Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Juan POV XV


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Ada yang perlu saya bantu Pak?"


"Ah, tidak ada, saya hanya ingin melihat proses pemotretan hari ini."


"Oh begitu, iya. Sebentar lagi selesai Pak."


"Lanjutkan saja pekerjaan Bu Tania, jangan khawatirkan saya. Saya hanya ingin melihat."


"Yasudah, kalau begitu. Saya tinggal dulu pak!" Ucap Bu Tania, sebelum pergi meninggalkan ku.


Aku hanya membalas ucapannya dengan anggukan.


Dengan bersidekap, aku terus memperhatikan wanita di depanku yang saat ini tengah sibuk dan menikmati pemotretan hari ini. Terlihat dari senyumannya yang sumringah.


"Cantik sekali!" Batinku, seraya tersenyum melihatnya yang sibuk berpose. Dia mungkin tidak menyadari kehadiranku saat ini.


Ok, nice Ri!"


Cekrek..


"Angkat dagu Lo sedikit, Ok.. good!"


Cekrek..


"Buat diri Lo se rileks mungkin, tatap bunganya seolah itu sumber kebahagiaan Lo.."


Cekrek..


"Good!"


Cekrek..


Cekrek..


"Ok, next outfit!"


Ku lihat dia berjalan pergi menuju sebuah ruangan yang tak jauh dari ruang foto saat ini di ikuti oleh 2 orang wanita. Mungkin dia ingin mengganti pakaiannya.


Dan tak jauh dari tempatku berdiri, tampaknya Dennis sedang memeriksa hasil jepretannya bersama Bu Tania di layar komputer yang tersedia di studio ini.


"Saya rasa ini sangat bagus!"


"Iya, saya juga sangat menyukainya. Tambahkan ini dan ini."


"Den!" Panggilku, yang seketika membuatnya langsung berbalik.


"Kak Juan? Lo ngapain disini?"


"Gue cuma mau lihat pemotretan hari ini." Balasku, yang kemudian ikut melihat hasil fotonya dilayar komputer.


"Mau lihat pemotretan atau subjek fotonya?" Goda Dennis, dengan berbisik di telingaku.


"Berisik Lo!"


"Eh tunggu, Pak Juan dan Dennis saling mengenal?" Tanya Bu Tania.


"Ah iya, Bu Tania. Pak Juan ini adalah kakak sepupu saya!" Sahut Dennis dengan merangkulku.


"Oh ya? Wah, pantesan!"


"Pantesan? Pantesan kenapa Bu?" Tanya Dennis.


"Pantesan sama-sama ganteng. Hahaha.."


"A..hahahaha.. Bu Tania bisa aja. Tapi, emang bener sih Bu. Kami emang ganteng. Hahaha.." Kelakar Dennis.


"Den!" Aku menatapnya dengan tajam.


"Ah, Riri mana ya? Apa masih belum selesai ganti bajunya?" Ujarnya yang jelas-jelas menghindari tatapan ku.

__ADS_1


"Nah itu dia! Ri, wow.. Lo bener-bener.."


"Cantik banget!" Batinku, aku terus menatapnya tanpa berkedip.


Sesaat tatapanku bertemu dengannya, dia seakan terkejut melihatku disini. Dengan senyuman mengembang, aku berjalan ke arahnya.


"Mas Juan? Mas ngapain disini?" Tanya nya, dengan suara berbisik.


"Untuk bertemu istriku." Ujarku tersenyum.


"Kamu cantik sekali sayang!" Sambungku, dengan suara yang sangat pelan, sehingga hanya Riri yang bisa mendengar perkataan ku saat ini.


Sesaat kulihat pipinya bersemu merah setelah mendengar ucapanku.


"Kalian bener-bener buat gue pengen muntah ya. Udah, Lo minggir dulu kak, gimana pemotretannya mau selesai kalo Lo berdiri disini."


"Lo sendiri, ngapain berdiri disini?"


"Lah, gue kan mau ngarahin Riri. Kan gue fotografernya?"


"Oh!"


"Ah oh ah oh, udah sana-sana. Ngalang-ngalangin aja Lo kak."


"Apa Lo bilang?"


"Eh, ngga. Maksud gue Lo berdiri disana dulu. Gue mau lanjut pemotretan lagi nih. Lo pengen semua orang di ruangan ini curiga dan tau soal hubungan Lo sama Riri? Tuh, coba Lo lihat, mereka liatin kita." Ucap Dennis, dengan cepat aku membalikkan badan dan melihat orang-orang disekitar. Mereka menatap heran padaku, Riri dan juga Dennis.


"Ehm.." Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung berjalan menjauh dari Riri dan juga Dennis sebelum semua orang di ruangan ini semakin curiga.


Kini aku berdiri tepat di depan layar komputer, sambil melihat hasil fotonya.


Ku lihat Dennis yang mengarahkan beberapa pose untuk Riri.


"Apa-apaan dia? Apa dia sudah bosan hidup?" Batinku, sambil terus memperhatikan tangan bocah tengik itu yang sesekali menyentuh istriku.


Mulanya dia hanya menyentuh tangan Riri, lalu membenarkan posisi kepalanya dengan menyentuh wajahnya, kemudian kedua bahunya.


Semakin di perhatikan, semakin membuatku jengkel. Berani-beraninya dia menyentuh istriku di hadapanku.


