
❤️❤️❤️
Riri, gadis itu. Entah kenapa sebulan ini aku sangat terganggu oleh kehadirannya. Dan bahkan lebih bingungnya, aku menjadi sangat tidak tenang jika dia tidak terlihat oleh pandanganku. Apa aku sudah gila? Pikiran ini selalu mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Aku menjadi sangat suka menjahili dan membuatnya kesal dengan kata-kata ku. Tingkahnya yang tidak bisa ku tebak, yang selalu membuatku terkejut, kesal sekaligus senang, rasanya... ah entahlah, aku sungguh tidak bisa menjabarkannya. Apa kalian juga pernah merasakannya? Perasaan yang sama sekali tidak kalian harapkan kehadirannya, tetapi kalian juga tidak bisa menolaknya? Persis seperti itu perasaan yang ku rasakan saat ini.
Tanpa ku sadari ketika dia menyunggingkan senyuman cerahnya. Anehnya, tanpa di perintah bibirku mengikuti semua pergerakan yang ada di bibirnya itu. Sekali lagi aku berpikir, apa aku sudah gila? Sungguh ini bukanlah diriku yang biasanya.
Waktu itu, ketika dia mengacuhkan ku. Rasanya, ada yang sesak di ulu hatiku melihatnya seperti itu. Apa aku melakukan kesalahan? Tentu saja itu tidak perlu di pertanyakan karna aku juga selalu merasa bersalah padanya setiap waktu, tapi entah kenapa setiap kali aku ingin mengakui kesalahan ku, bibirku menjadi kelu. Aku tidak bisa mengatakannya.
-
Rasanya ini sangat memalukan, tapi aku juga ingin mengakuinya. Hari itu, Iya.. itu adalah hari aku melakukan ciuman pertamaku dengannya tanpa ku sengaja.
Flashback on
Hari ini, aku melihatnya mengabaikan ku tanpa menjawab pertanyaan ku. Dengan sengaja setelah aku selesai mandi, ku lempar handuk yang sebelumnya ku pakai tepat mengenai kepalanya.
"Letakan itu kembali!" Perintah ku.
Dia melakukan apa yang ku suruh, tetapi sekali lagi dia mengabaikan ku.
Dia masuk kedalam kamar mandi menutup pintu kuat-kuat. Ada apa dengannya? Aku ingin sekali menanyakannya, tapi lagi-lagi mulutku menjadi kelu. Aku menunggunya keluar dari dalam kamar.
"Kenapa lama sekali?" Gumamku.
Aku menunggunya dengan perasaan yang sangat tidak tenang, hingga akhirnya pintu itu terbuka.
Krek
"Akhirnya!" Batinku.
"Apa kau pikir pintu itu tidak di beli dengan uang?!" Pekik ku.
"Ahhh, ada apa denganku? Kenapa sulit sekali mengatakannya?!" Sesal batinku.
Lagi-lagi dia mengabaikan ku. Dan segera berjalan menuju lemari untuk mengambil baju gantinya.
"Aku sedang bicara denganmu!". Ujarku lagi yang kini meninggikan nada bicaraku.
Tapi itu tidak berguna, dia masih mengabaikan ku. Dengan santainya dia berjalan kembali ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.
Sungguh, dia membuat ku menjadi sangat tidak sabaran. Aku menunggunya tepat di depan kamar mandi dengan perasaan yang sangat tidak tenang. Bahkan beberapa kali aku mondar-mandir di depan pintu ini sekarang.
Krek
Aku langsung mencengkram tangannya ketika dia baru saja keluar dari kamar mandi, hingga ku lihat dia meringis menahan sakitnya cengkraman tanganku. Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tapi... ahhh entahlah rasanya, setan sudah menguasai diriku sepenuhnya.
"Sakit Pak!" Pekiknya, sambil berusaha melepaskan cengkraman ku.
"Ternyata kau masih bisa bicara?" Ujarku, lalu ku lepaskan tangan nya kasar. Ahhh, lagi-lagi aku menyakitinya.
