
❤️❤️❤️
Ketika aku sadar, aku langsung bangun dari tubuhnya.
Ku lihat dia masih melamun dan terlihat bingung di tempatnya.
"Pak". Panggilku mencoba menyadarkannya.
"Pak Juan". Panggil ku cukup keras.
Mendengar panggilanku yang cukup keras akhirnya ia tersadar dan bangun dari posisinya.
"Ka..kau, be..berani sekali kau mencuri ci...".
"Sudahlah, aku selalu sial jika dekat-dekat dengan mu". Ocehnya, lalu berjalan menuju ranjangnya dan berbaring memunggungi ku.
"Ada apa sih dengannya? Jelas-jelas gara-gara dia yang menarik ku, makanya aku terjatuh. Malah menyalahkan orang lain, menyebalkan!". Ujarku bermonolog dalam hati sambil menghentakkan kaki ku cukup keras. Lalu aku juga berbaring di atas sova memunggunginya.
_______________
Hari ini aku bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum para asisten rumah tangga di rumah mertuaku bangun.
"Ya ampun Nona, kenapa tidak membangunkan Bibi?". Ujar sebuah suara yang tak lain adalah bi Ningrum. Dia terlihat tidak enak karna melihatku memasak pagi-pagi sekali seorang diri.
"Eh, bi Ningrum sudah bangun?". Ucapku tersenyum padanya.
"Sini biar bibi bantu non?!". Bi Ningrum berusaha mengambil alih apa yang ku kerjakan saat ini.
"Ngga usah bi, dikit lagi juga beres kok". Tolak ku sopan, karna memang ini adalah menu terakhir yang ku buat dan semuanya sudah ku tata di atas meja.
"Biarkan saja bi, itu kan memang tugasnya". Ucap sebuah suara yang membuat ku dan bi Ningrum secara spontan menatapnya.
"Bicara yang sopan!". Tegur bi Ningrum pada wanita yang tak lain adalah keponakannya itu yang juga bekerja di rumah keluarga pak Juan.
"Ngga papa kok bi, yang di katakan Sita itu benar. Sudah sewajarnya Riri melakukan ini sebagai istri dan menantu di rumah ini". Ujarku tersenyum.
Ku lihat dia menatapku tak suka setelah mendengar jawabanku sebelum meninggalkan ku dan bi Ningrum di dapur.
"Maafkan Sita ya non, entah kenapa setelah dia kehilangan kedua orangtuanya dia berubah menjadi seperti itu". Ujar bi Ningrum menatap sedih kearah kepergiaan Sita, keponakannya.
"Iya, ngga papa kok bi. Riri ngerti.". Sahutku tersenyum.
"Yasudah, Riri tinggal ke atas dulu ya bi". Ucapku sambil melepaskan celemek yang menempel pada tubuhku.
"Iya non, sisanya biar bibi yang bereskan".
"Terimakasih ya bi". Sahutku kemudian aku pergi dari dapur menuju kamar atas untuk mandi.
Krek
"Tumben". Celetukku ketika melihat pak Juan yang belum juga bangun.
Tanpa ba bi bu lagi aku langsung bergegas masuk ke kamar mandi untuk melakukan rutinitas ku serta tak lupa ku bawa baju ganti beserta seragam sekolah untuk menghemat waktuku.
Saat selesai, tak lupa ku beri sentuhan akhir pada wajahku sebelum aku keluar dari kamar. Ku lihat sekilas dari kaca, pak Juan sudah terbangun dari tidurnya, saat hendak beranjak dia sempat melirik ke arahku sekilas sebelum masuk kedalam kamar mandi dan membanting pintu dengan keras.
"Banting saja sampai pintu itu terlepas, toh pintu itu tidak dibeli menggunakan uangku". Gerutuku sebelum aku turun kebawah untuk sarapan.
__ADS_1
"Nah, itu kakak ipar sudah turun". Ujar sebuah suara yang tak asing bagiku, siapa lagi kalau bukan Dennis.
"Sudah Riri bilang, jangan sebut kakak ipar". Sungutku.
"Memang benar kan, Tante? Om?". Tanya nya pada kedua mertuaku meminta pembelaan.
"Iya loh sayang, secara hukum kamu memang kakak iparnya Dennis". Sahut bu Nala mengiyakan.
Aku jadi tambah mengerucutkan bibirku mendengarkan penuturan dari ibu mertua ku itu.
"Sudah sudah, jangan menggoda Riri terus. Ayo kita sarapan sama-sama. Ayah dengar ini semua masakan kamu ya?". Ujar ayah Adi.
"Eh, hehhe. Iya yah". Jawabku malu-malu.
"Wah, ibu memang tidak salah memilih menantu". Ucap ibu mertuaku bangga.
Aku jadi bertambah malu mendengarnya.
