Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Kenapa Tiba-Tiba Dia Datang Kembali?


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Assalamualaikum Tante, Om!" Sapa gadis itu sopan pada kedua mertuaku sambil tersenyum ramah.


Cantik, tinggi, badannya juga bagus, modis dan juga elegan, dosen di salah satu universitas terkenal di luar negeri, tak ada kekurangan apapun kulihat. Untuk ukuran seorang wanita dia sangat sempurna dimataku, di bandingkan dengan ku yang masih duduk di bangku SMA, aku tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan dirinya.


"Waalaikumsalam!"


"Reina? Apa kabar kamu sayang?" Tanya Bu Nala yang terlihat gembira melihat kedatangan gadis bernama Reina itu.


Sayang? Ada sedikit sedih di hatiku ketika mendengar Bu Nala, menyebutnya sayang, sebutan yang biasanya selalu di lontarkannya untukku.


"Baik Tante, Tante apa kabar?" Sahutnya yang di akhiri dengan pertanyaan pula. Lalu mereka saling berjabat tangan sambil cipika cipiki.


"Baik dong!" Jawab Bu Nala.


"Om, apa kabar?" Tanyanya yang beralih pada Ayah Adi. Yang kemudian mencium punggung tangan Ayah mertuaku itu.


"Baik nak! Kok kamu terlihat kurusan sekarang?"


"Biasalah Om, banyak kerjaan!" Sahutnya sambil tersenyum ramah.


Aku hanya bisa terpaku melihat keakraban mereka, sepertinya bukan hanya dengan mas Juan. Tapi dia juga sangat akrab dengan kedua mertuaku. Terlihat dari keramah-tamahan yang di tunjukkan oleh kedua mertuaku padanya.


Setelah menyapa kedua mertuaku ku tatapannya beralih padaku dan juga mas Juan. Sembari tersenyum dia berjalan mendekat ke arah kami.


"Juan, apa kabar Lo?" Ujarnya yang baru saja menyapa laki-laki yang sedari tadi berdiri di samping ku. Dan yang membuatku terkejut, dia bukan hanya menjabat tangan suamiku, tapi dia juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya tadi dengan Ibu mertuaku bahkan dia juga memeluk suamiku. Seketika darahku mendesir melihat pemandangan di depanku saat ini, aku mengepalkan tanganku kuat-kuat untuk meredam rasa cemburuku. Istri mana yang tidak cemburu melihat kedekatan suaminya dengan wanita lain, dan bahkan tanpa canggung dia melakukannya dihadapan ku. Begitupun dengan mas Juan ku lihat, tanpa canggung dia menerimanya begitu saja tanpa penolakan sedikit pun, bahkan dia mengembangkan senyumnya.


"Oiya Rey, kenalkan ini Riri. Istrinya Juan!" Ucap Bu Nala memperkenalkan ku.


"Wah, ngga gue sangka Ju. Akhirnya Lo nikah."


"Salam kenal ya, Reina!" Ujarnya sambil mengulurkan tangan sembari tersenyum manis.


"Riri!" Ucapku sambil menerima uluran tangannya dengan senyum yang sedikit kupaksakan. Tak bisa ku pungkiri, ada rasa tidak nyaman setelah melihatnya yang begitu dengan gampangnya memeluk suami orang di hadapan istrinya langsung.


"Astaga, sudah jam 7 lewat. Kayaknya aku dan Riri harus berangkat ke sekolah sekarang deh." Ucap mas Juan setelah memeriksa jam tangannya.


"Oh, iya yaudah." Sahut Bu Nala.


"Rey, kita sambung ngobrolnya nanti lagi ya?" Tambahnya lagi sebelum mengajakku keluar.


-


Selama di perjalanan, aku terus memikirkan tentang suamiku dan juga gadis bernama Reina itu. Kenapa dia tiba-tiba datang kembali? Untuk apa dia kesini? Apa mas Juan masih menyimpan rasa untuknya? Apa mas Juan akan kembali dengannya? Bagaimana denganku? Pikiran-pikiran negatif seolah menghantui saat ini, ditambah lagi dengan perkataan suamiku tadi, "Rey, kita sambung ngobrolnya nanti lagi ya?" Berarti mas Juan berniat untuk menemuinya nanti. Memang seharusnya aku tidak boleh merasa seperti ini, karna aku tau Reina adalah sahabat dekat suamiku, tapi sedekat apapun persahabatan mereka di tambah dengan suamiku yang dulunya pernah menyukainya, bukankah setidaknya mereka harus sedikit menjaga jarak untuk menjaga perasaan ku 😞.


"Sayang!" Ujarnya cukup keras, sontak membuatku terkejut.


"I..iya mas?"

__ADS_1


"Kamu kenapa? Aku panggil-panggil dari tadi diem aja. Lagi mikirin apa?"


"Kamu mas!" Batinku.


