
❤️❤️❤️
"Kok sendirian aja Lo, katanya istri Lo ikut?" Tanya Septian.
"Iya, tadinya dia mau ikut. Tapi karna ada tugas jadi ngga ikut, mungkin next time." Sahutku.
"Padahal gue pengen banget ketemu seorang wanita hebat yang berhasil meluluh lantakkan hati seorang Juanda Putra Adiyatmo, hahahha.." Kelakarnya.
"Si*l*n Lo Sep, bersyukur Lo lagi sakit sekarang. Kalo ngga, habis Lo sekarang." Ujarku.
"Hahahaha.."
"Adek Lo kemana?" Tanyaku karna dari tadi tidak melihat sosok adiknya di sampingnya.
"Biasalah, jalan sama ceweknya."
"Sadis banget adek Lo, udah tau kakaknya lagi sakit malah ditinggal pergi, mana jomblo lagi."
"Ah, rasa apa ini. Sakitnya nyelekit banget." Ujarnya sambil memegangi dadanya.
"Makanya cari cewek dong Lo, kalo perlu cari bini."
"Wah, temen ngga ada akhlak. Mentang-mentang sudah ada bini."
Aku hanya tersenyum miring sambil sibuk melihat layar hp ku yang sebenarnya tidak ada apa-apa disana.
"Woi, temen Lo disini.. Tapi mata Lo ngelihat hp mulu." Protesnya.
"Orang jomblo itu sama sekali tidak berhak protes dengan orang yang sudah memiliki pasangan." Ujarku santai.
"Bener-bener ngga ada akhlak ini temen."
Aku kembali tersenyum miring mendengar perkataannya.
"Oiya, gimana keadaan Lo?" Tanyaku setelah memasukkan hpku kembali kedalam kantong celana.
"Seperti yang Lo liat, tangan gue masih sakit." Ujarnya sambil menunjukkan lengannya yang masih di gibs.
"Ohhh.." Sahutku, yang kembali mengecek telpon genggam ku.
"Kalo Lo khawatir mending telpon dah, ganggu banget tau ngga si liat Lo bolak balik ngecek hp mulu." Protes nya yang terganggu melihatku.
"Bener juga Lo." Ujarku yang seolah mendapatkan ide brilian.
"Masa soal beginian harus nunggu saran dari jomblo dulu." Celetuknya.
"Tunggu sehabis Lo sembuh." Ancamku.
Lalu tanpa menunggu lagi, aku langsung mencari nama "Istriku" dalam kontak ponselku.
Saat aku menelponnya, bukannya jawaban dari Riri yang ku dapat, aku malah mendapatkan jawaban dari operator, "Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi." Hingga kelima kalinya, aku masih mendapatkan jawaban seperti itu. Kini aku semakin khawatir, karna nomornya tidak aktif dan ini sudah jam 6 sore.
"Kemana dia? Kenapa nomornya ngga aktif?" Batinku, cemas.
"Kenapa? Ada masalah?" Tanya Septian.
"Hp istri gue ngga aktif." Ujarku, sambil terus berusaha menghubunginya.
"Mungkin hpnya mati kali."
__ADS_1
"Tapi ngga biasanya begini, mana sudah jam 6 lewat." Ujarku panik.
"Mungkin dia masih dirumah temennya, udah tenang aja. Bini Lo itu masih muda, dia juga perlu waktu buat seneng-seneng sama temennya."
"Tapi ada temen cowoknya juga disana." Ucapku, karna telponku tak kunjung di angkat, aku mengirim beberapa pesan ke nomornya.
"Hahahaha, yaelah. Lo cemburu?" Ujarnya tertawa.
"Berisik Lo."
"Yaudah gue pulang dulu." Ujarku lagi yang bergegas pergi dan meninggalkan Septian.
"Eh, Ju.. katanya mau temenin gue." Teriaknya yang masih bisa ku dengar saat pintu ruangannya tertutup. Tanpa menggubris ucapannya, aku segera berlari keluar dari rumah sakit.
Entah kenapa rasanya sekarang hatiku sangat tidak tenang, aku selalu memikirkannya sepanjang jalan. Saat tiba dirumah, ku lihat lampu tak ada yang menyala satupun, padahal ini sudah hampir Maghrib. Perasaan ku semakin tidak enak. Tanpa membuang waktu lagi aku langsung berlari keatas menuju kamarku dan Riri.
"Ri.. Riri.. kamu ada di dalam?" Teriakku, saat masih menaiki anak tangga dengan sedikit berlari.
Kreeekkk..
Saat ku buka pintu kamar, nihil. Aku tidak mendapati sosoknya disana sama sekali.
"Kamu dimana?" Ujarku cemas.
Aku kembali mencoba untuk menghubunginya, tapi tetap saja, nomornya masih tidak aktif sampai sekarang.
Bahkan rentetan pesan yang ku kirim padanya, tidak dibalas, jangankan dibalas, di baca pun tidak sampai sekarang.
"Arghhhh.." Aku mengacak-acak rambutku kasar.
Tiba-tiba aku teringat dengan temannya, Kania. Saat aku ingin mencoba menghubunginya, aku baru ingat bahwa aku tidak memiliki nomor telponnya.
"Ah, Dennis!" Ujarku, karna ku lihat dia lumayan akrab dengan temannya Riri beberapa waktu lalu, mungkin saja ku pikir dia memiliki nomor telpon Kania, sahabatnya Riri.