"Oiya Ri, kak Juan mana?". Tanya Dennis tiba-tiba.
"Mungkin sebentar lagi turun". Sahutku datar, aku kembali kesal jika nama itu disebut.
"Yasudah, biarkan saja dia. Kita sarapan duluan saja". Ujar ayah Adi.
Saat kami tengah asik berbincang-bincang sambil menikmati sarapan, tiba-tiba..
"Kak? Ngga sarapan dulu?". Tegur Dennis yang melihat kakak sepupunya itu lewat begitu saja.
"Ngga, ngga lapar". Sahutnya.
"Kenapa sih anak itu?". Ujar bu Nala menatap heran pada anaknya yang sudah tak terlihat lagi di balik pintu.
"Apa selama kami pergi, Juan juga seperti itu sayang?". Tanya Bu Nala tiba-tiba yang membuatku tersedak.
"Uhuk uhuk".
"Pelan-pelan dong Ri makannya. Ni minum dulu?!". Ujar Dennis mengulurkan segelas air padaku.
"Bener deh kayaknya tebakan ibu". Ujar bu Nala kemudian.
"Ngga kok bu". Sergahku cepat.
"Mungkin pak Juan lagi sibuk, makanya ngga sempat sarapan". Jawabku berbohong.
"Den?". Ucap bu Nala menatap mata Dennis seolah meminta kebenaran darinya.
Aku mengedipkan pelan sebelah mataku ke arahnya.
"Eh, i..iya benar kok Tante. Kemaren aja mereka berangkatnya bareng". Sahut Dennis yang juga ikut berbohong.
"Aduh..Ibu, Ayah. Sepertinya Riri harus berangkat sekarang?!". Ujarku tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka agar ibu dan ayah tidak curiga lagi.
"Ri, bareng gue aja. Sekalian gue juga mau ke perpus". Ujar Dennis menimpali.
"Hm, yasudah. Kalian berangkatlah. Dennis, kamu hati-hati nyetirnya". Kata ayah Adi mengingatkan.
"Iya siap Om". Sahut Dennis cepat.
__ADS_1
"Hm, yaudah deh. Kalian hati-hati ya?!". Ujar bu Nala.
"Siap". Sahutku dan Dennis berbarengan.
"Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam". Sahut bu Nala dan ayah Adi bersamaan.
_______________
"Thanks ya Den". Ujarku ketika kami sudah di luar rumah.
"Iya, santai aja". Sahutnya sambil menyenggol bahuku.
Kaki kami terhenti ketika melihat mobil yang tak asing di depan kami.
"Kak Juan?". Ujar Dennis ketika melihat pemilik mobil itu keluar dan berjalan menghampiri kami.
"Kakak masih disini?". Tanyanya lagi.
"Kau pergilah kerjakan urusan mu Den, biar Riri ikut mobilku saja". Ujarnya yang tiba-tiba menarik tanganku.
"Ngga perlu pak, Riri ikut Dennis aja". Tolak ku lalu melepaskan tangannya dariku.
"Kau itu istriku, seharusnya kau ikut bersamaku". Bentaknya lalu kembali menarik tanganku kuat, menggiringku masuk kedalam mobil.
"Aduh, sakit pak". Pekik ku ketika dia memaksa mendudukkan ku kedalam kursi penumpang di sebelahnya.
Lagi-lagi dia mengabaikan perkataan ku.
Tanpa memperdulikan ku, dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah. Kulihat ada semburat kemarahan dari ekspresinya sedangkan aku hanya menunjukkan wajah ketidaksukaan atas sikapnya tadi, dan hanya diam menatap kedepan.
"Apa kau begitu menyukainya?". Ujarnya tiba-tiba.
"Maksud bapak?". Sahutku sambil mengerutkan kedua alisku.
"Kau tidak perlu berpura-pura bodoh".
"Sudahlah, lebih baik bapak fokus menyetir saja". Sahutku malas meladeninya.
Ciiiittttt
"Awww". Pekikku sambil memegangi kepalaku yang sakit karna terbentur.
"Ku bilang, apa kau begitu menyukai Dennis?". Ujarnya dengan nada tegasnya menatap intens pada indera penglihatan ku.
Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya, bisa-bisanya dia mengeluarkan pertanyaan yang seperti itu. Bagaimana dia bisa berpikir kalau aku menyukai sepupunya sendiri yang bagaikan adik baginya itu?
"Kalau bapak hanya ingin mencari masalah, lebih baik turunkan saja Riri disini?!".
❤️❤️❤️
Hi ketemu lagi kita 😚
Tidak bosan-bosannya aku mengingat kan, jgn lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan jadikan novel receh ini sebagai favorit di rak buku kalian ya 😊 jadi ketika utur update kalian akan segera dapat notifnya 😚
Xiexie 😚
__ADS_1