Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Belahan Jiwaku!


__ADS_3

❤️❤️❤️


3 hari kemudian


Akhir-akhir ini aku lebih banyak diam, setiap kali mas Juan mengajak ku bicara, aku hanya menanggapinya sekenanya saja, tidak seperti biasanya.


"Kamu masih marah?" Tanya mas Juan.


"Marah? Perasaan Riri ngga marah." Sahutku sambil sibuk dengan telpon genggam ku.


"Jelas-jelas kamu marah, karna akhir-akhir ini ku lihat kamu selalu menghindariku."


"Ngga kok, mungkin perasaan mas aja." Ucapku tanpa menolah ke arahnya.


Lalu dia tidak lagi mengajakku bicara, mungkin dia sudah kehabisan kata-kata.


Saat tiba di sekolah, aku langsung menyalami tangannya dan turun dari mobil. Dengan agak kesal aku berjalan menghentakkan kaki cukup keras sampai ke dalam kelas.


Ku lihat hanya ada Kania di dalam sana yang sibuk memainkan hp.


"Pagi banget datengnya?" Tanyaku sembari berjalan ke arahnya.


"Kan gue piket hari ini. Nah, trus Lo? Pagi banget datengnya?" Sahutnya yang berakhir dengan pertanyaan.


"Gue lagi males di rumah lama-lama. Rasanya gue pengen nginep dirumah orangtua gue hari ini." Jawabku, dengan malas meletakkan tas di atas meja lalu duduk.


"Karna Pak Juan ya?" Tanya Kania tepat sasaran.


Pertanyaannya hanya ku balas dengan helaan napas berat.


"Kenapa Lo jadi gini si Ri? Lo udah dapetin semuanya sekarang, masa Lo mau buang gitu aja? Apa Lo ngga inget sama usaha Lo dulu buat dapetin Pak Juan, masa sekarang mau nyerah gitu aja gara-gara kedatangan masalalu? Lo harus nunjukkin posisi Lo ke cewek itu, kalo Lo itu istri sahnya, dan dia cuma masa lalunya, dengan Lo ngehindar begini terus Pak Juan ujung-ujungnya juga pasti akan capek. Lo coba deh jujur sama perasaan Lo sendiri? Apa ini yang Lo mau? Kalo Lo masih ragu atau curiga suami Lo masih ada rasa sama cewek itu, Lo cari tau dong, jangan diem pasrah terus jadi makan hati sendiri. Atau Lo cari cara buat suami Lo makin jatuh cinta sama Lo, jangan Lo diem bigini, makin ke enakan itu cewek dikasih peluang kayak gini." Ucap Kania panjang lebar.


"Jadi menurut Lo, gue harus cari tau isi hatinya?"


"Ya iyalah, itu yang terpenting kalo Lo mau hubungan kalian tetap berlanjut."


"Jadi gue harus gimana?" Tanyaku bingung.


"Ah elah masa Lo harus tanya ke gue, lakuin aja seperti biasanya yang Lo lakuin, kalo perlu keluarin semua pesona yang Lo punya."


"Keluarin semua pesona yang gue punya?"


___________


Teng.. teng.. teng..


Lonceng berbunyi, menandakan bahwa jam pelajaran pertama sudah di mulai.


"Pagi semua!" Sapa Bu Tania saat masuk ke dalam kelas


"Pagi Bu!" Sahut kami serentak.


"Ada yang bisa bantu Ibu ambilkan buku materi di atas meja Ibu? Ibu lupa bawa."


"Riri aja Bu!" Ujarku yang dengan cepat mengangkat tangan.


"Yasudah, tolong ambilkan ya?"


"Baik Bu!" Jawabku. Tanpa membuang waktu lagi, aku bergegas keluar dari kelas. Sebenarnya aku melakukan ini bukan tanpa alasan dan tujuan. Aku melakukan ini agar aku bisa mampir sebentar untuk ke kantor mas Juan.


Sesuai dengan perkataan Kania, aku mulai kembali bersemangat untuk memperjelas posisiku di hati suami ku, biarkan orang mengataiku tidak tau malu atau perempuan murahan, yang jelas aku hanya ingin memperjuangkan hak ku atas suamiku. Setelah mengambil buku materi di atas meja Bu Tania, dalam perjalanan kembali menuju kelas, aku mampir ke ruang kerja mas Juan. Sebelum masuk, tak lupa aku melihat keadaan sekitar, saat kurasa sudah aman, dengan secepat kilat aku membuka pintunya dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


"Riri?" Ujarnya yang terkejut saat melihatku.


