
❤️❤️❤️
Beberapa hari semenjak pertengkaran ku dengan pak Juan hari itu, setiap bertemu kami menjadi sama-sama canggung. Baik di rumah maupun di sekolah. Pak Juan juga tidak pernah mengomeli ku seperti dulu. Meskipun di depan mertua dan juga orangtuaku kami bersikap seperti seolah sudah berbaikan, tetapi tidak di belakang mereka.
"Bapak tidak perlu menunggu Riri saat pulang nanti!" Ujarku sebelum keluar dari mobil, tanpa mendengarkan jawabannya aku langsung pergi meninggalkannya yang masih duduk di kursi kemudi mobilnya.
Ya, seolah orang asing, kami tidak banyak bicara ketika sedang berduaan. Setelah turun dari mobilnya aku langsung berjalan menuju kelasku. Ku lihat masih sepi, hanya ada beberapa teman-teman ku yang sudah datang.
"Pagi!" Sapaku pada mereka dengan senyum yang ku paksakan.
"Morning Ri! Oiya, tugas kelompok ada sama lo kan?" Tanya Gandi, teman sekelas ku.
"Iya, tenang aja!".
"Hello hello, good morning every body!".
Suara bising dan cempreng yang sangat familiar di telinga ku, siapa lagi kalau bukan Kania.
"Ngga bisa gitu ya, anggun dikit suaranya?" Protesku.
"Iri? Bilang boss! Hahaha.." Kelakarnya.
"Dosa apa gue punya temen kayak lo?" Ujarku geleng-geleng kepala.
"Hohoho, oiya.. jadi ngga ke perpus kota ntar habis pulang sekolah?".
"Jadi lah, masa ngga?!".
"Ya kali gitu, lo ngga di bolehin samaaaa....".
Ujarnya menggantung, dan aku tau arah pembicaraannya itu.
"Kaaannnn..." Ujarku melotot.
"Sama orangtua lo maksud gue, emang lo kira sama siapa?" Ujarnya dengan nada mengejek.
"Tau ah, mending gue baca makalah".
"Cie ngambeeekkk" Goda Kania, sambil menyenggol bahuku.
"Bodo" Sahutku, lalu tak menanggapi godaannya lagi.
Hari ini kelompok ku akan mempresentasikan tugas makalah kelompok PKN, iya PKN adalah mata pelajaran yang di ajarkan oleh pak Juan.
"Pst pst" Ujar Kania menyenggol-nyenggol tubuhku kala pak Juan memasuki kelas pertama hari ini.
"Apa sih? Ucapku yang malas menanggapi godaan Kania.
Aku bertugas sebagai moderator pada tugas kelompok kali ini. Saat materi sudah di sampaikan, dan para siswa di persilahkan untuk bertanya mengenai makalah kelompok kami, ku lihat pak Juan tidak banyak komentar seperti pada kelompok lainnya, bahkan dia memilih untuk tidak mengajukan pertanyaan untuk kelompok kami. Presentasi kali ini berjalan lancar tanpa ada hambatan, bahkan kelompok lain merasa iri dengan kelompok kami, karna tidak mendapat komentar pedas dari pak Juan.
_____________
"Mau makan apa?" Tanya Kania ketika kami sudah berada di kantin.
"Gue soto ayam aja sama es jeruk" Sahutku.
__ADS_1
"Ok".
Saat asik mengotak-atik layar handphone ku, tiba-tiba ku lihat Pak Juan berjalan ke kantin yang di temani oleh Bu Tania di sebelahnya.
"Cih, kalian terlihat sangat serasi. Sama-sama menyebalkan!" Rutuk ku dalam hati, ketika pak Juan menatap ke arahku, aku langsung membuang muka begitu saja.
Dan sialnya mereka malah memilih duduk di depan ku dan Kania, benar-benar menyebalkan.
"Apa dia sengaja?" Batinku, menatap tak suka ke arah mereka.
"Nih, pesenan Lo?!" Ujar Kania menyodorkan semangkok soto ayam dan jus jeruk pesanan ku tadi.
"Ok, thank you!".
"Jaka?" Batinku, ketika melihat Jaka yang sepertinya bingung mau duduk dimana, karna meja sudah penuh. Aku berniat mengajaknya bergabung denganku dan Kania.
"Jak, sini!" Panggilku, sambil melambaikan tanganku padanya.
"Tumben!" Celetuk Kania, menatap heran padaku. Karna biasanya kami memang sering hanya makan berdua atau bersama dengan teman wanita lainnya.
"Gabung sini aja?!" Ujarku menawarkan.
"Serius? Gue boleh gabung?" Tanya Jaka ragu-ragu.
"Iya, udah duduk aja." Sahutku mengiyakan.
"Ini Bu, silahkan!" Ucap pak Juan tersenyum manis pada bu Tania, sambil menyodorkan makanan yang di antarkan oleh ibu kantin.
"Dih, sok manis!". Gumamku pelan, menatap malas ke arahnya.
