Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Sisi Baru


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Aku mencintaimu!" Ahhh, kata-kata itu selalu terngiang di telinga. pipi ku kembali merona setiap kali mengingatnya. Sesekali aku tertawa kecil sendirian.


"Apa ini mimpi?" Ujarku sambil mencubit kedua pipiku cukup keras.


"Ahhhh, sakit!" Pekik ku, kemudian kembali cengengesan sendirian.


"Morniiiinggggg!" Pekik Kania yang baru saja datang.


"Morning!" Sahutku sembari menyunggingkan senyum lebar, selebar-lebarnya.


"Dih, dih.. Kenapa Lo? Kering tuh gigi, baru tau rasa Lo. Senyum segitu lebarnya." Seru Kania.


"Hehehe..." Bukannya menjawab, aku malah kembali menyunggingkan senyum yang memperlihatkan gigi putihku ke arahnya.


"Kenapa sih Lo? Pasti ada sesuatu nih!" Ujar Kania menyipitkan matanya.


"Ririiiiiii...." Teriak beberapa anak yang baru saja tiba dan langsung memelukku.


"Aduh.. aduh.. sesak napas nih gue." Ujarku yang sudah ngap-ngapan karna pelukan yang terlalu erat.


"Eh, sorry sorry..hehhe" Ujar mereka yang kemudian melepaskan pelukannya.


"Sekali lagi, selamat ya Riiii... Kita-kita bangga loh sama Lo?!" Seru Sherly.


"Sekali lagi thanks ya guys, ini juga berkat doa dan dukungan kalian semua. Sini, peluk lagi peluk lagi." Ujarku merentangkan tangan, lalu kami kembali berpelukan bersama.


"Ehem..ehem.. ngga ada acara makan-makan nih?" Celetuk Gandhi tiba-tiba.


"Ah Lo Gan, ya pasti ada laaaahhh!" Ujarku sambil menaik turunkan alisku.


"Serius Ri?" Tanya Gandhi dengan mata yang berbinar.


"Senengnya yang gratisan Lo." Ujar Kania.


"Ya iyalah, siapa juga yang ngga suka sama yang gratisan."


"Hehhe, iya juga sih."


"Ok guys, jadi sepulang sekolah kita ke cafe seberang yah. Lo semua wajib ikut pokoknya." Ujarku bersemangat.


"Asiiiiiikkkkk..."


"Ya ampun Ri, Lo baik banget dehhh.."


"Hehhe.."


"Sorry ya Ri, gue ngga bisa ikut." Ujar Jaka tiba-tiba.


"Kok Lo ngga ikut sih?" Tanya Gandhi.


"Ya, gue ada janji nanti sama adek gue." Jawabnya, lalu berjalan pergi keluar kelas.


"Gara-gara Lo tuh Ri." Ujar Gandhi setelah Jaka keluar dari kelas.


"Kok Lo malah nyalahin temen gue sih?" Sahut Kania yang tak terima dengan omongannya Gandhi.


Sementara aku hanya bisa terdiam menatap kepergiannya . Ada rasa sedikit bersalah di hatiku, karna sedikit banyaknya aku juga ikut andil atas perubahan sikapnya yang tiba-tiba.


Teng teng teng


Lonceng berbunyi, yang menandakan bahwa jam pertama telah di mulai.


Pagi ini di awali dengan pelajaran PKN.


Aku menjadi bersemangat karna pagi ini aku bisa melihat wajah Pak Juan selama pelajaran berlangsung.


"Pagi semuanya!" Sapanya saat pertama masuk kelas.


"Pagi Pak!" Sahut kami serentak.

__ADS_1


"Kenapa wajahnya semakin bersinar?" Batinku, sambil senyum-senyum ke arahnya.


"Hari ini kita akan mengadakan kuis!"


"Iya Paaaak!" Sahutku cengengesan.


Krik krik krik krik


Tanpa ku sadari ternyata hanya aku seorang diri yang menjawab ucapannya. Bahkan aku tidak akan sadar jika Kania tidak menyadarkan ku.


"Pst.. Pst.. Ri.." Panggil Kania yang terdengar seperti berbisik.


"Hah? Kenapa Kan?" Ujarku menoleh dengan wajah tanpa dosa menatap ke arahnya.


Saat melihat Kania mendelikkan matanya, aku baru sadar.


"Haishhh, sial!" Batinku, karna atensi mereka semua teralihkan padaku. Dengan cepat aku mengambil pulpen dan membuka buku ku, berpura-pura menulis sesuatu di sana.


"Ehm, baiklah. Seperti biasa, saya akan membagikan lembar soal dan juga kertas kosong untuk jawabannya. Kali ini, saya akan beri kalian waktu 30 menit." Kata Pak Juan menjelaskan, lalu dia berjalan untuk membagikannya satu persatu.


Saat Pak Juan mengulurkan lembar soal dan kertas kosong untuk ku, ku lihat dia melempar sesuatu ke pangkuanku. Untungnya posisi dudukku paling belakang dan paling pojok, sehingga tidak satu orangpun yang menyadarinya.


"Kertas?" Batinku.


Tanpa berlama-lama aku langsung membuka kertas yang menggumpal itu dan membacanya.


"Jangan tersenyum seperti itu, aku hampir tidak bisa bernapas 😣."


"Auohhhhh.." Ujarku spontan sembari memukul-mukul gemas meja belajarku, tanpa menyadari orang-orang sekelilingku yang sekarang sudah menatapku dengan tatapan bingungnya masing-masing.


Bug


"Aw.." Pekik ku, karna tiba-tiba Kania menendang kaki ku.


"Lo udah gila ya?" Ujarnya tanpa suara.


"M..maaf maaf.." Ujarku menunduk malu sembari meminta maaf.