Dengan perlahan aku mendekatinya, dan duduk di pangkuannya.


"Ka..kamu mau ngapain? Kalau ada yang tiba-tiba masuk gimana?" Sambungnya.


"Apa Riri ngga boleh kesini?" Ujarku cemberut.


"Ngga, bukannya gitu. Tapi kita kan lagi di sekolah, kalau kita ketahuan, yang rugi juga kan kamu. Apalagi dengan posisi kita yang seperti ini?"


"Riri kesini cuma mau minta maaf kok sama mas Juan."


"Minta maaf? Memang kamu ada salah apa?"


"Yaa, Riri minta maaf karna akhir-akhir ini Riri nyuekin mas Juan." Ujarku sembari mengalungkan tangan ku di lehernya.


"Iya, aku sudah maafin kamu kok tanpa kamu minta maafpun. Tapi kamu kok tiba-tiba jadi gini sih?" Tanyanya lagi seraya mengerutkan kedua alisnya.


"Ehm, itu.. Sebenarnya Riri juga kangen sama mas Juan." Lirihku sembari menatap lekat pada kedua bola matanya.


Dengan perlahan aku memajukan wajahku ingin mengecup bibirnya, namun belum sampai bibirku mendarat, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara ketukan dari luar. Dengan cepat aku turun dari pangkuannya dan bersembunyi di bawah meja kerjanya.


"Ehm, ada apa?" Tanya mas Juan yang seketika mengubah intonasi nada suaranya yang terdengar lebih berwibawa.


"Maaf mengganggu Pak, saya cuma mau tanya, Pak Juan jadi masuk ke kelas kami kan hari ini?" Tanya sebuah sebuah suara, yang terdengar seperti seorang siswa.


"Iya, sebentar lagi saya kesana!"


"Baik, terimakasih Pak!

__ADS_1


"Heh, selamat!" Gumamku, sembari mengurut dadaku.


"Kalau begitu Riri kembali ke kelas dulu ya mas!" Ucapku lalu kemudian bangkit dari posisi ku.


"Eh, kamu mau kem..."


Drt.. drt...


"A..angkat aja mas, Riri ke kelas dulu!"


"Yasudah."


"Ah, apa yang sudah ku lakukan tadi?" Batinku, yang menyesali perbuatan nekatku ku tadi, bisa-bisanya aku mau menggodanya padahal kami sekarang masih di sekolah, ah benar-benar memalukan.


Saat aku berada di ambang pintu ruangannya, aku tidak sengaja mendengar ucapannya dengan lawan bicaranya yang ada di seberang telpon.


📞 "Halo Rey, kenapa?"


"Reina?" Gumamku membelalak kaget. Rasa penasaran kembali menggodaku. Bukannya langsung kembali ke kelas, aku malah berada di depan pintunya untuk menguping, agar terdengar lebih jelas, aku sedikit membuka pintunya.


📞 "Malam ini?"


📞 "Gue senggang kok."


📞 "Lo mau ngomong apa? Yaudah-yaudah Lo jangan nangis dong. Iya gue bakal temuin Lo malam ini di cafe xxx jam 10 kan?"


📞 "Iya, Lo jangan nangis dong. Iya gue janji bakalan datengin Lo malam ini!"


📞 "Iya, gue tutup dulu ya. Gue harus masuk ke kelas sekarang!"


Segera setelah mendengarnya mematikan telpon aku langsung menghentikan aksi menguping ku, dan berlari ke kelas.


-


"Woi Ri, Lo kenapa? Ngelamun aja?" Tanya Kania yang seketika membuyarkan lamunanku.


"Kayaknya mereka bener-bener masih deket deh Kan."


"Maksud Lo?"


"Laki gue sama cewek masalalunya itu. Tadi gue denger dia mau ketemuan malam ini."


"Hah? Seriusan Lo?"


"Iya." Sahutku lesu lalu merebahkan kepalaku ke atas meja makan di kantin.


"Lo ikutin aja!"


"Hah? Lo gila ya? Ngga ngga, ngapain gue ngikutin mereka, bikin gue sakit hati aja, ini aja udah nyesek banget Kan, apalagi kalo harus melihat mereka berduaan." Ujarku menerawang sambil membayangkan yang tidak seharusnya ku bayangkan.


"Apa menurut Lo Ngga papa? Gue takut Kan!"


