
❤️❤️❤️
2 bulan sudah berlalu setelah aku memberikan jawaban atas pengakuan Jaka waktu itu. Aku sebenarnya tidak ingin menyakiti hatinya, tapi aku juga tidak ingin membohonginya, karna dia pasti akan semakin terluka jika tau kebohongan ku, jadi aku memutuskan untuk memberitahukan yang sebenarnya padanya hari itu.
"Oi!" Ujar Gandhi yang mengagetkan ku dan Kania yang tengah asik menyantap makan siang kami di kantin sekolah.
"Lo mau nyobain bogeman gue ngga?" Ucap Kania yang merasa kesal.
"Ehehehe, sorry. Gue cuma mau ikut numpang duduk, kalian liat aja noh, meja lain udah penuh." Tambahnya.
"Eh, kalian pada ngerasa ngga? Beberapa minggu ini Jaka keliatan aneh banget, dia lebih sering menyendiri. Ngga kayak biasanya. Hm, Ri kalo gue boleh tanya, apa ini ada hubungannya sama Lo?"
"Eh, ituuu..."
"Temen Lo yang aneh malah nyalahin temen gue." Tandas Kania.
"Bukannya gue nyalahin, kan gue cuma nanya. Apa sikapnya yang berubah itu ada hubungannya sama Riri. Oh iya Ri, gue baru inget. Lo udah kasih jawaban ke dia?"
"Iya juga ya, kok gue bisa lupa. Lo udah kasih jawaban?" Timpal Kania.
"Emm itu, gue udah kasih jawaban 2 bulan yang lalu."
"Kok Lo ngga bilang sih." Ujar Kania.
"Kan Lo ngga nanya."
"Yaelah, namanya juga kelupaan. Jadi gimana?" Sambung Kania.
"Iya, gimana Ri? Meskipun gue tau jawaban Lo. Tapi gue pengen tau, dan juga gimana responnya Jaka?"
2 bulan yang lalu
Flashback on
Tepat setelah sepulang sekolah, aku mengajak Jaka bertemu di cafe diseberang sekolah kami.
Dan sebelumnya aku juga sudah meminta izin dari mas Juan, kalau aku akan bertemu Jaka sepulang sekolah. Dia memang mengizinkannya, asal dengan syarat, bahwa dia juga akan ikut bersamaku. Mau tidak mau, dan aku juga tidak ingin berdebat dengannya, akhirnya aku mengijinkan, asalkan dia duduk ditempat yang berbeda, awalnya dia memang menolak, tetapi setelah ku beri sedikit pengertian akhirnya dia menyetujuinya, karna aku juga tidak ingin membuat Jaka tidak nyaman kalau dia melihatku bersama mas Juan secara langsung.
Sekitar jam 16.20, kulihat Jaka yang memasuki pintu cafe dengan melempar senyum ke arahku. Tentu saja aku membalas senyumannya itu, meskipun dengan senyuman harap-harap cemas.
"Udah lama ya nunggunya?" Seru Jaka, seraya menarik kursi kosong yang ada di depanku.
"Ngga kok, gue juga baru sampe. Oiya mau pesen apa?" Tanyaku.
"Gue, cappucino aja deh."
"Ok."
"Mba?" Ujarku memanggil salah satu pelayan cafe.
"Saya pesan cappucinonya 1, sama lemon teanya 1 ya?"
"Baik, tunggu sebentar ya mbak." Balasnya seraya tersenyum sopan ke arahku.
Sambil menunggu minuman kami datang, aku mencoba untuk mencairkan suasana dengan mengajak Jaka sedikit berbincang, sebelum aku mengutarakan niatku yang sebenarnya untuk mengajaknya bertemu disini.
"Ngga kerasa ya, dikit lagi kita lulus." Ujarku yang memulai percakapan.
"Iya ya? Perasaan baru kemaren kita MOS, eh sekarang udah mau lulus aja." Balasnya.
"Oiya, Lo nanti mau lanjut kuliah dimana?" Sambungnya.
"Belum tau nih, gue bingung. Kalo Lo mau kuliah dimana?"
__ADS_1
"Gue sih maunya di xxx, tapi ngga tau deh, gue bisa masuk kesana apa ngga, gue kan ngga pinter-pinter amat orangnya, hahaha.." Tandasnya seraya tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Ah Lo mah, orangnya suka merendah. Lo kan termasuk siswa yang pinter di sekolah kita, ngga kayak gue. Hehhe.." Balasku, sambil terkekeh malu.
"Ini capuccino dan lemon teanya, silahkan menikmati." Ujar pelayan cafe sembari menyodorkan minuman kearah kami, di tengah-tengah perbincangan ku dan Jaka.
"Terimakasih mbak!" Ucapku dan Jaka berbarengan.
Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung menyeruput minumanku, karna jujur rasanya sekarang aku semakin gugup, bahkan sudah keluar keringat dingin di dahi dan juga telapak tanganku.
"Bagaimana aku harus memulainya?" Batinku, dengan perasaan yang cemas.