Setelah perlakuan itu, dia masih mengabaikan ku. Tanpa memperdulikan ku dia berjalan menuju sova tempat biasanya dia tidur.
"Berani sekali kau mengabaikan ku?" Ujarku, yang kini sudah mulai hilang kesabaran lalu aku kembali menarik tangannya.
"Riri ngantuk!" Ucapnya datar sambil berusaha melepaskan genggaman ku.
"Kau pikir, kau bisa tidur setelah mengabaikan ku?". Seringaiku.
"Pak, lepaskan tangan Riri!" Pekiknya lagi.
"Lepaskan!" Ujarnya lagi menatap mataku intens.
Aku melepaskan tangannya, tapi kemudian aku kembali menarik tangannya ketika dia hendak berbaring di sova itu.
Greb
Karna tarikan ku yang kuat dia menjadi kehilangan keseimbangan.
Brug
*Cup*
Glek
Deg deg deg deg
"A..apa ini? Kenapa jantungku, rasanya seperti ini? Kenapa berdetak cepat sekali? Dan kenapa rasanya darahku berdesir hebat? I..ini pertama kalinya aku merasakan yang seperti ini."
Ini sangat memalukan, tapi ku akui ini adalah ciuman pertamaku. Aku memang kuliah di luar negeri dan bekerja disana, tetapi aku biasanya hanya melakukan ciuman di pipi hanya sebagai sapaan terhadap teman dan kolega. Tetapi, jika dibibir? Ini adalah pengalaman pertama ku. Bahkan aku tidak pernah mencium wanita yang kusukai, kenapa harus dengan gadis ini? Dulu, mungkin aku akan merasakan kebencian setelah kejadian ini. Tapi entah kenapa hatiku sama sekali tidak menyangkal dan membencinya. Justru aku menyukainya, ada apa ini?.
__ADS_1
Sejak kejadian itu aku malah menjadi sering mencuri pandang pada bibirnya? Ada apa denganku? Apa aku sudah menjadi laki-laki mesum, kenapa aku malah kembali mengharapkan kejadian itu terulang kembali.
____________
Hari ini ku perhatikan dari jauh sepertinya dia sedang ada pertandingan bulu tangkis di kelasnya. Ku lihat senyuman cerahnya kala memenangkan pertandingan tunggal yang di menangkan nya.
Karna terlalu senang, dia melompat-lompat dengan beberapa temannya hingga akhirnya terjatuh. Dia selalu ceroboh seperti biasanya.
Saat hendak menyusulnya ketika dia di papah oleh kedua teman perempuannya, aku melihat tiba-tiba teman lelakinya menggendongnya.
"Apa-apaan bocah itu? Berani sekali dia menggendong istriku di depanku?" Rutukku, aku menjadi geram dengan mengepalkan tanganku.
Tapi sesaat kemudian, aku sadar. Selama di sekolah, kami tidak memiliki hubungan yang lebih dari sebatas kepsek sekaligus guru dan murid. Aku kembali ke ruangan ku untuk mengontrol emosiku. Cukup lama aku menenangkan diri, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk melihatnya di UKS.
Dengan santai aku berjalan menuju UKS, saat tiba di depan UKS, aku melambatkan langkah kakiku sambil melirik ke dalam UKS. Ku lihat dia berbaring menghadap dinding sambil memainkan telpon genggamnya.
Tanpa suara aku berjalan mendekatinya sembari membawa salep pereda nyeri yang sebelumnya ku ambil dari kotak P3K yang ada di UKS.
Tanpa menunggu lagi, aku langsung menurunkan kaos kakinya lalu ku oleskan salep itu di bagian mata kakinya yang sudah terlihat bengkak dan memerah.
"Pasti sakit sekali!" Batinku sambil menyentuh mata kakinya.
"Aduh!" Pekiknya.
"Pak Juan?" Ujarnya terkejut.
"Apa yang Bapak lakukan?" Ujarnya lagi ketika melihatku menyentuh kakinya.
