Kepsek, I Love You

Kepsek, I Love You
Kencan Pertama


__ADS_3

❤️❤️❤️


"Tante, Riri pamit pergi dulu ya". Ujarku meminta izin pada tante Nala.


"Aduh, kamu tuh masih aja panggil tante. Ibu dong, kan kamu sekarang udah jadi tunangannya Juan". Kata tante Nala yang gemas mendengar panggilan yang masih belum berubah dari mulutku.


"Eh, eng.. iya bu". Sahutku ku yang masih merasa kaku dan kikuk setiap kali disuruh memanggilnya dengan sebutan ibu.


"Udah selesai? Sebentar lagi filmnya mau dimulai? Kelamaan?!". Protesnya mendengar percakapan ku dengan ibu Nala.


"Ngga sabaran banget sih jadi orang". Batinku sambil mengerucutkan bibirku.


Bu Nala hanya geleng-geleng melihat sikap anaknya itu.


"Yaudah sayang, hati-hati ya". Ucap bu Nala sambil menepuk-nepuk punggung tanganku.


"Jinakkin terus macan jantannya ya sayang". Bisik bu Nala di telingaku. Lalu mengepalkan tangannya memberiku semangat.


Aku mengangguk dengan mantap dan juga ikut mengepalkan tanganku ke atas.


"Heh". Pak Juan menghela napasnya jengah lalu meninggalkan ku begitu saja.


"Eh, tunggu pak". Teriakku kala pak Juan sudah berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu ku.


"Bu, Riri pergi dulu". Teriakku yang ikut berlari mengejar pak Juan yang sudah masuk kedalam mobil.


"Semangat". Teriak bu Nala.


Aku hanya tersenyum ceria kearahnya sambil melambaikan tangan.


~


Oiya ini adalah kencan pertamaku setelah kami resmi bertunangan 1 bulan lalu.


Flashback on


3 bulan yang lalu, ibu dan ayahku memberitahukan hal yang sudah ku tunggu-tunggu sejak lama.


Menjodohkan ku dengan pak Juan.


"Sayang, duduk dulu disini sebentar nak". Ujar ayahku menepuk sisi sova yang kosong di sebelahnya.


"Iya, ada apa yah?". Sahutku saat sudah berada di tengah-tengah ibu dan ayahku.


"Begini, ada yang mau ayah sampaikan ke kamu". Ayahku memulai pembicaraan, terlihat serius dari raut wajahnya.


"Apa ini soal perjodohan ku dengan pak Juan?!". Pikirku, kegirangan.


"Ibu dan ayah sudah sepakat dengan om Adi dan juga istrinya untuk menjodohkan kamu dengan nak Juan". Terang ayahku.


"Hah? Riri mau dijodohkan yah?". Teriakku pura-pura kaget.


"Iya sayang". Ucap ibuku membenarkan sambil menggenggam tanganku erat dan menatap dalam pada indera penglihatan ku.


"Tapi, kenapa tiba-tiba yah?". Tanyaku dengan ekspresi yang seolah terkejut atas berita mendadak ini.


"Sebenarnya ini tidak mendadak nak, ayah dan om Adi sudah merencanakan ini sejak lama. Om Adi sudah banyak sekali membantu ayah. Bahkan sejak ayah masih sekolah dulu, karna ayah dari keluarga yang tidak mampu. Beliaulah yang sudah membantu ayah, dan sejak saat itu kami sudah seperti saudara. Saat kami bertemu kembali dengan keadaan om Adi yang sakit seperti sekarang ini, beliau ingin menjodohkan kalian. Dan ayah tak kuasa menolaknya". Jelas ayahku panjang lebar.


"Tapi yah".

__ADS_1


"Tolong nak, hanya ini yang ayah minta".


Aku menundukkan kepalaku lesu sembari memikirkan perkataan ayahku.


"Hehhe, dengan senang hati yah". Ujarku dengan seringai penuh arti.


"Tapi kalau kamu benar-benar tidak menyukainya kamu boleh menolaknya nak". Ujar ibuku membelai rambutku pelan.


"Ngga bu". Jawabku cepat.


Kedua orangtuaku menatap ku heran.


"Eh, eng.. maksud Riri, Riri sebagai satu-satunya putri dan harapan kalian. Tentu Riri tidak boleh mengecewakan kalian bukan? Riri akan berusaha berlapang dada untuk menerima semuanya". Ujarku dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu yakin sayang? Kamu boleh memikirkannya lagi". Ujar ibuku.


"Ngga papa bu, Riri ikhlas". Sahutku menatap nanar pada bola mata ibuku.


"Terimakasih nak". Ucap ayahku lalu mendekap ku dalam pelukannya.


"Yesss, hehehe". Pekikku dalam hati.


