
❤️❤️❤️
"Ada perlu apa Pak?" Tanya Bu Tania seketika suaranya berubah menjadi lemah lembut.
"Saya dengar pertengkaran mereka dimulai gara-gara Saya. Boleh Saya ambil alih mereka sekarang?"
"Eh, eng.. ta..tapi Pak?"
"Biar Saya yang urus mereka."
"Ba..baiklah Pak. Silahkan!"
"Kalian, ikut ke ruangan Saya!" Perintah Pak Juan.
-
"Mau di apain ya kita? Jangan-jangan hukuman dari laki Lo bakalan lebih kejam dari Bu Tania." Bisik Kania pelan di telingaku.
"Gue juga ngga tau." Sahutku. Aku juga sebenarnya bertanya-tanya, apa yang akan dia lakukan kepada kami berempat? Terutama padaku.
"Masuk!" Perintahnya sambil membukakan pintu ruangannya.
"Salah satu di antara kalian, coba ceritakan. Apa akar permasalahan yang sebenarnya?" Tanya Pak Juan sambil bersidekap menatap tajam pada kami satu persatu.
"Lo aja."
"Lo"
Kami saling bersikutan satu sama lain. Tidak ada yang mau mengalah, hingga kembali menimbulkan keributan di ruangan Pak Juan.
Brak
"Astaghfirullah!" Ucapku terkejut.
"Arianti!" Panggilnya tegas.
"Eh, i...iya Pak!" Sahutku terbata.
"Kenapa dia memanggilku?" Batinku.
"Coba ceritakan!" Perintahnya.
"Sa..saya Pak?" Tanyaku ragu.
"Memang ada berapa orang yang bernama Arianti di ruangan ini?"
"Eh, i...iya Pak. Nita yang terlebih dahulu menarik rambut Saya Pak!" Ujarku mulai menceritakan permasalahannya.
"Eh enak aja, itu juga gara-gara mulut Lo yang ngga ada akhlaknya itu." Bantah Nita tak terima.
"Itu juga gara-gara Lo yang mulai."
Suasana kembali memanas, ketika aku dan Nita kembali menyalahkan satu sama lain. Dan pada akhirnya membuat Kania dan temannya Nita ikut angkat bicara. Suasana kembali riuh di ruangan ini.
Brak
__ADS_1
Satu gebrakan meja yang keras kembali terdengar.
"Apa kalian tidak bisa mencerna perkataan Saya? Saya bilang salah satu dari kalian ceritakan akar permasalahannya, dan saya meminta Arianti untuk menceritakannya. Kenapa kalian malah saling menyalahkan satu sama lain dan bertengkar, dan terlebih lagi di hadapan Saya? DIMANA ETIKA KALIAN?" Ujar Pak Juan meninggikan suaranya.
Kami berempat hanya bisa menunduk takut mendengar suaranya yang meninggi.
"Kalian semua tunggu diluar! Kecuali Arianti." Perintahnya.
Deg
"A..aku? Ke..kenapa hanya aku?" Batinku.
"Ba..baik Pak!" Sahut mereka bertiga, termasuk Kania.
Krek
Suara pintu yang tertutup membuatku takut sekaligus cemas. Apa yang akan di lakukan Pak Juan padaku? Apa dia akan memarahiku? Terlihat dari sorot matanya yang tajam menandakan bahwa sekarang dia sedang marah.
"Mendekatlah!" Perintahnya.
Ku lirik dia sebentar yang tengah duduk di atas mejanya sambil bersidekap. Aku memajukan langkah ku sedikit demi sedikit ke arahnya, yang kini hanya menyisakan jarak beberapa langkah darinya.
"Ku bilang mendekatlah!" Ujarnya meninggikan suara.
"I..ini sudah dekat Pak!" Sahutku.
Greb
Dia meraih tanganku, hingga kini aku semakin dekat padanya. Mungkin hanya menyisakan satu langkah jarak antara aku dan Pak Juan.
"Ma..maafkan Riri Pak. Ri..."
"Eh.. eng.."
"Lain kali, tolong jangan seperti ini lagi hanya gara-gara aku." Ujarnya pelan, masih dengan merapikan rambutku.
"Pak Juan?" Aku menatap nanar padanya.
"Pasti sakit sekali!" Ucapnya lagi tanpa menghiraukan panggilanku.
"Berbalik lah, aku akan bantu ikatkan rambutmu."
Sesuai perintahnya, aku memutar badanku membelakanginya.
"Ada apa dengannya? Ke..kenapa sikapnya jadi lembut seperti ini?" Batinku.
Deg
Debaran jantungku kembali berpacu ketika Pak Juan tidak sengaja menyentuh bagian leher belakang ku untuk membantu mengikat rambutku.
"Biar Riri aja Pak?" Ucapku hendak mengambil alih apa yang di kerjakannya sekarang. Baru di ikatkan rambut begini saja, debaran jantungku sudah tidak karuan.
