Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Juan POV III


__ADS_3

❤️❤️❤️


3 bulan yang lalu.


Flashback on


"Apa ayah bercanda?". Aku membulatkan mataku dengan sempurna tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Ayah tidak sedang bercanda Ju, dan ayah sudah memikirkan ini sejak lama". Jelas ayahku.


"Ku rasa otak ayah sedang tidak waras". Pekikku, bisa-bisanya ayah menjodohkan ku begitu saja tanpa meminta persetujuan dariku.


"Juan, bicaralah yang sopan dengan ayahmu". Tegas ibuku.


"Apa ibu juga terlibat dengan semua ini?!".


"Kami sudah memikirkan ini dengan matang-matang. Dan inilah yang terbaik untukmu Ju".


"Untukku? Bukankah untuk kalian?". Aku kecewa dengan kedua orangtuaku, bisa-bisanya mereka melakukan hal kekanak-kanakan seperti ini terhadapku.


"Juan, mau tidak mau kamu harus menerima perjodohan ini. Keluarga mereka sudah menolong ayah nak. Mungkin tanpa pertolongan sahabat ayah itu, ayah tidak akan berada di dunia ini sekarang". Terang ayahku.


"Apa setelah ayah memaksa mengorbankan pekerjaan ku, sekarang ayah juga memaksa mengorbankan kebahagiaan ku? Berikan saja mereka setumpuk uang?!". Sungguh akal sehatku tidak bisa mencerna semua ini.


*Plak*


"Jaga bicaramu Juan. Ibu benar-benar tidak habis pikir kamu bisa memiliki pemikiran yang picik seperti itu".


"Heh, bahkan sekarang ibu menamparku hanya untuk membenarkan semua tindakan kalian. Aku benar-benar kecewa". Darahku tiba-tiba berdesir hebat, tanpa mendengarkan perkataan mereka lagi, aku langsung keluar dari tempat ini sebelum amarahku semakin memuncak.


Semua orang benar-benar gila. Hanya untuk membalas sebuah jasa mereka tega mengorbankan kebahagiaan ku, aku benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir mereka.


~


Aku melajukan mobilku dengan kencang tanpa arah tujuan, di barengi amarah yang sudah membuncah di lubuk hatiku, sesekali ku pukul kuat-kuat setir kemudi ku tanpa memikirkan keadaan tanganku yang sudah tampak lebam.


~


Hingga suatu hari, orangtuaku menyuruhku untuk datang ke rumah sakit untuk melihat calon istri yang tak pernah ku temui dan yang tak ku inginkan kehadirannya.


"Aku ingin lihat sebaik apa wanita yang ingin ayah jodohkan dengan ku". Seringai ku.


Tiba waktunya, aku bertemu dengannya.


"Kau?!". Aku terkejut bukan main. Apa bocah bodoh ini yang akan ayah jodohkan dengan ku.


Sebelumnya aku memang tidak suka melihat sosoknya ditambah sekarang aku mengetahui bahwa dialah yang akan dijodohkan dengan ku, rasa tidak suka itu seakan berubah menjadi rasa benci seketika.

__ADS_1


~


"Yah, apa otak ayah benar-benar tidak waras? Bisa-bisanya ayah menjodohkan ku dengan bocah bodoh itu. Di tambah dia adalah muridku sendiri di sekolah, apa yang akan di pikirkan guru-guru lain dan para muridku yang lainnya. Ini gila". Setelah melihatnya aku benar-benar berpikir bahwa aku tidak bisa menerima perjodohan ini.


"Jaga bicaramu Juan. Bagaimana jika sahabat ayah mendengar perkataan mu sekarang ini". Ujar ayahku.


"Terserahlah, yang jelas aku hanya ingin mengatakan bahwa AKU TIDAK AKAN PERNAH MENERIMA PERJODOHAN INI". Ucapku dengan penuh penekanan.


"Kau harus menerima perjodohan ini". Kata ayahku tak mau kalah.


"Yah? Apa ayah tidak mau tau sedikitpun bagaimana perasaan ku? Aku sudah mencintai gadis lain yah, itu tidak akan berubah. Dan meskipun aku tidak memiliki gadis lain yang ku cintai, aku tetap tidak akan menikah dengannya".


"Reina maksudmu?".


"Iya, hanya dia yang ku cintai".


"Apa dia juga mencintaimu?".


"Tentu saja!". Jawabku mantap. Dan aku yakin Reina mencintai ku seperti aku mencintainya.


"Sejauh yang ayah tau dia hanyalah menganggap mu sebagai sahabatnya bukan orang yang dicintainya".


"Ayah tidak akan mengerti hubungan kami". Ujarku tak mau kalah.