~


Lalu 2 bulan setelah itu aku resmi bertunangan dengan pak Juan, meskipun awalnya pak Juan menolak perjodohan kami namun mengingat kondisi ayahnya ia mulai mempertimbangkan kembali mengenai perjodohan kami, hingga akhirnya dia menyetujuinya. Namun dia ingin saling mengenal terlebih dahulu sebelum menikah. Oleh sebab itu pak Juan mengusulkan untuk bertunangan terlebih dahulu agar kami bisa mengenal lebih jauh lagi dan kedua orangtua kami menyetujuinya.


Flashback off


"Lama banget". Celetuknya sembari memegang setir kemudi.


"Iya maaf pak". Ujarku sambil menutup pintu mobil.


Ku lihat dia hanya asik menyetir tanpa mengajakku bicara sama sekali. Meskipun kami sudah bertunangan sikapnya masih jinak-jinak merpati. Ya tapi ngga papa, yang penting sekarang statusku sudah berubah menjadi tunangannya, yang artinya aku punya banyak kesempatan untuk meraih hatinya. Hehehe, seringai ku.


Untuk menghilangkan kejenuhan tanpa disuruh aku langsung bernyanyi tanpa meminta izi pada Juan terlebih dahulu.


"Mentari terbenam beri semangat baru tuk jiwaku


Beri kicauan merdu tuk hidupku ini


Ku bertahan". Aku bernyanyi tanpa melihat kesampingku.


"Berisik". Protesnya.


"Aku pasti bisa


Menikmati semua dan menghadapinya


Aku yakin pasti bisa". Aku meninggikan suara menyanyiku di telinga pak Juan".


Ciiitttt


"Aduh". Pekikku ketika kepala ku terbentur cukup keras pada kursi penumpang ketika pak Juan tiba-tiba mengerem mobilnya mobilnya.


"Turun". Perintahnya.


"Ngga mau". Ujarku sambil memegang erat seatbelt yang melindungi tubuhku.


"Kau?!". Dia terlihat geram melihat tingkahku.

__ADS_1


Bug


Dia memukul kemudinya dengan cukup keras sebelum kembali melajukan mobilnya.


Aku sangat terkejut melihatnya, setelah itu aku tidak berani lagi mengeluarkan sepatah katapun.


"Bisa-bisa kepalaku nanti yang akan digebraknya". Batinku bergidik ngeri.


Sekarang suasana menjadi lebih hening dan dingin dari sebelumnya, aku benar-benar suntuk. Ditambah jalanan di depan terlihat macet, tak jarang kulihat dia membunyikan klakson mobilnya dengan ekpresi geram. Aku menyesali perbuatanku tadi.


"Seandainya aku tidak membuatnya marah tadi, pasti sekarang suasananya tidak akan semencekam ini 😩". Batinku, aku sungguh menyesalinya.


Setelah 1 jam berhasil menghalau kemacetan, kami akhirnya tiba di mall. Awalnya kami sepakat untuk menonton film bersama.


Tapi setelah kami tiba di depan bioskop, ternyata film yang ingin ku tonton sudah dimulai dan tiketnya sudah terjual habis. Aku berjalan gontai di belakangnya.


"Padahal aku pengen banget nonton filmnya". Gumamku sambil tertunduk lesu. Dan ternyata pak Juan mendengar perkataan ku.


"Salahmu sendiri". Ujarnya dengan seringai di ekor bibirnya.


Aku kembali mengerucutkan bibirku, dan dari belakang aku mengepalkan tanganku, di belakangnya ku tonjok-tonjokkan kepalan tanganku ke arah kepalanya.


"Kau pikir aku tidak bisa melihat tingkah mu". Ujarnya berbalik menatap ku dengan tajam.


"Eh.. eng. mm..maaf". Ujarku tertunduk.


"Jalan di depan". Perintahnya sambil bersidekap.


"Iya". Jawabku.


Lalu aku berjalan di depan sambil terus memanyunkan bibirku.


"Terus kita mau kemana?". Ujarku berbalik sambil terus berjalan mundur.


Bug


Glek


Tiba-tiba pak Juan mendekap ku dalam pelukannya. Aku sangat terkejut dibuatnya, jantungku menjadi berdetak sangat cepat


"Apa aku akan mati?!". Batinku, dengan debaran yang sangat cepat ini, seketika aku jadi membeku dalam pelukannya.


"Apa kau tidak bisa berjalan dengan benar?!". Ujarnya mendorongku melepaskan ku dari pelukannya.


❤️❤️❤️


Hi epribadeh 😎


Gimana suka ngga?


Kalo suka jgn lupa pencet like komen vote dan favoritnya dong biar novel receh ini makin lebih banyak peminatnya lagi 😘


Untuk para readers yang sudah setia menunggu update an terimakasih banyak, aku akan berusaha update setiap hari untuk kalian 😚


Xiexie 😚


Salam cinta dari author buat kalian 😍


Eh, kalau ada waktu follow ig author juga dong hehhe @dwyulianas sekali lagi terimakasih 😙

__ADS_1


Enjoy 👄


__ADS_2