Tanpa berpikir lebih lama lagi, aku segera menghubungi Dennis untuk meminta nomor telpon temannya Riri.
📞 "Halo kak!" Jawabnya dari seberang telpon.
📞 "Halo, halo Den.. Lo punya nomor telpon temannya Riri ngga, yang namanya Kania?" Tanyaku to the point.
📞 "Nomornya Kania? Buat apa kak?"
📞 "Lo punya ngga?" Tanyaku lagi dengan sedikit meninggikan nada suara ku.
📞 "Ada kok, bentar-bentar. Ok, sudah gue kirim kak."
Tanpa menjawab perkataannya aku langsung memutuskan sambungan telponnya dan segera menghubungi Kania, teman Riri.
📞 "Halo, dengan siapa ya?" Ujarnya dari seberang telpon.
📞 "Saya Juan, suaminya Riri."
📞 "Ah, iya. Pak Juan, ada apa Pak?"
📞 "Apa tugas kalian belum selesai?"
📞 "Tugas?" Ujarnya yang terdengar bingung.
📞 "Iya tugas, bukannya kalian sedang mengerjakan tugas bersama di rumahmu?"
__ADS_1
📞 "Ngga ada kok Pak, kami ngga ada ngerjain tugas bareng hari ini. Tadi aja Riri pulangnya duluan."
Deg
"Ada apa ini? Apa dia membohongiku? Kemana dia?" Batinku yang semakin tidak karuan.
📞 "Yasudah, terimakasih."
Tut tut tut
"Ririiii, kamu dimana sayang? Jangan membuatku gila seperti ini." Ujarku yang sekarang sudah tidak bisa berpikir jernih.
Seketika aku langsung terduduk lemas di bibir ranjang, sembari mengurut pelipis ku yang rasanya sekarang sangat pusing.
"Apa dia sedang di rumah orangtuanya?" Ujarku yang kemudian baru mengingat kemungkinan itu.
Tanpa memperdulikan waktu lagi yang kini sudah mulai gelap, aku langsung turun ke bawah, dan segera berlari keluar menuju mobilku yang masih terparkir asal di depan rumah. Dengan terburu-buru aku memutar mobilku dan langsung keluar dari halaman rumah lalu melajukan mobilku dengan mengebut. Yang ku pikirkan sekarang hanyalah Riri, aku hanya ingin melihatnya sekarang. Selama perjalanan aku selalu berdoa dan berharap, semoga dia ada dirumah orangtuanya, semoga dia ada disana. Karna jalanan cukup lengang, aku bisa dengan cepat sampai di rumah orangtuanya. Karna mobilku tidak bisa masuk ke dalam gang rumahnya, aku memarkirkan di sebuah warung yang memiliki halaman luas di samping gang rumahnya. Lalu segera berlari menuju rumah kedua orangtuanya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum!" Ujarku mengucap salam dengan cukup keras.
"Waalaikumsalam!"
Kreeekkk..
"Eh nak Juan? Ada apa nak?" Tanya Ayah Danu yang ternyata membukakan pintu untuk ku.
"Ririnya ada disini Yah?" Tanyaku to the point.
"Riri? Riri ngga ada kesini hari ini nak. Kenapa? Dia ngga ada dirumah?" Tanya balik Ayah Danu.
"Ahh, bukan. Tadi Riri minta izin katanya mau kesini hari ini, jadi Juan kesini mau jemput Riri. Tapi ternyata Riri ngga ada ya Yah? Soalnya hp nya mati. Ah, mungkin Riri ngga jadi kesini, dan sekarang dia sudah dirumah." Ujarku berbohong, karna tidak ingin membuat kedua orangtuanya khawatir.
"Kalau begitu Juan pamit pulang dulu Yah?" Ujarku lagi.
"Ngga masuk dulu nak?" Tawar Ayah Danu.
"Mungkin lain kali Yah."
"Oh Yasudah."
"Iya, Juan pulang dulu ya Yah. Assalamualaikum! Titip salam buat Ibu ya Yah." Ucapku sambil menciumi punggung tangannya.
"Iya ngga papa, waalaikumsalam! Hati-hati dijalan." Ujar Ayah Danu.
Segera setelah keluar dari pelataran rumah kedua mertuaku, aku langsung berlari sedikit tergesa-gesa menuju mobilku. Lalu langsung memutar balik melajukan dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang masih terlihat sepi malam ini. Bahkan aku tidak memperdulikan lampu hijau yang kini sudah berubah menjadi merah, aku menerobosnya tanpa menghiraukan pengendara lainnya.
Aku kalut, aku tidak bisa berpikiran jernih sama sekali, yang ada di pikiran ku saat ini hanyalah Riri, Riri dan Riri. Saat aku hendak melewati taman pinggir kota, aku langsung membanting setirku, lalu memberhentikan mobilku disana dengan asal.
"Kamu dimana sayang?"
Rasanya kepalaku sangat pusing sekali, serasa akan pecah. Aku bingung harus mencarinya kemana lagi. Hanya sebentar tanpa kabar darinya, aku sudah menggila seperti ini.
"Ku mohon jangan membuatku lebih gila lagi dari ini? Kembalilah! Kembalilah, ku mohon!"
❤️❤️❤️
Haishhh 😭
__ADS_1