Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Happy Birthday!


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Ehm.. Ehm.. Ehm.. Pelukan aja terosss!"


"Iya nih, masa kita dicuekin?"


Ucap seseorang yang mengejutkan ku.


"Dennis? Ibu? Ayah?" Ucapku terkejut yang melihat mereka semua berkumpul sekarang.


"Kok kalian bisa ada disini?"


Tiba-tiba sekali lagi suara nyanyian seseorang yang muncul dari arah belakang membuatku terkejut, dia membawa 1 buah kue yang cantik berukuran cukup besar lengkap dengan lilin berbentuk angka 19 tertancap di atasnya. Terlebih lagi, ternyata orang yang membawanya adalah kak Reina.


Happy birthday to you..


Happy birthday to you..


"Kak Reina?" Ujarku membelalak kaget.


Happy birthday.. Happy birthday..


Happy birthday to you..


Tiup lilinnya.. Tiup lilinnya..


Tiup lilinnya sekarang juga.. Sekarang juga.. Sekarang juga..


Saking terkejut dan terharunya, aku bahkan mengatupkan kedua tangan pada mulutku seraya meneteskan air mata.


"Aduduh.. Kok nangis sih? Ditiup dulu dong lilinnya! Udah hampir meleleh loh?"


"Ah, iya." Ujarku sembari menghapus air mata, lalu dengan cepat meniup lilinnya hingga padam.


"Yeaayyyyyy..." Sorak mereka semua seraya bertepuk tangan.


"Selamat ulang tahun sayang!" Ucap Ibuku.


"Ibu!" Tanpa ba bi bu lagi, aku langsung menghambur peluk ke arahnya.


"Jadi pribadi yang lebih baik lagi ya sayang, dan juga jadilah istri yang baik untuk suamimu!" Sambung Ibuku, sambil membelai belakangku dan tak lupa mencium pucuk kepalaku.


"Ehm.." Hanya kata itu yang bisa ku ucapkan, aku terus memeluk ibuku dengan erat dibarengi dengan air mata yang terus mengalir.


"Aduh, di hari bahagianya kok nangis sih."


Begitu mendengar suara Ayahku, aku langsung beralih padanya, dan memeluknya erat.


"Ayah!"


"Anak kecil Ayah sudah semakin dewasa. Panjang umur, sehat selalu, dan bahagia selalu ya sayang." Ucap Ayahku lalu kemudian mencium pucuk kepalaku dengan lembut.


"Terimakasih Yah!" Lirihku dengan suara yang parau.


Setelah selesai dengan Ayah, lalu aku menghambur peluk pada kedua mertuaku secara bergantian. Mereka mendoakan hal yang sama, yaitu untuk kebahagiaan ku, masa depan karirku hingga kehidupan pernikahan ku. Sekali lagi aku merasa bahagia, karna orang-orang terkasihku sekarang berkumpul untuk merayakan hari bahagia ku. Bahkan aku tak henti-hentinya meneteskan air mata saking bahagia dan terharunya.


Ditengah rasa terharu dan bahagia ku, aku baru menyadari laki-laki yang tadinya berdiri di sampingku, kini tak ada.


"Mas Juan?" Aku celingukan mencari sosoknya di setiap sudut. Saat aku memutar badanku betapa terkejutnya aku, dari arah kejauhan terlihat boneka beruang yang berukuran sangat besar dengan sebuket mawar merah yang besar pula di tangannya, seakan berjalan ke arahku. Bahkan saking besarnya boneka itu, ia menutupi seseorang yang sedang membawanya, seolah-olah ia berjalan sendiri.




"Apa kamu menyukaiku?" Ucap seseorang dari belakang boneka, dengan nada selucu mungkin, yang bisa dikatakan mirip dengan suara kartun.


"Iya, Riri suka banget!" Ujarku gembira yang langsung memeluk boneka teddy bear berukuran besar itu.


"Bagaimana dengan orang yang membawanya?" Ujarnya lagi, yang kini menampakkan sosoknya.


