.
"Tidak akan." Jawabnya singkat.
Beberapa kali aku mengatur napasku. Ntah kenapa aku jadi gugup sekali, padahal tadi mengucapkannya dengan mudah. Kenapa sekarang terasa sangat sulit.
"Sayang!" Pekik ku sambil memicingkan mataku.
"Pftbhahahahahaha..."
"Tuh kan, Pak Juaaaannn.. "
❤️❤️❤️
__ADS_1