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku terus mengolesi kakinya yang sakit dengan salep pereda nyeri.
"Awww" Pekiknya lagi. Saat tidak sengaja ku tekan di bagian yang sakit.
"Apa kau tidak bisa diam?" Ujar ku menatapnya tajam.
"Namanya juga sakit." Gumamnya pelan, tapi masih bisa terdengar olehku.
Aku menatapnya kembali sebelum aku melanjutkan mengolesi salep pada kakinya.
Apa hobimu itu selalu terjatuh?". Ujarku sambil fokus membalut kakinya dengan perban.
"Terjatuh itu sebuah kecelakaan pak, mana bisa di sebut sebagai hobi" Sungutnya.
"Lalu, apa kau tidak punya teman perempuan yang bisa membantu memapahmu, sehingga kau di gendong oleh seorang laki-laki? Apa kau tidak malu di lihat orang banyak? Terlebih kau itu sudah menikah?". Ujarku, sepertinya aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri untuk tidak menanyakannya.
"Ya kan keadaan darurat pak. Lagian orang-orang di sekolah ini kan tidak ada yang tau kalau Riri sudah menikah. Jadi tidak masalah kan?" Sahutnya enteng.
Deg
Pernyataannya memang benar, tapi entah kenapa ada rasa tak suka di hatiku ketika mendengarnya mengatakan itu.
Saat balutan perban terakhir, aku sengaja membalutnya terlalu kencang sehingga dia mengaduh kesakitan akibat ulah ku. Aku kesal mendengar ucapannya tadi.
"Aduh pak, sakit." Pekiknya, sambil menyentuh mata kakinya yang mungkin bertambah sakit karna ulahku.
"Kau pantas mendapatkannya!" Ujarku sebelum keluar dari UKS.
"Bisa-bisanya dia berkata seperti itu di depanku, apa dia tidak memikirkan bagaimana perasaan ku jika mendengarnya? Arghhh"
-
Saat aku tidak sengaja mendengarnya dari beberapa temannya yang berbicara ketika melewati ku bahwa Riri disuruh pulang lebih awal karna kakinya yang terluka, dengan terburu-buru tanpa berpikir aku langsung mengejarnya. Ku lihat dia berdiri di pinggir jalan di bawah teriknya matahari, mungkin sedang menunggu ojek yang lewat. Ketika dia hendak duduk aku langsung melajukan mobilku dan berhenti tepat di depannya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku, kalau akan pulang lebih cepat?" Ujarku menghampirinya.
"Memangnya kalau Riri bilang sama pak Juan, bapak akan bersedia mengantar Riri pulang?" Ujarnya.
"Kenapa aku tidak bersedia? Kau kan istriku!" Sahutku sambil memapahnya masuk kedalam mobil.
"Apa bapak sedang tidak enak badan?" Ujarnya tiba-tiba menyentuh dahiku.
"Apa yang kau lakukan?" Ujarku menatap bingung ke arahnya, karna dia menyentuh dahiku tiba-tiba.
"Badan bapak tidak panas, yang artinya bapak sekarang sedang baik-baik saja. Tapi kenapa bapak tiba-tiba bersikap baik pada Riri?" Ujarnya menatapku intens.
"Ehm.. a..aku hanya merasa lelah hari ini. Karna ku lihat kau berdiri di depan pagar, daripada naik ojek, boros. Lebih baik ku angkut kau sekalian" Sahutku, meski bukan itu alasanku yang sebenarnya.
"Ta....
"Apa kau tidak bisa diam?" Ujarku lagi memotong ucapannya. Akhirnya dia diam dan tidak melontarkan pertanyaan apapun padaku lagi.
__ADS_1
-
Aku benar-benar tidak tega melihatnya seperti ini, selama kakinya cidera aku sebisa mungkin membantunya. Bahkan bantuan sekecil apapun, aku akan dengan senang hati membantunya.
Bahkan ketika dia ingin mandi, ingin sekali aku membantunya, agar dia tidak terlalu memaksakan kakinya untuk berjalan. Tapi dia malah menolakku, dan menyuruhku untuk menunggu di luar.
