
❤️❤️❤️
Aku terkejut mendengar perkataannya.
"A..apa maksudmu?". Tanyaku dengan sedikit tergagap.
"Hahahahahhah". Kelakarnya.
Aku kembali mengerutkan kedua alisku melihatnya yang kini malah tertawa keras.
"Ekspresi muka lo lucu banget Ri, sumpah!". Ujarnya.
"Gue becanda, hahaha". Ucapnya yang kemudian membuatku lega, hampir saja aku memikirkan yang tidak-tidak.
"Bikin Riri kaget aja". Sahutku lega lalu kemudian ikut tertawa ringan.
"Kalo beneran gimana?". Ujarnya lagi yang menggoda.
"Denniiissss". Pekik ku.
"Hahahahhaha". Kelakarnya lagi.
"Lo itu gampang banget di kibulin tau ngga si?!". Ujarnya yang masih menahan tawa di bibirnya.
"Ah udah ah, Riri jadi males!". Ujarku mengerucutkan bibirku.
"Hahaha, iya iya sorry. Kan cuma becanda! Jangan marah ya?". Bujuknya.
"Tau ah". Ucapku lalu membelakanginya.
"Serius, gue cuma becanda. Sorry ya?". Katanya yang masih berusaha membujuk ku.
Aku manahan tawa mendengarnya berucap seperti itu.
"Hahahahahhah". Kelakar ku yang sudah tidak bisa lagi menahannya.
"Ya ampun, lo ngerjain gue?". Ujarnya yang sedikit terkejut.
"Emang enak? Ble :p".
Aku selalu nyaman berada di sisi Dennis, sosoknya yang humble selalu bisa membuatku terhibur. Dia seperti sosok kakak yang ku idam-idamkan selama ini. Dengan adanya Dennis bisa mengurangi rasa lelahku ketika aku sering bertengkar dengan kakak sepupunya itu.
Karna keasikan bercanda, tidak terasa matahari semakin terik di atas kami, dan panasnya sudah mulai menyengat. Aku dan Dennis memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Karna sekarang sudah jam 12 siang, perutku mulai keroncongan.
"Lo duduk dulu disini, biar gue masakin nasi goreng bentar. Ok!".
"Ok". Sahutku cepat, aku tidak sabar mencicipi bagaimana rasanya masakan Dennis.
"Biar bibi aja Tuan, Non yang masakin". Ucap bi Ningrum yang kini sudah berdiri di dekatku dan Dennis.
"Ngga papa bi, biar saya aja yang masak. Toh cuma nasi goreng ini". Ujar Dennis tersenyum lalu berlalu masuk ke dapur.
"Iya bi, ngga papa". Ucapku menimpali.
"Yasudah, kalau begitu bibi tinggal ke belakang dulu ya Non?!".
"Iya bi!".
__ADS_1
________________
"Mmmmmm". Gumamku, dengan ekspresi takjub.
"Gimana?". Tanya Dennis.
"Maknyus!". Sahutku sambil mengacungkan kedua jempol ku padanya.
"Dennis gitu loh". Ujarnya berbangga diri sambil menaik turunkan alisnya.
"Bentar ya Den, mau ke atas dulu". Ujarku berusaha bangun dari tempat dudukku.
"Sini, biar gue bantu". Ucap Dennis yang juga ikut berdiri.
"Ngga usah Den, kamu lanjutin makan aja". Tolak ku.
Saat aku hendak beranjak dari kursi, tiba-tiba...
"Aww". Pekikku.
"Kenapa?". Tanya Dennis yang terkejut dan langsung menghampiriku.
"Ini, kesenggol kursi. Hehhe".
"Udah gue bilang, biar gue bantu". Ujarnya, tapi bukannya memapahku, Dennis malah menggendongku.
"Dennis?". Aku terkejut melihatnya yang tiba-tiba menggendong ku.
"Lo jalannya kelamaan". Ucapnya.
"Den, tapi....
Deg
"Pa..pak Juan?!".
Tanpa ba bi bu lagi, pak Juan langsung mengambil alih tubuh ku dari gendongan Dennis.
"Lo jangan mikir yang aneh-aneh kak, gue cuma mau bantuin istri lo ke atas!". Ujar Dennis.
"Kalo lo mau bantu istri gue, apa perlu lo gendong seperti tadi?".
"Ya gue cuma ngga tega li...
"Gue bisa urus istri gue sendiri Den". Potongnya, lalu tanpa menunggu jawaban Dennis, pak Juan langsung menggendongku ke kamar.