"Eh, hehhe. Ngga papa kok" Ujarku tersenyum kikuk.
Ku lihat pak Juan tersenyum miring ke arahku, lalu dia kembali seperti memberikan perhatian pada Bu Tania.
"Permisi Bu!" Kata pak Juan sambil menyeka ujung bibir Bu Tania yang terkena saos.
"Ah, terimakasih Pak!" Ucap Bu Tania dengan nada manjanya.
"Dih, dikira orang bakalan iri kali ya liatnya. Yang ada jijik" Gerutuku dalam hati sambil menyedot minumanku sampai habis.
"Ri, itu jusnya udah abis" Ucap Kania yang membuyarkan lamunanku.
"Oh, yaudah gue mau pesen minuman lagi ya?!" Ujarku berdiri, berniat ingin memesan kembali jus jeruk yang barusan ku sedot habis.
"Sini, biar gue aja yang ambilin" Ujar Jaka yang mengambil gelas dari tanganku.
Tanpa menolak atau mengiyakan, aku membiarkan Jaka yang mengambilkan segelas jus jeruk untuk ku.
"Lo kenapa sih?" Tanya Kania yang heran melihat sikapku barusan.
"Ada duo macan di belakang lo" Jawabku malas, lalu kembali menyantap soto ayamku yang terlihat sudah mulai dingin.
Kania mengerutkan alisnya bingung mendengar perkataan ku, tetapi akhirnya dia menoleh kebelakang dan mengerti dari ucapanku barusan. Kulihat dia mengulum senyum di ujung bibirnya setelah melihat apa yang membuatku jengkel.
"Nih, Ri!" Ujar Jaka menyodorkan segelas jus jeruk.
__ADS_1
"Thanks ya Jak" Ujarku tersenyum manis kearahnya.
"Aduduh" Ucapku tiba-tiba sambil memegangi kepalaku.
"Lo kenapa?" Tanya Jaka yang terlihat khawatir dengan reflek dia memegangi pundak ku.
"Ngga tau nih, tiba-tiba kepala gue pusing" Sahutku dengan sedikit meringis.
Ku lihat ekspresi kekesalan di raut wajah pak Juan, setelah melihat ku di rangkul oleh Jaka. Tanpa menunggu Bu Tania yang masih menikmati makanannya, pak Juan segera berdiri dan membayar makanannya.
"Pak, tunggu!" Teriak Bu Tania kala Pak Juan sudah berjalan jauh meninggalkannya.
"Riri di tantangin?!" Seringai ku.
"Ri.. Riri?" Panggil Jaka mengagetkan ku.
"Ah, iya Jak" Sahutku yang langsung melepaskan rangkulannya di pundak ku.
"Lo udah ngga papa?" Tanya nya.
"Iya, gue ngga papa kok" Sahut ku tersenyum ke arahnya.
Riri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkahku.
____________
Waktu menunjukkan jam 4 sore, yang artinya sudah waktunya untuk pulang.
Sesuai rencana awal, aku pulang bersama Kania. Tapi sebelum pulang kami terlebih dahulu mampir ke perpus kota untuk mencari beberapa materi yang kami butuhkan.
"Setelah gue perhatiin waktu di kantin tadi, kayaknya Pak Juan sengaja mau bikin Lo panas deh." Ujar Kania ketika kami sudah berada di dalam perpus.
"Emang!" Sahutku malas.
"Gue saranin, lo jangan mudah goyah dan dengan gampangnya maafin Pak Juan. Lo harus bikin Pak Juan bener-bener kehilangan akal ngadepin Lo. Dan gue pikir Lo bisa kok manfaatin Dennis buat bikin pak Juan semakin panas".
"Gue juga ngga akan maafin dia semudah itu setelah perkataannya waktu itu" Ujarku yang mulai kesal kala mengingatnya kembali.
"Tapi gue pikir, juga ngga bener deh kalau harus libatin Dennis. Gue juga ragu kalau Dennis mau bantuin gue" Tambahku, yang berpikir ragu akan saran Kania.
"Tapi ngga ada salahnya kan Lo coba tanya dulu?!"
"Apa cara gila Lo ini bakalan berhasil?" Tanyaku tampak was-was dengan akibat kedepannya.
"Gue jamin, pasti berhasil" Ujar Kania meyakinkan ku.
"I..iya deh gue coba" Sahutku yang sedikit ragu.
"Semangat" Ujar Kania menyemangati ku.
"Iya, semangat" Ujarku yang tampak lesu.
"Ini bener ngga ya? Ah udahlah, karna sudah terlanjur basah, terobos aja lah sekalian!" Ujar ku yang kemudian mantap meyakinkan diriku sendiri untuk melakukan ide gilanya Kania. Aku juga ingin mengetahui apa Pak Juan juga menyimpan rasa untuk ku, seperti yang dikatakan oleh Kania.
❤️❤️❤️
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di novel recehku ini ya dear 😘🙏