"Kenapa lama sekali?" Batinku, sambil terus mondar mandir menunggunya di luar.
"Aaaaaaaa" Teriaknya.
Tanpa meminta izinnya aku langsung masuk kedalam karna beruntungnya pintu itu tidak terkunci.
"Kenapa? Ada apa?" Tanyaku panik ketika mendengarnya tiba-tiba berteriak.
"Aaaaaaaaa" Teriaknya lagi.
"Pak Juan?! Apa yang bapak lakukan disini?" Pekiknya, sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Kau sendiri kenapa berteriak? Membuat orang khawatir saja!" Balasku.
"I..itu, karna Riri terpeleset dan jatuh" Ujarnya menunduk.
"Ta..tapi meskipun begitu bapak tidak seharusnya masuk begitu saja dong!" Ujarnya lagi meninggikan suaranya.
"Salah sendiri pintunya tidak di tutup" Ujarku santai.
"I..itu...
"Apa? Kau mau cari alasan apa lagi? Jelas-jelas kau yang salah, siapa suruh pintunya tidak di tutup" Ucapku, sebelum aku keluar meninggalkannya sendirian di kamar mandi.
"Gadis bodoh itu benar-benar senang sekali membuatku kesal, aku sudah khawatir kalau saja terjadi sesuatu padanya. Tapi dia malah berkata seperti itu. Sudahlah, terserah dia saja!" Gumamku, sambil berjalan menuju tempat tidurku.
"Em, pak?! Apa bapak masih disitu?" Panggilnya.
"Sekarang kau malah memanggil ku!" Sungutku.
"Pak Juan?!" Teriaknya, karna tadi aku tidak merespon panggilannya.
"Ada apa lagi?" Sahutku yang kini sudah berada di ambang pintu.
Dia mengulurkan kedua tangannya meminta pertolongan ku, dengan ekspresi memelasnya.
"Kenapa dia imut sekali?" Batinku, sambil menahan senyum di ujung bibirku.
"Kau ini merepotkan sekali!" Ucapku, namun aku tetap membantunya untuk berdiri.
Saat aku hendak membantunya berdiri, aku tidak sengaja menginjak handuk yang dia kenakan.
Mataku membulat sempurna kala melihat pemandangan yang indah ini tepat di depanku, bahkan dengan jarak yang sangat dekat sekali.
Deg deg deg deg
Jantungku berpacu dengan iramanya yang sangat cepat, tiba-tiba rasanya tubuhku menjadi panas. Darahku berdesir hebat, bahkan rasanya sulit sekali untuk menelan saliva ku.
"Ayo pak, bantu Riri" Ujarnya, samar-samar ku dengar.
Aku masih mematung ditempat, tanpa membalas perkataannya.
"Ba..bapak kenapa?" Tanyanya lagi, yang melihat ku masih terdiam mematung menatapnya tanpa berkedip.
"A..apa kau tidak merasakannya?" Ujarku kemudian memberanikan diriku untuk mengatakannya.
"Maksud bapak?" Tanyanya bingung.
"Apa kau tidak merasakan dingin dan keanehan di seluruh tubuhmu?" Ujar ku lagi, yang masih belum bisa mengalihkan pandangan ku.
"Dingin apanya?" Ujarnya, kemudian dia melirik pada bagian tubuhnya. Dia membulatkan matanya sempurna, gadis ini benar-benar bodoh, bisa-bisanya dia tidak menyadari keadaan tubuhnya yang kini sudah tidak berbalut sehelai kain pun.
Aku dan dia sesaat saling berpandangan...
"Aaaaaaaaaaa"
❤️❤️❤️
Sorry, karna malam ini upnya agak telat. Karna ada sesuatu hal yang tak terhindarkan 😁
Terimakasih untuk yang masih setia menunggu"Kepsek, I Love You" update, tengkyu 😫😘
Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan favoritnya juga ya 😉 xiexie 😚
__ADS_1