"Ah, iya. Kenapa Pak?" Tanya Bu Tania yang tiba-tiba sontak membuatku sedikit terperanjat.


"A.. tidak, tidak ada apa-apa Bu!"


"Tapi wajah Pak Juan sepertinya sedang tidak sehat?"


"Ah, tidak. Saya tidak apa-apa."


"Benarkah? Tapi wajah Pak Juan terlihat sedikit merah? Bapak yakin, kalau Bapak tidak kenapa-kenapa?"


"Iya Bu Tania, saya baik-baik saja!"


Setelah kurang lebih 10 menit, akhirnya pemotretan berakhir.


Tidak terasa, hari sudah semakin siang. Sebelum melanjutkan aktivitas selanjutnya, yaitu membuat videografi. Aku menyarankan untuk makan siang terlebih dahulu.


Saat ini kami sedang berada di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari studio. Aku mengajak Riri, Dennis, Bu Tania serta staff lainnya untuk makan disini.


"Terimakasih traktirannya Pak!" Ucap para staff.


"Iya, selamat menikmati!" Jawabku.


Aku sedikit merasa kesal, karna sekarang Bu Tania duduk disampingku bukannya Riri. Rencananya tadi aku hanya ingin mengajak Riri untuk makan siang denganku, tapi dia malah meminta untuk mentraktir semuanya. Sebenarnya aku tidak keberatan untuk mentraktir mereka semua, hanya saja aku ingin makan berdua saja dengannya. 😔


"Oh iya, saya dengar kalian pacaran dan sekarang sudah putus ya?" Ucap Bu Tania tiba-tiba.


"Tapi kalian dengan santainya bekerjasama dan duduk bersebelahan makan siang seperti ini? Apa kalian tidak canggung?" Sambungnya.


"Ahahahaha.. kami kan orangnya memiliki pemikiran yang luas. Apa salahnya makan dan juga bekerjasama meskipun sudah putus? Kami kan masih bisa berteman, iya kan Ri?"


Seketika aku membelalak kaget melihatnya yang dengan tidak tau malunya merangkul istriku di depanku.

__ADS_1


"Awas Lo nanti Den! Tamat riwayat Lo!" Batinku seraya mengepalkan tanganku.


✉️ "SINGKIRIN TANGAN LO! SEBELUM GUE TUSUK TANGAN LO YANG NGGA TAU DIRI ITU PAKAI GARPU!"


Send


Ku lihat Dennis langsung memeriksa hpnya setelah mendengar bunyi pesan masuk dari hpnya.


✉️ "Ngga mau :p"


"Kurang ajar ya Lo Den!" Batinku, aku semakin geram setelah melihat pesannya, dan dia kembali merangkul Riri.


"Wah, open minded sekali ya kalian. Padahal kalian cocok loh, kenapa putus?"


"Kenapa ya Ri?" Tanya Dennis sambil menatap Riri.


"Hehhe, ngga tau. Mungkin bukan jodohnya. Hahaha.." Sahut Riri.


"Tapi, soal jodoh kita ngga tau sih. Siapa tau nanti kita bisa balikan lagi. Ya kan Ri?"


"Bener-bener bosen hidup ya Lo Den! 👿"


Bug..


Aku menendang kaki Dennis cukup keras di bawah meja makan kami saat ini.


"Aduh!" Pekiknya.


"Kenapa?"


"Kenapa Den?"


"Ah, ngga-ngga. Mungkin ada kucing pencemburu yang ngga sengaja nubruk kaki gue Ri."


"Kucing?"


______________


"Mas, kalian tadi ngapain aja di toilet? Kenapa pas keluar dari toilet jidatnya Dennis keliatan memar dan bengkak?"


"Mungkin ngga sengaja di tampol sama kucing pencemburu."


"Mas ih, Riri serius!"


"Aku juga serius!"


"Mas mukul dia kan?"


"Hah? kamu pikir aku ini hobinya mukulin orang apa?"


"Iya!" Sahutnya enteng.


"A..apa?"


"Udah deh mas, ngaku aja. Kamu pukul Dennis kan? Mas, kenapa sih tega banget sama adek sendiri, meskipun mas cemburu, tapi apa harus kayak begitu? Mas juga tau kan, Dennis itu cuma becanda, dia cuma isengin mas. Riri bener-bener ngga nyangka, ternyata mas Juan sekasar ini."


"Hah, kamu ngomong apa sih? Meskipun aku sangat ingin memukulnya tadi, tapi aku ngga mukul dia sayang. Dia..."


"Ah udahlah, Riri mau turun disini! Riri kecewa sama mas." Ujarnya seraya melepaskan seatbelt pada tubuhnya.


"Sayang, aku benar-benar ngga mukul Dennis. Aku ngga boong."


"Mas, Riri bilang Riri mau turun. Minggir sekarang ngga? Kalo ngga Riri lompat nih?"


"Iya iya, bentar-bentar.."


Seketika aku langsung menepikan mobilku.


Setelah mobil berhenti, dia langsung membuka pintu dan keluar dari mobil.


"Sayang, kamu mau kemana?" Dia mengabaikan pertanyaan ku, tanpa menoleh ke arahku dia terus berjalan meninggalkan ku.

__ADS_1


"Sayang?"


❤️❤️❤️


__ADS_2