"Udah ngga papa, ngapain takut. Kan Lo istri sahnya. Labrak aja sekalian, kalo Pak Juan terbukti masih punya hubungan sama itu cewek, Lo cerain aja!"


"Hah? Lo gila ya? Masa di umur segini gue udah jadi janda."


"Ya makanya itu, sebelum itu terjadi, Lo harus mengantisipasinya, Lo harus perjuangin hak Lo."


"Gitu ya?" Ujarku ragu sekaligus cemas.


"Iyalah!"


_____________


Entah karna akal sehatku yang sudah bergeser atau aku yang terlalu berani, kini aku dan Kania sudah di jalan menuju tempat janjian suamiku dan wanita itu. Selama di perjalanan, debaran jantungku sudah tidak karuan, antara takut dan cemas, lebih tepatnya aku takut di tinggalkan, aku takut kalau dia akhirnya memilih untuk kembali dengan cinta lamanya dan meninggalkan ku. Hingga sampai di depan cafe, aku kembali ragu-ragu.


"Kan, kita balik aja deh." Ujarku yang mulai takut untuk melihat kenyataan yang mungkin akan membuatku sakit hati.


"Kok balik sih? Kita udah nyampe sini loh? Lo ngga penasaran?"


"Tapi gue takut Kan! Apalagi setelah melihat kebohongan mas Juan tadi, dia ngga jujur sama gue, dia bilangnya mau kerumah Septian sahabatnya. Tapi nyatanya..." Ujarku yang tak sanggup melanjutkan ucapanku.


"Maka dari itu, Lo harus tau kebenarannya."


"Udah ngga usah takut, ada gue disini. Meskipun Pak Juan itu kepala sekolah sekaligus guru kita, tapi kalo dia berani khianatin sahabat gue, gue ngga akan segan-segan ngasih dia pelajaran. Ayo masuk!" Ucap Kania yang kemudian menarik ku masuk ke dalam cafe.


"Tapi ngomong-ngomong Kan, kok cafenya sepi yah?" Mana gelap lagi?" Aku melihat sekeliling cafe yang lampunya tampak di matikan, bahkan aku baru sadar kalau tidak ada satupun pelanggan dari tadi pertama aku dan Kania masuk ke dalam cafe.


"Tapi bener kok ini cafenya, Lo bilang cafe xxx kan?"


"Iya bener kok, tapi kok sepi banget gini ya? Gelap banget lagi, kita balik aja yuk!" Ujarku yang sudah mulai merinding.


"Kok balik? Ketemu laki Lo aja belom, gimana sih?"


"Udahlah, biarin aja. Kita balik aja!"


Saat aku membalikkan badan dan memasang kuda-kuda untuk lari keluar dari tempat ini, seketika lampu yang tadinya padam sekarang dengan serempak menyala dengan terangnya, di tambah dengan banyaknya bunga mawar putih dan balon hitam putih yang berhamburan di lantai dan juga di langit-langit atap ku lihat. Lalu beberapa detik kemudian terdengar suara petikan gitar yang merdu. Dengan sigap aku membalikkan badanku. Aku terkejut bukan main.


🎶🎶🎶🎶🎶🎶


Waktu pertama kali

__ADS_1


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar


Suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak kusangka


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Hari-hari berganti


Kini cinta pun hadir


Melihatmu, memandangmu bagai bidadari


Lentik indah matamu


Manis senyum bibirmu


Hitam panjang rambutmu anggun terikat


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Oh-ho huu


Terimalah lagu ini


Hm-mm


Dari orang biasa


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Terimalah cintaku yang luar biasa


Hm-mm


Tulus padamu


🎶🎶🎶🎶🎶


"Mas Juan!" Mataku kini mulai berkaca-kaca, begitu takjub dan tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini, seolah-olah semua ini hanyalah mimpi. Aku benar-benar terharu sekaligus bahagia. Tanpa menyadari banyaknya orang di sekitar ku saat ini, aku langsung berlari ke arahnya dan memeluknya dengan sangat erat.


"Selamat ulang tahun sayang!" Ucapnya sambil membalas pelukanku dengan tak kalah eratnya.

__ADS_1


Huaaaa... Tumpah sudah seluruh air mata yang ku tahan sejak tadi. Tak peduli berapa banyak pasang mata yang menatap kami, yang jelas aku hanya ingin memeluknya saat ini, memeluknya dengan sangat erat, memastikan bahwa laki-laki yang ada dalam pelukan ku saat ini adalah lelaki ku, belahan jiwaku.


❤️❤️❤️


__ADS_2