Drt drt


Ubin Dingin :


"Aku jadi ingin mencium mu sekarang 😚."


Aku kembali tersipu malu setelah membaca pesannya.


"Dasar mes*m!" Ujarku ke arahnya tanpa mengeluarkan suara, lalu dia kembali menggodaku dengan memonyongkan bibirnya sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Dia benar-benar membuatku salah tingkah, sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa lembar jawaban ku masih kosong sampai sekarang.


-


"Lo kenapa sih tadi? Kerasukan setan apa lagi?" Ujar Kania ketika kami sudah berada di kantin untuk makan siang.


"Hah? Ngga papa kok." Sahutku kemudian tersenyum.


"Lo tuh mencurigakan banget tau ngga sih?" Ujar Kania menyipitkan matanya.


"Mencurigakan apanya? Orang ngga ada apa-apa kok. Gue cuman happy aja karna lolos seleksi kemaren."


"Boong, pasti ada yang Lo sembunyiin kan dari gue?" Kata Kania dengan tatapan menyelidiknya.


"Suer, gue ngga nyembunyiin apa-apa kok."


"Ok, kalo Lo ngga mau ngaku."


"Rasain nih.. " Ujar Kania lalu menggelitik ku.


"Hahaha.. aduh Kan, geli.." Ujarku tertawa kegelian.


"Ngaku ngga? Ngaku ngga?" Ujarnya lagi yang masih terus menggelitiki ku.


"Hahahaha, Ok Ok.. gue ngaku kalah." Ujarku kemudian menyerah.

__ADS_1


Akhirnya aku menceritakan semuanya pada Kania apa yang terjadi denganku semalam, apa yang menyebabkan tingkah laku ku yang aneh hari ini.


"Aaaaaaaa...." Pekik Kania, setelah mendengar ceritaku.


"Maaf maaf.." Ujarku meminta maaf pada orang-orang yang merasa terganggu karna kegaduhan Kania sembari menutup mulutnya.


"Ishh, Lo kebiasaan banget sih." Protesku.


"Hehhe, sorry sorry.. Abisnya gue excited banget tau ngga sih. Akhirnya temen gueee..." Ujarnya yang kemudian terharu sambil menggenggam erat tanganku.


"Bangga banget gue, akhirnya usaha Lo ngga sia-sia."


"Iya Kan, gue juga bersyukur banget. Ngga nyangka kalo dia..."


"Aaaaaa..." Pekik ku dan Kania berbarengan, bahkan kami tidak memperdulikan lagi orang-orang yang berbisik dan menatap kami.


-


Sesuai janji ku, sepulang sekolah aku mentraktir teman-teman ku di cafe yang ada di seberang sekolah kami.


Sebelumnya aku sudah meminta izin pada Pak Juan, kalau hari ini aku akan pulang bersama Kania dan mentraktir teman-teman sekelasku, yang jumlahnya ada 19 orang termasuk aku. Sebenarnya ada 20 orang, tapi karna Jaka tidak bisa datang, jadi akhirnya berkurang 1 orang.


Karna keasikan ngobrol dan bercanda, aku tidak menyadari kalau hari sudah semakin sore. Saat ku lihat jam tanganku, betapa terkejutnya aku, sekarang sudah jam 6 sore. Segera aku memeriksa telpon genggam ku, dan benar saja, ada rentetan pesan yang belum terbaca dari pak Juan.


"Kenapa lama sekali? Aku merindukan mu!"


"Kau dimana?"


"Balas pesanku?"


"Kenapa tidak di balas? Aku menghawatirkan mu."


"Cepatlah pulang? Suamimu kesepian."


Aku tersenyum melihat sisi barunya sekarang, yang biasanya dingin dan acuh padaku, sekarang begitu perhatian dan sangat manis dalam memperlakukan ku. Sungguh, rasanya sekarang aku benar-benar tidak bisa hidup tanpanya.


Tak berapa lama kemudian, aku dan teman-teman ku memutuskan untuk pulang. Karna memang hari sudah semakin sore dan mulai gelap.


Kania mengantarku sampai di depan pagar, setelah melihat kepergiannya barulah aku masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum." Sapa ku, tapi tak mendengar adanya jawaban sama sekali.


"Kok sepi?" Ujarku, sambil celingukan mencari keberadaan orang-orang rumah, tapi tak tampak 1 batang hidung pun, bahkan bi Ningrum pun tidak terlihat.


"Pada pergi kemana ya?" Gumamku, sambil menaiki anak tangga.


Kreeeekkkk


"Akhirnya kau datang." Ujarnya saat pertama melihatku dan langsung turun dari tempat tidur berjalan ke arahku, sambil merentangkan tangannya.


"Mau ngapain?" Tanyaku, sambil menahannya dengan kedua tanganku.


"Memeluk mu." Jawabnya singkat.


"Ih, Bapak apa-apaan sih. Riri kan belum mandi." Ujarku menunduk malu.


"Jangankan belum mandi sehari, tanpa mandi seminggu pun aku akan dengan ikhlas memeluk mu." Ujarnya, yang kemudian masih mencoba memeluk ku.


Dengan langkah kaki seribu, aku berhasil menghindarinya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Kau lihat saja, aku akan menerkam mu setelah kau keluar." Teriaknya.


"Dengan senang hati Pak." Ujarku senyum-senyum.


"Ya ampun, sampe lupa." Ujarku lagi yang baru menyadari tasku yang masih menempel di belakang.


Drt drt drt


Saat aku hendak meletak kan tas ku di dekat wastafel, tiba-tiba saja hp ku bergetar.


"Dennis?"Ujarku terkejut, yang melihat namanya muncul di layar hp ku.

__ADS_1


"Kenapa dia menelponku?"


❤️❤️❤️


__ADS_2