Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Buat Pak Juan Jatuh Cinta?!


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Ahhhhhh". Aku menggeliatkan tubuhku, ku regangkan tanganku ke atas sesaat setelah aku bangun dari baringan nyamanku sambil ku sunggingkan senyum di ekor bibirku yang sedari tadi tidak bisa ku tahan.


"Tuk tuk tuk".


Ku lihat sekilas ke arah jendela, ada bayangan samar-samar mungil di balik kaca jendela kamarku.


"Pagi". Sapaku pada burung lucu mungil di balik jendela itu setelah ku singkap gorden yang menutupinya. Ku jongkok kan sedikit tubuhku agar menyamai posisinya.


"Cantik banget". Ujarku ketika melihat corak warna yang ada di tubuh burung itu. Dia terus mengetuk-ngetuk kaca jendela kamarku.


"Ketuklah sepuasmu". Ucapku dengan senyuman yang mengembang sebelum beranjak menuju kamar mandi.


Setelah puas dengan ritual setiap pagiku di kamar mandi aku kembali berjalan ke kamarku. Ku kenakan seragam yang sudah bergantung di balik pintu kamarku yang sebelumnya sudah ku siapkan sebelum mandi. Ku poles sedikit wajah pucat ku dengan bedak dan tak lupa ku olesi sedikit bibirku dengan liptint setipis mungkin.


"Hei, apa kamu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia mu?!". Ujarku berbicara sendiri menatap kearah cermin kala melihat senyuman yang selalu mengembang dibibirku dengan memperlihatkan gigi putih bersih yang tertata rapi di dalam sana. Ku ketuk-ketuk gemas bayanganku sesaat sebelum aku beranjak menuju dapur.


~


"Woi".


Aku terperanjat kaget karna Kania tiba-tiba saja merangkul pundakku dari arah belakang.


"Lo tu hobi banget si ngagetin orang". Protesku.


"Hehehe sorry sorry". Kekehnya, lalu menyeimbangkan langkah kakinya denganku. Kami berjalan bersama melewati koridor sekolah menuju kelas.


Teng teng teng


Jam pertama di mulai.


Anak-anak yang tadinya berhamburan duduk di sembarang tempat ketika mendengar lonceng berbunyi mereka dengan cepat kembali duduk ke kursi masing-masing begitu juga denganku dan Kania.


Pelajaran pertama dimulai dengan matematika yang di ajarkan oleh pak Tono, beliau adalah guru yang santai dan asik. Banyak murid yang menyukai pelajarannya. Beliau mengajar dengan cara yang unik sehingga kami selalu menikmati dan cepat paham dengan apa yang di ajarkan oleh beliau.


Ditengah-tengah pembelajaran yang sedang berlangsung, tiba-tiba saja tinta spidol yang digunakan oleh pak Tono habis.


"Ada yang lagi berbaik hati ngga nih, ngambilin spidol di meja bapak?". Tanyanya pada kami semua.


"Kebetulan nih, heheh". Seringai ku.


Aku segera mengangkat tanganku ke atas.


"Saya pak, kebetulan Riri juga mau ke toilet. Hehe". Ujarku beralasan, padahal sedang ada udang dibalik bakwan. 😌


"OK, 2 ya Ri". Pintanya.


"Siaappp". Sahutku, lalu segera beranjak dari kursiku.

__ADS_1


Pak Tono memang menyuruh kami untuk menganggap nya seperti teman, boleh berbicara santai tapi juga masih dalam batas sopan. Beliau adalah salah satu guru favorit di sekolahku.


~


Aku melambatkan langkah kakiku ketika akan melewati kantor pak Juan. Ku lirik sekilas melalui ekor mataku.


"Eh, ngga ada? kemana ya? apalagi ngajar?". Ujarku berbicara sendiri.


"Padahal lagi pengen liat mukanya?!". Aku mengerucutkan sedikit ujung bibirku, ada sedikit rasa kecewa dihatiku. Entah kenapa aku merasa sangat merindukannya, apalagi ketika mengingat pembicaraan orangtuaku tadi malam.


Flashback on


Kedua orangtuaku berbincang-bincang berdua setelah aku pamit untuk pergi tidur. Tapi tanpa sepengetahuan mereka aku menguping dibalik dinding yang tak jauh dari mereka, sehingga pembicaraan mereka bisa ku dengar dengan jelas.


"Jadi bagaimana menurut ibu? Jika kita menjodohkan Riri dengan Juan, anak sahabatku itu?!"


"Apa? Menjodohkan? Aku? Dengan pak Juan?". 😱 Aku terkejut bukan main. Segera ku tutup mulutku yang ternganga agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


"Ibu sih tidak keberatan yah. Tapi, apa Riri bersedia?".


