Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

❤️❤️❤️


Kreeeekkk


Baru saja aku membuka pintu, tiba-tiba Pak Juan membuat ku terkejut dengan langsung mengangkat ku.


Grep


"P..Pak Juan? Bapak mau ngapain?" Ujarku, menatap intens pada netra pekatnya.


Tanpa menjawab pertanyaan ku, dia terus menggendongku dan perlahan menurunkan ku di atas tempat tidur.



Deg deg deg deg


Ya ampun jantungku! Jantungku kembali berdetak dengan irama yang sangat cepat.


"Kenapa dia terus menatap ku seperti ini? Jangan tatap Riri terus dong Pak, Riri ngga kuaaaattt.." Ujarku meronta-ronta dalam hati.


"Kenapa wajahmu tegang sekali?" Ujarnya dengan senyuman yang seperti meledek lalu ikut berbaring di sampingku.


"Te..tegang? Tegang darimananya? Eng..."


Grep


Dia langsung menarik dan memelukku, lalu membenamkan kepala mungilku kedalam dadanya yang bidang.


"Kau tenang saja, aku tidak akan melakukannya sebelum kau siap."


"Pak Juan?" Lirihku sembari mendongak, menatap intens pada kedua bola matanya.


"Aku hanya ingin seperti ini, tidur dengan memeluk erat tubuhmu seperti ini." Ujarnya lagi sambil tersenyum manis.


"Ahhhh, menyenangkan sekali ternyata memiliki guling yang hangat seperti ini." Celetuknya yang semakin mempererat pelukannya pada tubuhku.


"Guling?" Ujarku cemberut mendengar ucapannya barusan yang menganggap ku sebagai guling.


"Hahaha, guling yang sangat menggemaskan." Ucapnya sambil mencubit kedua pipiku, hingga wajahku sekarang terlihat besar.


"Ah sakit, lepasin ngga?"


Bukannya menuruti perkataan ku, dia malah semakin menarik pipiku.


"Ah, Bapvak ngga mau lepvasin ya?" Ujarku dengan suara yang kurang jelas karna pipiku yang tertarik.


"Ok, rasain nih!" Aku ikut menarik kedua pipinya cukup keras.


"Aw.." Pekiknya.


"Kau semakin berani ya?" Sambungnya.


Blee :p


Cup


Dengan spontan aku langsung melepaskan tanganku dari pipinya, aku membulatkan mataku kala mendapatkan serangan yang tiba-tiba seperti ini, pipiku seketika merona.


"Ternyata semudah ini!" Ujarnya lalu tersenyum.


"Pak Juaaannn!" Pekik ku.

__ADS_1


"Hahahahahhah..."


Rasanya hatiku sangat bahagia sekali, terkadang aku masih merasa bahwa semua ini hanyalah sebuah mimpi. Tapi ketika melihat senyuman dan tawanya sekarang, aku menjadi sangat lega. Aku hanya ingin seperti ini dengannya, selamanya! 😇


________________


Tadi malam aku sudah berencana untuk bangun pagi-pagi sekali hari ini untuk membuatkan sarapan kesukaan Pak Juan, namun rencana hanyalah sebuah rencana, aku malah bangun kesiangan pagi ini. Dan aku sedikit terkejut karna tidak mendapati sosoknya disampingku saat pertama aku membuka mata. Setelah menggosok gigi dan mencuci wajahku, aku segera turun ke lantai bawah, saat aku menginjak anak tangga yang terakhir, aku dibuat terkejut oleh laki-laki yang ada di depanku saat ini.


"Pak Juan?" Seketika aku langsung mematung di tempatku, tidak percaya dengan apa yang ku lihat saat ini di depanku, di tambah dengan banyaknya hidangan yang tersaji di atas meja, membuatku melongo tidak percaya.


"Sudah bangun? Ayo kita sarapan!" Ujarnya menarik tanganku, lalu mendudukkan ku pada kursi yang kosong.


"I..ini apa Pak? Ada yang ulang tahun?" Tanyaku bingung, tanpa mengalihkan pandangan ku dari banyaknya menu yang tersaji di depan ku saat ini.



"Karna aku tidak tau apa makanan kesukaan mu, jadi ku buat saja semuanya." Ujarnya enteng lalu ikut duduk di sampingku.


"Pak Juan yang bikin semuanya?" Tanyaku terkejut sekaligus terharu.


"Sebenarnya aku memesannya sih, hehhe.." Sahutnya sambil menggaruk-garuk tengkuknya.


"Tapi, karna aku yang menyajikannya, itu sama saja dengan aku yang membuat semuanya kan?" Ujarnya lagi dengan bangganya.


"Padahal tadi, Riri udah terharu loh. 😶" Ujarku yang kemudian merubah ekspresi ku.