"Baiklah, ayah akan memberi mu kesempatan. Bawa gadis yang kau cintai itu kehadapan ayah 2 minggu lagi. Dan ajaklah dia menikah. Dan jika dalam 2 minggu hubungan kalian tidak ada perubahan. Kau harus menerima calon yang ayah jodohkan untukmu?!".


"Apa? Apa ayah masih bisa berpikir secara logis? Bagaimana aku bisa membawanya kesini 2 minggu lagi dan mengajaknya menikah. Dia memiliki cita-citanya sendiri yah, dan pekerjaan yang sangat di sukainya. Bagaimana bisa dia meninggalkan semuanya dalam 2 minggu?!". Ujarku yang mulai emosi.


"Apakah ini yang dinamakan kesempatan?". Aku sungguh tidak bisa berkata-kata lagi.


"Terserah padamu, yang pasti ayah sudah menegaskan padamu jika 2 minggu lagi kamu tidak bisa membawanya kemari, kau harus menerima Riri sebagai calon istrimu".


"Bu?!". Ujarku mencoba meminta pengertiannya.


"Terima saja keputusan ayahmu?!". Ujar ibuku santai.


"Kalian, arghhhhh".


Aku benar-benar frustasi di buatnya, bagaimana bisa dia memaksakan kehendaknya sejauh ini. Ini benar-benar gila.


~


"Sekarang bagaimana caranya aku membujuk Reina agar dia mau kesini dan menikah denganku?!".


"Ah, sudahlah lebih baik ku tanyakan padanya langsung".


Ku cari kontak atas nama "Reina" di handphone ku. Aku kembali menjadi ragu untuk menghubunginya. Bagaimana jika dia menolakku? Ah sudahlah, setidaknya aku harus mencobanya dan aku yakin dia juga pasti mencintai ku.

__ADS_1


"Halo, Rei". Ujarku memulai percakapan.


"Oh, hey.. Ju. Ada apa?". Sahutnya dari seberang telpon.


"Emmm". Aku menjadi ragu kembali untuk menanyakannya.


"Ada apa? Katakan saja?".


"Em, apa lo suka dengan pekerjaan lo disana?!". Aku mulai merasa takut mendengar jawabannya.


"Lo kan udah tau jawabannya".


"Ngga, gue cuma mau mastiin aja. Ada kemungkinan ngga gitu kalo lo balik kesini dan nikah sama gue". Ujarku to the point.


"Hahaha". Kelakarnya sebelum kembali menjawab pertanyaan ku.


"Lo tuh ada-ada aja ya becandanya".


"Gue serius". Sahutku, karna memang sekarang aku benar-benar serius dengan ucapan ku.


"Gini yah Ju, sebelum gue kasih tau lo juga udah tau betul kan gimana gue, gimana susahnya perjuangan gue biar bisa kerja disini dan mengejar impian gue. Gue ngga bisa lepasin gitu aja cita-cita yang udah dari kecil gue pengenin dan akhirnya cita-cita itu terwujud dan kalau tiba-tiba gue harus lepas tangan dari apa yang udah gue raih gue bener-bener ngga bisa Ju".


Deg


Jawabannya seakan menghujam keras ke ulu hatiku. Dan tiba-tiba perkataan ayah muncul di benakku "Berarti dia tidak mencintai mu".


"Halo Ju? Lo masih disitu?!". Ujarnya kala tak mendengar suaraku.


"Ah, iya Rei. Gue masih disini". Sahutku yang baru tersadar dari lamunan sesaatku.


"So, lo benar-benar ngga bisa kesini dan nikah sama gue?". Ujarku bertanya sekali lagi padanya.


"Udah ah, lo tu becanda mulu deh. Udah dulu ya Ju, nanti gue telpon lagi. Mau ngajar dulu nih. Bye". Tutupnya tanpa mendengarkan jawabanku.


Tut tut Tut


"Kenapa lo selalu nganggep gue becanda Rei? Semua ucapan yang gue lontarkan itu tulus dari lubuk hati gue?!". Aku hanya bisa tertunduk lesu setelah mendengarkan jawaban dari Rei, gadis yang ku cintai. Seketika pupus sudah semua harapanku, aku tidak bisa memaksakan Rei agar dia kembali dan menikah denganku. Bukankah aku akan menjadi laki-laki yang egois jika memaksakan kehendakku?


"Arghhhhh". Aku mengacak-acak rambut ku kasar.


"Kau menang ayah?!". Ujarku dengan suara yang parau.


~


Aku mengakui kekalahanku di hadapan ayah dan ibuku. Aku tidak memiliki pilihan lain, karna ayahku selalu mengancam ku dengan alasan kesehatannya. Entah setan apa yang merasuki ku akhirnya aku menyetujui rencana perjodohan bodoh itu. Rasanya hidupku benar-benar sial setelah bertemu gadis bodoh itu.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like komen dan vote nya ya kakak² yg cantik dan ganteng 😚


Enjoy for reading novel recehku 😚


__ADS_2