Kulihat ayahku berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan ibuku.


"Masalah itu ayah bisa yakinkan Riri bu". Jawab ayahku.


"Ayah ngga usah repot-repot mencoba meyakinkan Riri yah". Batinku sambil mesem-mesem menguping pembicaraan mereka.


"Tapi, Riri kan belum lulus yah? Bagaimana dengan sekolahnya?".


"Tapi yah, ibu sedikit khawatir". Kata ibuku tiba-tiba.


"Apa yang ibu khawatirkan?".


"Mereka kan dari kalangan yang berbeda dari kita, meskipun dia adalah sahabat ayah tetap saja posisi kita berbeda jauh dengannya. Adi dan istrinya mungkin bisa menerima kita dengan baik, tapi bagaimana dengan keluarganya? apa yang akan mereka pikirkan nanti tentang anak kita? ibu khawatir yah. Ibu tidak ingin anak kita jadi gunjingan mereka dan akhirnya malah menyakiti hatinya". Kulihat nanar ekspresi wajah ibuku, dia terlihat cemas.


"Bu, ayah yakin semuanya akan baik-baik saja. Dan mereka bisa menerima Riri dengan baik". Ujar ayahku berusaha meyakinkan ibuku.


"Tapi, bagaimana dengan nak Juan. Apa dia juga bersedia dijodohkan?".


Deg


Aku baru menyadarinya, bagaimana dengan pak Juan. Yang awalnya aku sangat bersemangat dan senang mendengar tentang aku yang akan dijodohkan dengan pak Juan, seketika raut wajahku berubah jadi cemas.


"Melihat dari sikapnya padaku, apa dia bersedia jika dijodohkan denganku?!".


Flashback off


"Huft". Aku menghela napasku lagi.


Teng teng teng

__ADS_1


"Lo tu aneh tau ngga si, sebentar-sebentar senyum-senyum sendiri sebentar-sebentar manyun. Ngga ngerti gue". Kania menggeleng-gelengkan kepalanya ketika kami sudah berada di depan gerbang sekolah menunggu jemputan.


"Gue mau dijodohin sama pak Juan Kan". Ucapku datar.


"HAH". Pekik Kania. Aku menutup kupingku kala suaranya terdengar memekakkan di kupingku.


"Lo becanda?". Tanyanya menatap mataku intens.


"Emang muka gue keliatan becanda?". Ujarku membalas tatapan matanya intens tanpa ekspresi.


Kania memundurkan wajahnya lalu menutup mulutnya yang menganga.


"Aaaaaa". Teriaknya sambil menggoyang-goyangkan tubuhku. Sedangkan aku masih terlihat lesu dengan ekspresi datar.


"Ih, ngga nyangka banget gue. Sahabat gue bisa sehebat ini. Pertama kalinya ngerasain jatuh cinta langsung di restui oleh Tuhan semesta alam. Gilaaaaa... respect". Ujar Kania bersemangat sambil menyematkan kedua jempolnya kehadapan ku.


Aku yang di puji-puji masih terdiam melamun dengan tatapan kosong.


"Eh, tapi kok lo keliatan ngga seneng si? Bukannya ini yang lo harap-harap in. Lo bukan cuma sekedar jadi pacarnya tapi juga bakalan jadi istrinya".


"Gue sih seneng". Ujarku datar.


"Seneng apaan? Ekspresinya begini?". Ucap Kania.


Aku menatap intens mata Kania.


"Jujur gue seneng banget Kan, waktu denger mereka mau jodohin gue sama pak Juan. Tapi.. " Ujarku menggantung.


"Tapi?". Kania mengerutkan keningnya.


"Lo liat sendiri kan gimana sikap pak Juan tiap berhadapan sama gue. Apa dia kelihatan akan bersedia dijodohin sama gue?!". Ujarku tertunduk lesu.


"Yaelah Ri. Dengerin gue". Kani menarik badanku agar menghadap kearahnya.


"Riri yang gue kenal itu orangnya ngga mudah putus asa, dan apa yang lo mau lo bakalan berusaha mati-matian untuk dapetin itu selagi itu baik dan bikin lo bahagia".


"Tapi gimana kalo pak Juan yang ngga bahagia sama gue, gue juga ngga mau bahagia diatas penderitaan orang".


"Buat dia jatuh cinta sama lo". Ujar Kania.


"Buat pak Juan jatuh cinta sama gue?".


Kania mengangguk-anggukkan kepalanya cepat.


"Buat pak Juan jatuh cinta sama gue?!". Batinku.


"Tapi gimana caranya?!".


❤️❤️❤️

__ADS_1


Enjoy for reading guys 😘


__ADS_2