Brug
Dilemparnya asal tubuhku ke atas ranjang.
"Aww". Pekik ku, kaki ku jadi sakit karna lemparannya barusan.
"Bapak apa-apaan sih?". Pekik ku, yang tak suka dengan caranya itu.
"Kau yang apa-apaan? Baru ku tinggal sebentar, sudah main gendong-gendongan dengan adik sepupu ku sendiri. Bagaimana jika aku tidak memergoki kalian tadi, hah? Mungkin kalian sekarang sudah bermesraan di atas ranjang ku".
Plakkk
__ADS_1
Sakit hati ini mendengar tuduhannya seperti itu, kata-katanya kali ini lebih sakit di banding dia memperlakukan ku kasar seperti biasanya. Tanpa di beri aba-aba air mataku lolos begitu saja dari tampungannya.
"Riri memang bodoh, tapi Riri bukanlah wanita rendahan seperti yang bapak tuduhkan". Ujarku meninggikan suaraku. Kini aku benar-benar marah atas sikapnya yang berlebihan itu, bagaimana dia bisa berpikir bahwa istrinya sendiri akan melakukan tindakan menjijikkan itu dengan adik sepupunya.
Aku menangis tanpa suara membelakanginya, ku dengar tak ada sepatah kata pun dari mulutnya setelah ku tampar cukup keras di wajahnya.
Tak lama ku dengar dia membanting pintu dan meninggalkan ku sendirian di kamar.
"Dasar jahat, picik, ngga punya hati nurani". Umpatku usai kepergiannya.
Sejak perkelahian kami tadi aku tidak keluar dari kamar, dan hari sudah semakin gelap dan tentunya janji temu dengan dokter dirumah sakit juga batal. Bahkan sampai sekarang pun, tak ku lihat batang hidung pak Juan masuk ke dalam kamar.
"Bodo amat". Ujarku lalu menutupi tubuhku dengan selimut hingga ke atas.
Tok tok tok
"Iya, masuk". Sahutku.
"Kok ngga turun sayang?". Tanya Bu Nala yang kini duduk di bibir ranjang.
"Kita makan dulu yuk?". Ajaknya.
"Riri masih kenyang Bu". Tolakku.
"Ayodong sayang, gimana kamu mau cepat sembuh kalau kamunya jarang makan. Ibu tadi masakin makanan kesukaan Riri loh?!". Ujar Bu Nala tersenyum.
Tanpa menolak lagi, aku menurut dan ikut Bu Nala turun kebawah untuk makan malam. Sesampainya disana kulihat hanya ayah Adi yang duduk seorang diri. Ku lihat tak ada sosok pak Juan disana.
"Ayo makan dulu nak?!". Ujar ayah Adi.
"Iya Yah". Sahutku tersenyum simpul ke arahnya.
"Dennis kemana Yah?". Tanyaku, padahal sebenarnya sosok yang lain yang ingin ku tanyakan. Tapi aku tidak berani.
"Dennis pergi keluar dengan teman-teman nya sayang". Sahut Bu Nala.
"Hm, Ri?!". Panggil Bu Nala yang terdengar seolah ragu-ragu.
"Iya, ada apa Bu?".
"Tolong maafkan sikap kasarnya Juan ya sayang. Sewaktu kami datang Dennis memberitahukan semuanya pada kami".
Bibirku terasa kelu, tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya aku sudah memaafkannya, tapi aku juga masih marah terhadapnya.
"Kami mewakili Juan meminta maaf ya nak, mungkin ini salah kami yang tidak benar mendidiknya". Ujar ayah Adi, Bu Nala juga ikut tertunduk mendengar ucapan suaminya. Kulihat ada penyesalan Dimata mereka, meskipun itu bukanlah salah Ayah Adi dan Bu Nala.
"Ngga, ini semuanya bukan salah Ayah dan juga Ibu. Riri yang seharusnya minta maaf, dan mungkin ini juga salah Riri sehingga pak Juan menjadi salah paham". Ujarku tertunduk, mataku sudah mulai berkaca-kaca.
"Kamu sama sekali ngga salah sayang".
Tanpa di perintah air mataku lolos kembali, sesaat aku terisak dalam pelukan hangat Bu Nala.
❤️❤️❤️
Tidak bosan-bosannya author mengingatkan, jangan lupa tinggalkan like, komen, vote, serta jadikan novel receh ini sebagai favorit di rak buku kalian ya 🤗
Dan terimakasih banyak atas dukungan para readers yang sangat mendorong author untuk terus berkarya 😘🙏
__ADS_1
Love u 😚