"Diamlah sebentar!" Perintahnya, dan aku tidak berani membantahnya lagi. Bisa-bisa dia kembali marah kalau aku menolaknya.
"Jadi, ceritakanlah apa yang terjadi?" Tanya nya, yang masih sibuk dengan rambutku.
__ADS_1
Tanpa menunggu lagi dan tanpa ada rasa takut, aku menceritakan semuanya padanya, tanpa terkecuali. Saat aku hendak menyelesaikan kalimat terakhir ku, dengan perlahan Pak Juan membalikkan badanku. Kini dia sedikit menunduk mensejajarkan tinggi badannya denganku.
"Lain kali, ku minta.. Kau jangan pernah melakukan ini lagi hanya karna aku." Ujarnya memulai percakapan kembali.
"Apa dia tidak suka ku bela?" Batinku, aku merasa sedikit kecewa dengan ucapannya.
"Aku hanya tidak ingin kau terluka seperti sekarang. Kau lihat? Aku adalah akar permasalahannya, tapi malah kau yang terluka gara-gara aku. Cukup diam saja, jangan kau dengarkan perkataan mereka yang mencaci maki, bukankah kau yang paling tau tentang ku? Kenapa kau harus marah, jika itu semua tidaklah benar?"
"Ta..tapi Pak, Riri ngga bisa diam aja dong kalau Bapak di fitnah seperti itu."
"Dengarkan aku! Kau itu wanita, dan aku pria. Bukankah seharusnya seorang pria yang melindungi wanitanya?"
"A..apa? Wa.. wanitanya?" Entah kenapa aku benar-benar senang mendengar dia menyebutku sebagai wanita bukan bocah bodoh seperti dulu.
"Aku seperti ini juga untuk melindungimu. Kalau kau bersikap berlebihan seperti ini, apa menurutmu mereka tidak akan curiga dan menimbulkan spekulasi yang pada akhirnya rahasia kita akan terbongkar. Kau tenang saja, aku juga tidak akan membiarkan rumor ini terus berlanjut. Aku janji akan segera meluruskan perihal rumor yang beredar ini secepatnya."
Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan, mengiyakan semua ucapan yang di lontarkannya.
"Sepulang sekolah, bisa kau tunggu di tempat dulu waktu kau menunggu ku? Jangan di parkiran, aku rasa kita sekarang harus lebih berhati-hati."
"I..iya Pak" Sahutku tanpa membantah.
Ku lihat dia menyunggingkan senyuman manisnya padaku setelah mendengar jawabanku. Ini adalah pertama kalinya menurutku, dia menampilkan senyuman tulusnya padaku secara terang-terangan.
"Baiklah, kau boleh keluar dan ajak temanmu kembali ke kelas. Untuk 2 gadis yang mengganggumu tadi, suruh dia menemui ku." Perintahnya.
"Baik Pak" Balasku tersenyum.
Sekali lagi dia tersenyum padaku sambil membelai lembut pucuk kepalaku.
"A..ada apa ini? Kenapa sikapnya jadi seperti ini?" Batinku.
Setelah aku tersadar dari lamunan sesaatku, aku langsung memutar badan, berjalan ke arah pintu.
Krek
"Lo berdua, disuruh masuk sama Pak Juan." Ujarku menunjuk pada Nita dan temannya.
"Dan kita disuruh kembali ke kelas." Ujarku lagi tersenyum cerah sambil merangkul pundak Kania.
Sebelum aku dan Kania meninggalkan mereka berdua, tidak lupa kami menjulurkan lidah untuk mengejek mereka. Tentu saja mereka terlihat sangat kesal melihatnya.
"Hahahaha, puas banget gue." Kelakar Kania.
"Hahahaha iya, berasa semua beban yang ada di pundak gue terangkat semuanya."
"Eh btw, kalian ngomongin apa tadi?" Tanya Kania penasaran.
"Ada dehhhh... kepo deh Lo, bleee :p" Ejek ku, lalu aku tertawa terbahak melihat Kania yang tidak terima dengan ucapanku.
Hari ini terasa sangat panjang bagiku, perkelahian yang tidak di sangka-sangka, dan ini adalah pertama kalinya bagiku berkelahi di tonton banyak orang. Bahkan aku tidak merasa takut ataupun malu. Akibat perkelahian itu rasanya badanku sakit semua tapi aku juga merasa lega dan puas setelahnya.
Sejak hari itu, hubunganku kembali berangsur-angsur membaik dengan Pak Juan. Oiya, jangan ditanya bagaimana jika aku bertemu dengan Nita dan temannya, tentu saja kami masih mengacuhkan satu sama lain. Meskipun kami sudah berbaikan di hadapan Pak Juan dan juga Bu Tania, tetapi di belakang mereka kami masih saja tidak bisa akur. Tidak, aku dan Kania tidak akan bisa akur dengan mereka.
❤️❤️❤️
__ADS_1
Tinggalkan jejak, berupa like, komen, vote dan favoritnya juga ya 😉🙏
Terimakasih sudah mampir 🤗🙏😚