
❤️❤️❤️
"Assalamualaikum." Sapaku ketika sudah sampai di ambang pintu.
"Waalaikumsalam." Sahut kedua mertuaku yang ku lihat sedang duduk di ruang tengah.
"Loh, Juan mana sayang?" Tanya Bu Nala yang tidak melihat Pak Juan pulang bersama ku.
"Pak Juan belum pulang Bu?" Tanyaku yang sedikit terkejut, karna sudah sore begini ternyata Pak Juan belum pulang.
"Belum" Sahut Bu Nala lagi sambil menggeleng menatap bingung padaku.
"Kalian bertengkar lagi?" Tanya Ayah Adi.
"Eh, ngga kok Yah. Riri tadi habis dari perpus sama Kania, Riri juga udah izin sama Pak Juan kok tadi" Ujarku berbohong.
"Terus Juan ada bilang dia mau pergi kemana ngga setelah dari sekolah?" Tanya Bu Nala lagi.
Aku merogoh handphone ku yang ada di saku baju, dan untungnya dalam keadaan mati karna kehabisan baterai.
"Ngga ada Bu, kebetulan hp Riri juga mati" Sahutku sambil memperlihatkan keadaan handphone ku yang tidak menyala.
"Yasudah, mungkin Juan ada urusan. Palingan juga sebentar lagi pulang!" Ujar Ayah Adi yang tak mau ambil pusing.
"Assalamualaikum" Ujar sebuah suara yang mengagetkan kami.
"Nah itu anaknya pulang" Kata Ayah Adi.
"Kamu kemana aja sih Ju? Kenapa biarin Riri pulang sendiri?" Tanya Bu Nala.
Saat pak Juan hendak menjawab pertanyaan Bu Nala, aku langsung memotongnya. Bisa-bisa kebohongan ku akan terbongkar kalau sampai pak Juan memberitahukan kejadian yang sebenarnya.
"Ngga papa kok Bu, lagian Riri juga sudah minta izin sama pak Juan, ya kan Pak?" Ujarku tersenyum manis.
Pak Juan menatap ku heran, saat dia ingin membuka mulutnya kembali untuk bicara, lagi-lagi aku memotongnya.
"Kalo gitu Riri sama Pak Juan ke atas dulu ya Bu, mau mandi dulu" Ujarku menarik tangan pak Juan agar segera menjauh dari hadapan mereka.
_____________
"Apa-apaan kau?" Ujar pak Juan melepaskan tanganku kasar dari tangannya.
"Ngga papa" Sahutku enteng lalu meletakkan tasku ke atas sova.
"Sekarang kau sudah semakin berani ya?" Kata pak Juan dengan nada tegasnya sambil menggenggam lenganku kuat.
__ADS_1
"Aduh Pak, sakit!" Pekik ku.
Dia kembali melepaskan tangan ku kasar. Setelah meletakkan tas kerjanya dia berjalan menuju kamar mandi.
Brak
Suara bantingan pintu yang keras sukses membuatku terperanjat.
"KURANG KERAS" Teriakku.
Ku lihat dia membuka pintunya kembali, memelototkan matanya ke arahku. Dengan kecepatan langkah kaki seribu aku langsung keluar dari kamar setelah melihat tatapannya yang menyeramkan itu.
____________
Setelah aku selesai mandi, aku segera turun ke bawah untuk makan malam. Saat aku berjalan semakin mendekat ke arah meja makan, pak Juan kembali memelototkan matanya menatapku, aku kembali tertunduk di buatnya.
"Aduh Ri, gimana mau mau balas dendam. Di pelototin aja udah gemetar gini?!" Ujarku bermonolog dalam hati.
"Ayo duduk disini sayang" Ujar Bu Nala menepuk bangku kosong di sebelahnya.
"I..iya Bu".
"Oiya, ada yang mau Ibu bahas dengan kalian!" Ucap Bu Nala menatap ku dan Pak Juan secara bergantian.
"Kapan kalian berencana untuk bulan madu?" Tanya Bu Nala to the point.
Byuuurrrrr
Tanpa sengaja aku menyemburkan semua minumanku, dan sialnya semburan itu mendarat tepat pada wajah Pak Juan.
"Apa-apaan kau?" Pekik pak Juan yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Mm..maaf maaf pak, Riri ngga sengaja" Ujarku yang langsung berjalan mendekat padanya dan tanpa di perintah aku menyeka wajahnya yang basah menggunakan tissue.
"Riri bener-bener minta maaf Pak, Riri ngga sengaja" Aku cemas sekaligus takut karna sudah membasahi wajahnya, aku benar-benar tidak sengaja melakukannya.
"Hentikan" Kata Pak Juan berusaha menjauhkan tanganku pada wajahnya.
"Iya sebentar lagi Pak" Sahutku sambil terus menyeka wajahnya.
"Ku bilang HENTIKAN!" Ujarnya yang kini meninggikan suaranya.
Aku menjadi diam membeku setelah mendengar bentakannya barusan.
Dengan kasar dia menepis tanganku dari wajahnya, lalu pergi meninggalkan meja makan berjalan menaiki anak tangga.
__ADS_1
"Ri.. Riri bener-bener ngga sengaja" Ujarku tertunduk.
"Udah sayang ngga papa, mungkin suasana hatinya sedang tidak baik hari ini". Ucap Bu Nala menenangkan ku.
_____________
Setelah selesai makan malam bersama kedua mertua ku, aku segera menaiki anak tangga menuju kamar atas. Sesampainya di depan pintu, jantungku tiba-tiba berdebar, aku takut memikirkan wajah murkanya akibat ulahku tadi.
"Masuk ngga ya? Bismillah deh" Ujarku sambil menarik napas dalam-dalam.
"Eh, ngga ngga. Jangan masuk sekarang, tunggu Pak Juan tidur dulu" Ujarku kemudian kembali ragu, aku berdiri di balik pintu dengan perasaan yang tidak tenang sekaligus takut.
"Eh tunggu-tunggu, aku kan ngga sengaja. Kenapa harus takut" Aku kembali memegang gagang pintu.
"Tapi kan tadi aku benar-benar menyemburkan seluruh air dalam mulutku ke wajahnya 😫" Aku kembali mengurungkan niatku untuk masuk kedalam kamar.
"Tapi mau sampai kapan Lo mau berdiri disini Ri? Lo kan ngga salah? Yaudahlah terobos aja" Ujarku kemudian mantap.
Saat aku memegang gagang pintu.
Bug
"Aduh". Pekik ku, kala pintu itu cukup keras menghantam hidungku.
"Apa bapak tidak bisa membuka pintu pelan-pelan?" Sungutku sambil memegangi hidungku yang terasa sakit.
"Heh, siapa suruh kau mondar-mandir di depan pintu. Minggir!" Ujarnya mendorongku ke samping. Sehingga badan ku terpentok tembok.
"Bukannya minta maaf, main dorong-dorong aja" Ujarku yang semakin kesal karna ulahnya.
"Riri sumpahin kepentok meja, biar tau rasa" Seringai ku.
Bug
"Aduh" Pekiknya cukup keras ku dengar dari atas.
"Hahahaha, emang enak? Ble :p". Ejek ku di barengi dengan gelak tawa dan tentu saja dia bisa mendengarnya.
"Kau?!" Ujarnya dengan wajah memerah yang masih bisa ku lihat dari atas sini.
"Hahahahahhah 🤣".
❤️❤️❤️
Terimakasih yang sudah setia menunggu update an dari utur setiap harinya 😚 sayang kalian banyak-banyak 😘 selamat menjalankan ibadah puasa ya dear 🤗😘
__ADS_1