Drt.. drt..
Seketika aku terperanjat mendengar hp ku yang bergetar di atas meja.
"Mas Juan?" Batinku, ketika melihat siapa yang menelpon ku saat ini.
"Angkat aja!" Ujar Jaka yang membuyarkan lamunanku.
"Eh, i..iya. Kalo gitu, gue angkat telpon dulu ya?"
"Ok!"
Segera setelah mendapat persetujuan, aku langsung berjalan keluar cafe untuk mengangkat telpon.
"Halo mas!"
"Kapan kamu bilangnya? Kamu takut?"
"Riri takut nyakitin dia mas, karna gimanapun juga, dia adalah salah satu teman terbaik Riri." Sahutku, dengan nada yang melemah.
"Apa perlu ku bantu?"
"Yasudah, cepatlah. Hari sudah semakin sore."
"Iyaa!"
Tut.. Tut..
Setelah menarik napas panjang sekali, akhirnya aku kembali memberanikan diriku.
Dengan langkah yang pasti, aku kembali masuk berjalan kedalam cafe. Dan langsung duduk di kursi ku.
Aku kembali menarik napas panjang, sebelum mengatakan apa yang ingin ku katakan pada lawan bicara didepanku saat ini.
"Jak, gu.."
"Ri!" Ujarnya yang tiba-tiba memotong ucapanku.
"Eh, i..iya?"
"Gue udah tau semuanya!" Ucapnya seraya menyunggingkan senyum.
"Eh, ma..maksud Lo, tau.. soal apa?" Tanyaku bingung.
"Soal Lo yang sudah menikah sama Pak Juan."
"Uhuk..uhuk.." Tiba-tiba aku tersedak mendengar perkataannya.
"Eh, ini. Minum dulu, minum dulu." Ujarnya seraya memberikan ku segelas air putih.
Glek glek glek
__ADS_1
Aku langsung menenggak habis minuman yang diberikan olehnya.
"Kebiasaan Lo dari dulu emang ngga pernah berubah ya." Sambungnya sembari tersenyum ke arahku.
"Eh.. eng. Se..sejak kapan Lo tau semuanya?" Ujarku yang memilih memberinya pertanyaan dibanding menjawab ucapannya barusan.
"Di hari yang sama, ketika Gandhi dan Sherly tau kebenarannya."
"Eh, ja..jadi.."
"Iya, gue juga denger. Tapi, karna gue terlalu pengecut, gue ngga berani masuk kedalam kelas waktu itu, gue cuma berani denger percakapan kalian dari balik pintu." Ucapnya sambil tersenyum.
"Jak?" Aku benar-benar merasa tak enak hati dengannya.
"Awalnya gue emang kecewa, tapi setelah liat Lo sekarang, yang berusaha buat mengakui semuanya sama gue langsung. Se enggaknya gue ngerasa, kalo gue juga penting buat Lo, setidaknya sebagai teman."
"Jak, gue minta maaf. Sebenernya gue pengen kasih tau Lo semuanya dari awal, tapi gue.."
"It's Ok, sekarang gue juga berusaha untuk ngelupain Lo kok, meskipun ngga gampang. Btw, sebenarnya.. kalo di pikir-pikir Lo nanti bakalan nyesel nolak gue. Dibanding Pak Juan, kayaknya gue jauh lebih baik dari dia. Hahaha.."
"Dasar Lo! Hahaha.."
"Kepedean sekali kamu!" Ujar sebuah suara yang tiba-tiba datang mengejutkan kami.
"Pak Juan?"
"Mas Juan?"
Flashback off
"What? Jadi dia udah tau dari dulu? Kok dia ngga cerita apa-apa ya sama gue?" Tandas Gandhi.
"Ternyata Jaka gentleman juga!" Seru Kania.
"Temen gue mah emang gentle."
"Iya, temen Lo doang, Lo nya ngga!" Ejek Kania.
"Apa Lo bilang?"
"Udah dong, kalian tuh berantem mulu. Ngga capek apa?" Ujarku meninggikan suara.
"Iya, maaf!" Ucap mereka bersamaan.
"Tapi, kalo dia baik-baik aja. Kok sekarang dia kayak menyendiri gitu sih?" Sambung Gandhi.
"Oh, waktu itu dia bilang. Mau fokus belajar, biar bisa masuk ke universitas yang dia incer."
"Gitu doang?" Tanya Gandhi lagi, yang seakan tidak percaya dengan ucapanku.
"Iya, emang maunya Lo gimana?" Balasku.
"Ngga, bukan gitu. Kok dia ngga bilang sama sekali sih sama gue. Padahal gue selalu cerita apapun ke dia."
"Salah Lo sendiri ngga nanya." Jawabku.
"Wah, dasar itu anak. Gue berasa di khianati!" Ujar Gandhi yang merasa tak terima, langsung bangun dari posisinya.
"Mau kemana Lo?"
"Mau membalaskan sakit hati gue!" Teriaknya.
"Dasar itu anak!"
__ADS_1
❤️❤️❤️