"Mas Juan?"


"Selamat ulang tahun istriku!" Ucapnya sambil membelai dan mengecup lembut pucuk kepalaku seraya menyodorkan sebuket bunga mawar berukuran besar yang dibawanya.

__ADS_1


"Terimakasih mas!" Balasku dengan senyuman yang sumringah.


"Oh iya, gue belum ngucapin selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun ya kakak ipar!" Ujar Dennis sembari merentangkan tangannya ke arahku, tapi usahanya gagal ketika laki-laki yang di sampingku saat ini menahannya dengan telapak tangan besarnya yang dia letakkan tepat di jidat Dennis.


"Mau ngapain Lo?" Tanya mas Juan.


"Ya mau ngasih selamat lah buat kakak ipar. Kan dia ulang tahun." Balas Dennis dengan polosnya.


"Itu tangan di rentangin mau ngapain?"


"Meluk! Sama kayak yang lain, abis kasih selamat kan di peluk."


"Lo mau tiduran dirumah sakit sekarang?" Ujar mas Juan seraya mendorong Dennis dengan telapak tangannya cukup kuat hingga membuat Dennis hampir terjatuh.


"Kak, Lo kejam banget si sama adek sendiri?" Pekiknya sembari mengelus dahinya yang mungkin sakit gara-gara mas Juan mendorongnya cukup keras.


"Bodo amat!" Sahut mas Juan lalu merangkul ku.


"Mas!" Ucapku pelan sambil menepuk pelan dadanya.


"Hahahahahahaha..."


"Kalian itu ada-ada aja."


-


"Jadi, ini semua rencana kalian?"


"Lebih tepatnya rencana dia nih!" Sahut kak Reina mendelik ke arah mas Juan.


"Mas ih, kok tega banget sih!" Sungutku.


"Iya, niat banget tuh si Juan. Ibu sama Ayah aja disuruh ikutan akting. Ya ngga Yah?" Timpal Bu Nala.


"Iya!"


"Hehehe, iya maaf. Kan aku mau kasih kejutan yang tidak terlupakan untuk kamu."


"Iya, SANGAT TIDAK TERLUPAKAN!" Ujarku dengan penuh penekanan.


"Iya, buktinya Riri kemaren dirumah Kania sampe sesenggukan Pak nangisnya, saking suksesnya." Ujar Kania yang tiba-tiba seketika membuat ku malu.


"Kania!" Pekik ku.


"Hah? Bener sayang? Berarti kamu cinta banget ya sama aku, saking takutnya kehilangan gitu?"


"Mas Juaaaaannnnn!"


"Ahahahahahhahaha..."


_____________


Waktu terus berjalan, setelah acara perayaan ulang tahunku selesai yang di akhiri dengan acara makan malam keluarga serta teman-teman. Akhirnya kami pulang, karna hari sudah menunjukkan jam setengah 2 malam. Dengan hati yang gembira dengan senyuman yang terus mengembang, aku memeluk boneka beruang besar ku menaiki anak tangga menuju kamar.


"Mas, tolong bukain pintunya dong?" Pintaku, karna aku sedang membawa boneka besarku, jadi sulit untuk ku membuka pintu.


Mas Juan yang mengerti pun, akhirnya membukakan pintu untuk ku.


"Terimakasih!" Ujarku seraya tersenyum.


"Senyum-senyum aja dari tadi?" Ucap mas Juan.


"Iya dong, gimana ngga senyum. Hari ini tuh bener-bener hari yang saaaaaaaangat membahagiakan." Sahutku, sambil membanting tubuhku ke atas tempat tidur.


"Mau tambah bahagia lagi ngga?"


"Mau!" Jawabku antusias.


"Yaudah, kita proses bikin dedek lagi yok!" Ujarnya dengan senyuman nakalnya sambil menggerakkan jarinya perlahan masuk kedalam baju yang ku kenakan.


"Mas ih!"