"Eh, ngga. Riri cuma kepikiran soal audisi berikutnya." Sahutku berbohong.


"Ooh, begitu."


"Mas?"


"Hm, kenapa?"


"Riri nanti pulangnya sama Kania ya? Udah lama ngga main kerumahnya!" Ujarku berbohong, padahal aku ingin menghindarinya, aku masih sedikit kesal melihatnya gara-gara tadi.


"Oh begitu, yasudah! Yang penting hati-hati." Sahutnya santai.


Seketika aku lesu mendengar jawabannya, bagaimana mungkin dia mengiyakannya begitu saja. Dia yang biasanya selalu cerewet kalau aku ingin pergi kemanapun ditambah lagi dengan kondisi kakiku yang seperti ini, ku pikir dia tidak akan mengizinkannya, tapi ternyata dia menyetujuinya dengan begitu mudahnya. Apa dia tidak mengkhawatirkan ku? Apa aku sudah tidak berarti lagi baginya, setelah kedatangan wanita yang pernah di cintainya.


"Iya mas!" Sahutku, lalu kembali memfokuskan pandangan ku kedepan.


______________


"Congratulation Riri!" Sorak semua teman-teman ku begitu aku masuk ke dalam kelas.


"Selamat ya Ri atas ke lolosan Lo ke babak selanjutnya!" Seru Sherly.


"Iya, Lo keren bangeeeettttt!" Timpal Gandhi.


"Aduduh, jangan sedih dong. Kan happy karna lulus ke babak selanjutnya." Ucap Kania sembari merangkul ku yang diikuti dengan teman-teman wanita ku lainnya yang juga ikut memelukku.


"Ikutan juga dooongg!" Ucap Gandhi seraya melebarkan tangannya.


"Ikutan aja, palingan ntar tangan Lo putus!" Kata Kania, yang langsung membuat Gandhi mengurungkan niatnya.


"Serem banget Lo kan!"


"Bodo!"


"Sekali lagi thanks ya guys untuk dukungannya!" Ucapku sambil mempererat pelukanku pada mereka.


Di saat tengah asik berpelukan, tiba-tiba saja salah satu temanku menginjak kaki ku yang sakit.


"Aww!" Pekik ku.


"Kenapa kan?" Tanya merek serempak.


"Kaki gue! Hshhh.." Ujarku meringis menahan sakit.


"Ini kaki Lo kenapa? Kok di perban?" Tanya Kania yang baru menyadarinya.

__ADS_1


"Iya, kaki Lo kenapa Ri?" Timpal lainnya, yang juga baru menyadarinya.


"Iya, kaki gue keseleo!"


"Lo tuh hobi banget sih keseleo. Makanya kalo jalan tuh hati-hati." Ujar Kania mengomel persis seperti emak-emak mengomeli anaknya.


"Hehhe, iya. Namanya juga ngga sengaja." Ujarku terkekeh.


"Untung acaranya Minggu depan!" Sambung Kania.


"Iya, sebelum acara juga pasti sembuh kok."


____________


"Kan?"


"Hm?" Sahut Kania sambil sibuk mengunyah makanannya.


"Nanti gue kerumah Lo ya?"


"Tumben banget!"


"Iya, gue kangen sama masakan Ibu Lo, hehhe.." Ujarku berbohong.


"Mencurigakan, pasti ada sesuatu ya?" Tebak Kania.


"Ngga kok!" Sahutku, kemudian kembali menyeruput minumanku.


"Boong, gue tau banget Lo Ri. Contohnya kayak gini nih, kalo ditanya pasti menghindar." Ujarnya yang tepat sasaran.


"Iya kan?" Sambungnya.


Aku tidak menjawabnya, aku hanya melempar senyuman tipis ke arahnya lalu kembali menyeruput minumanku dalam diam. Memang benar apa yang di tebak Kania barusan, ada sesuatu yang saat ini sangat mengganggu pikiran ku.


-


"Jadi, ngapain mantannya Pak Juan balik?"


"Dia bukan mantannya Kan, hiks.. hiks.."


"I..iya maksud gue, cewek yang pernah di sukai sama Pak Juan."


"Gue juga ngga tau.. hiks.. hiks.."


"Ya ampun Ri. Lo tenang dulu ya. Mungkin suami Lo udah ngga ada rasa, makanya dia dengan begitu santainya berhadapan dengan cewek itu. Dan lagi mereka kan udah sahabatan lama banget sebelum kenal sama Lo, jadi pasti mereka deket."


"Gu..e nger..ti me..reka sahabatan, ta..pi a..pa harus me..reka pe..lukan, di..hadapan gu..e lagi. A..pa me..reka ngga mi..kirin pe..ra..saan gue?" Ujarku terisak.


"Ya ampun Ri, Lo jangan mikir yang ngga ngga dulu dong. Gue yakin, mereka ngga ada apa-apa kok."

__ADS_1


Huaaa 😭


❤️❤️❤️


__ADS_2