"Sama saja lah pokoknya, ini.. kau coba ini, aaa.." Ujarnya yang hendak menyuapiku.


Seketika aku menjadi canggung, atas sikapnya yang berubah 360° seperti ini.


"A..anu Pak? Apa kita ngga bisa ngelakuinnya secara perlahan? Ri..Riri masih belum terbiasa." Ujarku yang masih merasa malu.


"Kau harus terbiasa mulai sekarang, toh disini kita hanya berdua. Tidak ada siapapun."


"Oh iya, Ibu sama Ayah kemana Pak?"


"Mereka pergi ke Surabaya selama seminggu."


"Surabaya?" Ujarku terkejut.


"Kenapa Riri ngga tau ya, biasanya Ibu selalu bilang kalau mau pergi jauh." Sambung ku.


"Ibu takut mengganggu mu saat belajar, makanya dia menelponku."


"Ohhh, terus bi Ningrum? Pak Amat? Dan asisten yang lainnya?" Ujarku lagi.


"Ku suruh pulang." Sahutnya enteng.


"Hah? Bapak memecat mereka?" Pekik ku terkejut.


"Sayangku, aku hanya menyuruh mereka pulang bukan memecat mereka."


"Tapi kenap..."


Hap


Dengan sekali dorongan, sesendok nasi berserta lauknya sukses mendarat ke dalam mulutku.


"Pvak Juavn?" Ucapku dengan suara yang tidak jelas karna mulutku sekarang dipenuhi dengan makanan.


"Nah, dengan begini. Baru mulutmu itu bisa diam." Ujarnya sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Saat aku selesai mengunyah dan mulutku kembali kosong, dia kembali menyuapiku lagi dan lagi, hingga akhirnya aku kekenyangan dan tak sanggup untuk bicara lagi. Rasanya perutku, sebentar lagi akan meledak 🤢.


_____________


"Kau marah?" Ujarnya mendekatiku yang duduk bersandar di atas tempat tidur.


Aku tidak menggubris ucapannya sama sekali.


"Ayolah, aku hanya ingin menunjukkan perhatian ku saja." Bujuknya.


"Menunjukkan perhatian sih menunjukkan perhatian. Tapi ngga harus menyuapi Riri dengan begitu banyaknya makanan juga dong. Coba liat? Sekarang perut Riri membuncit." Sungutku sambil menunjuk ke arah perutku.


Ku lihat dia malah mengulum senyum setelah mendengar ucapanku.


"Iihhhh, nyebelin banget sih." Ujarku yang kemudian berbaring dan membelakanginya.


"Iya iya, maaf ma...."


Drt drt


"Halo?" Ujarnya yang ku dengar seperti sedang mengangkat telpon dari seseorang.


"Dari siapa?" Batinku.


"Apa? Baik-baik, saya akan segera kesana." Ucapnya sebelum memutuskan sambungan telpon.


"Ada apa Pak?" Tanyaku cemas, karna wajahnya sedikit memucat setelah mengangkat telpon.


"Sahabatku, Septian. Dia kecelakaan."


"Apa? Trus gimana keadaannya sekarang?"


"Aku belum tau, dokter menyuruhku untuk segera kesana." Ujarnya sebelum berdiri.


"Apa perlu Riri temani?" Ujarku menawarkan.


"Tidak usah, kau di rumah saja. Tidak apa-apa kan ku tinggal sebentar?"


"Iya, tapi Pak Juan hati-hati. Menyetirnya jangan ngebut. Segera telpon Riri kalau ada apa-apa." Ujarku mengingatkan.


"Iya, aku pergi dulu." Ucapnya, lalu mengecup lembut keningku sebelum pergi.


Aku ikut mengantarnya sampai di depan pagar.


"Masuklah, jangan lupa kunci pintu." Ujarnya sebelum benar-benar pergi dan hilang dari pandangan ku.


"Semoga temannya Pak Juan ngga kenapa-kenapa." Ujarku yang ikut cemas.


Setelah melihat kepergiannya, aku kembali masuk ke dalam rumah, dan tak lupa ku kunci pagar dan pintu sebelum naik kembali ke kamar.


Namun saat aku hendak menginjakkan kaki pada anak tangga pertama, tiba-tiba aku mendengar bunyi bel dari luar.


"Apa Pak Juan lupa sesuatu?" Gumamku, lalu berbalik untuk membukakan pagar.


"Dennis?" Ujarku terkejut, rupanya Dennis lah yang datang bukan Pak Juan.


"Ri.." Ujarnya saat pertama melihat ku, dan betapa terkejutnya aku, dia langsung memelukku.


"Dennis, lepas!" Ujarku berusaha mendorongnya.


"Ri, tolong gue Ri.. tolong gue.." Ujarnya yang semakin mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Ada apa Den? Apa yang terjadi?"


❤️❤️❤️


__ADS_2