"Kenapa? Libur lagi malam ini?" Tanya nya dengan wajah yang cemberut sembari perlahan menarik keluar tangannya.

__ADS_1


"Cepetan! Jangan pake lama!" Rengekku, sambil mengalungkan tanganku pada lehernya.


"Kamu ya? Sudah mulai nakal!"


"Hahahahahaha..."


"Yaudah ayok, gaspuoll.. Ini lagi ngapaian? Ngalang-ngalangin aja!" Sambungnya yang kemudian melempar asal boneka beruangku ke lantai.


"Mas ih, kasian tau!"


"Salah sendiri ngalang-ngalangin!"


"Hahahahaha.."


_____________


Pagi ini aku bangun terlebih dahulu dari mas Juan. Tapi aku belum berniat untuk mandi, aku masih berbaring dalam pelukannya. Aku mendongakkan kepalaku seraya tersenyum melihatnya yang masih tertidur pulas.


"Terimakasih sayang!" Ucapku pelan seraya mengecup pipinya lembut.


Aku terus memandangi wajahnya, bahkan sedang terlelap seperti inipun tak mengurangi kadar ketampanannya. Aku merasa, bahwa akulah wanita paling beruntung di dunia karna bisa mendapatkannya seutuhnya.


Tak berapa lama kemudian, aku merasakan ada benda yang tiba-tiba bangun menyentuh kulitku. Aku sedikit terkejut merasakannya.


Darahku tiba-tiba kembali berdesir merasakan benda tumpul yang menyentuh kulitku saat ini.


Tanpa menunggu lagi, aku segera bangun dan mengendap perlahan turun dari tempat tidur. Ku pikir, sebelum mas Juan bangun, lebih baik aku mandi. Daripada nanti dia meminta haknya lagi pagi-pagi begini. Bisa-bisa nanti kami akan terlambat lagi ke sekolah.


Namun belum turun sepenuhnya dari ranjang, mas Juan langsung menarik tanganku.


Grep


"Mau kemana kamu?"


Glek


"Eh.. A..anu.. Mau mandi mas, kan mau berangkat sekolah."


"Setelah membangunkannya, kamu mau kabur tanpa bertanggung jawab?"


"Eh.. anu. Riri ngga ngebangunin kok."


"Tadi kamu mencium pipiku, berarti kamu membangunkannya."


"Hah? Masa cuma gara-gara itu sih?"


"Setiap kamu menyentuhku, secara otomatis kamu juga membangunkannya." Ujarnya seraya tersenyum penuh arti.


"Hah? Tapi mas, kalau kita melakukannya sekarang kita bisa telat? Riri ngga mau telat, bisa-bisa nanti Riri dapat hukuman dari Bu Tania."


"Yaudah, kalo gitu kamu izin sakit aja hari ini." Ujarnya yang tiba-tiba memberikan ide konyolnya.


"Ngga ah, ngga mau. Akhir-akhir ini Riri sering libur, masa mau libur lagi. Bentar lagi kan ujian."


"Yaudah deh, kita mandi bareng aja gimana?"


"Ngga ah, Riri mandi sendiri aja. Kalo mandi bareng pasti mas Juan nanti minta lebih." Tolak ku, karna aku tau betul akal bulusnya.


"Ngga, janji deh. Kita cuma mandi bareng aja. Ya mau ya? Cuma sampe adeknya tidur lagi, ini kan juga gara-gara kamu."


"Yaudah iya, tapi janji ya? Cuma mandi bareng, ngga lebih?"


"Iya sayang!" Sahutnya tersenyum.


"Kok perasaan ku ngga enak ya?" Batinku.


Lalu dia langsung bangun dan mengangkatku.


"Mas mau ngapain?" Tanyaku terkejut.


"Biar cepet." Sahutnya yang langsung berlari membawaku masuk kedalam kamar mandi.


Namun ternyata benar perasaan tak enak ku.

__ADS_1


"Mas Juaaaaannnnn!"


❤️❤️❤️


__ADS_2